
Rani terbangun pada keesokan harinya.
"Ya ampun.. kok gue bisa lupa sih kalau handphone gue mati!" dia baru sadar benda kecil itu tak bisa dihidupkan karena air hujan kemarin.
Dia pun akhirnya mengambil handphone itu dan menjemur nya di halaman rumah lalu sibuk melakukan aktivitas nya selanjutnya. Meletakkan begitu saja benda itu di atas rumput.
Beberapa minggu ini Rani memang disibukkan dengan segudang kegiatan karena berhasil diterima menjadi mahasiswi di fakultas kedokteran.
Sudah menjadi cita-citanya sejak kecil untuk bisa menjadi dokter karena Rani tidak mau kehilangan orang yang disayanginya lagi. Semua itu sedikit banyak adalah berkat campur tangan Artur.
Relasi nya yang bagus di dunia kesehatan akhirnya bisa mengantar Rani untuk lebih dekat mewujudkan impiannya.
Rani baru kembali pada sore harinya dan segera mengecek handphone.
"Syukur lah bisa nyala lagi." ucapnya lega. Dia segera terperanjat saat melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Artur.
"****! Kok aku bisa ngelupain dia?! Beg* banget sih gue!"
Tanpa pikir panjang gadis itu memencet nomor cowok yang sejak kemarin tak ada kabar.
"Halo.." suara parau terdengar di seberang sana.
"Artur.. Ya ampun.. Maafin aku.. Handphone ku baru aktif ini tadi."
Rani langsung menjelaskan panjang lebar situasi yang dialaminya dari kemarin.
"Iya.. enggak apa-apa kok.. Uhuk.. uhuk.."
"Artur? Are you okay?" Rani menyadari ada yang salah dengan Artur.
"I'm okay.. Uhuk.." suara Artur terdengar semakin berat dan parau.
"Artur?"
__ADS_1
"Uhuk..uhuk.. tut.. tut.. tut.."
Sambungan telepon itu tiba-tiba terputus.
Rani langsung menyambar jaket dan bergegas keluar dari kamarnya.
"Mang Asep.. tolong anterin Rani!"
"Siap non!" ucap pria paruh baya itu seraya mematikan rokok yang baru saja dinyalakannya.
Dengan tatapan nanar dia memandang puntung rokok yang masih panjang itu.
"Hilang dah 3rb rupiah.."
**
Rani tiba di kompleks apartemen mewah yang cukup jauh dari rumahnya. Dia berlari menaiki tangga menuju lantai 2 setelah bertanya ke resepsionis tentang Artur. Gadis itu bahkan lupa bisa mengakses lift tanpa harus lelah menaiki tangga.
Tok tok..
Tok tok..
Tidak ada jawaban dari dalam padahal si resepsionis bilang Artur tidak keluar apartemen dari kemarin sore.
Rani menempelkan telinganya di pintu dan samar-samar mendengar suara batuk seorang cowok.
"Artur aku masuk ya..!" dia langsung menerobos masuk setelah tak ada jawaban dari penghuni apartemen itu.
Rani kebingungan dengan deretan celana panjang, kemeja, dan sepatu yang berserakan di lantai dan semuanya basah. Matanya seketika menatap sosok cowok yang tergeletak di sofa. Tangan kanannya bahkan masih memegang handphone.
"Astaga! Artur! Hei.. kamu kenapa?!" Rani langsung meraba dahi cowok itu.
(Panas banget!)
__ADS_1
Dia menyambar selimut tebal di tempat tidur dan langsung menyelimuti tubuh Artur.
"Ran.." bisik cowok itu lirih. Suara aslinya lebih parau daripada saat di telepon.
"Bentar ya, aku panggilin dokter."
"Gak usah.. uhuk..uhuk.." cowok itu terbatuk-batuk. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus karena demam.
"T..tapi.."
"Stay with me..please.." Artur meraih tangan Rani dan meletakkan di dadanya.
Rani mengusap lembut dahi dan pipi Artur. Hatinya benar-benar tidak tega melihat cowok gagah yang selama ini menjaganya terkapar tak berdaya.
Cewek cantik itu duduk bersila di samping sofa, ada getaran kecil bergejolak di hatinya saat Artur menatapnya dengan tersenyum simpul. Mungkinkah rasa cinta mulai tumbuh dihatinya? Atau apakah ini hanya simpati belaka?
"Mang Asep.." Rani pun akhirnya menelepon Mang Asep untuk meminta tolong membeli obat penurun demam karena tidak mungkin dia meninggalkan Artur sendirian di sana.
"I'm so sorry.." ucap Rani pelan. Guratan kekuatiran masih terpasang di wajah cantiknya.
Dia tak bisa berhenti membelai wajah tampan Artur yang sekarang tengah terpejam dan dalam keadaan setengah tak sadar karena suhu tubuhnya yang sangat tinggi.
Cewek itu tahu Artur jatuh sakit karena mencarinya di tengah hujan karena si resepsionis bilang terakhir kali melihat Artur saat dia pulang dalam keadaan basah kuyup kemarin.
"Harusnya kamu gak perlu nyari aku kemarin.."
Rani menoleh ke arah pintu untuk kesekian kalinya, namun orang yang ditunggu masih belum muncul juga.
(Mang Asep kok lama sih..)
Baru saja dia akan beranjak menyusul Mang Asep, langkahnya terhenti karena mendengar Artur mengigau.
"Ran.. I love you.."
__ADS_1
Deg!