Sang Gitaris

Sang Gitaris
Momen Tak Terlupakan


__ADS_3

"Oke adik-adik semua.. Kita sudah sampai di Sentral Parkir Kuta. Dari sini kita harus naik bus komotra untuk bisa sampai ke pantai Kuta. Tapi ingat.. jangan sampai lupa waktu ya main nya. Karena jam operasional bus berakhir jam 18.00 WITA." guide menjelaskan secara rinci tour ke pantai Kuta yang membuat para siswa dan guru pendamping mengangguk tanda mengerti.


Hanya membutuhkan waktu 7 menit untuk mencapai pantai dengan minibus khusus itu. Segera para guru dan siswa disuguhi pemandangan pantai yang begitu indah. Membuat Rani sukses tak berkedip. Maklum saja dia jarang mengunjungi pantai dan ini adalah pengalaman pertamanya.


Dia pun berjalan santai di pinggir pantai bersama Oliv sambil sesekali mengambil foto. Begitu asyik nya sampai tidak sengaja dia tersandung kulit kerang yang lumayan besar.


Rani kehilangan keseimbangan nya lalu.. Hap! Sebuah lengan kuat menahan tubuh mungil nya agar tidak terjatuh.


"Hati-hati. Perhatikan langkah kamu."


Untuk beberapa saat Rani dan Oliv tertegun melihat Dion di samping mereka. Entah mengapa cowok ini terlihat tampan dengan celana pendek dan kaos oblong tanpa memakai alas kaki. Dion pun tersenyum, dia senang Rani menatap nya seperti itu.


"Ehem.." Pak Arya muncul dengan topi pantai nya, "Kamu gak ada niat melepas pelukan kamu Dion?" tanya pria setengah baya itu sambil tersenyum jahil.


Cepat-cepat Dion melepaskan Rani, berdiri tegak dan tersenyum canggung.


"M.. Pak.. Ini bukan seperti yang bapak pikirkan." Rani berusaha menjelaskan kronologi kejadian nya.


"Don't worry girl.. bapak dulu juga pernah muda." Pak Arya terkekeh dan meninggalkan mereka bertiga yang masih bingung. Terkadang kepala sekolah yang mereka segani itu bisa bertingkah absurd.


Oliv menyenggol bahu Rani saat menyadari seseorang tengah mendekat, siapa lagi kalau bukan Hendy yang saat ini memancarkan aura hitam dengan menatap dingin ke arah mereka. Rani pun sedikit mundur menjauhi Dion.


(*Duh..ini bahaya.. Bisa ada perang lagi disini*!)


Hendy merangkul bahu Rani, menarik nya menjauh dari Oliv dan Dion. Dia menoleh sebelum melangkah lebih jauh dengan Rani.


"Liv, ditunggu Leo di spot foto tuh." Hendy pun beralih ke Dion, "Dan lo, jangan coba ganggu milik gue."


Hendy dan Dion saling menatap tajam. Sebagai cowok, Hendy tahu jika Dion memiliki perasaan lebih untuk Rani dan dia tidak suka akan hal itu.

__ADS_1


Rani menghela napas. Setidak nya tidak ada keributan yang terjadi. Hendy pun melepaskan tangan nya setelah berjalan cukup jauh. Dia diam menatap matahari yang mulai terbenam.


"So.. Kayak nya aku gak bisa ngebiarin kamu sendirian sebentar aja. Lihat kan, baru berapa menit aku gak di samping kamu tapi udah ada serigala mendekat." Hendy memasang wajah kesal diiringi dengan tawa kecil Rani.


"Malah ketawa.." Hendy mencubit pipi Rani. Gemas sekali melihat pacar nya yang malah menertawakan kecemburuan nya.


"Kamu lucu sih.."


Hendy melirik pasrah, "Aku rasa ini hari ulang tahun yang paling nyebelin buat aku."


Rani baru sadar hari ini ulang tahun Hendy.


(Beg banget sih kamu Ran*!)


"M.. Happy birthday.. Sorry aku.."


Dia menyentuh bibir Rani dan mencoba mencium nya. Rani pun meletakkan tangan nya di bibir Hendy. Mencegah tindakan nakal pacar nya di tempat umum itu.


"Come on baby.." protes Hendy dan menyingkirkan tangan Rani dari bibir nya.


"Gak.. Ini tempat umum! Lagian Pak Arya bisa langsung loncat di depan kita." ucap Rani dengan pandangan menyelidik menyusuri sekeliling mereka.


"Secara teknis, aku udah 18 tahun sekarang. Jadi Pak Arya gak bisa ngelarang aku buat nyium kamu." Hendy kembali protes dan hanya membuat Rani tertawa melihat tingkah menggemaskan nya.


"Wow.. indah banget."


Hendy memandang paras cantik cewek yang sedang terkagum-kagum di samping nya. Semua sempurna di kehidupan nya sekarang.


"I love you.." Hendy menggenggam tangan Rani dan memandang ya lekat.

__ADS_1


"I love you too.."


Pemandangan romantis itu sukses membuat fans Hendy menahan iri. Siapa pun pasti ingin di posisi Rani sekarang.


Mereka larut dalam diam beberapa saat, memandangi matahari yang semakin lama semakin tenggelam. Tak berapa lama terdengar teriakan seseorang dari pinggir jalan.


"Woi Hen!" Leo berteriak dari pinggir jalan sambil berlari bersama Oliv. Hendy mengernyitkan dahi tak mengerti. Sedetik kemudian dia tersadar.


"Komotra!"


Dia menggandeng Rani, mereka lari terburu-buru mencari komotra yang masih bisa mereka naiki. Kedua nya lupa tentang jam operasional minibus itu. Leo dan Oliv berhasil naik sebuah komotra dan menghilang dari pandangan Hendy.


"Sial..!" sepanjang mata memandang tak terlihat komotra yg masih kosong.


Mereka berdua masih berlari menyusuri jalan. Beruntung ada sebuah komotra terakhir yang masih parkir walaupun penumpang nya terlihat penuh.


"Sikat aja Hen, ini yang terakhir!" ucap Candra yang tiba-tiba muncul dari belakang. Terlihat dia juga menggandeng seseorang.


"Ya tapi lo lihat tuh penumpang nya bejibun!"


"Daripada gak bisa balik ke hotel. Buruan.." Candra mendorong tubuh Hendy agar segera masuk.


Dia menyelinap kan tubuh mungil Rani terlebih dahulu setelah Candra dan pasangan nya masuk. Alhasil, Hendy akhirnya duduk di pintu komotra yang tidak berkaca.


Berkali-kali dia mengecek keadaan Rani di dalam minibus. Dia tidak tega melihat pacar nya yang sekarang setengah berdiri dan berdesakan dengan penumpang lain. Ingin sekali rasanya dia menggantikan sang sopir dan memacu kendaraan itu sekencang-kencang.


(Please Bli.. kalau nyetir nya sekenceng kura-kura kayak gini cewek gue udah keburu encok!)


Ini akan menjadi momen ulang tahun yang tak akan pernah dilupakan nya.

__ADS_1


__ADS_2