Sang Gitaris

Sang Gitaris
Hancurnya Kesombongan


__ADS_3

Tepat jam 09.00 orang tua Tya dan Vanda tiba di SMAN Nusa Dua. Terlihat dari wajah mereka ada sedikit kegelisahan apalagi bagi orang tua Vanda.


Pak Arya sudah menunggu kedatangan mereka di ruangan.


"Silahkan duduk bapak ibu sekalian. Langsung ke inti permasalahan.."


Pak Arya menjelaskan apa yang telah dilakukan putri mereka dan spontan membuat orang tua Vanda kaget dan langsung minta maaf. Tapi berbeda dengan Pak Zainal, ayah Tya. Dia seolah acuh dan menganggap itu masalah sepele antar remaja yang menginjak dewasa.


"Saya rasa anda terlalu berlebihan menanggapi masalah ini Pak Arya." kata nya santai.


"Saya tidak akan menanggapi berlebihan jika anak yang dipukul putri anda tidak berdarah." jawab Pak Arya datar.


Sejenak suasana berubah menjadi tegang. Pak Wawan, ayah Vanda akhirnya berusaha menengahi ketegangan antara 2 laki-laki itu.


"Pak Arya, apa yang perlu saya lakukan agar masalah ini tidak berlarut-larut?"


"Tolong anda tegur putri anda dengan sedikit keras. Saya sarankan anda sekeluarga meminta maaf secara langsung dengan Rani dan keluarga nya."


"Hah.. Kenapa kami harus repot minta maaf untuk urusan tidak penting seperti ini?"ucap Pak Zainal mencibir. Dia tidak mau merendahkan harga dirinya dengan meminta maaf.


"Lagipula status sosialvnya tidak jelas." dia mengucapkan sesuatu yang membuat Pak Arya kesal mendengar nya.


"Saya rasa itu kurang pantas diucapkan oleh seorang yang terpelajar dan terpandang seperti anda."


Semua orang yang ada di ruangan kompak menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang pemuda berumur sekitar 28 tahun dengan tubuh tinggi berotot memasuki ruangan. Di sebelah nya juga ada Pak Jonatan.


"Siapa pemuda tak bermoral ini Pak Arya?! Beraninya ikut campur urusan orang dewasa!" ucap Pak Zainal yang merasa tersinggung dengan ucapan pemuda itu.

__ADS_1


Pemuda itu langsung menatap nya dengan tajam. Semua orang di ruangan itu kompak merasakan aura yang menakutkan dari nya. Dia berjalan mendekati Pak Zainal yang sedang duduk manis di kursi.


"Aldo Ferdinan, kakak Rani." jawabnya singkat sambil membungkuk di depan Pak Zainal.


Mendengar hal itu seisi ruangan pun terkejut apalagi Pak Zainal yang berjarak hanya 1 jengkal dari nya.


"Saya heran, kenapa pemuda yang kelihatan terpelajar seperti kamu malah tidak punya sopan santun dengan orang yang lebih tua?" ucap Pak Zainal dengan menahan ngeri melihat ekspresi Aldo.


"Saya lebih heran mengetahui ada direktur bermulut sampah seperti anda." ucapan Aldo sukses membuat Pak Jonatan bergidik ngeri.


(*Dia sama gilanya dengan ayah nya*!)


Pak Arya yang dari tadi hanya menyimak diam-diam tersenyum melihat keberanian Aldo karena pemuda itu seperti tidak punya rasa takut. Dia senang ada yang berani melawan kesombongan Pak Zainal.


Sebelum suasana semakin tegang, Pak Arya mempersilahkan Aldo dan Pak Jonatan untuk duduk.


Aldo menatap Pak Zainal dan Pak Wawan secara bergantian, menunggu apa yang akan diucapkan kedua lelaki itu.


"Saya dengan senang hati akan mengajak Vanda bersilaturahim ke rumah Rani dan meminta maaf." jawab Pak Wawan cepat.


Dia yang hanya seorang staf keuangan biasa tidak mau mengambil resiko. Tapi sikap sebaliknya ditunjukkan Pak Zainal. Kesombongan masih terlihat jelas di wajah nya. Dia tersenyum seakan mengejek Pak Jonatan.


"Untuk apa kami merendahkan diri seperti itu?" dia tersenyum mencibir, "Anda butuh uang berapa Pak Jonatan? 10 juta? 20 juta? Katakan saja berapa yang anda inginkan asalkan putriku terbebas dari masalah ini."


Pak Jonatan tersenyum sinis mendengar kata-kata itu. Dia melihat Aldo yang duduk di sebelah nya. Tulang pipi pemuda itu sudah mengeras karena menahan amarah sejak memasuki ruangan ini.


"Perkataan anda sudah keterlaluan Pak Zainal." ucap Pak Arya yang mulai kesal, "Anda.."

__ADS_1


Aldo memberikan isyarat agar Pak Arya tidak tersulut emosi. Dia lalu berkata sesuatu yang mengejutkan.


"Om Jon, kayak nya pembicaraan ini gak berguna. Saya dengar seorang kriminal yang masih di bawah umur bisa dijebloskan ke penjara anak. Saya ingin putri Pak Zainal mendekam disana. Tolong om urus semua nya. Permisi."


Aldo pun keluar dari ruangan itu dengan meninggalkan Pak Zainal yang mulai tersulut emosi. Dia tidak terima seorang bocah mengancam putri nya untuk masuk ke penjara.


"Kurang ajar! Berani nya bocah ingusan mengancam ku! Akan kubuat dia dan keluarga nya menderita!" teriak nya sambil memukul meja kaca di depan nya. Pak Jonatan yang sebenar nya gemas dengan pria sombong itu pun angkat bicara.


"Sepertinya itu sedikit sulit bahkan mustahil untuk dilakukan Pak Zainal. Lagi pula apa yang akan anda lakukan? Menyewa tukang pukul untuk menghajar Aldo dan ayah nya?" dia tersenyum mengejek.


"Kenapa aku tidak bisa melakukan nya?! Aku punya banyak uang! Aku bisa menyewa tukang pukul sebanyak yang aku mau untuk menghajar mereka! Memang nya siapa orang tua nya?! Aku yakin bukan presiden yang kebal hukum!" Pak Zainal semakin mengeraskan suara untuk menunjukkan kekuasaan nya.


"Memang. Tapi dia putra Ferdinan Grahadi. Ah.. melihat ekspresi anda seperti nya anda tahu siapa orang yang saya maksud. Benar sekali! Dia manajer perusahaan perangkat lunak X sekaligus mantan anggota terkuat GIGN atau Groupe d'intervention de la Gendarmerie Nationale di tahun 1980an."


Semua orang yang mendengar penjelasan Pak Jonatan tak bisa mengucap kan sepatah kata pun. Mereka tak menyangka Rani adalah putri seorang mantan prajurit elite terbaik di Perancis.


"Kami akan menunggu 2x 24 jam untuk permintaan maaf bapak-bapak semua. Lebih dari itu saya bawa ini ke jalur hukum." ancam Pak Jonatan yang mulai menggunakan wewenang nya sebagai pengacara.


"Oh ya dan satu hal lagi Pak Zainal, pemuda yang anda tantang tadi seorang baret merah." ucap nya sambil tersenyum lebar.


"Baret merah? Itu artinya.." Pak Wawan tahu apa arti julukan itu. Dia semakin mantap untuk segera meminta maaf ke keluarga Ferdinan.


"Yup.. betul sekali Pak Wawan, anggota SAT-81 atau lebih dikenal dengan KOPASSUS."


Pak Jonatan lalu mengalihkan pandangan nya ke Pak Zainal.


"Dan saya rasa tukang pukul anda akan sekarat bahkan sebelum menyentuh kulit pemuda itu."

__ADS_1


Ucapan Pak Jonatan seketika merontokkan kesombongan Pak Zainal yang langsung terduduk lemas di kursi nya. Pada akhirnya dia sadar harus mengikuti jejak Pak Wawan sebelum semuanya terlambat.


__ADS_2