Sang Gitaris

Sang Gitaris
Rani dan Mega


__ADS_3

Udara berubah menjadi panas di meja mereka berempat. Hening..


Mega menunduk memainkan jarinya.Rani lalu tersenyum manis ke arah Mega. Artur memandang Rani dengan tatapan lembut. Sedangkan Hendy, dia lah yang mengeluarkan aura paling panas di sana.


Artur tahu Hendy menatap tajam ke arahnya. Tapi cowok itu tak menggubris. Rani pun merasakan hal yang sama walaupun dia tidak sedang melihat Hendy.


"Hai.. Kita belum kenalan dengan benar, aku Rani." cewek cantik itu tersenyum dan menjabat tangan Mega.


"Mega.."


"Kok nunduk terus sih.. Apa wajah ku terlalu menakutkan buat kamu?" guraunya.


(Bukan gitu, aku minder aja berhadapan sama kamu!)


Hendy menggenggam tangan Mega untuk menenangkannya. Hal itu membuat Mega kaget dan sedikit tersipu.


(Calm down Ran.. ingat kamu udah memilih Artur)


"Gak usah kuatir, dia jinak kok."


Ucapan Hendy langsung membuat Rani memonyongkan bibirnya.


"Iya.. aku udah di vaksin."


Hendy tersenyum dengan jawaban itu. Sudah lama dia tidak bercanda seperti ini dengan Rani.


Di sisi lain Artur mencoba tersenyum yang terlihat sangat dipaksakan. Hal itu tentu membuat Hendy senang. Ekspresinya seakan tengah mencemooh cowok di hadapannya.


Rani tahu Hendy sengaja bersikap seperti itu untuk membuat Artur kesal.


"By the way kenalin, ini Artur."


Mega menjabat tangan Artur dengan tersenyum, sedangkan Hendy memasang wajah dingin. Dua cowok itu berjabat tangan dan aura berubah semakin gelap.


(Aduh.. ni cowok-cowok bisa gak sih gak masang tampang serem kayak gini..)

__ADS_1


"Sayang, aku permisi ke toilet sebentar."


(Sayang?)


Hendy shock mendengar panggilan Artur untuk Rani. Dia menoleh meminta penjelasan dari cewek cantik itu.


Rani hanya tersenyum sambil sesekali melirik Mega yang masih tertunduk.


"Aku permisi bentar." ucapnya seraya beranjak pergi.


Rani dan Mega menatap punggung cowok itu yang semakin menjauhi meja.


"Well.. tinggal kita aja sekarang." Rani memperhatikan wajah Mega dengan seksama.


"Makasih kamu udah nemenin Hendy selama ini. Semoga seterusnya juga seperti itu."


"Ya.. Tapi.." untuk sejenak Mega ragu-ragu. Dia takut apa yang akan diucapkan nya akan membuat Rani kembali dekat dengan Hendy.


"Tapi apa?"


"Dia masih mencintai kamu. Aku cuma pilihan kedua buat dia."


"Tapi cintanya buat kamu lebih besar. Aku pun bisa lihat cinta yang sama di mata kamu."


Mega mulai berkaca-kaca yang membuat Rani menghela napas.


"Meg.. Hubungan ku dan Hendy berakhir bukan karena kemauan kami. Jadi wajar jika kami masih memiliki perasaan satu sama lain. Tapi sekarang keadaannya sudah berbeda. Masing-masing sudah memiliki orang lain di samping nya. Dia dengan kamu, dan aku dengan Artur."


"Permisi, pesanan anda nona." pelayan restoran tiba-tiba menghidangkan pesanan Rani hingga cewek itu menghentikan perkataannya sejenak.


"Terima kasih." senyum manis tersungging dari bibir Rani.


"Hah.. jantungku bertahanlah.." si pelayan langsung ngibrit setelah mengucap kata-kata itu.


"Aku gak sebanding dengan kamu Ran. Lihat.."

__ADS_1


Rani mengangkat sebelah alisnya saat Mega menunjuk dirinya sendiri. Apa yang salah?


"Kamu itu cantik. Gak usah merendahkan diri kamu."


"Ran, aku udah dengar semuanya dari Leo tentang kamu dan Hendy. Tentang betapa cintanya dia sama kamu. Bahkan waktu awal aku dekat dengan dia, hanya kamu yang dia bicarain. Dari situ aku sadar cinta dia buat kamu udah terlalu dalam."


(Yeah.. aku tahu itu..)


Rani mengusap tangan Mega yang memaksanya melihat wajah cantik di hadapannya. Dia bisa melihat pesona Rani dengan jelas dalam jarak sedekat ini. Benar kata Leo, mata Rani sangat indah dan menenangkan.


"Kasih dia waktu Meg.. Aku tahu nggak mudah untuk memahami dia. Beri dia ruang, jangan terlalu menekannya. Dengan begitu cepat atau lambat dia akan mencintai kamu dan ngelupain aku."


"Ran.." Mega tak menyangka Rani begitu bijaksana di usianya yang terbilang masih muda. Mega bahkan tak yakin dirinya bisa sebijak itu jika di posisi Rani.


"Tolong jaga dia baik-baik. Dia adalah.." tenggorokan Rani tercekat, suaranya bergetar. Untuk sesaat Mega merasakan kesedihan di suara itu.


(Orang yang paling berharga buat aku)


Rani mengatur napasnya dan melanjutkan, "cowok yang baik."


Ada jeda cukup lama setelah dia mengucapkan itu.


"Aku tahu apa yang akan aku katakan ini terdengar egois. Tapi bisakah kamu menghilang dulu?"


"Enggak. Aku bukan hantu Meg, aku gak bisa teleportasi." Rani tertawa melihat reaksi Mega setelah mendengar gurauannya.


(Ni cewek ya.. Bisa-bisanya dia bercanda padahal hatinya lagi menahan rasa sakit kayak gini)


Mega benar-benar takjub dengan kepribadian Rani. Pantas saja cowok yang pernah dekat dengannya akan sulit untuk menjauh darinya, termasuk Hendy.


"M..maksudku.."


"I know.. Aku usahain."


"Makasih.."

__ADS_1


Berat bagi Rani menyanggupi permintaan Mega. Namun dia tahu permintaan itu akan membantu Hendy dan Mega semakin dekat dan dia akan melakukannya.


"But.. kalau dia terluka atau kamu berusaha merusak dirinya, maka jangan salahin aku.."


__ADS_2