
"Wah.. Gimana sih bebeb, main tinggal aja temen nya." ucap Artur seraya duduk kembali di kursinya di depan Mega.
Cewek itu mendongak sebentar lalu kembali sibuk bermain dengan sedotan jus nya.
Artur mengamati Mega dengan seksama. Dia berpikir apakah cewek itu sedang bosan atau memang tingkah lakunya kekanakan? Ah sudah lah, dia tak peduli dan kembali meminum jus.
"Apa kamu gak apa-apa lihat Rani dan Hendy yang masih saling sayang?"
"Uhuk-uhuk.." Artur terbatuk-batuk dengan pertanyaan itu.
"Sorry.."
"Jadi kamu ngelamun gara-gara mikirin itu?"
"Iya. Tapi kok kamu biasa aja sih? Gak cemburu gitu?" tanya Mega menyelidik.
Artur tersenyum. Tentu saja dia cemburu, tapi dia tak perlu menunjukkan nya di depan orang lain. Lagipula dia tahu Rani sudah memilihnya dan dia yakin Rani tak akan mempermainkan perasaan nya.
Mega terpukau dengan senyum itu.
(Astaga.. ganteng banget nih cowok.. Wait! Ingat Meg, lo udah punya Hendy!)
Mega lantas menggelengkan kepalanya perlahan.
"Kenapa Meg? Pusing? Aku beliin obat bentar." Artur segera berdiri bermaksud membeli obat sakit kepala.
"Eng..Enggak! Aku gak apa-apa kok. Itu tadi ada nyamuk muter-muter di sekitar kepalaku." ucap Mega sambil mempersilahkan Artur duduk kembali.
"Nyamuk?"
(Duh.. dodol banget sih gue! Mana ada nyamuk di ruangan ber-AC!)
"Wah.. ngobrolin apa sih? Kayaknya asyik banget?"
Rani berjalan mendekati meja disusul Hendy. Senyum mengembang dari bibir mungil nya. Sedangkan Hendy tampak lebih kalem, ekspresinya sangat berbeda dengan beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
(Sebenarnya apa yang udah mereka bicarain?)
"Artur aku laper. Yuk pesen makanan dan biarin mereka menikmati kencannya." ucap Rani lalu menghabiskan sisa jusnya.
Artur hanya mengangguk. Dia melempar senyum ke arah Hendy dan Mega sebelum pergi bersama Rani.
"Hayo ngobrol apaan tadi.." Hendy mencubit hidung Mega yang membuat cewek itu menoleh heran ke arahnya.
Bagaimana tidak, beberapa saat yang lalu Hendy terlihat marah dan wajahnya sangat tidak bersahabat tapi sekarang..
Hendy tahu pacarnya sedang kebingungan dengan sikapnya saat ini. Dia merengkuh bahu Mega, menenggelamkan cewek itu di dadanya yang bidang. Dia lalu mengecup dahi cewek itu.
"Sayang.. Maafin aku yang gila ini. Tolong kasih aku kesempatan kedua. Aku ingin memperbaiki hubungan kita. Aku mohon tetaplah di sampingku."
"Hen.." Mega kehabisan kata-kata. Saat ini hanya kebahagiaan yang melingkupi hatinya.
Dia terisak di pelukan Hendy.
"Iya.."
"Terima kasih.."
"Berhenti ngelihatin aku terus Artur."
"Ehm.. Ran.."
Artur tampak ragu melanjutkan kata-katanya. Ada hal yang ingin dipastikannya.
"Soal semalem aku benar-benar minta maaf. Pikiran ku sedang kacau."
"Lalu kamu lampiaskan dengan minum?" tanya Rani sambil tersenyum.
"Ya.." Artur tak kuasa menatap senyum itu.
Hal itu membuat Rani gemas, dia langsung membelai lembut di pipi Artur.
__ADS_1
"How stupid you are.. Mabuk hanya akan merusak diri kamu pak dokter. Lagian aku gak suka kamu ngutarain cinta kamu dengan cara seperti itu."
Rani kini membelai lembut rambut hitam Artur yang membuat hati cowok itu dag dig dug tak karuan.
"So.. ungkapin semuanya sekarang."
Artur mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari saku jaketnya. Terlihat sebuah kalung liontin berbentuk not nada di dalamnya.
"Ran.. Udah lama aku ingin mengatakan ini. Aku sayang banget sama kamu. Kamu mengisi ruang kosong yang ada di hatiku. Aku harap kita bisa menjalani hari-hari kita sebagai sepasang kekasih. I love you sweet heart.."
"Ppfftt.." Rani berusaha menahan tawanya mendengar kata-kata puitis dari seorang Artur.
"Why? Kok ketawa?"
"Maaf.. aku hanya gemas lihat wajah kamu." kelitnya.
Rani mengambil liontin itu dan memperhatikannya dengan seksama.
"Beautiful.."
"Like you." Artur tersenyum penuh harap. Saat ini jantungnya sudah tidak bisa dikontrol lagi.
"I love you too, I'll be your side. Makasih kamu masih mau mencintai aku walau hati kamu sakit berkali-kali karena ulahku. I'm so lucky.. Jika itu bukan kamu, mungkin cowok itu udah ninggalin aku sejak lama."
Jawaban Rani terdengar seperti lagu cinta untuk Artur. Hatinya melayang karena bahagia. Dia melingkarkan liontin itu di leher jenjang Rani.
"My love.." Artur mencium tangan Rani.
"Promise me, jangan minum-minum lagi. Itu membuat aku sedih."
"As your wish.." Artur mendekatkan wajahnya bermaksud mencium bibir Rani, namun dengan segera telapak tangan Rani membentengi bibir mungilnya dari serangan Artur.
"Enggak di tempat umum.."
"So let's go home."
__ADS_1
Artur menarik tangan Rani perlahan dan memeluk pinggangnya lagi. Dia bersemangat mengajak Rani untuk segera pulang.
"Hah... dasar dokter mesum." tawa renyah terdengar darinya.