Sang Gitaris

Sang Gitaris
Salah Paham


__ADS_3

Hendy kaget melihat orang yang sedang tersenyum hangat kepada nya saat ini.


"Ran.. kamu..disini?" tanya Hendy tak percaya. Dia senang melihat Rani yang kuatir dengan kondisi nya namun di sisi lain dia juga merasa sedih jika mengingat kejadian waktu itu.


Rani tak menjawab. Dia mengeringkan rambut hitam Hendy yang basah dengan sapu tangan. Mata nya lalu tertuju pada tangan kanan Hendy yang mengeluarkan darah walaupun sudah terbalut perban.


Dia segera mengeluarkan P3K yang dia beli di apotek. Dengan telaten dia membuka perban itu, membersihkan darah nya, lalu mengganti perban dengan yang baru. Hendy menatap lekat-lekat cewek yang telah dengan mudah meruntuhkan kekuatan nya, membuat nya tergila-gila.


"Kenapa kamu kayak gini? Kenapa tangan kamu sampai robek?" tanya Rani dengan wajah kuatir.


"Kenapa kamu menjauhi aku? Kamu marah? Kalau iya tolong jelasin, jangan diem dan tiba-tiba menghilang. Aku gak akan ngerti kalau kamu diem." lanjut Rani. Dia menghujani Hendy dengan banyak pertanyaan namun tidak ada satu pun jawaban yang keluar dari mulut Hendy.


"Kenapa kamu diam aja Hen? Please jangan buat aku kuatir kayak gini." Rani benar-benar kuatir dengan kondisi Hendy yang sedikit menggigil.


"Apa aku harus terluka dulu buat dapatin perhatian kamu?"


Rani tersentak mendengar ucapan Hendy. Dia berusaha mencerna kalimat Hendy dan tertegun sesaat sampai dia tidak menyadari masih memegang tangan Hendy.


"Apa aku harus menghilang juga biar kamu mencari ku Ran? Kalau iya, akan aku lakuin itu setiap hari." suara nya tertahan saat mengatakan semua itu.


Perlahan dia membimbing tangan Rani dan meletakkan di dada nya. Jantung nya terasa berdetak cepat.


"Kamu bisa ngerasain itu kan? Jantung ku selalu kayak gini setiap kali kamu di dekat ku." Hendy berusaha mengatur napas nya yang mulai tidak beraturan.


Rani memandang wajah tampan yang putus asa itu. Dia menarik tangan nya dari genggaman Hendy.


"Hen.."


Hendy menyentuh dagu Rani dan mengusap nya dengan lembut, memaksa Rani melihat wajah tampan itu sekali lagi.

__ADS_1


Mata, hidung, dagu, semua nya sempurna dan saat mata nya tertuju pada bibir Hendy dia berteriak dalam hati.


(Astaga.. Kenapa bibir itu seksi banget!)


Rani berusaha menyapu bersih pikiran nya yang mulai membayangkan hal yang tidak-tidak sehingga membuat ekspresi wajah nya menjadi aneh. Hendy tersenyum melihat ekspresi menggemaskan cewek cantik ini. Sekuat tenaga dia menahan diri untuk tidak mencium Rani.


"Kasih aku waktu, mungkin sekitar seminggu."


"Dan dalam waktu seminggu itu aku pasti bener-bener gila." tawa Hendy kecut.


Rani pun lalu menatap tajam ke arah Hendy.


"Jangan lakuin hal yang aneh-aneh!" Rani mencubit perut Hendy yang bahkan tak terasa sakit bagi nya.


"Kamu gak tahu Ran seberapa sulit nya aku berusaha untuk menjaga pikiran ku untuk tetap sehat 2 minggu ini. Aku udah mencoba cari kesibukan, berharap bisa menghapus wajah kamu sebentar aja dari pikiran ku. Tapi semakin mencoba aku malah semakin frustasi. Kamu selalu muncul di pikiran ku dan membuat ku marah kalau ingat kejadian waktu itu."


"Kejadian apa?"


"Kejadian saat aku gak sengaja lihat kamu di pelukan cowok lain di lobby sekolah." jawab Hendy datar.


"Tunggu! What?" otak Rani berusaha mencerna kata-kata Hendy. Beberapa saat kemudian dia tersenyum geli.


Hendy menjadi heran dan bingung melihat reaksi Rani yang malah tersenyum.


"Kenapa kamu senyum? Segitu senangn ya kamu saat aku ngomongin cowok itu. Kamu sayang banget sama dia?" Hendy menunjukkan kekesalan nya. Dia mengalihkan wajah nya ke arah lain.


"Emang, sayang banget." Rani tersenyum lebar dan membuat Hendy semakin cemburu. Wajah nya memerah karena marah.


"Kenapa? Apa yang kamu lihat dari dia yang gak aku miliki?"

__ADS_1


Hendy menatap Rani dengan tajam. Terlihat jelas dahi nya yang mengerut dan itu membuat Rani semakin gemas untuk terus menggoda nya.


"M.. Ganteng, tinggi, berotot, smart, kuat, pemberani, m.. apa lagi ya.. aku suka semua yang ada di dia." jawab Rani dengan penuh semangat, membuat kecemburuan Hendy berada di titik tertinggi.


Dia berdiri dan meninju tembok di samping nya dengan sekuat tenaga. Membuat luka di tangan nya semakin parah. Rani kaget melihat reaksi Hendy yang tiba-tiba, tapi akhirnya dia yakin akan perasaa nya sekarang.


Rani pun berdiri, menarik baju Hendy dan mencium bibir nya. Sebuah ciuman hangat yang membuat Hendy tidak berkutik.


Beberapa saat kemudian Rani melepaskan ciuman nya. Dia bisa melihat wajah Hendy yang memerah. Dia lalu menyentuh bibir Hendy dan berkata lembut.


"Apa ini udah cukup untuk menjelaskan semuanya?"


Hendy tak bisa berkata apa pun. Dia masih tak percaya mendapatkan ciuman dari cewek yang selama ini diidamkan nya.


Rani mengangkat sebelah alis, dia tahu Hendy masih bingung. Dia pun memukul dada Hendy dan menyilangkan tangan sambil menggerutu.


"Kamu kok beg* banget sih?! Apa aku gak boleh sayang sama abang sendiri?" ucap nya kesal.


Hendy tersadar dari lamunan nya dan semakin bingung mendengar ucapan Rani.


"Abang?"


Rani menghela napas panjang.


"Iya abang, kakak kandung aku." ucap Rani sambil menahan tawa.


Hendy merasa konyol mendengar kenyataan ini. Kenapa dia bisa cemburu buta dengan laki-laki yang ternyata kakak kandung Rani.


"Astaga.." Hendy pun menutupi wajah nya karena malu.

__ADS_1


__ADS_2