Sang Gitaris

Sang Gitaris
Sebuah Panggilan Video


__ADS_3

Hendy memacu motor nya secepat mungkin untuk kembali ke sekolah padahal dia baru saja tiba di garasi rumah nya beberapa menit yang lalu.


Semenit yang lalu..


"Gue baru sampai rumah. Kenapa?"


"Hen, kayak nya ada masalah sama Rani!" ucap Leo di ujung telepon.


"Maksud lo?"


Leo pun menceritakan apa yang dilihat nya di ruang kepala sekolah. Tanpa ba bi bu Hendy segera berbalik dan memacu motor nya menuju sekolah.


**


Suasana tampak mencekam di ruang Pak Arya. Terlihat Tya dan Vanda tengah tertunduk pasrah karena ketahuan telah melakukan bullying pada Rani. Sorot matanya menatap tajam kedua gadis itu. Saat pandangan nya beralih pada Rani, pria itu sedikit melunak.


"Luka nya sudah diobati nak?" tanya Pak Arya kuatir.


"Sudah pak." jawab Rani. Terlihat sudut bibir nya masih mengeluarkan darah. Beliau memberikan tissu agar Rani bisa membersihkan luka nya lalu berdiri dari kursi.


"SMAN Nusa Dua adalah sekolah favorit kedua se-pulau Jawa. Tidak sembarang orang bisa masuk dan menjadi bagian dari sekolah ini. Mayoritas siswa dan siswi berasal dari keluarga menengah ke atas termasuk kamu Tya." Pak Arya berbalik menatap Tya dengan tajam.


"Kelakuan kamu tidak mencerminkan seorang pelajar. Dulu bapak memaafkan mu karena ayah mu meminta maaf dan menjamin kamu tidak akan membuat masalah lagi. Tak disangka kamu mengulangi kesalahan yang sama sekarang." kata-kata Pak Arya terdengar datar tapi begitu menusuk Tya.


(*Dulu? Jadi dia pernah ngelakuin ini ke cewek lain sebelumnya*?)


"Tapi pak dia yang mulai duluan!" Tya menunjuk wajah Rani yang berjarak 2 meter darinya.


"Gue?" tanya Rani polos.

__ADS_1


(Ya kali gue yang mulai duluan.. Bisa dilihat juga siapa yang bonyok disini!)


Rani sedikit kesal mendengar Tya yang sembarangan menuduhnya, tapi dia masih bisa mengontrol emosi.


"Cukup Tya. Bukti cctv sudah jelas. Besok bapak akan memanggil orang tuamu dan juga Vanda.


"Tapi pak.." sela Vanda mencoba membela diri.


"Silahkan kalian keluar." kata Pak Arya tegas.


Saat mereka sudah berada di luar, Tya mendekat dan mengancam Rani.


"Awas lo! Lo gak tahu siapa papi gue!" dia menggunakan nama besar ayah nya yang seorang direktur perusahaan besar untuk mengancam Rani.


"Gue gak takut." jawab Rani dengan acuh.


Dengan kesal Tya dan Vanda beranjak meninggalkan Rani. Dari jauh Hendy yang ternyata sudah sampai di sekolah melihat pemandangan itu dengan bingung. Tak berapa lama Leo pun datang untuk mengajak nya ke suatu tempat.


"Lo harus lihat ini." jawab Leo singkat sambil memperlihatkan rekaman cctv beberapa saat yang lalu. Hendy semakin bingung bagaimana Leo bisa mendapat akses rekaman cctv dan dia kaget dengan apa yang dia lihat.


**


Rani yang baru saja sampai di rumah Oliv disambut dengan wajah kebingungan dari sahabat nya. Untuk sementara dia memang tinggal di rumah Oliv karena ayah nya sedang dinas ke Jepang. Beliau adalah manajer perusahaan perangkat lunak terbesar di Indonesia dan bersahabat baik dengan ayah Oliv.


"Ya ampun Ran! Ini kenapa pada bonyok gini!" Oliv menyentuh wajah Rani dengan ekspresi kuatir.


"Haishh... jangan dipegang, sakit!" Rani meringis menahan sakit di bibir nya.


"Rani? Ada apa sayang? Kenapa sampai kayak gini?" tanya ayah Oliv tak kalah kuatir.

__ADS_1


Sebelum sempat menjawab, handphone Rani pun berbunyi.


"Halo sayang.. Bagaimana sekolah mu hari.. Tunggu! Kenapa dengan wajah kamu?" seorang laki-laki terlihat di layar handphone Rani. Dia sangat terkejut melihat wajah Rani yang terluka.


"Ayah! Kapan ayah pulang? Kok ayah tambah kurus?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan sayang. Hufftt.. sudah lah.. mana Om Jonatan?"


Rani mengernyitkan dahi nya seraya memberikan handphone ke ayah Oliv. Beliau lalu pergi ke ruang kerja nya agar pembicaraan nya dengan ayah Rani tidak didengar oleh Oliv dan Rani.


"Jelaskan Jonatan." ucap ayah Rani dingin.


"T.. tenang Ferdinan.. aku bisa jelaskan." Jonatan menelan ludah. Dia sangat mengenal sahabat nya ini. Dia pasti akan bersikap berlebihan jika sesuatu terjadi pada putri nya dan itu bukan hal yang bisa dianggap remeh.


"Ckk.. Jonatan.. Sudah berapa kali aku bilang, jaga putriku dengan baik!" Ferdinan begitu marah melihat putri nya seperti itu.


"Oke-oke.. Sorry.. aku pasti akan mengusut hal ini."


"Hah.. aku akan menyuruh nya pulang untuk membantu mu."


"T..tunggu! Fer.. gak per..!"


Tut tut tut..


Ferdinan sudah menutup telepon. Jonatan hanya bisa menggelengkan kepala pelan. Memang susah mencegah Ferdinan yang sudah terlanjur marah untuk melakukan apa yang diinginkan nya.


Di saat yang bersamaan Alia, istrinya masuk ke ruang kerja karena mendengar keributan kecil di dalam.


"Sayang, itu tadi Ferdinan?"

__ADS_1


"Yup.. Sayang kita harus bersiap-siap. Kita akan kedatangan tamu." ucap Jonatan sambil mengusap wajah nya dengan lesu.


"Well.. Sepertinya masalah kali ini tidak akan mudah." Alia pun tersenyum sambil mengelus dada sang suami.


__ADS_2