Sang Gitaris

Sang Gitaris
CPTSD


__ADS_3

Rani dan Hendy larut dalam diam setelah melepaskan semua kerinduan yang terpendam. Ciuman itu seolah bisa sedikit mengobati hasrat cinta mereka.


Waktu sudah menunjukkan pukul 20.35 tapi Hendy masih tak berniat melepaskan pelukan nya. Dia masih melingkarkan lengan nya yang kekar di bahu Rani dan menyandarkan kepala nya disana. Entah kenapa Rani bisa merasakan pacar nya saat ini tidak dalam kondisi baik.


"Aku capek sayang. Stars, ujian, belum lagi fans fanatik, aku capek sama semua itu. Kayaknya badan ku gak sanggup menghadapi itu semua." ucap Hendy sambil masih memejamkan mata nya.


"Kalau gitu istirahat lah sebentar. Kamu gak harus selalu berlari. Terkadang berhenti sejenak bisa menghilangkan rasa lelah kamu biar bisa berlari lebih cepat. Jangan menyerah semudah itu. Hendy ku adalah cowok tangguh yang bahkan tetap mencintaiku walau sudah berulang kali aku menolak nya." Rani mengelus lembut pipi Hendy dan entah kenapa terasa sedikit panas.


"Aku tahu aku gak mencintai orang yang salah." Hendy tersenyum saat mengatakan itu, namun pandangan nya sayu dan membuat Rani kuatir.


"Are you okay? Kamu agak pucat."


"Aku gak apa-apa, cuma kecapekan aja." Hendy berusaha meyakinkan pacar nya itu. Dia tidak mau Rani kuatir.


Pandangan nya lalu tertuju pada sebuah foto yang terpasang di meja.


"Itu siapa?" Hendy menunjuk salah satu foto. Terlihat seorang wanita cantik tengah tersenyum dengan memegang bunga mawar berwarna biru.


"Mere." jawab Rani singkat.


Hendy memasang wajah lucu saat Rani mengatakan itu. Dia tidak mengerti maksud ucapan Rani.


Rani tersenyum gemas melihat ekspresi pacar nya.


"Ibu aku.." dia pun mencubit hidung Hendy.


Hendy lupa jika ibu Rani adalah orang Perancis dan Mere adalah panggilan untuk seorang ibu. Dia tersipu malu dan tertawa garing.


(Duh.. jadi kelihatan goblk kan di depan dia!*)


Hendy pun mencoba mengalihkan pembicaraan dan menunjuk foto yang lain dimana ada dua orang laki-laki kekar berdiri diantara Rani.


"Jadi ayah kamu juga tentara?"


"Iya.. tepat nya mantan."


Hendy mengangguk pelan. Dia semakin tertarik bertanya tentang keluarga Rani.

__ADS_1


"Kok cuman bertiga foto nya? Oh pasti ibu kamu yang ngambil foto kan? Ngomong-ngomong apa beliau lagi kerja sekarang soal nya gak kelihatan dari tadi?"


"Mere udah meninggal." jawab Rani sambil tersenyum.


Deg! Jawaban Rani membuat Hendy kaget. Seketika kepala nya mulai terasa sakit. Dia pun berusaha menahan nya agar Rani tidak kuatir.


"Sorry.. Aku gak tahu."


"Gak apa-apa." Rani kembali tersenyum yang membuat rasa sakit Hendy berkurang. Memang hanya dengan melihat senyum Rani semua beban dan sakit nya mereda. Tapi dia masih penasaran dan lanjut bertanya.


"Kalau boleh tahu, kenapa beliau meninggal? Sakit?"


Rani menggeleng.


"Sorry, kecelakaan?"


Rani kembali menggeleng. Hendy pun semakin bingung.


"Lalu kenapa?"


"What.. Ran.. Tapi kenapa?" saat Hendy akan bertanya lebih lanjut, dia menyadari Rani mulai berkaca-kaca.


"Sorry.. Udah gak usah diceritain." dia memeluk Rani dan melihat ketegangan serta kesedihan bercampur di wajah cewek itu. Rani menarik napas dan melepaskan pelukan Hendy.


"Aku gak apa-apa kok. Kejadian itu udah lama banget sejak umur ku 2 tahun, aku udah ikhlas. Lagian orang itu udah dipenjara sekarang." Rani kembali memperlihatkan senyum terbaik nya agar Hendy tidak kuatir.


"Tapi aku masih gak ngerti, apa alasan nya?" Hendy mengernyitkan dahi. Dia tidak menyangka ada yang tega membunuh wanita secantik ibu Rani.


"Semua berawal karena ini." Rani menunjuk mata indah berwarna hazel milik nya.


Hendy semakin tidak mengerti. Akhirnya Rani menceritakan semua nya. Dia mengambil foto sang ibu dan mensejajarkan dengan wajah nya.


"Lihat? Kamu menyadari sesuatu gak? Bener, Mere dan aku punya mata yang sama. Mata itu yang membuat ayah jatuh cinta pada pandangan pertama dan mereka pun akhirnya menikah. Hal yang tidak ayah perkirakan adalah pernikahan mereka menyebabkan mantan kekasih ayah marah besar, dia dendam pada Mere karena merebut ayah darinya."


Wajah Hendy mulai pucat mendengar cerita Rani. Kepala nya kembali sakit.


"Lalu saat aku berumur 2 tahun, kejadian mengerikan itu terjadi. Waktu itu ayah lagi ada tugas, bang aldo juga di sekolah, jadi aku di rumah berdua aja sama Mere. Tiba-tiba 2 orang laki-laki asing yang ternyata orang suruhan mantan pacar ayah memaksa masuk rumah. Salah seorang ngambil aku dari pangkuan Mere dan yang satu nya menodongkan pistol ke dada nya. Mere tentu aja berusaha mempertahankan aku biar gak dibawa mereka dan karena itu dia ditembak. Lalu.."

__ADS_1


Belum selesai Rani bercerita, dia kaget melihat Hendy yang sudah mengerang kesakitan dengan memegang kepala nya. Sontak Rani berteriak memanggil si mbok dan Mang Asep. Mereka berdua masuk tergopoh-gopoh mendengar teriakan Rani.


"Ya ampun non, ini Den Bagus kenapa?!" si mbok ikut panik melihat Hendy yang kesakitan.


"Gak tahu mbok.. Tiba-tiba dia kayak gini. Mang tolong anterin ke rumah sakit, cepetan!"


Mang Asep langsung memapah Hendy ke mobil dan melarikan nya ke rumah sakit terdekat.


**


Sesampainya di rumah sakit, Hendy langsung dibawa menuju ke ruang IGD.


"Ini kenapa dek? Lho Hendy?!" tanya seorang dokter yang ternyata dokter pribadi keluarga Hendy.


"Saya gak tahu, tolongin dia dok.." pinta Rani yang mulai menangis.


"Oke-oke.. Tenang ya dek.. Saya akan lakukan yang terbaik." dokter itu segera masuk ke ruang IGD.


Setelah sekitar 40 menit, sang dokter keluar dan menemui Rani yang sudah menunggu di lobby.


"Gimana keadaan Hendy dok?"


"Kondisi nya udah stabil dek, tapi biarkan dia istirahat dulu." dokter pun tersenyum melihat Rani yang bernapas lega.


"Dia sakit apa dokter? Saya kaget karena tiba- tiba dia kesakitan."


Sejenak dokter berpikir. Diapun mulai menjelaskan semua nya.


"Hendy menderita CPTSD sejak berumur 10 tahun." jelas dokter.


"CP.. apa dok?"


"CPTSD atau complex post traumatic stress disorder. Kondisi yang biasa dialami seseorang yang mengalami trauma pahit di masa kecil. Dia akan mengalami sakit kepala yang luar biasa jika mengalami atau mengingat kembali kejadian itu."


Rani sangat kaget mendengar penjelasan dokter. Seorang Hendy, cowok yang terlihat kuat dan tangguh ternyata memiliki trauma di masa kecil sampai menyakiti nya seperti ini? Rani memandang nya yang masih tergolek lemah dari luar ruangan.


(Apa yang sudah kamu alami Hen..)

__ADS_1


__ADS_2