
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang menatap marah dan dipenuhi api cemburu dan juga dendam yang menjadi satu. Wanita dengan penampilan modis nan anggun itu sedang duduk disudut ruangan resto yang sama.
"Bahagia sekali kamu tanpaku Hanz. Apa tak sedikitpun kamu mengingat kenangan indah tentang kita !"gumamnya sambil memasukan potongan steak kedalam mulutnya.
"Serius amat liatin apaan sih !". ucap seseorang yang baru saja muncul dari arah toilet.
"Tuh liat sendiri!" ucap Risya dengan mengarahkan pandangannya ke arah Hanzen.
Ya itu adalah Risya dengan seorang teman lelakinya yang juga kebetulan sedang makan direstoran tersebut.
Hanzen dan Hanum yang sedang asik bercanda dan terlihat sesekali Hanzen menciumi tangan Hanum.
"Itu bukannya Hanzen ya mantan kamu itu . Lalu perempuan itu siapa apa kekasih barunya kelihatannya bahagia dan mesra sekali mereka !".
"Tidak ! Mereka tidak boleh bahagia ! Aku harus bisa mendapatkan cintaku kembali!". Risya mengepalkan kedua tangannya diatas meja.
"Sudahlah Sya biarkan saja mereka bahagia to kamu sendiri kan yang dulu selingkuh dari Hanzen !".
"Kamu!" Risya melotot pada temannya itu.
"Emang benar kan kamu dulu begitu percaya diri bahwa Hanzen akan memaafkan mu setelah kamu mengakhiri perselingkuhanmu itu . Dan nyatanya sekarang apa! Makanya sebelum melakukan sesuatu itu dipikir dulu baik baik Sya. Akhirnya seperti ini kan!"
"Udah ahh gak asik kamu tau gak!".
Pria itu hanya menggelengkan kepalanya.
Melihat istrinya sedikit kesusahan saat memotong steaknya . Hanzen menyodorkan piring steak yang sudah terpotong pada Hanum kemudian menukarnya dengan piring yang ada didepan Hanum.
"Terima kasih suamiku"
"Sama sama istriku".
Hanum mulai memakan makanannya dengan sesekali ia menyuapkannya pada suaminya. Mereka terlihat sangat romantis layaknya sepasang kekasih yang baru saja menjalin hubungan.
Ya mereka memang baru saja menjalin hubungan tapi langsung dalam bentuk pernikahan bukan lagi pacaran.
Merekapun mulai menghabiskan makanannya .
Pergerakan mereka tak luput dari pengawasan seorang Risya yang sejak tadi melihatnya tanpa mereka sadari hingga akhirnya mereka keluar resto dan masuk ke dalam mobil.
"Sekarang kalian boleh bersenang senang ! Tunggu saja saatnya tiba kesenangan itu akan ku rubah menjadi penderitaan yang tiada akhir!". Gumam Risya yang juga didengar oleh seorang laki laki yang masih setia duduk disampingnya.
"Wih sadis sekali kedengarannya! cinta apa obsesi Sya sampai segitunya !.
__ADS_1
"Aku butuh bantuanmu !"
"Gak Sya! Aku gak mau ikut terlibat dalam masalahmu!".
"Ayola bantu aku sedikit saja Joe"
"Tidak bisa Sya, kamu tau sendiri kan aku paling males mengurusi hal hal yang berbau asmara. Sudahlah biarkan saja mereka bahagia toh kamu juga masih muda dan cantik pasti ada banyak pria yang masih mau menerimamu Sya ".
"Tidak bisa Joe ! Aku mau Hanzen dan hanya dia!".
"Terserah kamu aja lah Sya tapi aku gak mau ikut campur! Ingat Sya jangan sampe kamu menyesal atas perbuatan kamu. Harusnya kamu belajar dari kejadian yang sudah sudah dalam hidupmu sampai akhirnya kamu kehilangan cinta Hanzen!"
Joe berlalu pergi meninggalkan Risya sendirian diresto tersebut.
"Kali ini aku gak kan mengalah ! Aku yakin bisa memisahkan mereka!". Risya bergumam sendiri dengan sorot mata yang begitu emosi.
Sesampainya di mainson Hanzen melihat istrinya tertidur didalam mobil tak tega untuk membangunkannya. Kamudian ia berinisiatif akan menggendongnya membawanya ke dalam mainson.
Namun baru saja akan menyentuh tangannya Hanum sudah terbangun.
"Ah udah sampai rumah ternyata ya mas?".
"Kenapa kamu bangun padahal kan aku mau gendong kamu!"
"Emang kamu bisa apa gendong aku naik keatas sana !". Ucap Hanum seraya berjalan menuju aula mainson
"Aaaaaaaaa!!! Teriak Hanum dengan begitu nyaring karna terkejut sehingga penghuni mainson pun terutama para pelayan yang sedang bekerja didapur berdatangan ke aula mainson tersebut.
Hanum yang menyadari bahwa suaranya itu terdengar keseluruh ruangan langsung membekap mulutnya sendiri. Setelahnya ia kembali melingkarkan kedua tangannya dileher dan juga menenggelamkan wajahnya didada bidang suaminya karna malu
"Hanzen kenapa dengan Hanum!" tanya Nenek panik.
"Tidak apa apa nek Hanum katanya kakinya sakit jadi aku menggendongnya. Aku bawak Hanum kekamar dulu ya nek!".
"Panggilkan dokter saja Hanz !!" serunya masih dengan muka paniknya.
"Tidak perlu nek aku akan mengobatinya sendiri !".
Lalu dengan cepat Hanzen membawa Hanum menaiki anak tangga dan menuju kamarnya.
Sesampainya dikamar Hanzen tidak langsung menurunkan Hanum ia malah asik memandangi wajah imut istrinya itu.
Dikecupnya seluruh inci wajah istrinya itu. Lalu bibirnya saling menempel dan bertaut. Hanzen menyesapnya dengan begitu lembut sehingga membuat tubuh Hanum meremang . Lalu Hanum mulai mengimbangi dan membalas ciuman lembut dengan sesekali berhenti untuk sekedar mencari oksigen untuk bernafas.
__ADS_1
"Udah bisa belum ?" tanya Hanzen dengan suaranya yang terdengar parau.
Hanum hanya mengangguk lalu menenggelamkan wajahnya didada bidang suaminya. Namun lagi lagi Hanzen berhasil menautkan kembali bibirnya
Diturunkan tubuh Hanum keatas kasur dengan keadaan bibir yang saling bertautan kemudian menyusuri setiap inci tubuh Hanum tanpa terlewat sedikitpun . Dan tanpa disadari entah sejak kapan mereka sudah tidak menggunakan apapun semua pakaiannya sudah terburai dilantai .
"Pelan pelan mas!"
"Iya sayang . Apa terasa sakit?".
"Iya mas, sakit sekali!".
Hanzen berhenti sejenak sampai istrinya merasa nyaman lalu melakukannya kembali dengan begitu lembut sampai akhirnya ia berhasil membobol pertahanan Hanum yang masih tersegel dengan sempurna itu . Dan melakukannya hingga sama sama mendapatkan pelepasan.
Dengan nafas yang masih sama sama terengah Hanzen menjatuhkan tubuhnya disamping Hanum dengan tak hentinya hentinya mengecup kening Hanum.
"Terimakasih sayang karna kamu telah menjadikan aku sebagai lelaki pertama yang menyentuhmu!". Lalu memeluk tubuh Hanum kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang masih dalam keadaan tanpa sehelai benangpun.
"Sama sama mas. Apa ini bukan pertama buatmu mas?".
"Kalau aku jujur apa kamu mau memaafkan aku dan tetap menerimaku sebagai suamimu?".
"Kenapa kamu bicara seperti itu mas? Apa kamu pernah melakukannya sebelum menikah?!" tanya Hanum dengan raut muka sedikit kecewa.
"Maafkan aku Hanum !".
"Seberapa sering kamu melakukan itu mas?!".
"Aku lupa Sayang ! karna aku juga gak pernah menghitungnya ". Ucap Hanzen dengan rasa bersalah yang begitu besar pada istrinya.
"Sama siapa kamu melakukan itu mas!" bibir Hanum mulai gemetar dalam berucap ia merasa sangat kecewa. Ia mulai meneteskan air matanya.
"Sayang maafkan aku " menenggelamkan wajahnya didada istrinya .
Melihat istrinya menangis Hanzen merasa semakin bersalah karna ia tak mengatakannya sejak awal.
"Katakan Mas ! Siapa perempuan itu !"
"Helga" ucap Hanzen dengan nada suara yang lemah nyaris tak terdengar oleh Hanum.
"Owh. Sekarang aku mengerti kenapa kamu begitu perhatian sama dia dan aku juga ingat saat dia memintamu untuk mengantarkannya ke toilet ternyata karna memang kalian sudah biasa seperti itu!". Seraya bangun dari pembaringannya.
"Sayang maafkan aku!". Hanzen berdiri dan memeluk hanum dari belakang " semua itu aku lakukan saat aku tinggal diluar negeri dan itupun sudah sangat lama. Maafkan aku sayang !".
__ADS_1
Hanum memakai kembali pakaian dan berjalan tertatih tatih menuju kamar mandi.
Melihat Istrinya kesakitan Hanzen berusaha membantu memapahnya ke kamar mandi namun dengan cepat Hanum menolaknya. Ia masih sangat kecewa dengan Hanzen .