SEJUTA CINTA UNTUK HANUM

SEJUTA CINTA UNTUK HANUM
Bab 55. Meninggal dunia


__ADS_3

Saat sedang dalam perjalanan kembali kerumah sakit ponsel Hanum berdering


"Hallo mom !" Hanum menjawab telpon dari mertuanya.


"Sayang kembalilah kerumah sakit !" Zennet berucap dengan suara yang tidak begitu jelas karna terus terisak .


"Iya mom, ini dalam perjalanan!".


"Baiklah kami semua menunggumu disini!".


"Ada apa Mom ? Apa yang terjadi pada suamiku?". Hanum mulai cemas


panggilanpun terputus begitu saja tanpa mendapat jawaban yang pasti.


"Bri cepat dikit bawa mobilnya !"


"Apa yang terjadi Num?"


"Aku juga tidak tau Bri, mommy hanya menyuruh cepat kembali tanpa menjawab lagi !".


Dengan rasa cemas dan khaawatir Hanum melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit.


.


.


BRAAAKKK


Hanum membuka pintu ruangan dengan kerasnya dan mendapati mertuanya sedang menangis seraya memeluk anaknya yang tak lain adalah suami Hanum.


"Apa yang terjadi Mom?" seraya berlari.


"Hanzen telah meninggalkan kita Sayang!" sahut Zennet sambil terus menangis .


Begitupun semua orang yang ada disana.


"Tidak ..!!! Tidak mungkin mom!" Hanum menghambur ketubuh suaminya dan mengoyang goyangkan tubuh suaminya yang terbaring itu.


"Mas bangun mas! Jangan tinggalin aku mas! Hiks hiks" Hanum menangis dengan begitu pilu" mas banguuunnn....! Kita akan merawat dan membesarkan baby kita mas banguuuun...... Hiks hiks!" tangisannya semakin pilu dan sedih.


"Sabar sayang, kuat ya ! Daddy tau kamu wanita yang kuat dan tegar!".


”Tidak Dad, mas Hanzen harus bangun! Dia harus melihat selama aku mengandung anaknya, melihatku melahirkan dia harus bangun Dad !! Tolong bangunkan dia dad..!".


kemudian tubuhnya luruh dan ambruk kelantai terihat darah mengalir dipangkal pahanya dan tidak sadarkan diri.


Hariawan segera berlari memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Hanum.


"Bagaimana kondisi anak saya dan juga kandungannya Dok?" tanya Hariawan pada sang dokter.


"Kondisinya baik baik saja , pendarahan yang terjadi itu akibat shok dan juga setres yang dialaminya.tapi beruntung kandungannya sangat kuat sehingga masih bisa bertahan . Tapi untuk sementara waktu usahakan jangan terlalu memikirkan yang berat berat!".


Dokter itupun .memberikan resep untuk ditebus apotik didalam rumah sakit itu.

__ADS_1


"Baikalh Terimakasih dok!".


Kurang lebih setengah jam Hanum tersadar .


Dan berharap semua yang ia baru terjadi itu hanyalah mimpi yang akan hilang saat terbangun dari tidurnya .


Nanum itu bukanlah mimpi. Ia kembali melihat suaminya yang masih terbaring dan sudah tidak bernyawa. Ia kembali menangis dan mendekati suaminya.


"Mas, begitu cepat kamu peegi meninggalkanku bahkan kamu belum tahu kalo aku saat ini sedang mengandung anak kita mas,". Hanum menarik tangannya suaminya untuk menyentuh perutnya yang masih rata.


"Sayang...! Kita harus segera membawa Hanzen pulang nak, pemakaman harus segera dilakukan!". Ucap Zennet masih dengan suara paraunya karna sejak tadi terus menangisi kepergian anaknya .


Hanum hanya mengangguk sembari terus memeluk tubuh suaminya.


Rania hanya terus berdiri dan menangis tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya karna begitu shok dan tidak percaya dengan kepergian kakak lelakinya itu yang begitu cepat.


.


.


.


Saat dipemakaman hanya tinggal Hanum yang ditemani oleh Farel . Hanum kembali tidak sadarkan diri beruntung Farel dengan cepat bisa segera meraih tubuh Hanum hingga akhirnya ia tidak terjatuh dan ambruk ditanah.


Farel lalu mengangkat tubuh Hanum kedalam mobil miliknya. Membalur tangan dan kakinya menggunakan minyak angin yang ia dapatkan dari seorang penjaga makam.


"Hanz! Begitu cepat kau meninggalkan kita semua ! Kau tau Hanz bahkan benih percintaanmu sedang tumbuh berkembang dirahim istrimu. Tapi kau jangan khawatir karana aku akan selalu menjaga istri dan anakmu kelak seperti aku menjaga seorang adik dan keponakanku sendiri! Bahagialah disurga!". Farek bergumam sendiri sambil menatap sendu pada Hanum yang masih terpejam karna belum juga sadar dari pingsannya .


Tak beeselang lama Hanum membuka matanya .


ia begitu terkejut saat menyadari sudah berada didalam mobil bersama Farel.


"Kenapa aku disini?" tanynya.


"Tadi kau pingsan dan aku membawanya kesini!"


"Aku mau pulang Rel!".


"Baiklah kit pulang sekarang? Apa udah enakan?".


"Ya " jwabnya singkat kembali menangis dan menundukan kepalanya punggungnya bergetar hebat.


"Sabar ya! Kita doakan saja yang terbaik buat Hanz! Jujur aku sendiri masih tidak percaya jika dia secepat itu pergi ninggalin aku disini!".


"Dokter kemarin bilang jangan terlalu memikirkan hal berat untuk menghindari terjadinya lagi pendarahan seperti kemarin!".


"Entahlah Rel rasanya sangat sulit untuk tidak menangis lagi!".


"Aku gak minta kamu untuk tidak menangis loh ! Kamu berhak menangis Hanum pradipta sepuouku tersayang!"


"Ish apaan sih Farel Bramasta!". Seru Hanum karna merasa malu .


"Ah elah malu malu ya!". Goda Farel lagi

__ADS_1


"Ish kamu tuh ya sepupu paling menyebalkn tau!".


"Biarin yang penting ganteng dan banyak yng suka!".


"Heleh ngaku ganteng tapi ditolak sama Mama Mutia wle..." sahut Hanum sambil menjulurkan lidahnya.


"Curang mainnya perasaan !"


"Biarin! Udah akh yux pulang!".


"Gimana? Udah ilang belum sedihnya?".


"Jangan nangis terus, suamimu itu paling tidak suka kiat wanitanya menangis , apalagi karana dirinya, Jadi jangan menagia lagi ya!".


"Heleh sok tau!"


"Ya kan kami timbuh besar sama sama dari kecil Hanum! Jadi aku tau betul suamimu itu seperti apa!". Jelas Farel pada sepupunya itu.


"Iya udah ah bawel ,nyerocos terus kayak mulut cewek tau gak!". Seru Hanum kemudian sambil terus mengusap sisa air matanya yang masih tersisa .


Farel dan Hanum kemudian kembali kerumah .


Dalam perjalanan dua orang bersaudara itu karut dalam pikirannya masing masing .


Hanum kembali memikirkan nasib anak didalam kandungannya saat ini , betapa sedihnya saat lahir nanti jika tau ayahnya sudah tidak ada didunia ini.


Hanu. Menunduk sambil memegangang perutnya yang masih rata.


"Jangan khawatir soal calon bayimu ! Aku janji akan menjaganya dan akan menyayanginya demgan sepenuh hati. Meskipun ayahnya sudah tidak ada tapi percayalah aku tidak akan membiarkan keponakanku itu kekurangan kasih dari seorang ayah nantinya!". Kata Farel dengan penuh kesungguhan .


"Terimakasih sebelumnya! Aku beruntung punya sepupu sepertimu . Walaupun awalnya aku menolak mempunyai ayah kandung seperti Daddy Hariawan tapi aku sekarang bahagia karna keponakan dari ayah kandungku hatinya sangat baik!".Hanum memuji Farel.


"Nyonya Hanzen bisa saja menjawabnya!"


Tak terasa mobik telah memasuki halaman mainson.


"Wanita tidak punya hati. suami baru saja meninggal malah udah asik asikan berdua duaan sama pria lain, dimana perasaanmu Hanum! Tidakkah kamu merasa sedih karna ditinggal suami malah berdua duaan terus . Kakaku sudah meninggal sekarang kau mau deketin sepupuku begitu maksudnya! " Omel Rania panjang lebar.


"Hei Rania apa kau lupa jika aku dan Farel juga sepupu, jangan lupakan jika aku adalah anak kandung daddy Hariawan Bramasta!" Hanum menjawab dengan menekankan kata anak kandung.


Hanum sangat tidak suka dengan tuduhan Rania yang seola olah mengatakan bersenang senang disaat madih berduka.


Rania mendengus kesal dengan jawaban Hanum, ia tak menyangka jika Hanum akan berkata seperti itu.


.


.


.


.


BERSAMBUNG✍️

__ADS_1


__ADS_2