SEJUTA CINTA UNTUK HANUM

SEJUTA CINTA UNTUK HANUM
Bab 19.Kamu Istriku


__ADS_3

Disebuah kursi berwarna putih yang berada disebuah taman dikampusnya Hanum duduk bersandar sambil memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa punya penghasilan sendiri.


"Aku harus cari cara untuk punya penghasilan sendiri ! Tapi apa ya? Cari kerja paruh waktu?" ia tampak menimbang nimbang sambil mengetuk ngetuk pelipisnya dengan jari telunjuknya "Tidak mungkin ! aku gak kan bisa membagi waktu antara kuliah bekerja dan juga mengurus suami !"


Kemandirian dan kesederhananan yang tertanam pada diri Hanum masih melekat sampai saat ini. Walaupun ia sudah menjadi istri seorang presdir tak lantas membuatnya berpangku tangan dan hanya menggunakan fasilitas mewah yang diberikan oleh suaminya.


Kartu tanpa limit yang diberikan suaminya bisa saja ia gunakan untuk semua keperluan yang dibutuhkan


Namun itu tak Hanum lakukan .


Contohnya sekarang Ia tetap saja berpenampilan sederhana . Semua itu ia lakukan agar ia bisa bebas berteman dengan siapapun tanpa disegani siapapun.


Menurutnya kampus adalah tempat menuntut ilmu bukan menjadi ajang pamer kekayaan atau popularitas dengan berpenampilan mewah dan glamor .


Apalagi memang dulu ia berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Tidak mungkin ia akan melupakan asal usulnya .


Dan karna kesederhanaannya itulah yang membuat ia terlihat istimewa dimata orang orang .


"Hai " sapa salah seorang mahasiswa bersama seorang perempuan yang juga satu jurusan dengannya "kayaknya asik banget duduk disini dari tadi ! Boleh aku duduk?" tanyanya kemudian.


"Eh ya boleh duduk aja" ucap Hanum seraya tersenyum ramah .


"O ya kenalin aku Brian " ucapnya seraya mengulurkan tangannya.


"Eh maaf aku gak biasa berjabat tangan dengan seorang cowok " Hanum menyatukan kedua tangannya didepan dada"Aku Hanum".ucapnya kemudian.


"O maaf kalo begitu !" ucap Brian lalu menyatukan kedua tangannya seperti yang dilakukan Hanum.


"Tapi kalo sesama perempuan gak papakan?" mengulurkan tangannya pada Hanum " Aku Siska" ucap perempuan tersebut.


Hanum menyambut uluran tangan Siska"Hanum !". Kemudian tertawa.


Lalu mereka terlibat percakapan seputar kampus dan mata kuliah yang baru saja mereka ikuti. Dengan sesekali diiringi tawa yang cukup menghidupkan suasana . Karakter Hanum yang memang murah senyum dan ramah pada siapapun membuat siapa saja yang berteman dengannya merasa nyaman.


Sesaat kemudian ponsel Hanum berdering tanda panggilan masuk.


"My Husband" sebuah nama yang muncul pada layar ponselnya.


"Maaf aku jawab telpon dulu ya !" pamitnya pada kedua temannya tersebut.


Dengan segera Hanum menjawabnya.


" Hallo ".


"Aku didepan kampus ini ! kamu dimana ?"


"Aku di Taman Mas ! Tunggu sebentar aku otw kesitu".


"Oke sayang".


Panggilan terputus


"Brian , Siska aku duluan ya udah dijemput ! Bye"

__ADS_1


"Hati hati Num sampai ketemu besok!" teriak siska karna Hanum sudah mulai menjauh


Hanum melambaikan tangan sambil berlari kecil menuju depan gerbang kampus dimana suaminya telah menunggunya didalam mobil.


Dengan cepat ia masuk kedalam mobil dan duduk disebelah kemudi.


" Mas " sapa Hanum lalu mencium punggung tangan suaminya.


Dan " Cup " dibalas Hanzen dengan kecupan dikeningnya"gimana kuliahnya hari ini?" tanyanya kemudian.


"Lumayan lah mas!".


" Syukurlah sayang!".


"Pak Ujang kapan kembali bekerja Mas?".


"Dua hari lagi sayang ! emang kenapa?".


"Gak papa mas. Kamu kan disetiri pak Ujang aku takut kamu capek nyetir sendiri terus ".


"Sebenernya sih iya, Tapi mau gimana lagi namanya pak Ujang lagi ada musibah mau gimana lagi donk ".


Sebenarnya ia bisa saja mencari supir sementara pengganti selama pak Ujang pulang kampung namun tak ia lakukan dengan alasan tidak terbiasa dengan orang asing masuk kedalam lingkungan mainsonnya.


"kita mau makan dulu apa ke showroom dulu mas?


"Makan dulu aja deh ya!".


"Oke".


Setelahnya mereka segera menuju showroom yang dimaksud.


Sesampainya di showroom mereka disambut langsung oleh pemiliknya.


"Pak Hanzen Bramasta apa kabar ?" menjabat tangannya"terimakasih telah berkunjung ke showroom kami ! Suatu kehormatan yang sangat besar bisa dikunjungi langsung oleh pak Hanzen sendiri !"


"Kabar baik pak alex! Saya membawa istri saya pak biar dia bisa memilih sendiri sesuai seleranya !".


"Baik baik ! Silahkan pak dicoba coba dulu tidak apa apa!".


Lalu Hanzen dan Hanum mulai melihat lihat .


"Yang mana sayang ada yang menarik perhatianmu?".


" Mas mobil mewah semua disini aku gak mau ! Aku mau mobil yang biasa aja!". Bisik Hanum ditelinga suaminya.


"Mobil biasa gimana sayang, kamu itu istriku kamu gak lupa kan siapa suamimu ini!". Ucap Hanzen yang juga berbisik ditelinga Hanum.


Mana mungkin seorang istri dari keluarga Bramasta menggunakan mobil yang biasa saja menurutnya.


"Ya gak lah mas, masa sama suami sendiri lupa !"


"Ya makanya pilih yang mana?".

__ADS_1


Namun Hanum tak kunjung memilih mobil mana yang akan ia beli. Menurutnya mobil yang ada disitu terlalu wah dan ia tidak menyukai semua itu.


"Tapi mas ! Aku tidak menyukai mobil mobil yang ada disini !".


Lalu Hanzen mendekati pemilik showroom.


"Pak alex mana keluaran terbarunya? Istri saya tidak tertarik dengan semua mobil mobil ini !" ucap Hanzen pada pemilik showroom tersebut.


Hanum hanya menatap seraya menggigit bibir bawahnya merasa tak enak dengan ucapan suaminya yang menurutnya terlalu jujur pada pemilik showroom


"Sebelah sini pak Hanz mari ikut saya !".


Hanzen mengikuti pemilik showroom dan melihat mobil keluaran terbaru yang ditunjukannya.


Sebuah mobil sedan mungil dengan warna silver dengan tampilan yang sangat sederhana namun elegant cocok untuk seorang wanita. Sekilas itu tidak terlihat seperti mobil mahal hanya orang tertentu saja benar benar tau harga mobil itu.


"Saya rasa ini sangat cocok untuk istri anda pak Hanz tampilan yang cukup sederhana namun terlihat elegant".


"Baiklah saya ambil yang ini tolong hari ini juga diantar kerumah saya pak alex !" Ucap Hanzen setelah mengecek interior bagian dalam mobil.


"Menurutku ini sangat cocok dengan karakter istriku sederhana tapi berkelas !" Hanzen mengedipkan sebelah matanya pada istrinya.


Pemilik showroom itu terkekeh mendengarnya laku berkata dalam hati


Boleh juga selera nyonya Hanz ini. Kesederhanaan dengan sejuta pesona.


"Siap pak Hanz siang ini juga akan segera kami kirimkan ke alamat anda !".


Hanzen menyodorkan black card nya pada pemilik showroom . Lalu ia meminta ID Card milik Hanum


"Mana ID card mu sayang ?"


"Untuk apa mas?"


"Mobil milikmu harus dengan namamu!"


"Mas serius ! Itu mobil harganya sangat mahal loh mas !" Hanum terkejut.


"Ya terus?".


"Ya gak ! Apa mas yakin itu atas namaku ?!"


"Hanum Pradipta kamu itu istriku ! Kamu berhak atas semua yang ada dalam hidupku termasuk kekayaanku juga akan menjadi milikmu ! You understand?!"


"No . I don't understand at all !". Ucap Hanum seraya memberikan ID Card pada suaminya.


"Aku rasa sebagai seorang bintang kampus pasti kamu sudah sangat paham, apa lagi dengan melihat beberapa prestasi yang pernah kamu raih, Bukan begitu istriku?!".


Hanum tercengang dengan kata kata suaminya yang ternyata ia juga mengetahui tentang semua prestasi yang pernah ia raih selama kuliah di kampus yang sebelumnya. Namun sekali lagi ia tersadar tentang siapa sosok laki laki yang sekarang menjadi suaminya tersebut.


Seorang Hanz yang hanya tinggal menempelkan jarinya dilayar ponsel semua informasi akan ia dapat dengan mudah dalam hitungan detik.


Kok aku merinding ya, sedikit saja aku melakukan kesalahan entah apa yang akan terjadi dalam hidupku selanjutnya! Tidak itu tidak mungkin terjadi aku akan selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk suamiku.

__ADS_1


Hanum lalu menggeleng gelengkan kepalanya.


__ADS_2