
Sore itu setelah merasa sedikit lega karna istrinya sudah sedikit tenang Hanzen keluar dari kamar dan bergabung bersama keluarganya.
"Bagaimana Hanz! Apa Hanum sudah lebih tenang?" tanya Hariawan yang masih saja terus kepikiran tentang Hanum.
"Udah pa, Hanum sedang tidur sekarang!".
"Syukurlah aku lega mendengarnya!"
"Maafkan aku Hanz , semua ini salahku ! Harusnya aku tidak memberi tahunya sekarang!". Ucap Mutia.
"Tidak Tante ,sudah seharusnya Hanum tau karna mau sampai kapan kita menyembunyikan kebenaran itu".
"Ya ,kau benar Hanz".
"Hanum hanya butuh waktu untuk menerima semua itu aku yakin Hanum pasti akan segera menerima semua ini dengan besar hati. Aku sangat tau sifatnya yang mudah memaafkan kesalahan orang lain!".
Disebrang kursi Hanzen nampak Farel yang sedang menatap Mutia dengan penuh damba.
"Farel.... Jangan menatapku seperti itu! Aku jadi malu loh!" ucap Mutia yang merasa tidak enak ditatap dengan tatapan yang begitu intens oleh Farel.
Farel hanya tersenyum lalu mengalihkan pandangannya kearah lain.
Sementara Hariawan terus memperhatikan Farel yang menurutnya memang menyukai Mutia.
"Farel apa kau menyukai Mutia ?" ucap Hariawan tiba tiba hingga membuatnya kikuk namun ia memberanikan diri untuk bertanya pada pamannya itu.
"Jika iya apa kalian akan merestui hubunganku dengannya?"
Tentu saja semua orang yang ada disitu terkejut kecuali Hanzen yang memang sudah tau dari Farel sendiri .
"Apa maksud kamu kak?" tanya Rania
"Haduh plis dech kak lingkup hidup kita itu bukan hanya disekitar rumah ini ya, diluar sana masih banyak wanita yang bisa kaka cintai ! Heran dech sama lelaki dirumah ini! Kayak diluar sana itu gada lagi manusia !" ucap Rania geram.
"Rania benar Rel, lagian aku sudah terlalu tua untuk menjalin suatu hubungan apalagi dalam hubungan sebuah pernikahan rasanya aku gak sanggup lagi untuk semua itu!" ucap Mutia dalam hati seraya menghela napas panjang.
Cukup sudah ia selama ini menjadi wanita yang tak punya arah tujuan dan kini ia hanya ingin menjadi ibu yang baik untuk anaknya meski sudah terlambat karna Hanum sudah menikah.
"Ya aku tahu itu Rania! Itu sebabnya aku sedang berusaha melawan dan menepiskan rasa!". Ucap Farel dengan tak kalah geram.
"Baguslah lagian aku yakin tante dan om tidak akan menyetujuinya andaikan hubungan kaka dengannya terus berlanjut!".
"Diluar sana masih banyak wanita baik baik bahkan kaka bisa memilih lebih dari satu kalo kaka mau!" ucapnya lagi seraya menekankan kata wanita baik baik.
"Rania ... Jaga bicaramu nak!".
"Tidak apa apa Zen yang dikatakan Rania adalah benar, aku memang bukan wanita baik baik karna aku dulu sudah sangat tega mengkhianati saudara sebaik kamu!". Ucap Mutia seraya terisak karna mengingat kesalahannya dimasa lalu.
__ADS_1
"Itu sebabnya aku sekarang mencoba dan akan selalu berusaha menjadi orang baik dan bisa bermanfaat bagi kalian yang dulu aku sakiti dengan sengaja!".
"Sudah lah Mut jangan lagi bahas masalah yang dulu itu semua sudah berlalu dan sudah terjadi gakan mungkin bisa dikembalikan seperti sebelumnya".
"Mom, dad aku masuk kamar dulu nemenin Hanum".
"Ya sayang masuklah temani istrimu.
"Kak aku boleh ikut ?" tanya Hazel.
"Ya tentu saja Haz!".
Mereka berdua berjalan beriringan memasuki kamar
"Sayang ... Udah bangun?"
Hanum hanya mengangguk lemah.
"Kak....!" ucap Hazel lalu memeluk kakaknya itu
"Haz kau kah ini?"
Adik dan kakak itu saling berpelukan melepas kerinduan yang selama ini Hanum rasa adiknya telah jauh berubah dan menjauh darinya.
"Maafkan aku kak, selama ini sudah mengabaikan kaka karna kesibukanku yang baru masuk kuliah".
"Tidak kak, tidak seperti itu, sekarang jangan banyak pikiran tenangkan dirimu!"
Setelah menemui kakaknya Hazel kembali ke kamarnya.
"Sayang, udah lebih tenang kan?"
Hanum hanya mengangguk.
"Kita turun yuk makan malam "
"Gak mas ,aku masih malas, kamu makan aja duluan mas!".
"Tapi sayang kamu belum makan dari siang tadi loh!".
"Tapi aku gak lapar mas! Tolong jangan paksa aku kali ini!" ucap Hanum seraya memohon agar suaminya itu mengerti .
"Oke baiklah , kalo begitu aku turun ya!".
Hanum hanya menganggukkan kepala.karna ia juga masih merasa kesal dengan suaminya yang sudah ikut menyembunyikan kebenaran itu darinya.
Hanum kembali merenungi tentang kebenaran yang baru ia ketahui , ia masih sangat kecewa pada Hariawan dan Mutia . Ia menyangka orang baik seperti Hariawan ternyata hanya seorang pengecut yang lari dari tanggung jawab sebesar itu.
__ADS_1
Sejauh ini ia selalu berusaha memaafkan kesalahan orang tapi entah kenapa kenyataan yang ia ketahui saat ini benar benar membuat hatinya sangat sakit.
Dimeja makan Hariawan masih terus kepikiran akan Hanum. Ingin sekali rasanya ia menemui Hanum dan berbicara langsung padanya untuk meminta maaf atas kesalahannya dulu.
Tapi Hanum sama sekali tidak mau bertemu.
"Hanz!"
"Aku ingin sekali menemui Hanum, aku ingin meminta maaf padanya!".
"Aku tau Dad, tapi sekarang bukan waktu yang tepat! Biarkan dulu Hanum menenangkan dirinya?"
"Tapi aku tidak bisa tenang Hanz"
Hariawan berlari menuju kamar Hanum ia ingin segera meminta maaf padanya.
"Hanum...!" ucap Hariawan sendu.
Hanum hanya menatap sejenak saat terdengar seseorang membuka pintu kamar lalu setelah tau bahwa itu ayahnya ia langsung membuang muka kearah lain.
"Aku tau aku salah dan aku memang egois ,maaf kan aku Hanum !" ucap hariawan seraya terduduk menggunakan lututnya sebagai tumpuan.
Hanum kembali terisak merasakan sakit . Entah kenapa dulu saat mengetahui kebenaran bahwa Mutia adalah ibu kandung yang tidak menginginkannya ia masih dengan mudah menerimanya tapi sekarang kenapa rasanya begitu sakit saat mengetahui kalo ternyata mertuanya yang sangat baik itu adalah ayah kandungnya ia merasa sangat kecewa dan sakit hati atas penolakan ayah kandungnya dari sejak ia berada didalam perut ibunya dulu, bahkan dengan sengaja membiarkan ibunya yang dulu hendak menggugurkan kandungannya.
"Pergi ...! Pergi....! Aku bilang pergi.... Aku gak mau melihatmu!" ucapnya dengan begitu pilu dan terus menangis.
"Mas tolong suruh dia pergi dari hadapanku.!" pintanya pada sang suami saat melihat suaminya pun ikut ke kamar tersebut.
"Tenang sayang, tenangkan dirimu !"
Hanzen menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya.
Hanum pun kembali menangis didekapan suaminya.
"Dad tolong keluarlah dulu ,aku yakin jika Hanum sudah tenang pasti akan menemui daddy, mungkin ini belum saatnya untuk daddy berbicara dengan Hanum, tolong mengertilah dadd...!" ucap Hanzen kepada sang daddy.
"Baiklah Hanz ,daddy akan keluar maafkan aku karna telah memaksa bertemu Hanum!".
Hariawan keluar dari kamar Hanum dengan begitu lesu , seakan dunia telah berhenti berputar.
"Maafkan aku Hanum . Ijinkan aku menyayangimu sepenuh hati disisa umurku, aku ingin menebus masa lalu yang telah ku buat karna keegoisanku sendiri !! "
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG ✍️ .