
"Siska buat aku kaget saja!".
" Kalo aku gak gitu kamu akan tetap bengong seperti orang bodoh Num ! gak lucu tau!".
"Kamu gak usah pikirin soal mobil suamimu itu hartanya gak akan habis walaupun beliin kamu mobil sebanyak 5 unit sekaligus Num !".
"Apaan sih kamu Sis!".
"Ya habisnya kamu bengong terus ,kamu gak liat kekhawatiran semua keluargamu disini! Tuh lihat nenek kesayanganmu , suami tampanmu kedua mertuamu yang sangat sedih melihat keadaanmu !".
Hanzen yang ada dikamar itupun terkejut dengan respon Hanum kepada Siska.
"Sis gimana keadaanmu apa kamu terluka ! Ucap Hanum kemudian.
"Aku terluka Num , tapi terluka melihat kamu seperti ini, kamu bengong aja ! ditanya hanya mengangguk menggeleng seperti orang tidak bisa bicara saja ! Hilangkan ketakutan dan rasa traumamu itu jangan biarkan itu menghantui pikiranmu!".
Hanum mulai terisak dan meneteskan air mata.
kemudian ia menatap suaminya yang duduk disebelahnya.
"Mas "
"Ya sayang! Nangislah sepuasmu asal itu membuatmu lega!".
"Aku takut mas ! Aku gak mau lagi bawa mobil!".
"Ya sayang biar aku yang antar jemput kamu kuliah ya!"
Hanum mengangguk lalu memeluk suaminya dengan begitu erat. Ia terus terisak dalam pelukan suaminya.
"Panggilkan psikiater untuk membantu menghilangkan rasa trauma dan ketakutannya" ujar Siska
" Gak usah mas ! Ini hanya karna kejadian penembakan itu masih teringat jelas dalam bayanganku tapi kini harus ditambah lagi kenyataan jika mobilku meledak dan hampir saja diriku juga ikut meledak . Sedikit saja terlambat Siska melihatnya maka kami berdua pasti ikut hangus bersamaan mobil itu. Jadi maaf saja jika aku begitu trauma dan ketakutan sekarang ini".
"iya sayang aku mengerti!".
"Sis, aku sangat berterimakasih berkat kewaspadaanmu istriku selamat dari ledakan itu".
"Jujur saja Hanz aku masih ngeri ngeri gimana gitu dekat dengan Hanum, tapi biar bagaimanapun dia itu temanku sejak pertama kali masuk kuliah. Aku tidak akan meninggalkannya begitu saja saat dalam keadaan seperti ini!" ucap Siska seraya menatap iba pada Hanum.
"Aku jamin kejadian seperti itu tidak akan terulang! Karna aku sendiri yang akan menjaga Hanum".
__ADS_1
"Terimakasih Siska kamu udah menolongku" ucap Hanum kemudian.
"Ya Num sama sama"
"Kamu mau minta Hadiah apa dari suamiku?".
"Iss apaan sih Num , nolong orang kok minta hadiah ya enggak lah, kita gak ikut hangus aja aku udah sangat bersyukur".
"Ya gak apa apa anggap saja itu ucapan terimakasih karna kau telah menyelamatkan nyawa istriku !" Ucap Hanzen.
"Enggak lah Hanz, makasih sebelumnya!".
"By the way mana adikmu Num ? Apa dia belum tau tentang kejadian ini?".
"Aku sudah menelponnya tadi dia bilang masih mengikuti mata kuliah jadi belum bisa pulang , tapi dia sangat cemas dan menanyakan kondisi kakaknya !". Ucap Hanzen sedikit berbohong didepan istrinya .
Karna Hazel sama sekali tak menanyakan kondisi kakaknya itu. Dia hanya bilang masih ada mata kuliah yang wajib diikuti. Aku harus menyuruh Boy menyelidiki kesibukan Hazel yang sebenarnya.
Seandainya pun dia salah langkah masih belum terlalu jauh untuk memperbaikinya.
"Oy Num, aku pamit balik dulu ya soalnya tadi aku gak pamit sama mami aku entar nyariin lagi!"
" Ya Sis ,Hati hati dijalan ya! Makasih udah datang kesini!".
"Terus ajak Hanum berinteraksi apa saja yang penting jangan sampai pikirannya kosong sehingga kejadian itu kembali menghantui pikirannya! Jangan biarkan dia sendirian untuk sekarang ini !" lirih Siska pada Hanzen sebelum ia meninggalkan Mainson.
Sesampainya diruang tamu Siska berpapasan dengan Hazel . Siska menganggukan kepalanya lalu tersenyum. Tapi tak ada sedikitpun respon dari Hanzel . Ia kini menjadi sangat dingin dan tak sentuh.
"Bukankah itu Hazel ya! Setahuku saat sering melakukan panggilan video call bersama Hanum , Hazel anaknya ramah dan hangat pada semua orang . Tapi kenapa sekarang sikapnya begitu dingin ya? bodo ah lagian juga bukan urusan aku!" gumamnya seraya terus berjalan ke halaman mainson dan menuju mobilnya lalu meninggalkan mainson milik temannya itu.
Sesampainya didalam mainson Hazel langsung menuju kamar Hanum dan melihat kondisinya .
"Kak! Gimana kondisi kaka sekarang?" tanyanya seraya mendekat ke arah Hanum.
"Haz ! Kaka udah lebih baik hanya saja masih sering ketakutan itu datang dihati kaka".
"Syukurlah kak, aku kekamar dulu mau bersih bersih badan!". Ucap kemudian seraya berlalu meninggalkan kamar kakaknya itu.
"Mas! Lihat sendiri kan perubahan Hazel padaku!".
"Mungkin itu hanya perasaanmu aja sayang , udah jangan banyak pikiran?" ucap Hanzen menenangkan istrinya walaupun ia juga merasa memang Hazel benar benar berubah tapi demi tidak menambah beban pikiran istrinya ia memilih untuk tidak mengiyakan ucapan istrinya itu.
__ADS_1
"Ya mudah mudahan seperti yang mas bilang !".
"Ya udah sekarang kamu istirahat ya, tapi sebelum itu minum dulu obatnya !". Lalu ia menyodorkan obat kepadanya.
Hanum meminum obat lalu membaringkan tubuhnya diatas kasur empuknya.
"Aku tinggal sebentar gak apa apa?" tanya Hanzen pada istrinya.
"Ya mas, emang mau kemana ?".
"Keruang kerja , sebentar aja, tunggu ya!".
Hanum mengangguk dan membiarkan Hanzen keluar dari kamarnya.
Ia memejamkan matanya tapi bayang bayang ledakan itu selalu mengganggunya. Bayang bayang itu selalu datang saat ia mulai memejamkan matanya.
Itulah sebabnya ia selalu ketakutan sendirian dan hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. tatapannya kembali kosong dan menerawang jauh entah kemana. Keringat dingin mulai mengucur dari pelipis dan dahinya membahasi wajah yang terlihat pucat pasi itu.
Tak berselang lama Hanzen kembali ke kamar, dan lagi lagi ia mendapati istrinya dalam keadaan seperti itu. Ia kembali panik dan merasa sangat menyesal telah meninggalkannya sendirian didalam kamar.
"Sayang ! Hei, kamu baik baik saja ? Lagi lagi Hanum hanya mengangguk . Tatapannya matanya kosong.
Namun tak berselang lama matanya terpejam mungkin itu efek dari obat yang diminumnya beberapa menit yang lalu.
Hanzen sedikit tenang karna akhirnya istrinya itu tertidur.
Dan sejak saat itu Hanzen tidak lagi meninggalkan Hanum sendirian. Ternyata memang benar yang Siska bilang bahwa Hanum harus sering diajak berinteraksi agar pikirannya tidak kosong dan kembali dihantui oleh kejadian itu.
Melihat Hanum tertidur Hanzen kembali menuju ruang kerjanya dan berencana mengambil laptopnya . Ia akan melakukan pekerjaannya dikamar sembari menemani istrinya yang sedang tertidur.
Banyaknya pekerjaan akhir akhir ini membuatnya merasa sangat kecapekan dtambah suasana hatinya yang kurang baik karna memikirkan kondisi istrinya membuat Hanzen sedikit marasa tidak fokus . Akhirnya ia menghentikan aktivitasnya dan memilih berbaring disamping istrinya kemudian menciumi kening istrinya.
Ia berpikir bagaimana caranya untuk menemukan pelaku dari peledakan itu. Yang pasti bukan orang sembarangan karna mereka benar benar tidak meninggalkan bukti sedikitpun permainannya sungguh sangat rapih.
"Haruskah aku kembali masuk kedunia hitam yang sudah lama aku tinggalkan! Ya sepertinya itu harus aku tidak bisa berdiam diri seperti ini sedangkan nyawa istriku sendiri sedang dalam bahaya!"
Karna ia merasa begitu lelah ia pun kemudian mulai memejamkan matanya menyusul istrinya mengarungi mimpi.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG✍️