SEJUTA CINTA UNTUK HANUM

SEJUTA CINTA UNTUK HANUM
Bab 6 Pelayan Pribadi


__ADS_3

Dalam perjalanannya menuju Bandara Hanzen melihat wajah neneknya yang begitu murung karna tidak bertemu dengan Hanum.


Karna saat siang tadi pergi ke cafe tempatnya bekerja salah satu pelayan disitu mengatakan Hanum tidak lagi bekerja di cafe tersebut.


Sebenarnya Hanzen sendiri juga sangat berharap bisa melihat Hanum sebelum meninggalkan kota ini.


Ia akui jika beberapa hari ini sosok gadis sederhana dengan sejuta pesona itu mampu mengusik hatinya yang telah lama kosong . Para wanita yang sering diajaknya untuk sekedar bersenang senang namun tak ada satupun yang bisa menembus hatinya dan membuatnya jatuh hati.


Tapi mau gimana lagi . Tak ada lagi waktu untuk mencari keberadaannya karna ia sudah harus segera kembali. Pekerjaannya disana sudah menunggunya.


Hanzen yang sekarang sudah banyak berubah dan lebih bertanggung jawab dalam pekerjaannya. Jika dulu ia selalu mengutamakan keinginannya. Dulu ia akan mengabaikan pekerjannya demi untuk memenuhi keinginannya terlebih dahulu.


*


*


*


Setelah memakan waktu kurang lebih 2 jam. akhirnya mereka telah tiba di mainsonnya.


Dibantu para pelayan lainnya Bu tin menyambut kedatangan nyonya Bram. Dan segera membawakan barang barangnya untuk masuk kekamarnya.


"Nenek ada pelayan baru yang menggantikan Siti untuk melayani Den Hanz".


Pelayan pribadi yang melayani Hanzen dulu bernama Siti, namun setelah menikah Siti memutuskan untuk berhenti bekerja.


"Bawa dia kesini ,aku mau tau orangnya".


Dengan segera Bu Tin memanggil Hanum dan mengajaknya masuk ke kamar nyonya nya tersebut.


"Nenek ini orangnya"


"Siapa namamu?"Tanyanya dengan posisi membelakangi karna sedang mengambil sesuatu dalam kopernya.


"Hanum Nek".


Mendengar nama dan pemilik suara yang juga tak asing baginya, ia segera membalikan badannya dan langsung menatapnya.


"Hanum!!" serunya dengan suara yang terdengar sangat bahagia.


"Nenek !" ucap Hanum yang tak kalah kaget saat melihat ternyata nyonya nya adalah nenek yang ia tolong waktu itu.


Nenek memeluknya dengan erat karna begitu merindukannya.


"Aku tidak menyangka ternyata kamu ada dirumah ini, kemarin nenek mendatangi cafe tempatmu bekerja tapi tidak ada".


"Ceritanya panjang nek" ucap Hanum yang telah mengubah panggilannya karna ia merasa tak enak jika harus memanggil majikannya dengan sebutan Nenek. Ia menyamakan kedudukannya dengan pelayan yang lain.


Kemudian Hanum mulai menceritakan awal mula kejadian hingga sampai berada di mansion ini.


"Jadi ayahmu sekarang udah meninggal?"


"Iya nyonya karna mendadak kena serangan jantung".


Ia tetap saja memanggilnya nyonya padahal nenek sudah melarangnya.


"Ya udah kalo begitu istirahatlah ini sudah malam besok kamu harus bangun pagi menyiapkan keperluan Hanzen yang akan pergi bekerja".

__ADS_1


"Baik Nenek,selamat malam".


Dunia begitu sempit, ternyata Nenek Bram adalah Nenek Bramasta yang pernah ia tolong karna terkena serangan jantung waktu itu. Ia merasa sedikit lega karna ternyata majikannya ini adalah orang baik yang sudah dikenalnya.


Ia bergegas untuk kembali kekamar yang dipakenya istirahat siang tadi ,namun tiba tiba Bu Tin memanggil dari arah tangga, yang memberitahu kamarnya bukan lagi dirumah belakang mainson tapi di dalam mainson, semua itu adalah permintaan dari nenek Bramasta sendiri.


Hanum merasa tak enak karna diperlakukan dengan berbeda dari pelayan lain.


"Ini kamarmu Num" ucap Bu Tin dengan ramah.


"Tapi kenapa didalam mainson Bu, harusnya dirumah belakang saja gabung sama para pelayan yang lain saya tidak mau ada kesalah pahaman dengan pelayan yang lain Bu Tin".


"Tidak apa Num ini permintaan langsung dari nyonya Bram, supaya kamu bisa cepat naik ke lantai atas saat pagi hari".


"Saya tinggal dulu ya Num, selamat beristirahat dan selamat malam!"


"Terimakasih Bu Tin".


"Sama sama Hanum".


Pagi pagi sekali Hanum sudah bangun dan segera kedapur menyiapkan susu dan roti untuk sarapan Tuan Muda yang harus dilayaninya itu sesuai petunjuk dari Bu Tin.


Setelah beberapa lama berkutat didapur Ia pun segera naik dan menuju ke kamar tuan mudanya itu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Sedikit gemetar sambil menerka nerka seperti apa wajah Tuan Muda yang akan ia layani, pasalnya tidak ada satupun foto yang terpampang di dinding mainson mewah itu.


Mengetok pintu kamar namu tak ada jawaban . Lalu ia mendorong pintunya perlahan dan ternyata tidak dikunci, pelan pintunya terbuka mengedarkan pandang setiap sudut ruangan yang sangat luas luar biasa itu, namun tak ada sosok siapapun disana,


Setelah berjalan mendekati ruang ganti pakaian samar samar terdengar suara air menyala dari dalam kamar mandi.


Ah rupanya ada dikamar mandi ,apa yang harus aku siapkan untuknya, pakaian ya baju kantor, celana , tunggu apa iya harus dengan pakaian dalam juga.


"kemeja "


"Celana kain"


"Jas"


"****** *****"


matanya terpejam saat menyentuh pakaian dalam pria yang baru pertama kali ia pegang itu. Kemudian mencapit benda tersebut hanya dengan menggunakan kedua jarinya.


Tanpa disadarinya seseorang pria bertubuh tinggi, kekar dan wajahnya yang begitu tampan yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi memperhatikan sambil tersenyum karna merasa lucu dengan tingkah pelayan barunya itu.


"Hei, kenapa terpejam begitu, kalo salah ambil gimana?" tanyanya seraya berjalan kearah lemari yang berada disampingnya untuk mengambil kaos kaki


"Maaf Den" jawab Hanum tanpa membalikan badannya.


"Siapa namamu? Bu Tin bilang kamu saudaranya pak Ujang yang dari kampung ya?"


"Iya Den, nama saya Hanum".


Mendengar nama Hanum Hanzen mengerutkan keningnya dan segera memutar posisi tubuh pelayannya barunya itu.


Dan benar saja ia adalah Hanum yang ia kenal.


Gadis sederhana dengan sejuta pesona yang beberapa hari ini mampu mengusik hatinya

__ADS_1


Hanum masih setia memejamkan matanya karna ia pikir tuannya ini yang baru saja keluar dari kamar mandi pasti hanya mengenakan handuk saja.


"Buka matamu !" titahnya


"Apa Den Han sudah selesai memakai baju?". Tanyanya memastikan.


"Belum, dan kamu harus memakaikan bajuku!" goda Hanzen demi untuk melihat ekspresinya Hanum.


Benar saja Hanum membuka mulutnya tanpa suara semakin menguatkan pejaman matanya. hal itu sukses membuat tawa Hanzen meledak saat itu juga.


"Buka matamu Hanum, apa kamu akan bekerja sambil memejamkan mata sepanjang hari?".tanya Hanzen masih dengan tawanya." apa kamu tidak mau melihat wajah tampanku ini hah?". Candanya


"Maaf Den ,tapi kenapa harus saya yang memakaikan baju Den Han? Apa disini tidak ada pelayan laki laki?". Dengan mata yang masih tetap terpejam.


"Ada tapi aku maunya sama kamu ,gimana dong?".


"Tapi Den".


"Udah jangan banyak protes dihari pertamamu bekerja, buka matamu sekarang! aku tidak mau melihatmu bekerja sambil mejam mata seperti itu!" sengaja menaikan intonasinya suaranya .


Saat Hanum membuka matanya secepat kilat Hanzen membalikan posisi tubuhnya menghadap kamar mandi.


"Ah Den Han ternyata sudah rapi ya, maaf saya terlambat Naik ke kamar".


"Tak apa karna ini hari pertamamu kerja saya memaafkanmu!" ucap hanzen masih membelakangi Hanum sambil senyum senyum.


"Baiklah terima kasih ,saya permisi Den".


"Tunggu Hanum" seketika Hanzenn membalikan badan saat Hanum hendak membuka pintu.


Refleks Hanum pun menoleh dan ternyata ..


Lagi lagi Hanum membuka mulutnya tanpa suara didepan Hanzen membuat Hanzen terkekeh dengan ekspresinya. Yang menurutnya seperti orang bodoh.


" Kenapa kamu terlihat seperti orang bodoh saat sedang terkejut seperti itu?" ucap Hanzen dengan tawanya


"Maaf "Terlihat senyuman khasnya yang manis tanpa dibuat dibuat


"Dunia begitu sempit ya ,aku gak nyangka kamu bakal jadi pelayan pribadiku disini".


"Jadi anda yang bernama Hanzen Bramasta?".


"Iya seperti yang kamu lihat sekarang". Ucap Hanzen.


Hanzen yang memang dulu terkenal dengan seorang casanova tidak sedikitpun ia merasa canggung untuk mendekati dan berkomunikasi dengan seorang wanita. Apalagi jika ia menyukai wanita itu. Ia akan terus mendekatinya.


"Baiklah Den Han, saya udah menyiapkan sarapan anda dibawah!". Hanum berucap dengan ramah


Lalu Hanum berlalu dari kamar Hanzen dan mulai menuruni anak tangga.


Hanzen yang mengekor dibelakangnya hanya senyum senyum sendiri karna merasa sangat bahagia mempunyai pelayan pribadi seperti Hanum.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2