
Tiba tiba saja Hanum teringat akan ponselnya yang telah beberapa hari itu tidak ia aktifkan.
Lalu segera pergi kekamarnya kemudian menghidupkan ponselnya.
Dan benar saja banyak sekali pesan masuk dan panggilan yang terlewat dari teman temannya .
Yang paling khawatir adalah Haris yang entah berapa kali ia menghubungi ponselnya walaupun sudah tau ponselnya tak bisa terhubung dengan ponsel Hanum, beberapa pesan juga telah dikirimkannya .
Hanum mulai membuka dan membaca pesannya satu persatu.
Terakhir ia membuka pesan dari nomor tidak ia kenal
"Sudah aku duga kejadian seperti ini akan terjadi, bersiaplah untuk kehilangan adik kesayanganmu!".
Bunyi pesan yang ia terima.
"Kenapa Haris mengancamku seperti itu" gumam Hanum kemudian.
Dengan segera ia menghubungi adiknya guna memastikan bahwa Hazel baik baik saja.
"Kak Hanum, gimana kabar kakak, apa kakak baik baik saja disana? Apa kakak mengalami kesulitan? Katakan padaku kak!" terdengar suara adiknya dari sebrang sana yang menyambut panggilan telpon darinya.
"Satu satu tanyanya Haz, kalo borong pertanyaan sebanyak itu gimana kakak mau jawabnya yang mana dulu coba?".
"Iya maaf kak , aku terlalu senang karna kaka udah bisa menelponku".
"Iya Haz kaka disini baik baik saja , gimana denganmu dan ibu, apa kalian mendapat masalah setelah kepergianku?".
"Semuanya baik baik aja kak, jangan terlalu memikirkan kami disini, justru aku yang terus kepikiran kaka disana ,apalagi dikota baru yang asing bagi kaka, bagaimana kaka bisa bertahan hidup disana!".
"Kaka udah mendapat pekerjaan untuk menyambung hidup jadi kamu tidak perlu mencemaskan kaka"
"Syukurlah kalo begitu kak, aku lega mendengarnya, udah dulu ya kak, bel masuk udah berbunyi, aku masuk kelas dulu, bye kak !".
Panggilan telpon terputus. Hanum segera melanjutkan pekerjaannya.
Setelahnya ia berkeliling mainson dan menghafal tempat tempat disana.
Saat sedang berjalan menuju taman belakang, ia melihat sebuah ruangan yang berdinding kaca sedikit transparant namun juga sedikit gelap.
Ia memasuki ruangan tersebut yang ternyata adalah ruangan khusus gym, semua peralatan olahraga tersedia disitu, mulai dari yang ringan hingga yang terberat, bahkan yang terkecil sampai yang terbesar sekalipun.
__ADS_1
Kemudian ia menatap beberapa gambar yang terpajang didinding yang ternyata adalah foto atlit atlit terkenal dengan bentuk tubuhnya yang bergerigi menurutnya.
Lalu matanya tertuju pada sebuah foto yang menurutnya tak asing ia memamerkan bagian otot dada dan perutnya yang membentuk layaknya roti sobek.
Setelah diamati lebih jelas ternyata itu adalah Hanzen.
"Ternyata sixpack sekali tubuhnya" ucapnya sambil menyentuh poto pada bagian dadanya dan membayangkan berada dalam dekapannya," pasti nyaman" lalu Hanum terkekeh geli sendiri dengan pikirannya yang udah lancang membayangkan dipeluk oleh majikannya sendiri"tapi semua orang bebas berkhayal kan?" gumamnya kemudian.
"Memangnya apa yang kamu khayalkan !" ucap Hanzen tiba tiba, entah sejak kapan ia sudah berada dalam ruangan yang sama.
"Ah tidak ada"ucap Hanum gugup dengan wajah yang bersemu merah seperti tomat.
Jangan ditanya bagaimana rasa malunya sekarang. Rasanya ia ingin segera menghilang saja dari ruangan ini , ia tak henti hentinya merutuki kebodohannya sendiri karna telah membayangkan yang tidak tidak.
Lalu Hanzen masuk kesebuah ruangan dan muncul kembali dengan menggunakan pakaian Gym nya.
Saat dikantor tadi Hanzen merasa kesal setelah kedatangan mantan kekasihnya itu, ia kembali mengingat pengkhianatan yang dilakukan oleh Risya dulu. Padahal Hanzen dulu begitu mencintainya dan sangat setia padanya.
Menurutnya Risya dulu adalah wanita terakhir setelah beberapa banyak wanita yang ia pacari dulu.
Tapi sejenak ia berpikir mungkin itu adalah karmanya. Karna dulu ia banyak mempermainkan wanita.
Disitulah ia tahu rasanya sakit dikhianati. Dan
Sejak saat itu ia berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi mempermainkan hati seorang wanita saat ia menemukan wanita yang bisa memikat hatinya kelak.
Lalu ia memutuskan untuk pulang kerumah dan langsung menuju ruang Gym nya, ia selalu menumpahkan kekesalannya didalam ruangan tersebut saat sedang merasa pikirannya terganggu dan frustasi.
"Gantilah pakaianmu diruangan itu" ucapnya pada Hanum lalu menunjuk ruangan yang baru saja ia tinggalkan.
"Ah tidak tidak, tidak usah ! Aku mau kembali kerumah utama, masih banyak pekerjaan ku disana!".
Hanum keluar ruangan tersebut dengan langkah yang begitu cepat. Namun setelah beberapa saat muncul kembali .
Hanzen yang sudah mulai menghidupkan salah satu alat olahraga menoleh dan mengerutkan kedua alisnya.
"Kenapa , gak bisa kan jauh jauh dari aku?". Hanzen kembali menggodanya.
"Aku lupa jalan kembali kerumah utama". Menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Tapi kalo melupakanku tidak mudah kan?" mengedipkan sebelah matanya "Kalo begitu tunggu saja disini sampai aku selesai!".
__ADS_1
"Baiklah"
"Dasar playboy menyebalkan sekali!!" gerutu Hanum dalam hati
Akhirnya Hanum duduk disebuah sofa yang berada disudut ruangan untuk menunggu Hanzen selesai berolahraga.
Sesekali Hanum melirik Hanzen. Ia akui bentuk tubuhnya sangatlah sixpack, sungguh sempurna sosok Hanzen Bramasta itu.
Selain fisiknya yang sempurna ia juga seorang presdir ternama dan masih sangat muda.
Siapa ya kira kira wanita yang beruntung dan akan menjadi istrinya kelak.
Lagi lagi Hanum menatap Hanzen sambil membayangkan jika berada dalam dekapannya pasti sangat hangat . Namun ia segera tersadar dan segera menampik perasaannya sendiri. Bisa bisanya ia membayangkan hal mustahil seperti itu. Karna tidak mungkin seorang Hanum yang hanya seorang pelayan akan mempunyai seorang pendamping seperti Hanzen .
"Cinderela dinikahi seorang pengeran itu hanya ada didalam negri dongeng bukan dunia nyata! Jangan pernah bermimpi Hanum!!" gumamnya dalam hati mengingatkan diri sendiri.
Lalu melirik Hanzen yang masih saja sibuk dengan segala peralatan yang sedang ia gunakan untuk nge gym
Cukup lama menunggu namun Hanzen tak kunjung selesai, Hanum tak dapat lagi menahan kantuk yang menyerang hingga akhirnya tertidur dalam posisi duduknya sembari memeluk bantal sofa .
Hanzen yang melihat Hanum tertidur sambil duduk berinisiatif untuk membaringkannya disofa tersebut menggunakan bantal sofa yang didekap oleh Hanum.
Hanzen mendekati Hanum. Ditatapnya wajah gadis yang sedang tertidur itu cukup lama dari jarak yang begitu dekat.
Deg
Tiba tiba Hanzen merasa jantungnya berdetak sangat cepat dan hatinya berdebar debar.
"Perasaan apa ini, apa aku beneran jatuh cinta pada gadis sederhana ini!". Gumamnya sendiri.
Ia terus menatap dan menelisik wajah Hanum dengan begitu intens.
Wajah yang putih bersih bibirnya yang mungil dan hidung mancungnya sungguh membuat Hanzen tidak bisa menahan dan ingin segera melahap bibir mungil dan tipis itu.
Tapi kemudian ia tersadar .
"Kau beruntung Hanum bertemu denganku saat aku bukan lagi menjadi seorang playboy , jika aku masih seperti dulu , pasti sudah aku habiskan disaat keadaan yang sangat mendukung!". Lalu ia tersenyum sambil mengalihkan pandangannya.
Lalu ia menarik bantal dari tangan Hanum, tapi tiba tiba saja Hanum menarik tangan Hanzen dengan sangat kuat hingga ia jatuh dan terjerembab dengan posisi bibirnya menyentuh bibir Hanum.
BERSAMBUNG
__ADS_1