
6 bulan kemudian
Hari ini tepat usia kandungan Hanum telah memasuki usia yang ke 9 bulan. saat saat menegangkan bagi Hanum. Ya menghadapi kehamilan tanpa seorang suami adalah hal yang sangat tidak mudah sering kali ia meraskan keram diperutnya namun harus mengatasinya seorang diri saat malam tiba. Ia berjalan menuju taman belakang rumahnya dengan kondisi perut yang semakin membesar,
"Hanum!" seru Farel yang tak lain adalah sepupunya yang selalu siap siaga menjaganya dan calon bayinya.
"Ya Rel!"sahut Hanum
"Masih berapa lamakah HPL babby boynya?"
"Masih 2 minggu lagi Rel!"
"Umm, aku ada kejutan buatmu!"
"Sungguh? apa itu Rel?"
"Ayo ikut aku sebentar tapi tutup dulu matamu ya!"pintanya pada Hanum.
Farel menuntun adik sepupunya itu memasuki sebuah kamar yang berada diantara kamarnya dan kamar Hanum. kemudian membuka pintunya.
"Kejutan....!!" serunya seraya membuka penutup mata yang ia pakekan pada Hanum
Nampak sebuah dekorasi kamar anak laki laki dengan bernuansa warna biru dan merah dengan karakter animasi spiderman
Binar bahagia terlihat jelas dari wajah adik sepupunya itu.
"Wah, bagus sekali dekorasinya uncle, semua ini kau yang siapin sendiri?"tanya nya kemudian.
"Ya begitulah, aku kan kan sudah pernah bilang jangan pernah merasa sendiri setelah kepergian suamimu karana aku akan menjadi uncle sekaligus ayah buat anakmu, percayalah kelak dia tidak akan kekurangan kasih sayang seorang ayah".
"Terima kasih Rel aku beruntung mempunyai sepupu sepertimu!" tanpa sadar Hanum memeluk Farel dengan eratnya
Farel yang tiba tiba mendapat pelukan itu merasa ambigu sendiri dengan tingkah Hanum. sebab ini baru pertama kalinya Hanum melakukan hal itu padanya . biasanya Hanum selalu menjaga jarak saat berdekatan dengannya
Tiba tiba saja jantung Farel berdetak begitu kencang . sungguh ini aneh menurutnya padahal selama ini Rania yang juga sepupunya itu pun sering memeluk dirinya seperti itu namun ia tak pernah merasakan perasaan semacam ini.
"Perasaan apa ini ya tuhan...!" ucapnya dalam hati
kemudian ia menepisnya sendiri pikiran pikiran yang mulai berkelana kemana mana . Dia yakin ini terjadi karna Hanum tidak pernah bersikap seperti ini , itu sebabnya ia merasa berbeda dengan Rania yang telah biasa melakukan hal itu padanya. karna Rania memang sudah terbiasa dari kecil selalu manja kepadanya dan Hanzen.
"Kau menyukainya ?" tanyanya pada Hanum seraya membalas pelukannya yang juga tak kalah erat pelukan kasih sayang seorang sepupu menurutnya.
__ADS_1
Hanum pun tiba tiba terdiam saat menyadari apa yang mereka lakukan . jantungnya pun tiba tiba berdegup kencang. namun iapun menghalaunya .
"Tentu Rel aku sangat menyukainya , sekali lagi terima kasih kau telah mengurusku dan calon anaku dengan begitu penuh kasih sayang".
"Babby boy , apa kau juga senang dengan kamar yang uncle siapkan untukmu sayang?"tanya Farel seraya mengelus perut buncit Hanum,
Tanpa ia sangka bayi diadalam perut Hanum itu menendang dengan begitu kuatnya"
"Yes dia meresponku Num ! apa kau merasakan tendangannya yang begitu kuat?!" tanyanya pada Hnaum dengan begitu antusias .
"Iya kau benar aku juga merasakan ! tandanya babby boy juga bahagia!"sahut Hanum dengan wajah yang begitu bahagia.
Namun tiba tiba saja, perutnya terasa melilit dan mules yang luar biasanya .
"Aowww ! perutku sakit sekali Rel!" ucap Hanum seraya terus merintih.
Farel pun mendadak bingung dan juga tidak tau harus berbuat apa.
"Kita kerumah sakit aja Num aku takut kau kenapa napa!"
Dengan cepat Farel mengankat tubuh Hanum dan segera membawanya kedalam mobil dan meuju rumah sakit .
Didalam perjalanan Hanum terus saja merintih kesakitan membuat Farel semakin tidak konsentrasi karna panik namun beruntung ia masih terus bisa melajukan mobilnya dalam kepanikannya .
"Sus tolong sepertinya bayinya mau lahir!" ucap Farel pada perawat yang menyambutnya
dan segera dibawa masuk oleh beberapa orang perawat dan juga dirinya.
Farel mengantarkan Hanum hingga memasuki ruangan bersalin dengan sesekali mengusap keringat yang terus mengalir didahinya.
Saat ia hendak berjalan dan keuar dari ruangan itu tiba tiba saja Hanum menarik tangannya Farel.
"Jangan pergi, aku takut" pintanya pada Farel .
Merasa tidak tega Farel pun menuruti permintaan Hanum setelah bertanya terlebih dahulu pada dokter yang menangani persalinan Hanum.
Farel mengikuti perkembangan pembukaan jalan lahir bayi tersebut. entah kenapa ia merasa sangat bahagia bisa menemani Hanum dan mengikuti perkembangan pada detik detik bayi itu akan lahir.
Ia memegangi tangan Hanum dan sesekali memberinya kekuatan pada Hanum saat perutnya kembali mengalami kontraksi.
"Sakit....."suara Hanum yang mualai lemah hingga membuatnya tak tega
__ADS_1
mendengar kesakitan yang dialami Hanum.
"Dokter ! apa tidak ada cara lain agar dia tidak merasa kesakitan seperti itu!"tanya nya pada dokter dengan nada yang begitu khawatir.
"Tidak apa apa tuan, tuan tenang saja nyonya Hanum akan baik baik, memang seperti itulah proses melahirkan tidak mudah! tapi itulah hebatnya seorang wanita ia bertaruh nyawa demi anak dan suaminya!" ucap dokter itu pada Farel.
Dokter kembali memeriksa pembukaan jalan lahir pada Hanum yang ternayata sudah berada dipembukaan 9 dan bayinya akan segera lahir
"Nyonya Hanum bersiap siaplah karana banyinya akan segera lahir pembukaan jalan lahirnya sudah sempurna" titah dokter itu pada Hanum.
Farel terus setia menemaninya layaknya seoarang suami yang sedang menemani istrinya melahirkan begitulah yang sekarang Farel lakukan pada Hanum, ia terus memberi semangat dan kekuatan pada Hanum dengan sesek ia mengecupi keningnya mengusap keringat yang terus mengalir di dahinya, hingga akhirnya keluarlah bayi laki laki yang begitu tampan dan imut .
"Alhamdulilah , anak kita udah lahir !" ucap Farel pada Hanum yang entah sadar atau tidak dia telah menyebut anak Hanum adalah anak kita.
Farel begitu bahagia saat ini ia terus tersenyum menatap bayi laki laki yang baru saja Hanum lahirkan,
" Hanz lihatlah anakmu sangat gagah sepertimu , tapi karna kau telah meninggalkannya ijinkan aku mejadi ayahnya, berbahagialah disana Hanz kau tidak perlu khawatir aku akan menjaga dan merawatnya dengan baik dan aku akan selalu melidunginya dengan nyawaku sekalipun!" ucapnya kemudian sambil menatap Hanum yang tak kalah bahagia.
"Terimakasih telah berjuang dengan begitu hebat !" Farel menggenggam tangan Hanun lalu mengusap kembali keringat yang masih mengalir dikeningnya,
"Terima kasih Rel telah bersedia menemaniku maaf aku tadi benar benar takut sendirian!" ucap Hanum yang kini merasa malu saat rasa takut dan paniknya hilang ia baru menyadari bahwa tak seharusnya ia meminta Farel untuk menemaninya,
"Tidak apa apa Num, aku senang karna telah menjadi bagian penting saat kelahirannya, Mungkin Tuhan telah mengabulkan doaku untuk benar benar menjadi seorang ayah dari anakmu seperti yang selalu aku ucapkan kepadamu, bahwa akulah yang akan menjadi uncle sekaligus ayah bagi anakmu .
"Sekali terima kasih , sekarang kau boleh keluar aku mau diganti pakaian dan dibersihkan dulu oleh perawat!" ucap Hanum setengah malu.
" Aku tadi udah melihatnya!" bisik Farel pada Hanum lalu tersenyum.
"Farel....!" serunya dengan wajah yang bersemu merah.
Farel lalu tertawa dengan bangga.
"Baiklah aku tunggu diluar ya, sus kalo udah selesai panggil aku ya!"
"Baik tuan!"
Farel keluar dengan bibir yang terus tersenyum bahagia, lalu ia segera menelpon om dan tantenya yang merupakn orang tua Hanum yang kini sedang beradea diluar negeri . Renacananya memang lusa lah mereka akan kembali sebelum Hanum melahirkan tapi nyatanya sudah melahirkan duluan sebelum mereka kembali.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG