SEJUTA CINTA UNTUK HANUM

SEJUTA CINTA UNTUK HANUM
Bab. 66. Panggilan Tanpa Nama


__ADS_3

Hari ini adalah hari ke 3 bayinya Hanum berada di rumah sakit. Dan hari ini juga dokter memperbolehkan untuk pulang ke rumah.


Hanum yang sedang bersiap - siap setelah berbicara dengan dokter tentang perkembangan kesehatan anaknya. Sesekali ia menghembuskan Nafas kasar saat mengingat kembali wajah lelaki yang begitu mirip suaminya yang telah meninggal itu.


"Rel, bisakah kau bawa aku menemui Petter, sebentar saja," bisiknya pada Farel .


"Tapi aku takut kau tidak bisa mengendalikan diri saat melihatnya," jawab Farel yang juga setengah berbisik karna di ruangan itu kini mereka bersama semua keluarganya.


"Aku janji Rel, kejadian seperti kemarin tidak akan terjadi lagi. Aku hanya merindukan mas Hanz." Hanum menunduk sedih.


"Baiklah aku akan membawamu menemuinya. Tapi bagaimana dengan baby Al?" tanya Farel pada Hanum.


"Titipkan saja dulu pada mommy."


"Baiklah, ayok."


Mereka berlalu pergi setelah berbicara pada sang mommy untuk meminta tolong menjaga bayinya.


Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Petter membuat Hanum kembali mengingat almarhum suaminya yang telah dengan susah payah ia berusaha untuk mengikhlaskan kehilangan sang suaminya dengan mengalihkan pikiran pikiran sedihnya pada kehamilannya.


Ada penyesalan menyeruak dalam hati Farel karna telah membawa Petter ke rumah sakit dan bertemu dengan Hanum. Karna sejak saat itu keceriaan Hanum pun menghilang.


Setelah kurang lebih 30 menit perjalanan yang ditempuh akhirnya Hanum dan Farel telah di depan gedung yang menjulang tinggi tepatnya di perusahaan milik Petter.


Mereka memasuki lobby dan menyampaikan kepada seorang resepsionis.


"Pagi mbak, kita mau bertemu dengan Tuan Petter," ucap Farel.


"Pagi juga Tuan. Maaf, Tuan Petter sedang tidak ada di tempat," sahut resepsionis itu dengan sopan.


"Oh begitu ya mbak? "


"Ya Tuan, Tuan Petter sedang ada dalam perjalanan bisnis ke luar negeri."


"Baiklah kalo begitu , terima kasih mbak"


"Kira - kira Kapan Tuan Petter kembali mbak?" kali ini Hanum yang bertanya.


"Maaf Nona, saya kurang tahu kalo masalah itu"


Setelah mendengar penuturan sang resepsionis Hanum dan Farel pun segera keluar dari lobby gedung tersebut.

__ADS_1


Hanum yang napak murung karna tak nisa bertemu dengan Petter berjalan menuju mobilnya dengan lesu dan tak ada semangat sama sekali.


Ia sudah terlalu berharap akan dapat bertemu dengan Petter.


Hanum memasuki mobil dengan perasaan sedih.


"Aku rasa dia sengaja menghindar dari aku," ucap Hanum.


"Beliau memang orang yang sangat sibuk Num jadi wajar saja jika mendadak pergi ke luar negri karna urusan bisnisnya," sahut Farel.


"Di mana dia tinggal Rel? apa tidak sebaiknya kita coba datangi ke rumahnya saja, siapa tahu sedang ada di rumahnya," ucap Hanum yang masih saja tidak percaya jika Petter sedang pergi ke luar negeri.


Ada apa dengannya? Kenapa dia begitu ngotot ingin bertemu dengan Petter. Apa dia pikir jika Petter adalah Hanz. Aku harus cari cari untuk membuktikan dan menunjukan kepadanya bahwa Petter bukanlah Hanz. Tapi bagaimana caranya.


Sementara Hanum masih saja tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bayang bayang wajah Petter selalu saja mengganggu dan tak bisa hilang dan semakin membuatnya merasa rindu pada almarhum suaminya.


Bagaimana caranya menghilangkan bayangan wajah Petter dari pikiranku ya Tuhan, semakin aku mengingatnya, semakin aku merindukan Mas Hanz. Kenapa aku harus bertemu dengannya. Seseorang yang begitu mirip, bukan sekedar mirip tapi kembar. Sebenarnya siapa dia? Haruskah aku memberi tahu mommy dan daddy tentang hal ini.


"Rel, apa menurutmu kita harus kasih tau pada mommy tentang masalah ini?"


"Aku rasa sih jangan, aku takut tante semakin sedih setelah melihat Petter."


"Tapi mommy harus kita kasih tau Rel, siapa tau mommy bisa mengenalinya dengan baik. karena aku yakin jika naluri seorang ibu  tidak akan pernah salah. Dan dari situ kita akan tahu apakah Petter itu adalah orang yang berbeda dengan Mas Hanz."


Setelah percakapan itu mereka kembali tenggelam pada pikirannya masing masing. Namun mobil terus melaju dengan kecepatan sedang menuju ke rumah sakit kembali dan membawa bayi Hanum pulang ke rumah.


*


*


*


*


Kini mereka semua telah sampai di mainson milik keluarga Bramasta .


Hanum membawa bayinya masuk ke dalam kamarnya di ikuti oleh Farel yang membawakan barang barang milik baby Al dibelakang Hanum. Kemudian Hanum meletakan bayinya yang sedang tertidur lelap itu di dalam box bayi yang berada di samping kasurnya dan dirinya ikut terbaring sejenak di atas kasur miliknya.


Tiba tiba saja ponselnya berdering dengan nomor yang tidak dikenalnya.


Mengetahui Hanum sudah tertidur Farel pun  melihat nama yang tertera dilayar ponsel Hanum yang ternyata tanpa nama itu. Namun ia tidak berani menjawab panggilan tersebut karna ia tidak mau terlalu jauh masuk ke dalam kehidupan pribadi Hanum. Meskipun ia telah berjanji untuk menjaganya dan bayinya namun bukan berarti ia berhak atas semua urusan pribadi adik sepupunya itu.

__ADS_1


Lalu Farel meletakan kembali ponsel milik Hanum dan ia segera keluar dari kamar Hanum dan baby Al.  lalu menuju ke kamarnya sendiri untuk bersiap pergi ke kantor karna masih banyak berkas yang belum ia periksa dan tanda tanganinya.


1 jam kemudian Hanum terbangun dari tidurnya , lalu meraih ponselnya  Dan dilihat panggilan tak terjawab dari nomor asing menurutnya.


"Siapa yang menghubungiku nomornya tanpa nama?" gumamnya sendiri


Lalu hanum menghubunginya kembali namun nomor tersebut sedang berada diluar jangkauan.


Belum sempat meletakan ponselnya tiba tiba kembali berdering dan tertera nama Brian dil ayar ponselnya.


"Hallo Bri," sapanya kemudian.


"Hallo Num, bagaimana kabar baby Al, aku denger dari siska baby Al masuk rumah sakit," tanya Brian.


"Sudah kembali kerumah dan baby Al sudah kembali sehat."


"Syukurlah kalo begitu, aku lega mendengarnya"


"Iya Bri, lalu bagaimana kabarmu , kata Siska kau juga udah beberapa hari gak masuk kampus"


"Ah iya aku juga baru sembuh dari demam, tapi besok sudah bisa mulai ngampus lagi. Mungkin aku dan baby Al satu hati jadi baby Al sakit aku pun ikut sakit." seloroh Brian seraya terkekeh.


"Bisa saja kau Bri," sahut Hanum seraya tertawa dan menatap bayinya yang terlihat bergerak gerak.


"Eh, sudah dulu ya Bri, sepertinya baby Al terbangun."


"Oke baiklah"


panggilan pun terputus bersamaan dengan tangisan baby Al.


Hanum langsung menggendong baby Al lalu memberikan ASI nya pada bayinya itu.


Tak lama Farel pun masuk ke dalam kamar Hanum.


"Aku kan sudah bilang kalo mau masuk itu ketok dulu," ucap Hanum kesal .


"Maaf Num, aku lupa," sahutnya.


Hanum hanya mendengus kesal pada sepupunya itu. Bagaimana tidak , Hanum sedang menyusui bayinya dan bagian dadanya terbuka. Namun Farel tiba tiba saja nyelonong masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Beruntung dengan Hanum menutupi bagian dadanya menggunakan selimut yang ada dihadapannya itu.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG✍️✍️✍️


__ADS_2