
"Sayang!" ucap Hanzen dengan wajah yang begitu bahagia akhirnya istrinya telah melewati masa kritisnya ia berlari mendekati istrinya.
"Alhamdulillah akhirnya kamu sadar sayang!". Ucap Hanzen seraya terus menciumi tangan dan kening istrinya.
"O'Ya sayang ! Ini adalah Rania adik aku yang selama ini sekolah diluar negeri!". Hanzen mengenalkan adiknya kepada Hanum.
"Hai , aku Rania!" ucap Rania.
Apa keistimewaan dari wanita ini kenapa semua keluargaku begitu menyayanginya. Termasuk mommy yang jelas jelas sudah tau bahwa wanita ini adalah anak hasil perselingkuhan Daddy dengan wanita lain.
"Hai juga Rania !" ucapnya masih dengan suara lemahnya seraya tersenyum.
Lalu pintu ruangan terbuka dan muncul Hariawan dan seorang wanita yang tidak Hanum kenal tapi ia ingat pernah melihat orang tersebut difoto bersama almarhum ibunya. Dan saat itu pula ia tahu bahwa wanita itu adalah ibu yang telah melahirkannya.
Deg.
Jantung Hanum tiba tiba berdetak dengan sangat cepat kala ia bersitatap dengan wanita yang berdiri disamping Hariawan.
Mutia menatap dan mendekat Hanum dengan penuh airmata dan penyesalan krna dulu ia pernah berniat menghabisi nyawanya . Kini anak itu telah tumbuh dan menjadi gadis dewasa yang juga sangat mirip dengan dirinya.
"Hanum mama minta maaf nak . Mama tau mama tidak pantas mendapat maaf darimu. Kesalahan mama yang begitu besar padamu dimasa lalu mungkin tidak akan bisa dimaafkan olehmu, kau pasti membenci mama kan? Ya mama terima itu ! Mama hanya ingin meminta maaf saja tanpa berharap lebih!". Mutia berbicara tercekat cekat seraya terus mengusap air matanya yang terus saja mengalir tanpa bisa dicegah .
Hanum hanya diam tak ada ekspresi apapun yang bisa ia tunjukan pada orang yang kini menyebut dirinya mama. Orang yang telah melahirkannya kedunia ini. Ia tak tau entah harus senang atau sedih dengan kondisinya yang sekarang ini.
Melihat wajah Hanum yang sangat datar tanpa ekspresi itu Mutia sudah pasrah dan menerima semua perlakuan Hanum yang pasti sudah sangat kecewa dengan apa yang dilakukannya dulu .
"Hanya itu yang ingin mama katakan. Mama minta maaf karna dulu telah sangat tidak menginginkan kehadiranmu dalam hidup mama. Tapi kini aku lega bisa meminta maaf secara langsung terhadap orang orang yang telah merasa tersakiti oleh perlakuanku dimasa lalu ! Aku akan pergi dari kehidupan kalian semua mulai hari ini!". Ucap Mutia seraya beranjak pergi dan hendak melangkahkan kaki untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Mama!" tiba tiba terdengar suara lemah Hanum.
Suara itu berhasil menghentikan langkah Mutia lalu menoleh kesumber suara.
"Mama jangan pergi ! aku sudah memaafkan mama"! Ucap Hanum lemah seraya mengulurkan tangannya namun masih belum begitu leluasa karena punggungnya masih terasa sangat sakit.
Lagi lagi Mutia dikejutkan oleh perlakuan baik dari anak yang dulu sama sekali tidak ia inginkan. Hatinya berdesir nyeri kala mengingat perlakuannya sendiri.
Satu lagi seorang wanita yang berhati malaikat yang dengan ikhlas memaafkan dan menerima kehadirannya kembali.
Ia merasa sangat bersyukur ternyata anak yang hampir ia bunuh sejak dari dalam perutnya dulu kini tumbuh menjadi seseorang yang berhati malaikat tanpa dendam bahkan sangat lembut dan penyayang .
Lalu ia kembali mengingat Marine sahabatnya, pasti dialah yang berperan penting dalam mendidik anaknya sehingga menjadi orang yang sangat baik seperti sekarang ini.
Terimakasih Marine munaf ! Kau telah mendidik anakku menjadi wanita yang berhati malaikat. Seperti halnya dirimu yang selalu punya hati yang baik dan begitu lembut dan penuh kasih sayang meskipun ia bukan anak kandungmu.
__ADS_1
Mutia mendekat pada Hanum lalu memeluknya dengan rasa yang tidak bisa lagi diungkapkan lewat kata kata .
Sedih bahagia dan haru campur menjadi satu.
Ia menangis sesenggukan dalam pelukan anaknya tanpa bisa berbicara satu katapun.
Ia sangat menyesali perbuatannya dulu . Kini ia berjanji tidak akan melakukan kejahatan apapun pada keluarga Bramasta atau pada siapapun.
Lalu beralih menatap Hanzen .
Mutia sudah mendengar dari Hariawan jika Hanzen menikah dengan Hanum jauh dari sebelum diketahuinya masalah ini.
"Hanz ! Aku perlu bicara denganmu tapi tidak disini ini sangat penting!". Ucap Mutia pada Hanzen.
"Baiklah !"
"Sayang aku tinggal sebentar ya!" pamitnya pada Hanum .
Hanum mengangguk.
Rania menatap benci pada Mutia.
Wanita macam yang tega mengkhianati saudaranya sendiri. Dasar wanita tidak tau diri!!
Mutia dan Hanzen keluar dari ruangan perawatan menuju tempat dianggap aman.
"Apa yang mau dibicarakan !". Tanya Hanzen.
"Ini mengenai Risya!".
"Aku curiga Risya adalah dalang dibalik penembakan Hanum ! Karna selama ini Risya sangat ingin menyingkirkan Hanum dari hidupmu.
Dan perlu kamu tahu mengenai foto foto dan video masa lalumu bersama Helga itu adalah perbuatan Risya .
"Darimana kau tahu semua itu !". Ucap Hanz penuh selidik
"Aku dan Risya sempat bekerja sama untuk menghancurkan keluargamu . Bahkan Risya pernah mengatakan bahwa ia akan mencelakai Marine! Tapi aku mencegahnya karna dalam masalahku Marine sama sekali tidak bersalah. Ia hanya melindungi anakku dulu dan membawanya pergi dari maut yang mengancamnya. Tapi aku dengar dari Hariawan Marine telah tewas karna seseorang dengan sengaja menabraknya. Dan aku yakin orang itu adalah suruhan Risya !". Mutia berucap dengan penuh keyakinan.
"Aku sudah menduganya jika foto foto itu adalah perbuatan Risya Tapi aku tidak punya cukup bukti untuk menuntutnya !".
"Aku akan membantumu mencari bukti itu ! Karna saat ini Risya sama sekali tidak tau kalo Hanum adalah anakku ! Untuk itulah aku akan tetap pura pura bekerja sama dengannya untuk mengetahui rencana selanjutnya!".
"Apa kau bisa dipercaya?!".
__ADS_1
"Percayalah Hanz ! Anggap aja ini salah satu wujud permintaan maafku untuk Keluargamu! Terutama untuk Zennet!". Mutia meyakinkan Hanz.
"Baiklah ! Aku pegang kata katamu itu!"
.
.
.
Sementara didalam ruangan Rania memainkan ponselnya dengan suara yang begitu besar dan nyaring membuat seseorang yang terbaring lemah menahan sakit itu menjadi sedikit terganggu.
Hariawan memperhatikan Rania yang seolah sengaja melakukan semua itu dan berniat menegurnya .
"Rania sayang. Kecilkan suara ponselmu ! Kaka iparmu merasa terganggu dengan suara dari ponselmu yang sangat besar itu!". Ucap Hariawan dengan suara yang cukup keras juga.
"Bela aja terus anak kesayangan daddy itu ! Gak usah lagi pikirkan perasaan Rania! Rania tau daddy memang bukan apa apa". Ucap Rania dengan nada yang begitu ketus.
"Rania ! Jaga bicaramu !" Ucap Hariawan dengan suara tinggi tatapan matanya sangat tajam
Rania sangat terkejut. Betapa tidak selama ini Hariawan tidak pernah berbicara dengan nada tinggi kepada anak perempuannya itu.
"Daddy tega membentakku?!" Rania menangis
Ini kali pertama nya Rania mendapat tatapan marah dari Daddy nya itu.
"Maafkan daddy Rania, daddy tidak bermaksud membentakmu"ucap hariawan setelah menyadari kesalahannya itu.
Melihat semua membuat Hanum sedikit bingung. Karna baru pertama kalinya juga Hanum melihat mertuanya itu marah.
"Sudah Dad tidak apa apa! Jangan marahi Rania!".Ucap Hanum kemudian.
"Aku tidak butuh pembelaan darimu!" ucap Rania seraya keluar dari ruangan tersebut.
Hanum hanya menatap bingung dengan perubahan sikap Rania yang tiba tiba saja menjadi ketus. Padahal sebelumnya ia begitu ramah saat Hanz mengenalkannya .
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1