
Sepulang dari kampus Hanum menuju Rumah sakit dengan diantar oleh Brian.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah sakit Hanum hanya diam tak sepatah katapun keluar dari mulutnya hingga tiba diparkiran rumah sakit.
"Terima kasih Bri!" ucap Hanum seraya membuka pintu mobil lalu turun meninggalkan Brian.
"Ya, jika perlu sesuatu kau bisa hubungi aku!" serunya kemudian pada Hanum yang telah terlihat menjauh dari mobilnya.
Hanum kemudian membalikan tubuhnya sambil mengacungkan kedua ibu jarinya kearah Brian tanda mengerti maksud dari temannya itu.
Setibanya diruangan tempat suaminya dirawat Hanum mendekat suaminya diciumnya kening suaminya lalu pipinya dan terakhir mendaratkan ciumannya pada bibir suaminya.
"Aku merindukanmu mas! Cepatlah bangun aku merasa sangat kesepian tanpamu " ucapnya sambil menggenggam tangannya dan airmatanya mulai menetes dipipi.
"Hanum kau sudah datang nak " Zennet yang baru saja keluar dari dalam toilet .
Ia lalu mengusap pelan pundak Hanum yang sedang terduduk dan memeluk tubuh suaminya yang tidak berdaya itu.
"Mom... Kapan Mas Hanzen akan bangun aku sudah begitu merindukannya mom!". Tanya Hanum dengan menatap mertuanya tanpa merubah posisinya sedikitpun.
"Kita berdoa sayang semoga Hanzen cepat sembih dan tersadar dari tidur panjangnya.
......................
Ditempat lain.
Seorang Pria muda sedang berada dikantor polisi karna diduga terlibat dengan penjualan obat obatan terlarang.
Polisi menangkapnya saat ia sedang melakukan transaksi ditempat yang biasa mereka gunakan.
Hariawan memasuki kantor polisi dengan tergesa gesa setelah mendapatkan telpon dari salah seorang anggota kepolisian yang memberitahukan jika Hazel pradipta yang telah mengaku tinggal dirumahnya kini sedang terkena kasus penyalahgunaan narkotika.
"Jelaskan padaku Haz ,kenapa kau melakukan hal yang melanggar hukum seperti ini! Apa uang yang dikasih oleh kakak iparmu setiap bulannya masih kurang hingga kau nekad melakukan itu semua!" tanya Hariawan dengan penuh emosi.
Namun Hazel tak sedikitpun menjawab atau sekedar menatap pada Hariawan yang saat ini sedang duduk dihadapannya itu.
Hazel hanya menunduk tapi dengan penuh kemarahan dan rasa dendam .
"Hazel! Apa kau tidak mendengarku! Apa kau tidak mau aku bantu untuk keluar dari sini!". Hariawan berkata dengan setengah berteriak karna Hazel sama sekali tak mau menatapnya dan membuatnya semakin kesal saja.
__ADS_1
"Sebaiknya anda pulang dan biarkan saya tetap disini, urusi saja anak anda yang sedang terbaring tidak berdaya dirumah sakit bahkan mungkin sebentar lagi dia akan mati ! Hahaha!". Tawanya begitu menggelegar dan menggema diseluruh ruangan.
"Apa maksud dari perkataanmu itu Haz?" tanya Hariawan dengan penuh selidik.
"Anda pasti tidak akan pernah menyangka kalo kecelakaan anak anda adalah juga karna perbuatanku ! Hahaha!" Hazel kembali tertawa.
"Kau...! Jangan pernah bermain main dengan perkataanmu itu Haz!". Hariawan mulai terpancing oleh kata kata Hazel.
"Apa aku terlihat sedang bermain main dengan ucapanku! Aku berkata yang sebenarnya Tuan Hariawan !"
"Apa maksudmu Haz!" Hariawan terkejut sekaligus bingung dengan apa yang dikatakan oleh Hazel" Apa kau sudah gila melakukan semau pada kakak iparmu sendiri! Apa salahnya padamu sampai kau tega dan membuatnya koma !" Hariawan mencengkeram kerah baju Hazel dan hendak memukulnya jika saja Farel tidak datang tepat waktu.
"Om sabar om, apa yang terjadi kenapa om begitu marah dan ingin menghajarnya!".
"Kau dengar Rel, Ternyata anak bajingan ini yang telah membuat kondisi Hanzen seperti sekarang ini!".
Tentu saja itu membuat Farel sangat shok sekaligus emosi dengan kenyataan yang didengarnya.
"Apa semua itu benar Haz, tapi kenapa kau melakukan itu Haz ! Apa salah Hanzen padamu!".
"Sebenarnya aku tidak punya masalah apapun dengannya! Tapi aku benci karna dia selalu menjadi pelindung Hanum dan membuat semua rencanaku selalu gagal untuk menghabisinya!". Tatapannya terlihat begitu membenci dan mendendam saat ia menyebut nama Hanum
"Dia bukan kakakku! Dan gara gara wanita itu ibuku meninggalkanku untuk selama lamanya!".
"Sadar Haz, istighfar! Ibumu meninggal karna kecelakaan bukan karna Hanum!". ucap farel dengan begitu marah.
"Ya tapi kecelakaan itu disengaja karna orang yang menabraknya itu punya masalah dengan wanita sialan itu!". Hazel kini berteriak dengan penuh emosi dan kemudian ia menangis sekencang kencangnya sambil memanggil manggil ibunya..
Melihat semua itu membuat Hariawan merasa iba pada Hazel. Ia yakin jika Hazel saat ini sedang dalam pengaruh obat obatan terlarang yang ia gunakan. Polisi tadi mengatakan jika Hazel adalah pengedar sekaligus pemakai dengan dosis yang sudah cukup tinggi.
"Rel sudah cukup! Aku rasa tidak ada gunanya kita bicarakan semua ini dengannya karana sekarang kondisinya sedang dalam pengaruh barang haram tersebut. Tadi polisi bilang jika dia adalah pengedar sekaligus pemakai dengan dosis yang sudah lumayan tinggi!". Ucap Hariawan sembari menenangkan Farel yang sudah tersulut emosi.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang om?!".
"Biarkan dulu dia disini setelah semua proses sidang selesai kita akan membawanya ketempat rehabilitas untuk menyembuhkannya!".
"Lalu bagaimana dengan Hanum apa kita harus memberitahunya ?".
"Ya kita harus memberitahukan hal ini kepadanya. Karna aku sudah berjanji tidak akan menyembunyikan apapun lagi darinya" .
__ADS_1
"Baiklah om, kalo begitu mari kita pulang !"
Hariawan hanya mengangguk lalu berjlan disamping Farel menuju keparkiran mobilnya.
"Kita keeumah sakit Rel!".
"Baik om!".
Selama perjalanannya menuju rumah sakit kedua lelaki itu hanya tenggelam dalam pemikirannya masing masing.
Farel yang sama sekali tidak menyangka jika Hazel terlibat dalam penyalahgunaan obat obatan terlarang dan bahkan dialah orang yang telah menyabotase mobil Hanzen hingga mengalami kecelakaan dan kondisinya sekarang koma.
Sementara Hariawan sedang memikirkan bagaimana perasaan Putri kandungnya itu setelah tau kebenaran tentang adik angkatnya yang sangat ia sayangi sejak kecil malah justru menginginkan kematiannya. Bahkan sudah beberapa kali mencoba membunuhnya. Semua itu benar benar membuatnya pusing. Kemudian tiba tiba saja ponselnya beedering dan mengejutkan Kedua lelaki beda usia yang sedang berada didalam mobil.
"Hallo Zen !" Hariawan menjawab telpon dari istrinya.
"Har kamu dimana sekarang?" tanyanya dengan panik.
"Aku sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit! Ada apa Zen, kenapa suaramu terdengar begitu panik!".
"Hanum pingsan setelah melihat berita tentang Hazel ditelevisi Har ! " tutur Zennet kemudian.
"Sudah aku duga pasti berita itu akan segera masuk TV!" ucapnya dengan menghela nafas berat.
" Apa itu benar Har?"
"Ya sayang semua itu benar, aku dan Ferel baru saja pulang dari kantor polisi".
"Jaga Hanum aku akan segera sampai" ucapnya lagi pada sang istri.
"Ya Har ,hati hati dijalan!".
"Hmm"
Panggilan terputus....
"Rel suruh Leo membereskan kekacauan yang sedang tayang di TV, jangan biarkan berita itu menyebar kemana kemana itu semua pasti akan berimbas jelek untuk perusahaan kita".
"Ya om aku akan segera menghubungi Leo!".
__ADS_1
Setelah tiba diparkiran rumah sakit Hariawan segera menuju ruangan anaknya dirawat dan Farel segera menghubungi Leo untuk segera membereskan masalah yang sedang terjadi.