SEJUTA CINTA UNTUK HANUM

SEJUTA CINTA UNTUK HANUM
Bab 51.Dirumah Sakit.


__ADS_3

Malampun mulai datang dan Hanum masih setia berada disisi ranjang tempat suaminya terbaring dalam ruangan khusus yang sengaja dipesan oleh orang tua Hanzen agar keluarganya selalu bisa menemaninya terutama istrinya.


"Mas ! Apa kamu tau didalam perut ini ada anak kita... Cepat bangun mas kita akan bersama sama menemani perkembangan baby kita " Hanum masih terus menangis sambil memeluk tubuh suaminya.


"Sayang ! Bangunlah kamu harus makan kasian baby dalam perutmu nak ..." bujuk Mutia pada Hanum yang sejak tadi siang sama sekali tidak mau makan.


"Enggak mau ma, aku mau suamiku bangun".


"Hanum suamimu pasti akan bangun , makanlah sedikit saja nak.. Kamu sayang kan sama sama calon anakmu, lagi pula jika Hanzen tau kau tidak mengisi perutmu dan membiarkan sesuatu terjadi pada calon anak kalian pasti dia akan marah padamu nak". Ucap Mutia seraya menuntun Hanum agar bangun dari duduknya menuju sofa yang ada diruangan tersebut.


Hanum mulai memakan makanannya walaupun hanya sedikit tapi sudah lebih baik daripada tidak sama sekali menurut Mutia.


"Udah kenyang ma" ucap Hanum dengan suara yang begitu pelan dan lesu.


"Ya udah sayang apa kau mau mandi , aku udah bawain baju ganti buatmu sayang"


Hanum hanya menggelengken kepalanya lalu kembali mendekati suaminya dan kembali meletakan kepalanya diatas tubuh suaminya yang masih terbaring. Digenggamnya tangan sang suami dengan erat .


Namun saat matanya hampir saja terpejam gejolak dan rasa mual diperutnya kembali ia rasakan .


Ia bergegas bangun dan segera berlari kedalam toilet untuk memuntahkan isi perutnya. Lagi dan lagi hingga makanan yang sedikit ia masukan kedalam perut tadi kembali keluar tak tersisa .


"Hanum...kau baik baik saja nak?"


"Rasanya mual sekali ma, kepalaku juga pusing ma!"


"Iya sayang memang begitulah saat awal awal kehamilan , kita akan terus merasa mual !".


"Ap dulu mama juga begini ma?".


"Iya sayang, kebanyakan wanita hamil pasti seperti itu, walaupun gak semuanya!".


Hanum kembali membaringkan tubuhnya pada sofa setelah meminum obat dan vitamin kehamilannya.


Setelah beberapa saat perlahan mulai merasa ngantuk namun matanya enggan untuk terpejam. Pikirannya terus tertuju pada suaminya yang belum juga sadar.


Hanum kembali mendekat kearah suaminya.


Disentuhnya wajah suaminya lalu mengecup keningnya.

__ADS_1


"Mas cepat sadar sayang aku dan baby kita menunggumu untuk dimanjakan mas" Hanum berbisik ditelinga suaminya lalu tersenyum kecil seraya mengusapi wajahnya.


Tiba tiba pintu ruangan terbuka dan muncul sosok Rania seraya terus menatap Hanum dengan tidak suka.


"Semua ini gara gara kamu, kalo saja kamu tidak meninggalkan mainson semua kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi! Dasar anak haram kamu!" suaranya begitu menggema didalam ruangan tersebut.


"Jaga bicaramu Rania, kamu tidak pantas berbicara seperti itu pada kaka iparmu sendiri!" Ucap Mutia yang tak terima anaknya disebut anak Haram oleh Rania.


"Kenapa ! Memang benar kan , dia adalah anak haram dari hasil hubungan gelapmu dengan daddy!"


"Kau...!" ucap Mutia geram andai saja itu bukan dirumah sakit sudah dipastikan Mutia pasti akan melawan Rania yang sudah begitu kurang ajar menurutnya.


"Biarkan saja ma, toh pada kenyataannya aku memang benar anak Haram, walaupun aku menyangkal itu tidak akan mengubah keadaan. Tapi perlu kau tau Rania jika aku juga tidak sudi memiliki ayah sepertinya! Tidak punya tanggung jawab !" ucap Hanum dengan begitu santainya menanggapi ucapan Rania.


Ya baginya ucapan Rania tidak bisa disangkal bahwa itu memang benar. Ia sangat menyadari jika dirinya adalah hanya seorang anak haram dari kesalahan kedua orang tuanya dimasa lalu.


"Baguslah! Kalo kamu sadar dan sekarang aku minta untuk segera pergi dan tinggalkan kakakku ! Aku tidak sudi punya kakak ipar sepertimu!".


"Jaga omonganmu Rania! Kamu boleh menghinaku tapi tidak untuk ikut campur dalam masalah rumah tanggaku. Kau pikir kau siapa bisa bicara seperti itu, asal kau tau Rania aku tidak akan pernah meninggalkan suamiku apalagi dalam kondisi seperti ini!". Ucap Hanum dengan marahnya.


"Apa kau tidak sadar juga gara gara kau sekarang kakaku jadi seperti ini dasar anak haram pembawa sial!".


"Kau pikir kau siapa bisa mengusirku seenaknya!"


"Aku tidak peduli kau menganggapku apa tapi yang pasti aku lebih berhak atas suamiku sekarang ini! Jadi aku mohon sekarng kamu keluar atau aku akan panggil petugas keamanan untuk menyeretmu keluar!". Ucap Hanum dengan emosi yang tersulut.


Mungkin kondisinya yang sedang hamil muda hingga membuatnya m


moodnya menjadi berubah rubah.


"Aku tidak mau!"


"Hanum, tenangkan dirimu nak , kasian bayimu, kamu tidak perlu repot repot menanggai ucapannya! Biarkan saja dia seperti itu, kamu sabar ya!".


"Apa ! Jadi dia sedang hamil?" Ucap Rania dalam keterkejutannya.


Hanum dan Mutia tidak menanggapi ucapan Rania.


Lalu pintu ruangan kembali terbuka seorang dokter dan perawat masuk untuk memeriksa perkembangan kondisi Hanzen.

__ADS_1


"Permisi kami akan memeriksa kondisi pasien bisa tolong kalian keluar dulu dari ruangan ini?" ucap dokter tersebut.


"Baiklah dok ,kami akan keluar !" jawab Hanum kemudian.


Lalu mereka pun keluar ruangan dan menuju ke kursi tunggu yang berada diluar ruangan itu.


Saat itu pula Siska dan Brian datang berkunjung.


"Num! Gimana keadaan suamimu apa masih belum sadar juga ?"tanya Siska.


"Belum Sis! Dokter sedang memeriksanya didalam!".


"Kamu yang sabar ya Num, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk suamimu".


"O'ya ini aku bawain rujak buatmu aku tau kamu pasti sedang tidak selera makan kan?".


"Wah...Rujak?" ucapnya dengan wajah berbinar.


"Iya Num ,ayo kita makan pasti sangat enak!" ajak Siska kemudian.


"Oya Num tadi Brian juga belikan kamu ini". Ucap Siska seraya menyodorkan minuman boba kesukaan Hanum.


"Wah ...! Kalian memang teman temanku yang sangat baik makasih ya!" Hanum berucap seraya mengambil minuman bobanya.


"Aku juga mau dong minumannya!" ucap Rania sembari merebut minuman yang sedang dipegang oleh Hanum.


"Rania kalo kau mau kan bisa mengambil yang itu saja kenapa harus merebut yang ada ditanganku!" ucapnya geram .


Brian menatap Rania sekilas.


"Hai Brian, aku Rania , kau masih ingatkan kau pernah menabrakku diacara resepsi pernikahan kakaku?"


"E... Maaf aku tidak ingat !"! Ucap Brian dengan wajah begitu datar.


"Masa kau gak inget ! Coba deh diinget inget lagi!".


"Maaf Ran aku benar benar tidak mengingatnya"


"Ya bagaimana mungkin Brian akan mengingat hal hal kecil seperti itu Rania" ucap Siska kemudian.

__ADS_1


Siska tau betul dengan Brian . Yang dia ingat hanyalah kejadian kejadian yang berhubungan dengan Hanum, padahal dia tau Hanum tidak mungkin bisa ia miliki tapi entah kenapa Brian begitu menyukai dan mengagumi sosok Hanum. Sosok yang menurutnya sangat sederhana tapi kecantikannya luar biasa . Pesonanya sangat memikat hatinya.


__ADS_2