
Dua tahun kemudian.
Tidak ada hal yang paling membahagiakan selain berhasil lulus dari institusi pendidikan tempat mengemban ilmu. Tahun-tahun yang dihabiskan dengan keringat dan air mata seringkali menimbulkan rasa haru di hati. Wisuda kelulusan merupakan bukti atas pencapaian yang patut dirayakan. Begitu pula dengan keberhasilan Hanum yang kini telah menjadi seorang sarjana seperti keinginan ayahnya yang telah lebih dulu dipanggil Tuhan.
Dengan deraian air mata kini Hanum tengah menyambut keberhasilannya menuntut ilmu di sebuah Universitas ternama berkat dukungan semua keluarganya. Terutama almarhum suaminya yang dulu mendaftarkannya untuk melanjutkan pendidikannya. Lulus dengan nilai terbaik menjadi kebanggan tersendiri bagi Hanum.
Tak hanya Hanum yang sedang bahagia saat ini, tetapi juga kedua temannya juga sama sama telah lulus dan berhasil.
Ayah! Aku sudah mewujudkan impianmu menjadi seorang sarjana dan lulus dengan nilai terbaik. Walaupun engkau telah tiada di dunia ini tapi semua yang terjadi hari ini adalah berkat dukungan dan semangat darimu yang selalu mendukungku dalam segala hal. Terima kasih kau telah merawatku dari kecil sampai akhirnya kau menghembuskan nafas terakhirmu dan meninggalkan kami dan dengan kasih sayang yang begitu tulus tak pernah sekalipun engkau mengeluh meski aku bukanlah anak kandungmu. Terima kasih ayah Sanjaya Pradipta, namamu akan selalu tersemat dalam diriku. Dan untukmu suamiku yang juga telah pergi meninggalkan aku dan anak kita. Terima kasih juga karna telah menjadi suami yang baik buatku. Tanpamu aku tidak akan sampai pada titik ini.
Hanum terus menitikkan air matanya. Kala mengingat orang orang yang pernah berperan penting dalam hidupnya yang kini telah pergi untuk selama lamanya.
Ia menerima sebuah buket bunga tanpa nama dengan bertuliskan..
“Graduation isn’t the end of a tough journey, it is the beginning of a beautiful one. Start each day believing in yourself, and watch the magic happen.”
Sejenak ia berpikir siapa sebenarnya pengirim buket ini. Jika ia berpikir ini adalah pemberian Farel tapi Farel sendiri tidak mengakuinya bahwa buket tersebut adalah pemberiannya. Lagian dia tidak mungkin memberi sesuatu dengan diam diam seperti itu. Mengingat Farel adalah orang yang suka berterus terang dalam segala hal.
Saat Hanum masih tenggelam dalam pikirannya sendiri tiba tiba ponselnya berdering.
Sebuah nomor telpon tanpa nama.
"Hallo," sapa Hanum
"Congratulation Hanum pradipta, apa kau sudah terima buket bunganya?" tanya seseorang dari seberang telpon.
"Emm, maaf ini siapa"
"Ah ternyata kau tidak hafal dengan suaraku ya"
"Maaf," tutur Hanum dengan merasa bersalah karna tidak bisa mengenali suara penelpon tersebut.
"Aku Petter sekali lagi selamat atas keberhasilan yang kau raih, semoga kau dan juga baby Al selalu dalam keadaan sehat"
Mendengar nama Petter seketika jantung Hanum seakan berhenti berdetak. Bulir bening mulai mengalir dari sudut matanya membasahi kedua pipinya yang masih terpoles make up dan baju toga masih melekat pada tubuhnya.
Ia tidak dapat berkata apapun lagi selain rasa bahagia karna selama ini ia diam diam selalu memikirkan Petter, seseorang yang sangat mirip dengan suaminya yang telah meninggal itu.
__ADS_1
Satu hal yang ia yakini bahwa saat ini Petter berada di area kampus.
Mata Hanum mulai menatap ke segala arah demi mencari sosok Petter yang kini sedang berbicara dengannya melalui sambungan telpon.
Tepat saat ia menengok kebelakang terlihat sosok seorang pria yang sedang berdiri menghadap dirinya sambil tersenyum .
Hanum berlari dan langsung menghambur ke dalam pelukannya. Tangisannya semakin dalam. Kerinduan yang selama 2 tahun ini ia pendam kini telah terobati.
"Terima kasih Petter, aku tahu kau bukan mas Hanz maafkan aku yang telah menganggapmu sebagai suamiku yang telah tiada itu. Ijinkan aku seperti ini sebentar saja, aku sangat merindukan suamiku"
Hanum terus memeluk Petter seakan itu adalah suaminya.
"Menikahlah denganku, aku tidak peduli kau menganggapku apa, walau kau anggap aku sebagai suamimu yang telah meninggal itu, aku tidak masalah karna aku mencintaimu"
Kata kata yang keluar dari mulut petter sontak membuat Hanum terkejut. Ia mendongakan kepala sambil melepaskan lengan yang sedang melingkar pada pinggang Petter.
"Apa maksudmu Petter?"
"Aku mencintaimu Hanum Pradipta maukah kau menjadikan aku suamimu dan ayah dari anakmu itu?"
"Apa kau serius," tanya Hanum yang masih saja merasa bingung dan tak percaya.
Entah sejak kapan ia sudah berada di belakang Hanum bersama seluruh anggota keluarganya termasuk dua orang asing yang belum pernah Hanum lihat sebelumnya. Mereka adalah kedua orang tua Petter yang sengaja Petter bawa dari luar negeri untuk menyaksikan lamarannya pada wanita yang selama ini terus mengganggu pikirannya.
Selama ini Petter berusaha menghindar dari pandangan Hanum. Namun semua itu membuatnya semakin tersiksa saja dan akhirnya ia memutuskan menemui Farel dan juga orang tua Hanum untuk meminta restunya.
"Daddy," seru Hanum pada sang ayah.
"Ya sayang"
"Apa daddy setuju jika aku menikah lagi?"
"Tentu saja sayang , kau masih muda masa depanmu masih panjang dan Al juga butuh seorang ayah , walaupun kita semua tahu jika Farel pun telah berperan sangat baik untuk menjadi seorang Uncle sekaligus ayah untuk Al," sahut Hariawan panjang lebar pada putrinya itu.
"Terima kasih daddy." Hanum memeluk ayahnya .
"O' ya Hanum, beliau ini adalah kedua orang tuaku yang sengaja aku ajak ke indonesia untuk melihat calon menantunya yang cantik ini ." Petter memperkenalkan kedua orang tuanya pada Hanum.
__ADS_1
Hanum pun memberi salam dan menyapa kedua orang tua Petter.
Orang tua Petter menyambut uluran tangan Hanum lalu mengusap pipi calon menantunya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Kesederhanaan yang tertanam pada diri Hanum membuat kedua orang tua Petter itu langsung menyetujui Petter untuk menikahinya.
Kemudian Hanum melirik Farel dan di balas Farel dengan merentangkan kedua tangannya . Saat itu juga Hanum langsung berlari dan memeluk?- kakak sepupunya itu . Orang yang selama ini menjaga dan juga melindungi dirinya dan juga anaknya dengan nyawanya sekalipun.
"Saatnya kau berbahagia bersama orang selama ini kau harapkan, bukan begitu Hanum pradipta?"
"Terimakasih Farel kau telah menjaga kami dengan segenap jiwa ragamu selama ini, tapi aku juga ingin melihatmu bahagia dan menikah dengan wanita pilihanmu, selam ini kau selalu memikirkan kebahagiaan kami tanpa peduli dengan kebahagianmu sendiri"
"Tenang saja, kita akan menikah bersama." ucapan Farel membuat semua orang yang ada disana sangat terkejut.
"Farel, maaf aku terlambat datang" seru seorang gadis dari kejauhan.
"Tammi," seru Hanum yang sangat terkejut akan kedatangan teman lamanya itu yang sudah lama sekali tidak bertemu dengannya.
Hanum langsung memeluk temannya itu tanpa menghiraukan Farel yang juga sudah sejak tadi telah menanti kedatangan kekasih hatinya itu.
"Udah donk sayang , gantian pelukannya aku juga kangen tau sama kamu," ucap Farel dan membuat Hanum semakin bingung.
Hanum langsung melepaskan pelukannya pada Tammi dan menatap Farel tak percaya.
"Jadi kalian akan menikah?"
"Iya kita akan menikah secara bersamaan, apa kau setuju dan merestui hubungan kami," tanya Farel pada Hanum.
"Tentu saja aku sangat setuju , Tammi adalah orang yang tepat buatmu "
Akhirnya Farel kini telah menemukan cintanya . Cinta yang sesungguhnya. Selama ini Farel telah diam diam menemui Tammi setelah pertemuan yang tidak disengaja beberapa bulan lalu di sebuah restoran saat ia sedang meeting bersama klien nya . Ia bertemu dengan Tammi gadis yang dulu pernah ia taksir namaun harus ia kesampingkan karna rasa cinta sesaat pada mutia dulu . Dan kini ia telah memantapkan dirinya untuk mencintai dan menikahi Tammi .
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG✍️✍️✍️