SEJUTA CINTA UNTUK HANUM

SEJUTA CINTA UNTUK HANUM
Bab 27. Siapa Sebenarnya Hanum


__ADS_3

"Boy !".


"Iya pak!".


"Siapa lelaki yang sedang bersama istriku?".


"Teman satu jurusan istri bapak ! Namanya Brian !."


"Beri peringatan padanya agar tidak sembarangan memeluk istriku ! Kalo saja bukan karna permintaan istriku yang tidak mau orang tau tentang pernikahan kami ! aku sendiri yang akan menghajarnya !". Ucap Hanzen dengan wajah yang tampak merah padam karna marah dan juga cemburu melihat istrinya dipeluk pria lain.


"Siap pak akan saya kasih peringatan untuknya!".


"Tunggu apa lagi ! Pergi sekarang juga!"


"Si..siap pak !" ucap Boy seraya bergegas meninggalkan ruang presdirnya tersebut.


"Pria yang bernama Brian itu selalu bikin repot ! Sudah berapa kali aku peringatkan untuk tidak menyentuhnya ! Tapi tunggu ! Siapa yang dengan sengaja mengambil gambar pria itu memeluk istri presdir apa itu ada hubungannya dengan penyebaran foto foto pak Hanzen dan mbak Helga?!". Gumam Boy seraya terus berjalan menuju area parkir gedung perusahaan HB Group.


Sesampainya dikampus Boy tiba tiba saja masuk kedalam kelas yang kebetulan belum ada dosen yang mengisi mata kuliah dikelas tersebut. Ia kemudian mencengkeram kerah kemeja yang dikenakan oleh Brian dan menariknya dan membawanya keluar kelas. Banyak pasang mata menyaksikan terlihat bingung dan bertanya tanya tentang apa yang terjadi. Tak terkecuali Hanum.


Mata Hanum terus mengikuti arah kedua pria itu berjalan dengan rasa penasaran dan heran akan tingkah Boy yang tiba tiba masuk kelas dan menyeret Brian.


Ia sama sekali tidak menyadari bahwa salah satu sumber yang jadi masalah antara mereka adalah tentang dirinya.


"Sudah berapa kali aku katakan untuk menjauhkan tanganmu dari Nona Hanum ! Kenapa kamu selalu membuatku repot seperti ini!".


"Apa maksud anda pak sekretaris? Saya tidak mengerti?!


"Apa saya harus mematahkan dulu tangan kamu sehingga kamu bisa mengerti maksud saya ! Apa memang kamu sengaja mencari cari kesempatan pada nona Hanum ! ". Ucapnya seraya memutar dan melintir tangan Brian kebelakang punggung.


" Aaaaaa ...Ampun pak sekretaris ! Baiklah saya janji tidak akan mengulanginya lagi!". Ucap Brian yang mulai menyadari kesalahannya karna telah memeluk Hanum saat mengucapkan bela sungkawanya tadi.


"Ingat jika sampai ada kejadian lagi aku tidak akan segan segan untuk mematahkan kedua tanganmu ini yang tidak bisa dikendalikan !". Ucap Boy seraya menghempaskan tangan Brian dengan kasar.


"Sebenarnya apa sih hubungan Hanum dengan sekretaris es batu itu ! Dia selalu saja bertingkah seolah dia adalah suaminya !". Gumam Brian pelan tapi terdengar oleh Boy.

__ADS_1


"Aku suaminya atau bukan itu sama sekali bukan urusanmu bodoh ! Yang jadi urusanmu adalah tentang peringatanku! apa sudah cukup jelas?!" . Ucap Boy memperjelas.


"Ya ya !" ucap Brian seraya memegang dan memijit tangannya sendiri.


Kemudian Brian berlalu meninggalkan Boy lalu masuk kembali kedalam kelas seraya mengibas ngibaskan tangannya yang sakit karna pelintiran yang dilakukan Boy.


"Kamu kenapa Bri ? Apa sekretaris itu menghajarkanmu? memangnya apa yang sudah kamu lakukan sampai dia menghajarmu ?". Tanya Hanum dengan polosnya.


"Ah biasa lah ini masalah antara lelaki !" . Ucap brian yang berusaha menutupinya dari Hanum.


Sebenarnya ia ingin sekali menanyakan pada Hanum tentang hubungan yang sebenarnya antara Hanum dan sekretaris itu namun ia takut akan menambah masalah untuk hidupnya itu sebabnya ia memutuskan untuk diam dan tidak mengatakan apapun pada Hanum.


Ia juga mulai sedikit menjaga jarak dari Hanum. Ia selalu berusaha untuk tidak terlalu akrab seperti biasanya.


Hanum yang merasa ada yang berbeda dari sikap Brian mencoba menanyakannya pada Brian. Tapi Brian selalu berusaha mengalihkan semua pertanyaan yang mengarah dengan sikapnya yang menurut Hanum itu berubah setelah Boy menemuinya.


Saat jam istirahat dikantin Hanum mencoba mendekati Brian yang sedang bersama Siska. Namun Sepertinya Brian benar benar mulai mengikis jarak dengan Hanum ia tidak lagi sehangat pagi tadi . Hanum masih tak menghiraukan sikap temannya itu. Ia tetap bergabung seperti biasanya tapi kali ini hanya Siska yang terlihat antusias menanggapi obrolannya.


"Bri kamu baik baik saja kan?". Hanum kemudian memberanikan diri untuk bertanya pada Brian.


"Ha. Eh aku baik baik saja Num!" jawab Brian sekenanya.


"Eh aku dulaan ya Sis, Num ! Aku ada urusan penting!" pamitnya kemudian.


"Oke Bri hati hati ya !" jawab Siska kemudian.


"Oke !".


"Aku suaminya atau bukan itu sama sekali bukan urusanmu bodoh ! Yang jadi urusanmu adalah tentang peringatanku! apa sudah cukup jelas?!" .


Kata kata itu selalu terngiang dalam telinga Brian.


Bukan tentang ancaman atau peringatannya yang menjadi masalahnya melainkan tentang siapakah sosok Hanum yang ia kenal. Sebenarnya ia bisa saja melawan Boy tapi tak ia lakukan.


Brian adalah tipe orang yang paling enggan untuk ribut apalagi membuat masalah. Itulah sebabnya ia memilih diam dan membiarkan Boy melakukan apapun.

__ADS_1


Ia hanya terus menerka nerka ada hubungan apa antara sekretaris Boy dan Hanum. Kenapa ia begitu marah saat melihat Hanum dekat dengannya apalagi saat ia menyentuh Hanum.


Siapa sebenarnya Hanum Pradipta itu. Ia terus melajukan mobilnya.


"Baru saja aku merasa nyaman dekat dengan seorang wanita tapi ada saja yang menjadi penghalangnya!". Gumamnya sendiri seraya terus melajukan mobilnya .


Setelah kepergian Brian Hanum mulai mengutarakan keluhannya itu.


"Sis kamu merasa ada yang aneh dari Brian gak sih? Dia berubah sikapnya terhadapku tak seperti pagi tadi biasanya !".


"Ya sih kenapa ya ?".


"Entahlah ! Aku juga tidak mengerti".


Yang pasti ia berubah setelah pertemuan nya dengan Boy! Sebenarnya apa yang Boy lakukan padanya kenapa sikapnya berubah drastis seperti ini terhadapku ! Apa mungkin Boy mengancamnya atau Boy mengatakan kalau aku adalah istri presdirnya . Tapi Boy tidak mungkin melakukan semua itu.


Hanum menghela nafas berat. Biar bagaimanapun Brian adalah lelaki yang baik ia tidak pernah pamrih dalam berteman. Semenjak ia mulai kuliah Brian adalah teman yang selalu memberi suport . Apalagi saat semua orang mencelanya karna sikapnya yang berlebihan saat menanggapi foto foto Hanzen dan Helga. Brian sama sekali tak mengatakan sesuatu yang membuatnya terpojok.


"Hei malah melamun! Dimakan tu makananmu keburu dingin tau!".


"Udah jangan terlalu dipikiran ! Mungkin saja Brian sedang ada masalah pribadi yang gak bisa diceritain kekita!". Ucap Siska kemudian.


"Bukan gitu Sis ! Cuma kepikir aja sama aku ! Takutnya aku ada salah atau apalah !" . Ucap Hanum seraya memanyunkan bibirnya.


"Num pulang ini kita nge mall yuk, aku udah lama loh gak pergi ke mall !" ucap Siska tanpa menghiraukan kegelisahan yang melanda Hanum.


"Boleh sih tapi aku gak bisa lama lama ya !".


"Ya ela Num kamu kaya ibu ibu rumah tangga aja yang ninggalin anak dirumah dan ingin cepat pulang !" keluh Siska pada Hanum.


"Ya bukan gitu juga Sis !"


Emang benar aku adalah ibu rumah tangga hanya saja aku belum punya anak seperti yang kamu bilang itu. Tapi ada suamiku yang mengharuskan aku pulang tepat waktu hufff.


Hanum kembali menghela nafas dengan cukup berat.

__ADS_1


Lalu menuju mobil masing masing dan segera melajukannya menuju mall.


BERSAMBUNG...


__ADS_2