
Pagi itu hujan lebat mengguyur semesta. Dua insan Tuhan masih bergumal dengan malas didalam selimutnya.
Setelah beberapa hari kebelakang hanya bisa terbaring tanpa aktifitas apapun kini Hanum sudah merasakan tubuhnya baik baik saja, rasa sakit yang diderita karna hantaman peluru itu kini tidak lagi ia rasakan.
Didalam selimutnya ia terus menggoda sang suami yang tertidur dengan pulasnya . Ia terus memainkan bulu mata suaminya yang terlihat begitu panjang dan lentik itu. Dan sesekali ia mengecupi bibir suaminya.
Jujur saja sebagai seorang wanita ia merasa iri dengan bulu mata yang dimiliki suaminya itu.
Hal itu sukses membuat Hanzen terusik namun ia berpura pura tetap tidur dan membiarkan istrinya bermain main pada wajahnya.
Merasa tak mendapat respon dari sang suami. Ia kembali terbaring dan meletakan kepalanya di dada bidang suaminya.
Hanzen tersenyum simpul melihat tingkah istrinya lalu memiringkan tubuhnya menghadap sang istri
"Kenapa berhenti hmm!" ucap Hanz seraya mempererat pelukannya pada tubuh istrinya itu.
"Mas udah bangun ya kirain belum "
"Kenapa , Kamu mau ?".
Hanum hanya tersenyum seraya terus mengusap bibir suaminya.
Hanzen langsung ******* bibir Hanum dengan lembut dan ternyata mendapat balasan dari Hanum
Rintik hujan dan percikan air yang jatuh memantul pada dinding kaca kamarnya seakan mengalun indah mengiringi peraduan hingga puncak pelepasannya masing masing secara bersamaan.
Sejam sudah Mereka melewati paginya dengan olahraga pagi diatas ranjang .
Setelahnya mereka tersenyum bahagia.
"Terima kasih sayang sarapan paginya sungguh luar biasa nikmat dan sangat special sepertinya aku bakal ketagihan deh ". Ucap Hanz seraya tersenyum lalu mengecup kening istrinya
Hanum tersenyum dan terus menatap lekat kedua mata suaminya.
"Aku tau mas diluar sana banyak wanita yang berlomba lomba untuk mendapatkan hatimu. Itu sebabnya aku tidak akan kasih cela sedikitpun untuk mereka merusak rumah tangga kita".
"Iya sayang , secantik apapun wanita diluar sana aku tidak akan pernah berpaling darimu".
Hanum terisak dalam tangis.
"Hei kok nangis ! "
"Entahlah mas, aku takut kamu meninggalkanku!". Ucap Hanum dengan terus terisak.
"Lihat aku!" titah Hanz
"Aku akui dulu memang playboy, memainkan hati wanita seenaknya, dan semaunya ! Tapi percayalah sekarang tidak ada lagi jiwa playboy yang tertinggal dihatiku tak ada sedikitpun. Aku jamin itu sayang "
"Tapi hatiku merasa tak tenang mas, aku merasa seakan akan mas akan pergi jauh dari hidupku ".
"Tidak sayang ! Itu tidak mungkin !" Hanzen mengusap airmata istrinya lalu mencium bibirnya .
Lagi dan lagi Hanum terbuai dalam sentuhan lembut suaminya. Sentuhan yang membuat keduanya berhasil menggapai puncak orgasme untuk kesekian kalinya.
Dengan nafas yang masih tersengal mereka saling menatap dan tersenyum penuh kebahagian.
__ADS_1
"Mandi yok !" ajaknya kemudian pada sang istri.
"Ayok!" Hanum menarik tangan sang suami menuju kamar mandi.
Mereka pun mandi bersama .
"Sini aku gosokin punggungnya!" ucap Hanz.
"Gak usah mas aku bisa sendiri" jawab Hanum yang sengaja menghindari sentuhan suaminya untuk yang kesekian kalinya .
Sebab ia yakin jika membiarkan suaminya melakukan itu sudah dipastikan ritual mandinya akan menjadi sangat lama. Karna bukan hanya mandi yang akan mereka lakukan.
Sampai akhirnya ritual mandi itupun telah selasai.
.
.
.
.
Dikantor Hanzen sedang berkutat didepan laptop. Tiba tiba ponselnya berdering.
"Aku sudah mendapatkan bukti keterlibatan Risya pada kecelakaan Marine".
"Semudah itu?"
"Itu soal gampang Hanz! Aku hanya ingin membuktikan kalo aku bukan pelakunya!".
"Tapi maaf soal penembakan Hanum aku belum mendapatkan bukti, karna aku yakin pelakunya bukanlah Risya!".
"Darimana kau bisa seyakin itu tante!"
"Karna Risya sama sekali tidak tau dengan kejadian yang dialami Hanum, dia baru saja akan merencanakan sesuatu namun belum mulai bergerak !".
"Datanglah secepatnya ke kantorku" .
......................
Beberapa bulan kemudian.
Setelah tertangkapnya Risya keadaan kembali membaik dan terasa aman tidak ada lagi kejadian meresahkan yang terjadi pada Hanum dan Hanzen.
Persiapan acara resepsi pernikahan Hanum dan Hanzen akan diadakan 2 hari lagi. Semua persiapan mulai dari gaun tempat resepsi semuanya sudah siap dan kartu undangan jug sudah tersebar.
Semua keluarga sudah berkumpul termasuk Hazel yang baru saja selesai menyelesaikan sekolah menengahnya dan berencana akan mendaftar di salah satu Universitas ternama di kota itu dengan bantuan Hanzen.
"Gimana Haz, kau sudah tentukan mau mendaftar dimana?" tanya Hanum pada sang adik.
"Sudah kak, aku akan mendaftar di Universitas ini saja " jawab Hazel seraya menunjuk sebuah brosur gambar gedung Universitas yang ada depannya.
"Kenapa aku merasa tingkah Hazel sekarang berubah ya, bukan lagi Hazel yang dulu yang selalu mempertimbangkan segala sesuatu dengan bijak. Itukan kampus termahal, memang sih mas Hanz tidak akan keberatan dengan semua itu. Cuma aku merasa aneh aja pada sikapnya yang jauh berubah. Apa karna ia banyak bergaul dengan Farel ya. Tapi tidak mungkin karna aku tahu betul siapa Farel".
Hanum menatap Hazel dengan penuh selidik.
__ADS_1
"Jika setuju tidak apa apa ! Aku akan memilih yang lain lagi" ucap Hazel seakan tahu dengan apa yang ada pikiran Hanum.
"Bukan gitu Haz hanya saja...."
"Kenapa sayang?" tanya Hanz yang baru saja tiba.
"Eh mas udah pulang?". Hanum mencium punggung tangan suaminya
"Udah sayang, apa yang sedang kalian bicarakan hm?"
"Aku mau kuliah disini tapi kak Hanum sepertinya kurang setuju jadi aku akan memilih kembali kampus lain!".
"Tidak apa apa Haz, kau boleh mendaftar dikampus itu besok setelah acara resepsi kami selesai Boy akan membantu mengurusnya!".
"Tapi mas...!"
"Gak apa apa sayang , itu kampus paling bagus jadi Hazel bisa jadi pembisnis yang hebat setelah lulus kuliah nanti" .
Mendengar penuturan Hanzen sudut bibir Hazel menyunggingkan senyum.
"Kita ke kamar sayang , aku mau mandi!" ucap Hanz seraya berjalan menuju kamarnya yang diikuti oleh Hanum mengekor dibelakangnya.
Sesampainya dikamar Hanum langsung menyiapkan baju ganti untuk suaminya.
"Mas kamu yakin akan mendaftarkan Hazel kuliah di kampus itu?"
"Emang kenapa sayang?"
"Itukan Kampus termahal mas!".
"Apa kamu pikir suamimu ini gak mampu gitu?".
"Bukan gitu maksudku mas tapi..."
"Sayang, bukankah dia adik kita satu satunya jadi biarkan saja dia mendapatkan yang terbaik dari kita!".
"Aku merasa ada yang aneh dengan Hazel mas!".
"Aneh gimana sayang, udah ah jangan berpikiran yang tidak tidak sama adik sendiri. Aku mandi dulu ya!".
Hanum masih terus berpikir dengan perubahan sikap Hazel yang sepertinya keinginannya itu semakin tinggi saja. Tidak seperti Hazel yang ia kenal beberapa bulan lalu. Hazel yang dulu penuh dengan kesederhaan sekarang seakan menjadi haus akan kemewahan.
Seperti halnya mobil yang ia minta pada Hanz itu bukanlah mobil biasa. Itu salah satu mobil bergengsi. Untuk kalangan kelas atas.
Ada apa dengan Hazel Pradipta . Sikapnya mulai berubah setelah kematian ibunya.
.
.
.
.
BERSAMBUNG✍️
__ADS_1