SEJUTA CINTA UNTUK HANUM

SEJUTA CINTA UNTUK HANUM
Bab 33. Rumah Sakit


__ADS_3

Di Rumah sakit.


Hanum terbaring lemah diruang operasi . Hanzen dan semua orang termasuk Tammy dan Haris juga ada disana sedang menunggu dengan harap harap cemas.


Sementara Zennet terus menangis dipelukan suaminya. Hanzen bersandar lemah dikursi tunggu pikirannya tak lagi jernih semua kacau seakan dunia telah berhenti disana.


"Aku tidak akan mengampuni Brengsek!!" dadanya bergemuruh ,tatapan matanya nyalang dipenuhi dengan kemarahan. Giginya bergemerutuk beradu seakan ia hendak menelan mangsanya hidup hidup.


"Vin ! Apa sudah kau jebloskan orang itu kedalam penjara!"


"Sudah bro! Polisi masih menggali informasi selanjutnya!".


"Siapa yang telah tega melakukan ini pada Hanum!". Ucap Zennet seraya terus terisak.


"Siapapun dia akan aku pastikan dia akan membusuk dipenjara untuk selamanya!".


"Apa mungkin semua ini ada hubungan dengan Mutia !" ucap Hariawan tiba tiba.


"Aku akan mencari Mutia! Dia harus mendapatkan hukumannya ! Dulu aku tidak melaporkan perbuatannya kepolisi karna aku pikir kondisi kejiwaannya sedang terganggu. Tapi kali jangan harap kamu bisa bebas dari tuntutan hukum Mutia!!!" . Ucap Zennet dengan begitu geramnya.


"Sabar sayang polisi sedang melakukan pengembangan karna pelaku penembakan itu sudah ditangan polisi!". Hariawan menenangkan istrinya


"Tidak bisa Har ! Dari kecil anak tidak berdosa itu selalu menjadi korban keegoisan Mutia ! Untung saja dulu Marine datang tepat waktu jika tidak!"


"Rel antar aku menemui wanita biadap itu sekarang juga !"


"Ya tante!".


"Momm !!" seru Hanz dengan suara lemahnya


Zennet menoleh pada anak lelaki nya


"Kita tunggu kabar dari dokter tolong mommy jangan kemana mana dulu aku mohon mom !"


"Baiklah Hanz! mommy akan menunggu disini!"


Tak lama kemudian dokter keluar dan segera memberitahukan keadaan Hanum .


"Dokter ! Bagaimana keadaan istri saya dok!"


"Pasien saar ini kritis karna terlalu banyak mengeluarkan darah . kamu butuh pendonor secepat nya pak mengingat golongan darah pasien sedang tidak banyak stok dirumah sakit kami.!".


"Tolong periksa golongan darah semua orang yang ada disini dok kalo ada yang cocok dokter bisa mengambilnya.!" ucap Zennet tiba tiba .


" Baiklah suster akan melakukan pemeriksaan !"


Satu persatu keluar dari ruangan pemeriksaan tak ada satupun yang cocok. Tersisa satu orang bekum diperiksa yaitu Hariawan.


Hariawan memasuki ruangan dengan jantung berdetak kencang ia kembali mengingat kesalahan dimasa lalu bersama Mutia.

__ADS_1


Ya tuhan apa hari ini semuanya akan terbongkar. Lindungi keluargaku ya tuhan. Jangan sampai kesalahanku dimasa lalu menjadi boomerang dalam kebahagian rumah tanggaku.


Dan ternyata benar golongan darahnya cocok dengan Hanum. Antara sedih dan bahagia bercampur menjadi satu dihati Hariawan.


Akhirnya ia memutuskan berbicara dengan dokter untuk tidak mengatakan pada istrinya jika golongan darahnya sangat cocok dengan pasien.


Demi menjaga privasi pendonornya dokter itupun menyanggupi semuanya.


Lama berada diruangan akhirnya Hariawan keluar dengan keadaan terlihat sedikit lesu.


"Dad ! Gimana hasilnya apa daddy bisa menyelamatkan Hanum!". Ucap Hanzen .


Hariawan menggeleng dengan lesu.


Zennet yang heran dengan kondisi suaminya yang sangat lesu berbeda dengan sebelum ia memasuki ruangan pemeriksaan yang begitu bugar ia mendekati suaminya .


"Har ada apa denganmu?" tanya Zennet heran.


"Tidak apa apa sayang! Aku hanya lemas pas lihat darahku diambil oleh suster tadi!". Ucap Hariawan berbohong.


Kemudian Zennet teringat kalo Hariawan memang tidak bisa melihat darah. Apalagi darah milik sendiri.


"Iya Har !"


Tak lama dokter keluar dan memberitahu perkembangan kondisi Hanum ternyata darah yang telah didonorkan Hariawan masih belum cukup.


"Mutia ! Ya satu satunya orang yang bisa menolong kita saat ini adalah Mutia !" Ucap Zennet tiba tiba.


"Aku sudah menghubungi seseorang untuk membawanya kesini sebentar lagi dia akan sampai".


Dan benar saja orang suruhan Davin telah berhasil membawa Mutia kerumah sakit dan lansung dibawa keruangan untuk diambil darahnya.


"Tidak sia sia aku menyuruhmu terima kasih banyak. dan ini ambilah" ucap Davin seraya menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat panjang.


"Terimakasih bos!".


"Ya".


Kini Mutia telah berada diruangan . Davin segera memasuki ruangan tersebut.


"Siapa kau?" tanya Mutia pada davin.


"Tidak usah banyak tanya! Cepat masuk kedalam seseorang sangat membutuhkan darahmu!"


"Seseorang siapa maksudmu!".


"Tidak usah berpura pura tante! Anda telah menyuruh orang untuk menghabisi anak anda sendiri bukan!".


"Apa maksudmu! Anakku yang mana ! Aku tidak punya siapapun dan aku tidak pernah menyuruh siapapun untuk menghabisi siapapun!".

__ADS_1


"Tidak usah berpura pura Mutia ! Dari dulu hingga sekarang kau tidak pernah berubah ! Kenapa kamu ingin sekali membunuh darah dagingmu sendiri . Apa sedikitpun hatimu tidak tersentuh melihat anakmu telah tumbuh dewasa dan sangat mirip denganmu! Ibu macam apa kau ini yang selalu menginginkan kematian anaknya sendiri!" Zennet tiba tiba diruangan itu.


"Apa maksudmu Zennet. Aku sama sekali tidak melakukan itu . Jangankan menyuruh orang untuk menghabisinya bahkan melihatnya saja aku belum pernah!". Mutia semakin dibuat bingung dengan tuduhan tuduhan Zennet dan juga Davin.


"Berhenti berpura pura Mutia. Bahkan kamu tega menabrak Marine hingga tewas!".


Mutia terdiam sesaat. Dirinya mengingat saat ia berdebat dengan Marine disalah satu minimarket . Tapi ia tak habis pikir dengan tuduhan yang Zennet yang mengatakan ia menabrak Marine hingga tewas.


Apa semua ini adalah perbuatan Risya , tapi ini sama sekali tidak ada dalam kesepakatan antara aku dengannya. Aku hanya berniat untuk menghancurkan keluarga Bramasta bukan membunuh marine dan juga anakku seperti yang dibilang Zennet barusan.


Kenapa Risya melebihi batas.


"Kenapa diam! Apa kau sedang berusaha mengingatnya! Apa kau lupa telah melakukan sebuah kejahatan!".


"Tutup mulutmu Zen. Jika kau ingin tau alasan kenapa aku sangat ingin membunuh anakku dulu tanyakan saja pada suami tercintamu itu! Dia mengetahui semuanya!" jawab Mutia dengan kedua matanya menatap nyalang kesegala arah.


"Tapi perlu kau tahu Zen. Aku tidak melakukan apapun pada Marine . Apalagi tuduhan yang baru saja kau katakan bahwa aku telah menyurh orang untuk menghabisi anakku karna bahkan melihatnya saja aku belum pernah!". Mutia menegaskan.


Zennet berjalan semakin mendekati Mutia


"Apa maksudmu Mutia?" Zennet mulai melemah.


"Sudah ku bilang tanyakan saja pada suamimu!".


Zennet keluar ruangan dan mencari suaminya itu.


Ia sangat penasaran dengan apa yang dikatakan Mutia kepadanya.


"Hanz kemana Daddymu?" tanyanya pada anaknya yang baru saja muncul dari arah ruangan Hanum.


Ia terlihat begitu lemah setelah melihat istrinya yang belum juga sadarkan diri.


"Aku tidak melihatnya mom!".


"Apa Tante Mutia masih disana mom?" tanyanya seraya menunjuk ruangan tempat mutia berada.


"Ya , Davin masih menahannya!".


"Dia bersikeras bahwa dia sama sekali tidak terlibat untuk masalah ini Hanz!".


"Apa mommy percaya dengan ucapannya!".


"Ya! Karna kami tumbuh bersama jadi mommy sangat tau bagaimana Mutia!".


"Mommy sangat mengenal saudari mommy itu !".


Hanzen mulai berpikir keras . Kenapa semuanya menjadi begitu rumit. Siapa sebenarnya yang melakukan semua ini.


Sementara Zennet mengingat kembali ucapan Mutia . Sebenarnya yang dirahasiakan oleh suaminya. Ada masalalu apa antara Mutia dan suaminya itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2