
Ketiga lelaki itu memasuki rumah sakit dengan jalan yang begitu cepat dan tergesa - gesa. Dengan pikiran yang begitu khawatir akan keadaan babby Al. Farel terus berjalan menuju ke ruangan tempat dimana babby Al dirawat.
"Hanum, bagaimana keadaan babby Al, sekarang?" tanya Farel dengan nada yang begitu khawatir.
"Masih diperiksa dokter Rel," sahut Hanum dengan nada yang sedihnya.
"Bagaimana ceritanya Num, kenapa tiba tiba babby Al bisa demam?"
"Aku juga tidak tau tiba tiba saja babby Al menangis kencang, pas aku pegang ternyata suhu badannya panas tinggi Rel."
"Tuan Farel bagaimana keadaan anak anda sekarang?" tanya seorang pria yang yang baru saja muncul bersama Boy dari arah lorong rumah sakit.
"Mas Hanz!" seru Hanum.dengan ekspresi yang begitu terkejut.
"Tuan Petter, anak saya masih diperiksa dokter < dan kami masih menunggu dokter disini!" tutur Farel.
"O'ya Hanum kenalkan, beliau ini adalah Tuan Petter klien baru di perusahaan kita." Farel menjelaskan pada Hanum yang masih ternganga karna sama sekali sekali tidak menyangka ada orang yang sangat mirip dengan almarhum suaminya itu.
"Rel, kenapa mirip sekali dengan Hanz?" bisik Hanum pada Farel.
"Aku juga tidak tau Num tapi yang jelas dia bukan Hanz, dia Petter dari Amerika." jelasnya lagi pada Hanum.
"E... Tuan Petter ini adalah Hanum adik sepupu saya yang anaknya sedang dirawat di rumah sakit ini.
Petter menyapa Hanum, lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan disambut oleh Hanum seraya tersenyum.
"Saya Petter, semoga anak anda cepat sembuh nona."
"Terima kasih Tuan Petter."
Melihat wajah Petter yang begitu mirip dengan almarhum suaminya itu membuat Hanum meneteskan air matanya, ia kembali mengingat suaminya yang sudah 1 tahun ini meninggalkan dirinya dan anaknya yang kini sedang dirawat di rumah sakit karena deman tinggi.
Farel mendekatinya lalu merangkul pundak adik sepupunya itu. Berusaha memberinya kekuatan .
"Udah jangan nangis, awalnya aku juga sempat mengira jika itu adalah Hanz. Tapi setelah Boy selidiki dia bukan Hanz. Dia Petter yang datang dari dari Amerika belum lama ini."
"Siapapun dia, dia sudah mengingatkanku pada Hanz. Kenapa ada orang semirip itu di dunia ini Rel. Aku tidak percaya, aku yakin dia adalah mas Hanz. suamiku!" Hanum tetap bersikukuh bahwa lelaki itu adalah suaminya.
__ADS_1
"Nona Hanum!" panggil dokter yang baru saja selesai memeriksa babby Al.
"Iya dokter, bagaimana keadaan anak saya dok?"
"Tidak ada yang serius nona , hanya demam biasa!"
"Syukurlah dok ,saya lega mendengarnya." ucap Farel.
"Boleh kami masuk dok?" tanya Hanum pada sang dokter.
"Silahkan nona,"
Hanum dengan segera memasuki ruangan dan disusul oleh Farel dan yang lainnya.
Hanum mengambil dan menggendong bayinya, dengan air mata yang masih terus mengalir di pipnya.
Ya tuhan... melihat orang yang begitu mirip dengan suamiku , kenapa hatiku rasanya sangat sakit, cobaan apa lagi yang engkau berikan pada hamba ya allah.
Hanum terus bergumam dalam hati, seraya menggendong bayinya dengan matanya yang sesekali melirik kearah Petter, Ia terus memperhatikan gerak gerik lelaki yang begitu mirip dengan almarhum suaminya itu. Caranya menatap, caranya bicara dan gayanya saat sedang berdiri itu 100% mirip betul dengan Hanz, suaminya yang telah meninggal itu.
Aku harus mencari tahunya sendiri siapa sebenarnya lelaki ini! tidak mungkin ada lelaki yang begitu mirip dengan suamiku yang sudah meninggal.
"Berikan babby Al padaku." ucap Farel kala melihat Hanum yang masih terus tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Farel Tahu kemunculan Petter saat ini sangat mengganggu pikiran Hanum. Karna pasti ia tidak akan percaya jika Petter ini bukanlah Hanz suaminya yang telah meninggal itu..
Entah harus bagaimana cara ia menjelaskannya lagi pada sepupunya itu jika Hanz dan Petter adalah 2 orang yang berbeda.
Setelah menyerahkan babby Al pada Farel, Hanum menarik tangan Petter dan membawanya dari ruangan keluar ruangan .
"Ikut denganku , aku mau bicara!" ucapnya.
Petter hanya mengikuti langkah Hanum dengan perasaan bingung.
"Sekarang tolong jelaskan padaku mas, kenapa kamu melakukan semua ini padaku? kau pura pura meninggal dan tiba tiba sekarang muncul kembali dengan identitas yang berbeda apa maksudmu mas?" tanya Hanum.
"Apa maksud anda Nona, saya benar benar tidak mengerti." sahut Petter dengan wajah bingungnya.
__ADS_1
"Tidak usah pura pura mas, dari caramu melihat, caramu menatap dan caramu berbicara adalah ciri khas yang selama ini menjadi penilaian tersendiri untukku jadi jangan harap kau bisa menipuku mas. Kamu tega ya membiarkanku menjalani semuanya sendiri, hamil tanpa suami, melahirkan tanpa suami kamu kira semua itu mudah apa, aku kecewa sama kamu mas." ia menangis pilu menumpahkan segala rasa kesalnya.
"Apa maksud anda nona, saya benar benar tidak mengerti!" teriak Petter yang mulai emosi dengan tuduhan yang Hanum tujukan padanya.
"Hanum, cukup, aku mohon hentikan semua ini . Dia bukan Hanz kita dia Petter!" ucap Farel pada sepupunya itu.
Saat Farel melihat Hanum menarik Petter, ia langsung menyusulnya dan memberikan baby Al kepada perawat yang ada di ruangan itu.
"Maafkan atas semua tingkah sepupu saya Tuan Petter, karna semua yang ada pada diri anda sangat mirip dengan suaminya yang sudah meninggal setahun yang lalu!" tutur Farel pada Petter.
"Is okay Tuan Farel, maafkan jika kedatangan saya telah mengganggu ketenangan keluarga anda."
"Tidak Rel, dia bukan Petter dia adalah Hanz, dia hanya berpura pura mati agar bisa menyakitiku dan anakku!"
Hanum terus berteriak dan memaki lelaki yang sedang berdiri tak jauh darinya.
"Maaf Tuan Farel, kalo begitu saya permisi, dan semoga anak anda lekas sembuh dan kembali ke rumah." ucapnya seraya membalikan badannya lalu berjalan menjauh dari Hanum dan juga Farel.
"Tunggu mas, jangan pergi mas!" Hanum terus berteriak dan mengejar Petter.
"Maaf nona ,tapi saya bukan suami anda seperti yang anda maksud itu!"
"Tolong mas, jangan tinggalkan kami , aku mohon, lihatlah anak kita sudah lahir apa kamu tidak merindukan anakmu darah dagingmu, buah cinta kita mas!" Hanum memeluk Petter dari belakang seraya menangis dengan begitu pilu, membuat siapapun yang melihatnya pasti akan merasa tidak tega.
Begitupun dengan Farel yang juga ikut menangis. Lalu ia mendekati Hanum, hendak menarik dan melepaskan cekalan tangannya pada pinggang Petter.
Namun Petter mencegahnya , karna merasa tidak Tega akhirnya Petter membalikan tubuhnya dan mengusap air mata di wajah Hanum.
"Saya tahu dengan apa yang anda rasakan apalagi ditinggal oleh seseorang yang kita sayangi. Itu tidaklah mudah , tapi anda harus percaya jika Tuhan tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan umatnya. Percayalah dibalik kesedihan yang anda alami pasti akan ada kebahagiaan yang telah menanti anda!" Petter mengusap puncak kepala Hanum yang masih saja menangis dan menatap rindu pada wajah lelaki yang mirip dengan suaminya yang telah meninggal itu.
"Masuklah kembali, jaga bayimu baik - baik, dan sampaikan salamku untuk baby Al." ucapnya seraya tersenyum dan pergi meninggalkan rumah sakit.
Hanum menatap kepergian Petter dengan lemah perasaannya begitu sedih dan rapuh tidak berdaya.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG...