
Pagi pagi sekali Hanum terbangun dan segera membersihkan diri kekamar mandi.
Rasanya sudah lama sekali tidak berendam di bath up akhirnya ia memutuskan berendam air hangat menggunakan aroma terapi .
Sejenak ia dapat melupakan beban pikiran yang selama ini cukup mengganggunya. Ia begitu menikmati aroma terapi yang ia gunakan. Ia kembali memejamkan matanya.
Hanzen yang baru saja membuka matanya itu langsung beringsut bangun saat tidak mendapati istrinya di atas kasur. Pikirannya mendadak kembali buntu tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia kembali mengingat mimpinya semalam . Dengan begitu paniknya ia terus memanggil manggil istrinya.
"Sayang! Kamu dimana sayang!". Ia berlari lalu membuka pintu kamar dan mencari istrinya disetiap sudut ruangan.
"Kak cari siapa !" tanya Rania heran kala melihat kakaknya mondar mandir kebingungan.
"Kau melihat kaka iparmu?"
"Bukannya seharusnya masih dikamar ? Kaka ipar belum keluar sama sekali sejak tadi!".
"Tidak ada Rania aku sudah mencarinya kemana mana tapi tidak menemukannya!". Hanzen mulai frustasi.
"Masa sih kak, kaka udah lihat dikamar mandi belum?"
Dan seketika Hanzen menepak jidatnya sendiri karna ia memang belum sama sekali mencarinya dikamar mandi mereka.
Rania menggelengkan kepalanya
"Sepertinya seisi rumah ini hanya mengkhawatirkan Hanum Hanum dan Hanum terus!! Apa coba istimewanya perempuan seperti dia!" keluh Rania.
Disaat yang bersamaan Hazel muncul dari arah kamar lalu menatap pada Rania sekilas.
"Apa! apa kau juga mau nanya kaka ipar padaku!' ucap Rania seraya mendelik kesal pada Hazel.
"Kamu naenyaaaaa!" jawab Hazel seraya berjalan keluar menuju mobilnya berada.
Tidak ada waktu untuknya meladeni Rania.
"Gak kaka ipar ! Gak adiknya sama aja bikin kesel aja!!". Rania menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
Perasaan lega dan tenang seketika menghinggapi hati Hanzen saat melihat istrinya sedang menikmati hangatnya air didalam bath Up seraya memejamkan matanya.
Berpikir tidak mau mengganggu ketenangan istrinya ia menutup kembali pintu kamar mandi dan memilih menunggunya diatas kasur.
Seseorang menghubunginya
"Bro kapan ke markas? Ada berita mengenai Zello!"
"Aku akan datang".
Tidak membutuhkan waktu lama Hanzen telah tiba dimarkas.
"Info apa yang kau dapat".
"ini foto foto Zello ternyata dia menggunakan topeng yang terbuat dari kulit untuk menutupi wajah aslinya.
Sejenak Hanz melihat foto dan mobil yang yang digunakannya . Sepertinya ia mengenal plat nomor mobil itu.
" Mobil ini!?" Hanz terkejut seraya menajamkan penglihatannya.
"Ya itu mobil milik Zello".
"Itu Tidak mungkin! Tidak mungkin Hazel melalukan semua itu apa tujuannya dari semua itu! Hanum tidak boleh sampai tau akan masalah ini!"
__ADS_1
"Aku ingin kau selidiki terus tentang Zello".
"Jika benar Zello adalah adik iparku biarkan ini jadi urusanku saja"
"Apa ! Jadi ketua Geng Gurita yang baru itu adalah adik iparmu sendiri?! Waduh!"
"Ikuti saja pergerakannya dan laporkan padaku".
"Siap bro!".
Lalu Hanzen kembali pulang dengan beribu pikiran yang kini berkecamuk.
Sesampainya dipertigaan jalan dekat rumahnya ia melihat mobil Hazel melintas , ia berniat untuk mengikutinya namun ia melirik jam tangannya bahwa ia harus segera pergi kekantor ditambah lagi dia pergi tadi gak pamit sama istrinya yang pasti akan mencarinya jika tidak segera kembali kerumah.
"Mas darimana ? Aku cari cari loh!".
"Ada urusan sebentar sayang"
"Yaudah sana gih mandi!"
"Ya sayang ! Gimana perasaan kamu sekarang? Apa udah lebih baik?".
"Udah mas"
"Syukurlah , aku mau mandi dulu setelah itu kita sarapan kebawah".
"Oke mas !"
Dimeja makan terlihat Rania masih setia duduk menunggu anggota keluarga yang lainnya.
"Hadeh! Ini pada kemana sih manusia aku udah kelaparan dari tadi juga malah gak muncul muncul!"
"Bodo ah aku makan duluan aja!".
"Rania gak tahan lagi mom ! Udah lama Rania nongkrong disini ".
"Ya jelas saja udah lama orang dia dari subuh!" sela Hanzen yang sudah bergabung dimeja makan .
"Sini sayang duduk!". ucapnya lagi pada istrinya.
"Heleh tuan putri cinderela masakini ! Gimana keadaannya udah baikan yah?" ucap Rania kepada Hanum seraya menunjukan rasa ketidaksukaannya itu.
"Rania ! Jaga mulutmu mommy gak suka ya!".
"Ia mom bela aja terus menantu kesayangan!"
"Ran...."
"Iya anak kesayangan daddy juga kan?"
Hariawan menggelengkan kepala pelan. Ia tidak mau meneruskan omongannya kepada Rania karna ia khawatir Rania akan terang terangan mengatakan pada Hanum tentang sesuatu yang belum diketahui Hanum.
Sebenarnya tidak ada maksud untuk Hariawan menutupi semua itu hanya saja mengingat kondisi Hanum saat ini belum saatnya harus tau kebenaran itu.
"Maaf Nenek terlambat bangun. Pasti kalian sudah lama menunggu ya" ucap nenek yang baru saja bergabung dimeja makan.
"Nenek ayo duduk sini" ucap Hanum seraya menyambut tangan neneknya.
"Nek ,kok tangan nenek panas!" ucap Hanum lagi lalu menempelkan punggung tangannya pada kening sang nenek"Mas nenek demam loh !".
__ADS_1
Sontak saja semua nya terkejut dengan penuturan Hanum dan semua mendadak panik.
"Aku tidak apa apa jangan pada panik begitu ! Ayo sarapan setelah ini aku akan meminum obat!". Ucap nenek menenangkan semua orang.
"Semua orang dari kemarin hanya mengkhawatirkan kaka ipar saja ! Sampai sampai lupa merhatiin nenek!". Celetuk Rania tiba tiba.
Tentu saja membuat Hanum merasa tidak enak dengan seketika menundukan wajahnya.
"Maaf aku sudah begitu merepotkan seisi rumah in!" ucapnya dengan masih tertunduk.
"Enggak gitu sayang udah gak usah didengerin ocehan dari mulut Rania yang kayak ember bocor itu!"ucap Zennet kemudian.
"Dimana Hazel kenapa tidak ikut sarapan?" kali ini Hariawan yang bertanya .
"Kagak ada dia ! Udah mampret pagi pagi sekali anak baru masuk kuliah aja sok kesibukan dia!". Lagi lagi Rania nyeletuk dengan kata kata yang sedikit pedes .
"Rania bisa gak kalo ngomong itu jaga perasaan orang dikit!"
"Ya ela kak, lagian orangnya juga gak ada disini! Perasaan Rania salah mulu dari tadi ya!"
" La itu tahu!".
"Kagak ada tahu kak adanya nasi goreng! Tapi yang dibikinin nasi goreng udah kabur duluan!".
"Udah udah makanlah sarapannya Hanzen , Rania!".
Nenek telah menghabiskan sarapannya dan hendak bangun tapi tiba tiba saja kepalanya pusing tubuhnya limbung dan seketika ambruk . Beruntung Hanum dengan sigap menahan tubuh Nenek hingga tak sampai membentur lantai.
"Nenek, mas bawa nenek kerumah sakit!" Hanum panik begitupun dengan semua yang ada disitu terutama Hariawan.
" Hanzen mengambil alih nenek dari tangan Hanum lalu membawanya kedalam mobil yang sudah disiapkan oleh Hariawan".
"Mas aku ikut ya"
"Boleh sayang ayo naiklah!".
Sampai dirumah sakit langsung ditangani dokter diruang UGD.
Semua orang terlihat cemas dan tegang.
Hanzen terus mondar mandir didepan pintu ruangan sambil menunggu dokter yang sedang menanganinya.
"Pak Hariawan saya minta maaf karna nyonya Bramasta tidak bisa lagi diselamatkan !"
Seketika semua orang menatap dokter dengan tidak percaya.
"Maksud dokter ibu saya sudah meninggal?". Hariawan berucap dengan bibir yang bergetar.
"Iya pak !".
Mereka semua menangis lalu berjalan memasuki ruangan UGD .
" Nenek Mas!" ucap Hanum sambil memeluk suaminya dan saling menenangkan.
"Iya sayang". Sepasang suami istri itu saling terisak.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG ✍️