SEJUTA CINTA UNTUK HANUM

SEJUTA CINTA UNTUK HANUM
Bab. 64 Baby Al adalah Segalanya Bagiku.


__ADS_3

Setibanya di kamar Hanum langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur , sementara Farel masih dengan posisi menggendong baby Al lalu mendudukkan dirinya di atas sofa.


"Rel, baringkan di sini saja dan kau boleh keluar dari kamar ku. Biarkan kami tidur dengan nyenyak dan jangan menggangguku!" titah Hanum pada Farel.


"Tunggulah setengah jam lagi, biarkan kami seperti ini dulu sebelum kami berpisah semalaman penuh nantinya."


Setengah setengah jam Farel pun segera membaringkan baby Al di dalam box bayi yang berada di samping tempat tidur Hanum dengan begitu pelan karna takut baby Al terusik tidurnya.


"Selamat tidur baby Al sayang, jangan nakal ya kasian mamamu," ucap Farel sembari mengelus lembut pipi baby Al.


Kemudian Farel berjalan ke arah pintu dan hendak keluar meninggalkan baby Al bersama Hanum.


Namun baru saja Farel hendak menutup pintu kamar Hanum tiba tiba saja baby AL menangis dengan begitu kencang membuat Farel mengurungkan niatnya menutup pintu.


Kemudian kembali mendekati baby Al lalu menggendongnya namun dengan cepat Hanum memintanya untuk memberikannya ASI pada bayinya


"Biar aku saja Rel. kau istirahatlah bukankah besok pagi kau ada urusan penting di kantor?" tanya Hanum.


"Tidak ada yang lebih penting dari baby Al bagiku, biarkan aku tetap disini untuk menjaganya," ucapnya.


"Tapi aku mau memberinya ASI, mungkin dia lapar," sahut Hanum .


"Baiklah, aku akan keluar dulu kalo sudah selesai beritahu aku!" ucapnya seraya berjalan menuju keluar dari kamar.


Setelah Farel menghilang di balik pintu yang tertutup Hanum mulai memberikan ASI nya pada bayinya tersebut hingga bayinya kembali tertidur. lalu Hanum juga ikut tertidur di sampingnya.


Sementara di ruang kerja Farel sedang menelpon Boy dan membahas soal pekerjaannya di kantor. Nampak Farel mulai sibuk dengan tumpukan berkas yang harus ditanda tangani.


Setelah memakan waktu beberapa lama akhirnya Farel telah selesai berjibaku di ruangan kerjanya lalu berjalan menuju kamar Hanum demi melihat baby Al sebelum ia mengistirahatkan dirinya.


Dilihatnya Hanum yang tertidur dengan posisi memeluk bayinya dengan begitu tenangnya. Farel menyenderkan kepalanya pada sandaran kasur dengan posisi duduk. memandangi wajah bayi yang yang begitu mirip dengan wajah wanita yang sedang tertidur dan memeluk bayinya. Ingin rasanya ia ikut bergabung memeluk baby Al, namun ia teringat akan siapa dirinya, Ia tak mungkin tidur di sini bersama Hanum, apalagi dalam tempat tidur yang sama.


"Rasanya begitu enggan untukku beranjak meninggalkanmu Al. Ingin rasanya tidur di samping kalian berdua , tapi itu tidak mungkin." ujarnya seraya mengusap lembut puncak kepala Hanum dan bayinya secara bergantian.


"Tidurlah dengan nyenyak, mimpilah yang indah." ucapnya lagi lalu pergi meninggalkan keduanya lalu memasuki kamarnya sendiri.


********


Keesokan harinya


Farel  yang telah bersiap siap untuk pergi ke kantor itu namun tidak pernah lupa untuk absen dan melihat baby Al di kamarnya  walau hanya untuk sekedar menyapa dan mengucapkan selamat pagi padanya. Baginya itu adalah suatu rutinitas yang selalu ia lakukan setiap pagi.


"Selamat pagi baby Al dan mama Al, gimana tidurnya semalam ?"


"Pagi juga uncle Farel, ya semalam kami tidur dengan nyenyak."

__ADS_1


"Berikan padaku , aku akan menggendongnya sebelum aku pergi ke kantor, karna pasti sore nanti baru bisa bertemu lagi dengannya," kata Farel seraya mengambil alih bayinya dari tangan adik sepupunya itu.


Hanum menyerahkan bayinya kepada Farel. Lalu mereka berdua turun kelantai bawah secara bersamaan.


Sesampainya diruang makan mereka disambut oleh anggota keluarganya yang sudah siap menyantap sarapannya pagi itu.


"Pagi semuanya!" Sapa Farel yang menirukan gaya suara anak kecil pada semua orang telah terduduk di ruang  makan.


"Pagi juga baby Al," sahut semuanya  secara bersamaan.


Zennet menyambut  baby Al, dari tangan Farel lalu menyuruh Farel dan Hanum sarapan terlebih dahulu. Lalu membawa baby Al ke ruang keluarga dan disusul oleh suaminya.


Sepasang suami istri itu bermain main bersama cucu pertamanya dengan begitu bahagia dan suka cita. Walaupun cucunya itu masih bayi tapi baginya ia adalah pengganti Hanz putranya, yang telah lebih dulu dipanggil Tuhan. Mereka merasa bersyukur karna walaupun harus kehilangan anak lelakinya tapi Tuhan telah menggantikannya dengan seorang bayi lelaki yang begitu lucu dan mungil.


Setelah mengakhiri sarapannya Farel segera pamit kepada kedua orang tuanya dan semua anggota keluarga yang lainnya. Termasuk Hanum dan terutama baby Al yang sangat ia sayangi itu.


"Sayang... uncle pergi dulu ya, jangan rewel di rumah ya sama mama dan juga oma." ucapnya seraya mengusap lembut pipi baby Al yang semakin terlihat gembul itu.


"Baiklah uncle!" ucap Zennet yang menirukan suara anak kecil berbicara.


Farel mencium pipi gembul baby Al, lalu segera menuju ke mobilnya dan


pergi ke kantornya bersama boy yang sudah menunggunya di dalam mobil yang terparkir di depan Mainsonnya.


"Baiklah kita akan menemuinya sekarang juga." sahutnya


Saat sedang asik berbincang membahas masalah kantor tiba tiba saja ponselnya berdering.


Helga


Nama itu muncul pada layar ponselnya.


"Ada apa Helga?" tanyanya pelan.


"Aku di Indonesia dan ingin bertemu denganmu!" ucap Helga dengan nada yang  dibuat sedikit manja.


"Maaf Hel, hari ini aku tidak bisa menemuimu!" jawab Farel tegas.


"Sebentar saja Rel, aku jauh jauh datang ke indonesia hanya untuk bertemu denganmu, kenapa kau malah menolak seperti ini!"


"Apa aku yang menyuruhmu datang ke sini?" tanyanya lagi.


"Memang bukan tapi setidaknya, temui aku sebentar saja, pliss!" Helga terdengar memohon kepada Farel.


"Baiklah aku akan menemui nanti setelah urusanku selesai!"

__ADS_1


"Jawaban seperti inilah yang aku mau Rel, jika saja kau menjawabnya dari tadi, aku tidak akan mengganggu waktumu selama itu lewat telpon!"


Panggilan telpon terputus, Farel menghembuskan nafasnya kasar.


Apa yang diinginkan oleh wanita itu darinya, dulu saat dia mati matian mengejar dirinya justru dirinya mengabaikannya dan memilih bersama Hanzen. Tapi kini setelah dirinya tak lagi tertarik padanya dia kembali setelah mendengar kematian Hanzen dan memintanya untuk menemuinya.


Setelah kurang lebih 30 menit perjalanan akhirnya ia telah sampai disebuah hotel berbintang tempat yang sudah ditentukan oleh Petter yang tak lain klien yang baru saja menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan miliknya beberapa hari lalu.


Mereka memasuki sebuah lobby yang di sana sudah ditunggu oleh klien mereka


"Selamat pagi Tuan Petter!" sapa Farel.


"Pagi juga Tuan Farel!" Petter menjabat tangan Farel dan juga Boy secara bergantian.


Lalu mereka mulai membicarakan tentang kerjasama antara keduanya.


Tiba tiba terdengar suara dering ponsel milik Farel, dan terpampang jelas nama sang mami dalam layar ponselnya.


"Hallo mi!"


 "Farel. cepatlah datang ke rumah sakit baby Al demam tinggi dan sekarang ada di rumah sakit!" ucap sang mami dari seberang telpon dengan nada yang begitu khawatir.


"Bagaimana mungkin tadi masih baik baik saja saat aku pergi!"


"Mami tidak tahu nak, tiba tiba saja Hanum membawanya turun saat suhu badannya sudah panas tinggi dan menggigil."


"Baiklah , aku akan segera menyusul!".


Setelah menutup panggilan telponnya Farel segera beranjak dari duduknya.


"Maaf Tuan Petter, saya harus segera ke rumah sakit karna anak saya sedang demam tinggi dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit!" pamitnya pada kliennya tersebut.


"Kalo begitu saya juga akan ikut ke rumah sakit , saya ingin melihat kondisi anak anda." ucap Petter yang sebenarnya sedikit bingung. Karna menurut informasi yang didapat dari anak buahnya Farel bramasta adalah seorang lelaki lajang seperti dirinya.


Tanpa menimbang nimbang Farel pun mengiyakan ucapan Petter yang ingin ikut ke rumah sakit untuk melihat baby Al .


Mereka kemudian menuju rumah sakit dengan mengendarai mobil yang berbeda. Memakan waktu 45 menit mereka telah memasuki pelataran rumah sakit tempat baby Al dirawat.


.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2