SEJUTA CINTA UNTUK HANUM

SEJUTA CINTA UNTUK HANUM
Bab 61. Farel Mulai Posesif


__ADS_3

Hari ini Hanum sudah diperbolehkan pulang ke rumah karna kondisi pasca melahirkan sudah semakin membaik. Farel mengemasi barang barang pribadi miliknya dan juga Hanum .


"Udah semua Num, tunggu disini dulu aku masukin dulu barang barang ini ke dalam mobil !" titahnya pada Hanum.


Farel keluar ruangan membawa barang barang yang akan dimasukan kedalam mobil .


"Sini kak, biar Rania bantu!" ucap Rania yang baru saja muncul dari arah depan.


"Tidak usah Ran, kau temani saja kak Hanum sama babby Al didalam!" titah Farel padanya.


"Ah baiklah!" Rania berjalan memasuki ruangan .


" Hallo babby Al, !" sapanya pada bayi yang berada di dalam gendongan Hanum.


"Hai juga Aunt cantik nya babby Al!" sahut Hanum dengan menirukan suara khas anak kecil .


"Rania mau gendong babby Al donk kak!" pintanya pada Hanum.


"Eh, apaan, gak gak !" sahut Farel yang sudah kembali masuk keruangan.


"Ish kaka pelit kali ! Rania kan juga pengin gendong babby Alnya!" keluh Rania.


"Nanti kalo udah 3 bulan baru boleh gendong !" ketus Farel pada Rania.


"Kak Farel nyebelin , nyesel Rania datang kesini buat bantu kaka bersiap pulang!!".


"Yey, aku juga gak minta kau datang kesini! Itukan maumu sendiri!".


"Ya udah lah Rania ngalah , debat sama kak Farel tu gada menangnya, mana yang bisa Rania bantu ini?"


"Bawa tas babby Al aja itu Ran!" titah Farel kemudian.


"Oke baiklah!"


"Kau bisa jalan Num ? Atau aku ambil kursi roda dulu tunggu sebentar!".


"Bisa Rel, tapi pelan pelan aja jangan cepet cepet !".


"Ambilin kursi roda aja kak, kak Hanum pasti masih sakit itu baru aja 7 hari !" titah Rania pada Farel.


Farel pun mengambil kursi roda lalu menyuruh Hanum untuk duduk bersama babby Al dalam gendongannya.


Farel begitu luwes mengurus Hanum dan babby Al . Benar benar seperti seorang suami yang mengurusi istri dan anaknya pasca lahiran. Siapapun yang melihatnya pasti mengira jika Farel adalah suami dari Hanum.


Merasa diperlakukan dengan berlebih membuat Hanum merasa tidak enak, Hanum sudah pernah mencegah Farel melakukan hal yang berlebih pada Hanum. Namun Farel tetap saja tidak mendengarkannya.

__ADS_1


Setibanya di rumah Hanum langsung memasuki kamarnya. Lalu ia meletakan babby Al di box bayi miliknya.


"Rel apa kau tidak pergi kekantor?" tanya Hanum.


"Tidak ! Aku akan mengurus babby Al sampai kondisimu benar benar pulih!".


"Tapi Rel ,kau sudah terlalu lama meninggalkan kantor !"


"Tidak masalah ada Boy yang selalu membantuku menyelesaikan semua urusan kantor. Apa guna dia dibayar jika tidak bisa membereskan semua urusan kantor, paling paling jika ada yang harus ada aku tanda tangani itupun Boy akan membawanya kesini!". Jelas Farel panjang lebar pada Hanum.


Tiba tiba saja muncul bu Tin yang mengantarkan Siska dan Brian yang datang hendak menengok babby Al.


" Nona Hanum, ada kawan nona datang berkunjung"!.


"Ah ya bu Tin suruh masuk saja kesini!".


"Hai Num, wah selamat ya udah jadi seorang emak!" ucap Siska.


"Tampan sekali dia seperti aku gak sih?!" seloroh Brian dengan ciri khasnya yang memang suka bercanda ria.


"Mana ada sepertimu, memangnya dia anakmu!" sahut Siska dengan tegas.


"Ya gak apa apa juga kalo mirip aku malahan aku senang kalo orang mengira dia anak aku! Bukan begitu babby Al!" ucap Brian kemudian.


"Wah hebat kak Farel, bisa gendong bayi baru lahir dengan sangat lihai !" puji Siska pada Farel.


Melihat Farel yang begitu cekatan mengurus dirinya dan babby Al membuat Hanum mendadak melow. Ia teringat pada suaminya yang sudah 9 bulan meninggalkan dunia dan dirinya bersama benih yang ia semaikan didalam rahimnya. Kini benih itu telah tumbuh sempurna dan terlahir ke dunia ini dengan kondisi fisik yang tidak kurang suatu apapun.


Tanpa terasa air matanya mengalir dari sudut matanya. Tatapannya kosong dan menerawang jauh entah kemana


"Num kau tidak apa apa?" tanya Brian yang melihat Hanum meneteskan air matanya.


Brian mendekat dan mengusap lengan Hanum .


Farel yang mendengar Brian menanyakan kondisi Hanum, langsung mendekat seraya masih menggendong babby Al.


"Hei, mami Al kenapa menangis?" ucap Farel seraya berjongkok didepan Hanum dengan babby Al yang masih digendongannya itu.


"Apa mami sedang ingat sama papinya Al?!" tanya Farel lembut lalu menggunakan sebelah tangannya untuk menghapus air mata dipipi Hanum.


"Jangan sedih ya mami Al, papi Hanz pasti sangat bahagia disana melihat perjuanganmu melahirkan benihnya ke dunia ini ! Bukan begitu Babby Al?" Ucap Farel yang kemudian disambut dengan senyuman tipis dari bibir mungil babby Al yang seolah olah merespon perkataan Farel.


"Lihat! Babby Al aja tersenyum! Masa mami Alnya sedih terus sih!" ucap Farel dengan begitu bahagia saat melihat senyuman babby Al yang sedang ia gendong.


"Padahal dia baru 7 hari loh tapi udah pintar merespon perkataan unclenya!" seru Siska yang tak kalah bahagia kala melihat senyuman tipis dari bibir mungil babby Al.

__ADS_1


"Rel.., berikan padaku!" pinta Hanum.


Farel menyerahkan babby Al kepada Hanum sembari berkata " Udah ya jangan sedih lagi!" ucapnya lalu menghapus sisa air mata dipipi Hanum dan mengusap lembut puncak kepala Hanum. Setelahnya ia pergi kekamarnya untuk menelpon Boy dan menanyakan soal urusan pekerjaan.


"Num, beruntung sekali kamu punya sepupu yang begitu perhatian dan peduli padamu, dia memperlakukanmu dengan begitu penuh kasih sayang. Aku jadi ngiri". Ujar Siska saat Farel telah keluar dari kamar tersebut.


"Tapi aku kok merasa aneh ya dengan sikap Farel yang memperlakukan Hanum sampai sebegitunya!" bisik Brian pada Siska.


"Hus, kau itu ya curiga mulu otaknya!"


"Kalian ngomongin sikap Farel terhadapku ya?!" tanya Hanum yang sudah bisa menebak apa yang mereka bicarakan dengan bisik bisik itu.


"Eh ,anu bukan gitu Num!" ucap Brian kikuk dan merasa salah tingkah karna Hanum bisa menebak apa yang sedang dibicatakannya itu dengan Siska.


"Gak apa apa Bri, awalnya aku juga merasa aneh dan merasa berlebihan dengan cara Farel memperlakukanku, tapi sekarang sudah biasa. Mungkin Farel seperti karana dia yang menemaniku lahiran dan melihatku berjuang dengan nyawaku saat mengeluarkan babby Al . Itu sebabnya dia jadi sangat posesif padaku dan juga Babby Al". Tutur Hanum panjang lebar.


"Kau serius Num, jadi kak Farel menemanimu dalam proses persalinanmu dan melihat semuanya?!" seru Siska yamg terkejut dengan penuturan Hanum.


"Ya Sis, entah kenapa aku sangat takut saat Farel hendak keluar meninggalkanku di dalam ruangan bersalin hanya dengan perawat dan dokter, aku yang memintanya untuk tidak pergi dan tetap menemaniku hingga persalinanku selesai!".


"Oh my god ! Aku sama sekali tidak menyangka Num!". Siska menepak jidatnya sendiri .


Sementara dikamar Farel sedang menelpon boy dan menanyakan tentang keadaan kantor.


"Hallo Boy, bagaimana urusan kantor hari ini?!"


"Ada satu hal penting yang mengharuskan pak Farel untuk datang ke kantor pak, ada satu klien yang tidak mau jika aku mewakili bapak dalam meeting kali ini!" tutur Boy pada Farel yang kini menggantikan posisi Hanzen .


"Jam berapa aku harus datang ?"


"Setelah jam makan siang pak!".


"Baiklah sampaikan padanya aku akan datang nanti!".


Panggilan terputus.


Farel mulai berpikir siapa Klien yang tidak mau boy mewakili meetingnya kali ini, padahal ia sangat tahu jika Boy itu orang yang sangat kompeten dalam menghandle semua pekerjaannya selama ini.


.


.


.


BERSAMBUNG ✍️

__ADS_1


__ADS_2