
Pagi ini suasana dimainson cukup hangat tak seperti biasanya yang hanya ada nenek, Hanzen dan Hanum.
Semua anggota keluarga sedang berkumpul ditambah langi adanya Rania dan Hazel.
Meja makan yang biasanya sepi kini penuh dengan berbagai macam menu sarapan sesuai dengan selera setiap orang yang memintanya pada Bu Tin.
Hanum dan Hanzen yang baru saja turun dari lantai atas menapaki anak tangga disambut hangat oleh Nenek , mommy Diana dan juga Daddy Hariawan.
Kebenaran yang hingga saat ini belum diketahui Hanum adalah bahwa ternyata Hariawan itu adalah ayah kandungnya.
Entah apa yang akan terjadi jika suatu saat Hanum mengetahui kebenaran itu. Hal itulah yang cukup mengganggu ketenangan Hariawan saat ini.
Hariawan memperlakukan Hanum layaknya ia memperlakukan anak gadisnya dan membuat Hanum merasa sedikit canggung untuk menerima perlakuan ayah mertuanya itu.
"Hanum sayang , ini Daddy buatkan roti dengan selai kesukaanmu." ucap Hariawan yang tiba tiba telah meletakan dua lembar roti yang ia olesi selai coklat setelah lebih dulu memberikan pada istrinya.
Jika semua orang menanggapinya begitu saja namun berbeda dengan Hanum yang sama sekali belum tahu siapa Hariawan sebenarnya .
"Ah Dadd tidak usah repot repot, aku bisa sendiri" ucap Hanum dengan rasa canggung yang seketika tercipta.
"Ah kalo kak Hanum gak mau untuk Rania aja Dad!" ucap Rania seraya mengambil roti yang sudah berada didepan Hanum.
"Rania, gak boleh ambil gitu aja!" tegur Hariawan.
"Tapi Rania juga mau dibuatin roti sama daddy!" ucap Rania sembari mengerucutkan bibirnya.
"Ya kau kan bisa minta sama Daddy bukan ambil punya kak Hanum itu namanya gak sopan". Ucap Hariawan masih dengan nada lembutnya.
"Iya iya ni Rania balikin!".
"Nah gitu donk, itu baru Daddy like".
Melihat pemandangan yang tersuguh didepan mata membuat Hazel seketika mengingat kehangatan keluarganya dulu. Seperti itulah kehangatan yang dulu tercipta dimeja makan setiap pagi menjelang pergi menuntut ilmu.
Tapi sekarang kedua orang tuanya telah pergi jauh untuk selama selamanya.
Kemudian ia menatap pada Hanum.Seketika rasa benci menyeruak dalam hatinya. Ia kembali mengingat ibunya. Jika bukan karna orang dimasa lalu yang berhubungan dengan Hanum saat ini ibunya pasti masih bersamanya .
Tanpa sadar ia genggaman tangannya yang begitu kuat telah membuat sendok yang ia gunakan untuk menyendok nasi goreng itu telah menjadi bengkok.
"Hazel !" teriak Rania
Sontak semua orang yang ada dimeja makan itu seketika melihat ke arah Hazel dan melihat apa yang terjadi.
"Ada apa denganmu Haz kenapa sendoknya bisa sampai bengkok seperti itu seh!" ucap Rania dengan ketus.
Hazel yang baru saja tersadar dari tingkahnya itu hanya menunduk malu.
"Ma .. Maaf aku gak sengaja !".
"Gak sengaja gimana hello ! Haz ini ni sendok korea punya gak akan bisa jadi bengkok kalo cuma di genggam biasa. Kau lihat baik baik ketebalan sendok ini ya , sangat tebal bukan ? Apa kau kerasukan pagi pagi begini !". Rania mendelik kesal pada Hazel.
"Siapa juga yang kerasukan!" jawab Hazel yang tak kalah ketus lalu mendelik pada Rania.
"Udah ! Udah ! Kalian berdua ini dari kemarin mommy perhatiin debat terus seperti tom n jerry saja nanti berjodoh loh !" seloroh mommy Diana dan mendapat kekehan dari yang lainnya.
"Is amit amit dech jangan sampe!" ucap Rania seraya menggerakkan tangannya untuk mengetok ngetok meja lalu pindah ke keningnya.
__ADS_1
"Udah udah sarapannya dihabisin nanti telat Haz ini kan hari pertamamu masuk kampus !" ucap Hanum kala melihat adiknya itu hendak membalas kata kata Rania itu.
Rania menjulurkan lidahnya meledek Hazel.
Yang lain hanya menggeleng gelengkan kepalanya.
Usai menghabiskan sarapan mereka menuju mobil masing masing dan pergi berlalu menuju tujuan masing masing.
Hanum mengemudikan mobilnya dalam kecepatan sedang menuju kampusnya.
Ia mengingat kembali peristiwa yang terjadi dimeja makan tadi
Apa yang membuat Hazel begitu marah dalam hatinya dan melampiaskan pada sebuah sendok yang dipegangnya hingga bengkok seperti itu. Padahal jika dilihat dari nalar manusia ketebalan sendok tersebut tidak mungkin bisa dibengkokkan menggunakan tangan.
Hanum terus berpikir dan menduga duga apa ada hubungannya dengan dirinya . Apakah ada kesalahan dirinya yang membuat sang adik itu marah padanya.
Hanum tenggelam dalam pikirannya sendiri hingga tak terasa ia sudah berada didepan gerbang sebuah Universitas tempatnya menimba ilmu.
Menepikan mobilnya diarea parkir lalu berjalan memasuki area kampus.
Semenjak diadakannya resepsi pernikahannya dengan Hanzen . Tak banyak ia mendapat tatapan dan sapaan hormat pada dirinya.
"Hanum!" Siska berteriak seraya mendekatinya.
"Hai Sis!"
"Kau sendirian Hanum . Em maksudku kau bawa mobil sendiri?" tanya Siska kemudian.
"Menurutmu?".
"Ya sendirian!"
Mereka masuk kedalam kelas semua mata menatap Hanum dari ujung rambut hingga ujung kaki. Entah apa yang ada didalam pikiran mereka. Ya siapa yang menyangka dibalik penampilannya yang sederhana itu mampu menarik hati seorang presdir yang cukup ternama diantero kampus.
Siapa sih yang gak tahu dengan Presdir muda yang tampan dan mapan yang setiap tahunnya merekrut para mahasiswa dan mahasiswi lulusan terbaik untuk mendapat kesempatan magang di perusahaannya HB Group itu.
Wanita sederhana yang sangat beruntung bisa menaklukan hati sang presdir muda itu kini menjadi sorotan seluruh warga dan penghuni Universitas ternama itu.
Hanum merasa risi karna kini menjadi pusat perhatian semua orang .
Saat mata mata kuliahnya telah selesai ia memilih pergi dan mencari tempat dimana tidak banyak mata menyorot.
Kursi taman adalah tempat ternyaman untuk menghindar dari para mata yang menatapnya.
Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi adiknya. Saat ini adiknya itu sedang menguasai pikirannya karna tingkahnya yang terasa asing oleh Hanum.
Ia merindukan Hazel yang penuh dengan kehangatan Hazel yang selalu menanyakan kabar nya semua yang berhubungan dengan adiknya dulu ia sangat merindukannya.
"Tut.... Tut....tut..."
Dalam layar ponsel tertulis
"Berdering"
Namun tak ada jawaban dari Hazel.
"Apa dia sedang mengikuti mata kuliah ya itu sebabnya ia tak menjawab panggilanku" gumamnya sendiri.
__ADS_1
Lalu ia memutuskan untuk mengirim pesan saja.
"Haz gimana kuliahmu dihari pertama ? Pasti kamu senang kan banyak dapat teman baru ! Oya nanti kalo sempat telpon balik pada kaka ya".
Pesan terkirim.
Hanum memasukan kembali ponselnya kedalam tasnya dan kembali terhanyut dengan pikirannya sendiri.
"Wei melamun aja terus!" ucap Siska seraya menepuk pundak Hanum dari belakang.
"Siska bikin kaget aja dech!".
"Ya pasti kagetlah melamun sih! Makan yuk Num ! lapar aku".
"Kita makan di Restoran disana aja yok!" Hanum menarik tangan Siska menuju parkiran mobil.
Sesampainya di Restoran tersebut tiba tiba ponselnya berdering .
My Husband
Nama yang tertera dilayar ponselnya.
"Hallo mas!" ucap Hanum
"Dimana sayang? Udah makan ?!".
"Ini baru sampe di Resto tempat biasa kita makan mas!".
"Sama siapa sayang ?"
"Sama Siska Mas!".
"Siapa lagi?".
"Gak ada Mas Siska aja !".
" Ya udah makan yang kenyang ya sayang , aku lanjut kerja lagi".
"Iya Mas"
Setelah menutup panggilan Hanum kembali melihat buku menu.
Tiba tiba saja ia merasa mendengar suara seseorang yang tak asing baginya.
"Pesanlah sesuai selera kalian masing! Tenang aja masalah pembayaran biar aku yang urus!"
"Setelah ini kita ke club ya bro!"
"Ok tenang aja"
Mata Hanum mulai berkeliaran menatap setiap sudut ruangan dan ternyata benar suara itu milik seseorang yang sangat ia kenali.
.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG✍️