
Hanum terkejut dan langsung membuka matanya lalu menyadari sesuatu yang menempel dibibinya ia refleks dan langsung mendorong tubuh Hanzen.
Lagi lagi sangat kuat membuat Hanzen kembali terjatuh karna tak bisa mempertahankan keseimbangan tubuhnya.
"Aduh !!!, pantatku !" Hanzen mengaduh kesakitan.
"Maafkan saya!" seru Hanum kemudian segera membantu Hanzen untuk bangun dan membantunya duduk disofa.
"Kenapa kamu mendorongku seperti itu!".
"Habisnya anda... !" Hanum mengusap bibirnya sendiri
"Kan kamu yang narik tangan aku dan minta dicium" goda Hanzen .
"Apa benarkah !" serunya dengan ekspresi khasnya yang membuat Hanzen semakin gemas .
"Kenapa gak percaya , ada buktinya tu kalo mau liat" Hanzen menunjuk kamera CCTV yang berada dipojok dinding ruangan tersebut.
"Maaf ,mungkin saya mengigau" Hanum tertunduk malu dan wajahnya memerah .
"Udah gapapa ,ayok kembali kerumah utama" lagi lagi Hanzen menarik tangan Hanum .
"Tapi saya tadi gak lewat sini ?" ucap Hanum kala Hanzen membawanya lewat pintu tersembunyi dalam ruangan tersebut.
"Ini pintu yang langsung terhubung dengan rumah utama, jadi gak perlu muter muter ". Sahutnya dengan santai.
"Ohh begitu, pantas saja anda tadi tiba tiba ada diruangan ternyata ada pintu lain , saya kira Anda bisa menghilang kaya yang difilm film horor itu."
"Hahaha" tertawa bersamaan.
Sampai dirumah utama terlihat Nenek sedang duduk dan memperhatikan interaksi keduanya sambil senyum senyum.
"Kenapa aku yakin jika suatu saat kalian saling mencintai"gumamnya lirih.
Hanum mendekati Nyonya Bram lalu duduk dikarpet yang terbentang dibawah depan sofa bed
Hanzen langsung naik ke kamarnya untuk membersihkan badannya .
"Hanum buatkan Jus mangga untuk Hanzen, dia sangat menyukainya".
"Baik Nek!". jawab Hanum
"Bawakan juga buah potong untukku ya !" teriak nenek karna Hanum sudah berjalan menuju dapur
" Baiklah Nenek" sahutnya kembali
"Bu Tin" sapa Hanum saat bertemu dengannya di dapur.
"Num, apa kamu sudah makan?".
"Sudah Bu Tin".
"Baguslah , disini jangan malu malu kalo lapar segera makan !".
"Siap Bu Tin, biasanya kalo buat jus mangga untuk Den Hanzen pake gula apa gak ya Bu Tin?".
"Gak usah Num, Den Han gak suka gula, kasih madu aja nanti dalam jusnya ".
"Ah begitu ya, baiklah ".
Hanum mengambil mangga di dalam lemari pendingin lalu mengupasnya .
Hanum berjalan menuju ruang keluarga dengan membawa secangkir jus dan sepiring buah segar yang sudah ia potong potong.
__ADS_1
Disana sudah ada Hanzen yang sedang duduk disamping Neneknya.
Setelah meletakan jus dan buahnya Hanum pamit ke kamarnya untuk segera mandi.
"Nenek mau kamu segera lah menikah Hanz!". Ucapnya seraya memasukan potongan buah kedalam mulutnya.
"Aku juga pengen Nek pakai banget lagi! kalau saja Risya dulu tidak mengkhianati hubungan kami mungkin saat ini kami sudah menikah. Tapi aku bersyukur karna aku mengetahui sifat buruknya sebelum menikahinya!". Jawab Hanzen seraya menyeruput jus mangga didalam cangkirnya
"Apa sudah ada penggantinya dihatimu?"
"Ada Nek tapi aku butuh bantuan Nenek" Hanzen terkekeh.
"Boleh, tapi calonnya harus yang Nenek suka gimana?".
"Pasti dong nek, restu Nenek paling utama!".
"Jadi apa rencanamu selanjutnya?".
"Nyatakan cinta".
"H2C"
"Apa itu Nek?"
"Harap Harap Cemas!".
"Hahaha"tertawa bersama
"Kira kira diterima gak Nek?"
"Kenapa kamu nyatain cintanya ke Nenek?"
karakter nenek yang memang berjiwa muda itu cukup nyaman menjadi tempat berbagi buat Hanzen.
"Usaha sampai diterima, sebelum bisa mendapatkannya jangan anggap aku nenekmu!".
"Nenek ngancem aku?"
"Bisa dibilang begitu !".
"Cinta ditolak Nenek yang bertindak ya!".
Kemudian tertawa bersama.
Begitulah keunikan hubungan cucu dan nenek itu. Hanzen selalu meminta pendapat sang nenek jika mengenai perempuan yang menurutnya layak.
Yang paling utama saat ini adalah baik Hanzen ataupun nenek tak pernah lagi memandang seseorang dari status sosial dan latar belakang keluarganya, yang terpenting adalah hatinya .
Hanum yang baru keluar kamar mandi mendengar ponselnya berdering ada pesan masuk
"Video!".
Lalu membukanya
"Hazel!" teriak Hanum saat melihat isi video itu yang ternyata rekaman Hazel sedang meringkuk dengan kedua tangannya yang terikat dan masih mengenakan seragam sekolahnya.
Dengan segera menghubungi nomor yang mengirimi pesan video tersebut.
" Hallo Hanum sayang, gimana dengan kejutan yang aku kirimkan apa kamu menyukainya, ingat baik baik itu baru peringatan, jika kamu tidak kembali sampai besok pagi habislah adik kesayanganmu ini !!".
"Apa maumu Har, tolong jangan sakiti Hazel !".
"Mauku adalah kamu menjadi istriku ! Menikahlah denganku maka semuanya akan aman dan baik baik saja. Aku tunggu sampai besok. Bye Hanum sayang". Tuntutnya pada Hanum.
__ADS_1
Lalu sambungan telpon terputus.
Panik campur bingung tanpa pertimbangan ia pun langsung menyambar dompetnya dan berlari lalu berpamitan sekenanya pada nenek yang masih terduduk diruang televisi.
Ia terus berlari tanpa menghiraukan panggilan dari nenek atau Hanzen. Yang dipikirkan sekarang adalah keselamatan Hazel. Ia harus segera kembali kekotanya dan menikah dengan Haris demi menyelamatkan adik satu satunya.
"Hanzen . Ada apa dengan Hanum?!".
"Tidak tau Nek!" jawab Hanzen lalu berlari menuju kamar Hanum demi mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
Sampai dikamar Hanum ia menemukan ponsel yang tergeletak dan masih keadaan menyala.
Lalu ia membuka video yang belum lama masuk diponsel Hanum.
Setelah melihat video tersebut. Hanzen mencoba menghubungi nomor itu.
"Apalagi Hanum sayang"terdengar suara dari sebrang sana" jika kamu mau adikmu yang tersayang ini selamat maka segeralah kembali dan jadilah istriku!".
Lalu Hanzen memutuskan panggilan telponnya.
"Kurang ajar berani bermain main dengan calon istriku. Habislah siapapun kamu !". Geramnya kemudian.
Berencana menyusul Hanum yang ia yakini pasti Hanum kembali kekotanya melewati jalur udara mengingat kondisinya yang sangat mendesak tidak mungkin ia lewat jalur darat yang akan memakan waktu lebih dari 8 jam.
Dan benar saja tampak Hanum sedang duduk menunggu penerbangannya yang masih beberapa saat lagi.
Mengawasi dari kejauhan . Melihat Hanum yang sedang menangis dalam kecemasan membuat hatinya terenyuh, ia seolah ikut merasakan kesedihan Hanum. Ingin rasanya ia mendekat dan mengusap air matanya.
Namun tidak ia lakukan. Ia tak mau Hanum tau jika Ia mengikutinya. Karna ia tau Hanum tidak akan suka.
Hanzen duduk tepat dibelakang bangku Hanum.
"Ponsel tertinggal. Bagaimana aku menghubung Haris. Aku tidak mau terjadi apa apa pada Hazel. Ayah kenapa cobaan ini seakan tiada henti hiks hiks !" bergumam dalam isak tangisnya."aku tidak mau menikah dengan Haris, tapi aku juga tidak mau kehilangan Hazel , cukup aku kehilangan ayah aku tidak mau kehilangan lagi !".
"Haris kenapa kau sekarang menjadi sangat jahat pada keluargaku padahal sebelumnya kau sangat baik padaku ! Aku tidak mungkin menikah denganmu. Aku hanya menganggapmu sebagai teman tidak lebih! Kenapa kau tidak mengerti juga !" ia terus bergumam disela isak tangisnya.
Lalu tenggelam sendiri dalam kesedihan yang mendalam.
Sesampainya disana Hanum langsung menuju tempat dimana Haris berada.
Dan diikuti Hanzen secara diam diam.
"Haris , lepaskan Hazel!"
"aku tahu jika adikmu memang segalanya buatmu!" tepuk tangan.
Haris mendekati Hanum lalu menyentuh dagunya. Diusapnya wajah cantik dan mulus yang selama ini membuatnya hampir gila karana berusaha menahan semua perasaan cintanya. Sejak lama ia mendamba wajah cantik itu untuk menyentuhnya.
"Aku akan melepaskan adikmu setelah kita menikah ! Bersiaplah untuk pernikahan kita besok Hanum sayang!"
Entah kenapa melihat Hanum dipegang pegang seperti itu oleh laki laki lain. Membuat Hanzen terbakar api amarah, dan cemburu bergemuruh didalam hatinya.
"Jauhkan tanganmu kotor itu darinya, hanya aku berhak menyentuhnya !" teriak Hanzen menggelegar memenuhi ruangan kosong tersebut.
Hanum terkejut melihat Hanzen juga berada ditempat ini. Entah sejak kapan ia berada disini.
"Hanzen !" seru Hanum karna kaget
"Ya Hanum aku disini untuk menyelamatkanmu dari manusia kotor sepertinya!"
Saat Hanzen akan mendekat pada Hanum tiba tiba saja seseorang hendak memukulkan sebuah balok yang cukup besar.
"Hanzen awas !!" teriak Hanum namun terlambat balok itu sudah mengenai pundak Hanzen dan langsung terkulai lemah lalu ambruk dilantai.
__ADS_1
BERSAMBUNG...