SEJUTA CINTA UNTUK HANUM

SEJUTA CINTA UNTUK HANUM
Bab 32. Peluru tepat Sasaran


__ADS_3

"Hanum!" ucap Haris dengan nada terkejut dan juga bahagia melihat Hanum berkunjung ke cafenya.


Ia mendekati Hanum dan akan memeluknya tapi Hanzen tiba tiba muncul dan mendorong Haris.


"Gak pake peluk peluk istri orang !". Hanzen kemudian memasuki ruangan Haris dan melihat ternyata disana ada Risya mereka terlihat sangat akrab membuat Hanz berpikir keras.


"Aku hanya mau meminta maaf sama istrimu ,maafkan atas kejadian itu aku benar benar khilaf dan aku janji itu gak akan terjadi lagi!". Ucap Haris meyakinkan Hanum dan Hanzen.


"Iya Har aku udah memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf !".


"Syukurlah ,aku tau kamu prang baik Num!".


Risya terkejut melihat Hanum ada dicafe itu dan mengenal Haris.


Risya menatap tak percaya jika Hanum dan Hanzen berkunjung ke cafe ini . Melihat baju couple yang dikenakan Hanz dan Hanum perasaan cemburu dan marah mulai bergemuruh didalam hatinya.


" Kenapa kamu terkaget kaget ya lihat aku ada dicafe ini!".Tanya Hanum pada Risya.


"Biasa aja!"Jawabnya ketus.


"Haris kamu kenal Hanum? Tanya Risya kemudian pada sepupunya itu.


"Ya aku sangat mengenalnya Hanum adalah temanku . Kami berteman sejak kelas 1 SMP !".


"Apa kamu juga mengenal Hanum?". Tanya balik Haris pada Risya.


Risya hanya diam dan menatap mantan kekasihnya dan istrinya itu.


"O'ya Hanum ! Risya ini adalah sepupuku".


"Ternyata dunia begitu sempit ya ! Aku gak nyangka kalo kamu adalah sepupu dari temanku sendiri!". Hanum tersenyum kecut.


"Ayo sayang kita duduk !" ucap Hanum seraya menggandeng tangan suaminya.


Didepan Risya iya selalu menunjukan keharmonisan rumah tangganya . Ia tidak ingin memberi sedikitpun celah pada wanita lain untuk merusak rumah tangganya.


"Har! Kita kesana dulu !" pamitnya kemudian pada Haris.


Farel dan Davin yang sudah tau tentang rencana Risya mulai berpikir keras menatap dari kejauhan.


"Vin, menurutmu apa ini sebuah kebetulan ! Kamu tau kan siapa Risya.?".


"Mungkin saja rel ".


"Rasanya ingin sekali aku menanyakan hubungan antara Risya dan Mutia ! Kenapa mereka bisa sampai bekerja sama untuk menghancurkan keluargaku!" . Farel mengepalkan kedua tangannya diatas meja seraya menatap penuh amarah pada Risya.


" Kalau tujuan Risya aku tau pasti tapi Mutia! Untuk apa dia menghancurkan keluarga saudaranya sendiri?!" .


"Sabar Rel lebih baik kita matangkan dulu semua rencana kita baru kita bertindak. Karna percuma kita bertindak gegabah !".


"Ya kamu benar Vin!"


" Apa kamu mencintai Mutia?!" tanya Davin pada Farel dengan penuh selidik.


" Ck ! ya gak mungkinlah dia hanya penyalur hasratku saja! Ya kali aku mencintai seorang tante!".


"Ya siapa tau ?!".


"Gak lah Vin!".


Hanum dan Hanz kemudian bergabung dimeja Davin dan Farel mereka memulai memesan makanan dan minuman.


"Tam tam aku disini " teriak Hanum seraya melambaikan tangan kearah pintu masuk.

__ADS_1


Tammy segera mendekat . Namun ia mulai gugup saat melihat Farel juga ada dimeja yang sama dengan Hanum.


Sementara Farel berusaha mencuri curi pandang pada Tammy.


Jujur saja kejadian beberapa waktu lalu dirumah Hanum masih melekat dengan jelas dalam ingatan mereka.


Tingkah keduanya tak luput dari perhatian Hanz dan membuat Hanz menerbitkan senyum simpul dibibirnya seraya menatap Farel.


"Mas kok senyum senyum sendiri!" ucap Hanum.


"Gak papa sayang!". Hanzen mengacak lembut rambut Hanum.


Seorang pelayan Cafe datang menyajikan pesanan .


"Mbak Hanum apa kabar?" tanya Tika kemudian.


"Eh Tika, kabar baik Tik! Kamu apa kabar?"


"Ya seperti yang mbak lihat ! aku masih jadi pelayan dicafe ini! hehehe" ucap tika seraya tertawa.


"Gak papa tik yang penting halal!"


"Iya mbak , silahkan dinikmati mbak aku kebelakang dulu ya mbak !". Pamitnya kemudian.


Hanum mengangguk seraya menyesap minuman yang baru saja disajikan.


"Sayang! Aku jadi ingat saat pertama kali melihatmu disini"


"Aku gak pernah ketemu akmu disini loh mas!" kilah Hanum.


"Kamu emang gak lihat tapi aku yang lihat dan saat itu aku langsung tertarik padamu".


"Bohong Num ! Memang dianya aja playboy sekali lihat langsung embat hahaha ! Ups salah mantan playboy maksudku!" Farel menekankan.


"Amiin semoga selamanya seperti itu!" ucap Hanum kemudian.


"Itu pasti sayang ! Apalagi setelah disini ada dede bayi!" Hanzen menyentuh perut istrinya sambil tersenyum.


Sementara Tammy terus menatap kesana kemari demi menghindari bertatapan langsung dengan Farel.


"Nyari siapa sih Tam! Ada janji juga sama yang lain disini?" tanya Hanum


"Eh gak kok Num ! Enak aja gitu lihat suasana sekeliling cafe ini setelah dilihat lihat ! Pantas aja dulu kamu betah kerja disini hehe!" jawab Tammy ngasal.


"Ish kamu ini Tam! Kayak baru aja masuk ke cafe ini dulu kan hampir tiap hari kita disini!" ucap Hanum yang membuat Tammy semakin kikuk saja .


"Hehehe" Tammy tertawa seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Eh Tam! Kamu kuliah semester berapa?" tanya Farel mencoba membuka obrolan dangan Tammy.


"Semester 5 !" jawab Tammy .


"Maaf enaknya aku panggil apa ya?" tanya Tammy kemudian.


"Panggil nama aja lah lebih akrab kan!"


"Emmm oke !" Tammy mengacungkan jempolnya.


Lalu terjadilah percakapan panjang dan mulai akrab dengan sesekali diselingi dengan pertanyaan Davin hingga akhirnya bertukar nomor ponsel antara mereka bertiga.


Sementara Risya terus memperhatikan dari jauh . Ia sangat cemburu melihat kemesraan yang ditunjukan oleh Hanz untuk Hanum.


Entah untuk yang keberapa kali ia mengepalkankan kedua tangannya di atas meja karna merasa kesal. Melihat kemesraan hubungan rumah tangga mantan kekasihnya itu membuat merasa iri.

__ADS_1


Ia menyesal dulu mengkhianati Hanz dan membuatnya kehilangan cintanya.


"Aku harus bisa mendapatkan Hanz kembali ! Dia hanya milikku jika aku tidak bisa memilikimu maka siapapun juga tidak akan bisa memilikinya !". Gumamnya dengan penuh penekanan disetiap kata katanya.


"Tante Mutia! Ya aku harus segera menemuinya untuk rencana selanjutnya!". Gumamnya lagi seraya berlalu pergi meninggalkan cafe milik sepupunya itu.


Farel dan Davin menatap kepergian Risya kemudian saling menatap.


"Apa kita harus mengikutinya?" bisik Davin pada Farel.


"Gak perlu nanti aku akan cari tau lewat Mutia !".


"Oke!".


"Kalian bisik bisik aku tersinggung loh!" ucap Tammy kemudian.


Farel dan Davin menatap Tammy lalu tersenyum.


"Vin! apa kamu udah dapat alamat tempat tinggal Mutia disini!".


"Kenapa Hanz?" tanya Farel.


"Istriku ingin menemuinya hari ini".


" Ohh aku tau tempatnya ayok!" ajak Farel kemudian.


"Tammy mau ikut atau tetap disini?" tanya Hanum


"Aku disini aja ya ada perlu sama Haris!".


"Oke aku pergi dulu ya!".


Mereka menuju mobil masing masing. Dan segera melajukan mobilnya.


baru saja Hanum hendak memasuki mobil tiba tiba saja


"Dor !!" suara tembakan itu begitu nyaring. Satu peluru berhasil mengenai dan menembus punggung Hanum.


Hanzen juga baru saja membuka pintu mobil itu terkejut dengan suara tembakan yang ternyata mengenai istrinya dengan cepat ia berlari meraih tubuh Hanum namun terlambat . Hanum sudah ambruk kelantai dan bersimbah darah.


Dengan gemetar ia meraih tubuh istrinya


" Hanum! bangun Hanum! "ucapnya dengan mulut dan seluruh badannya bergetar hebat.


Farel dan Davin sama terkejutnya. Lalu mereka mendekati Hanz dan segera membawa Hanum kerumah sakit.


Sementara semua orang yang berada didalam juga menghambur keluar demi melihat apa yang terjadi


.


.


.


Ditempat lain.


"Peluru telah mendarat tepat pada sasaran !".


"Secepatnya Transfer bayaran aku" ucap seorang laki laki yang sedang menelpon seseorang.


"Apa kamu bisa menjamin perempuan itu sudah tidak bernyawa!!"


"Mati atau tidak ! bukan jadi urusanku ! tugasku adalah menembakan peluru seperti perintahmu! Cepat transfer atau kamu akan segera mendekam dipenjara.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2