SEJUTA CINTA UNTUK HANUM

SEJUTA CINTA UNTUK HANUM
Bab 47.Mengetahui Kebenaran


__ADS_3

Seminggu setelah kepergian nenek Bramasta suasana mainson masih rame, semua masih berkumpul disana .


"Hanum !" ucap Mutia


"Iya ma!".


"Kamu ada waktu hari ini?"


"Aku adalah kuliah pagi ,mungkin siang waktuku senggang!" ujar Hanum


" Kalo begitu nanti siang mama jemput dikampus ya!".


"Boleh ma, nanti Hanum kabari ya ma!".


"Oke sayang , pergilah hati hati dijalan sayang !".


"Iya ma!"


Hanum pergi ke kampus diantar oleh suaminya dan Farell yang juga akan ikut ke kantor pusat.


Sampailah dipelataran gedung kampus Hanum segera turun dan pamit pada suaminya.


"Mas nanti pulangnya aku dijemput mama katanya ada yang mau mama bicarakan " .


"Ya sayang , aku kekantor dulu ya , jaga dirimu baik baik bye sayang".


"Oke sayangku , bye mas ! Mas juga hati hati dijalan".


Hanum masuk kekampus dan bertemu dengan Siska.


"Hae Sis..!"


"Haeee Hanum kamu udah lebih baik sekarang?".


"Ya Sis seperti yang kamu lihat aku baik baik aja !".

__ADS_1


"A syukurlah masuk yok !" ajak Siska kemudian.


"Hai Num !" sapa Brian


"Kenapa makin hari makin cantik aja kamu Num dan perasaanku semakin dalam saja sama kamu . Ya tuhan kenapa jadi seperti ini ". Ucap Brian dalam hati.


Brian terus menatap damba pada Hanum. Rasanya ingin sekali memiliki wanita itu. Entah bagaimana bisa ia mengagumi yang sudah jadi milik orang lain , semakin hari perasaannya semakin bertambah saja . Rasa ingin memiliki itu semakin kuat.


"Tuhan ... egois kah aku jika aku benar benar menginginkannya, semakin aku coba menepiskan rasa justru rasa itu semakin menuntut, menuntut ingin memiliki, ingin menjadikan dia belahan jiwaku seutuhnya hidup bersama dan bahagia sampai akhir nanti". Gumamnya lagi tentu saja hanya dalam hati.


"Hei Bri, yah malah bengong dia " ucap Siska.


"Ya ela Bri masih pagi juga udah banyak melamun!". seloroh Hanum.


Brian hanya tersenyum sambil terus menatap Hanum dengan kagum.


Siska memperhatikan pandangan Brian yang seakan tak mau lepas dari wajah Hanum.Siska menyadari arti tatapan Brian untuk Hanum.


"Sadar Brian dia udah jadi milik orang!" bisik Siska ditelinga Brian dan membuat Brian terkejut .


Brian hanya tersenyum kemudian mengalihkan pandangan kearah lain tapi hanya sebentar karna lagi lagi dia menatap Hanum.


"Sabar Bri, aku ngerti kok sama perasaanmu".


"Kalian bisik bisik apaan sih!" tanya Hanum


"Eh gak apa apa kok Num " ucap Siska seraya tersenyum kikuk pada Hanum.


Hanum lalu mengeluarkan dan mengotak ngatik benda pipih kesayangannya hingga Dosen pengisi mata kuliah pertamanya datang dan masuk kelas. Dan mulai menyimak dengan serius


Sementara Brian masih betah menatap wajah mungil Hanum .


Siska yang terus memperhatikan Brian pun merasa sedikit kecewa. Dia menyukai Brian sejak lama tapi Brian tak pernah peduli dengan perhatian yang selama ini Siska tunjukan kepadanya. Brian hanya menganggap perhatiannya hanya sebagai teman tak lebih.


"Brian dari dulu aku menyukaimu tapi tak sedikitpun kamu peka dengan perhatian perhatian yang selama ini selalu aku tunjukan kepadamu. Kenapa kamu memilih menyukai pada Hanum yang sudah jelas jelas punya suami " batin Siska berkata.

__ADS_1


Sejam sudah berlalu Siska da Brian sama sekali tidak fokus mengikuti mata kuliah yang dijelaskan oleh dosen. Mereka sibuk dan tenggelam dalam pikirannya masing masing.


Siska yang selalu memikirkan Brian dan Brian yang selalu memikirkan Hanum. Entah akan dibawa kemana perasaan cinta mereka yang masing masing tidak punya tempat untuk berlabuh dan berlayar .


Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan sudah mulai siang kuliah pun telah usai . Hanum menunggu mamanya yang akan menjemputnya untuk membicarakan suatu hal penting kepadanya.


Hanum dan Mutia kini telah berada disuatu Cafe dengan beberapa menu makanan ringan dan minuman untuk menemani obrolan mereka.


"Hanum ada kebenaran yang belum kau ketahui tentangmu!". Ucap Mutia seraya memegang tangan anak perempuan itu.


"Kebenaran apa lagi ma , bukankah semua udah Hanum ketahui dari daddy?".


"Belum nak" Mutia nampak berpikir dari mana ia akan memulai mengatakannya.


"Nak" Mutia menunduk sebentar lalu kembali menatap Hanum"sebenarnya Hariawan adalah ...." Mutia menarik Nafas dalam lalu menghembuskannya kembali "Hariawan adalah Ayah kandungmu".


"Apa ! Hahaha". Hanum tertawa untuk menyamarkan rasa terkejutnya"mama jangan bercanda deh ma, Daddy Hariawan itu kan Ayahnya Hanzen suamiku dan Daddy Hariawan adalah mertuaku. Bagaimana bisa dia jadi ayah kandungku!"


"Tapi itu kenyataannya Num ! Hariawan adalah ayah kandungmu !".


"Aku sama sekali gak ngerti mam, tolong jelaskan semua itu mam!" Suara Hanum mulai meninggi karna kaget dan juga tidak percaya.


"Dulu aku menjalin hubungan dengan Hariawan tanpa sepengatahuan Zennet dan suamiku . Semua itu kami lakukan karna masing masing dari pasangan mempunyai suatu kekurangan yang sama. Gelora hasrat diantara kami sama sama tak terpenuhi hingga akhirnya kami menjalin hubungan terlarang itu sampai akhirnya aku hamil sebulan setelah suamiku meninggal".


"Dan saat itu aku memberitahukan pada Hariawan tapi malah marah dan tidak mau bertanggung jawab atas kamu, lalu dia menyebarkan fitnah jika telah memelihara pria muda sejak suamiku masih hidup dan hingga akhirnya aku hamil kamu nak. Itu sebabnya dulu mama frustasi dan hendak menggugurkan kandungan itu. Tapi nyatanya kamu begitu kuat dan terus bertahan diperut mama. aku yang tidak bisa menerima kenyataan hamil tanpa suami hingga kondisi kejiwaanku terganggu" .


"Setelah melahirkan aku masih terus mencoba untuk membunuh bayi itu hingga akhirnya Marine datang dan memberiku nasehat tentang banyak Hal setelah aku menceritakan yang sebenarnya terjadi. Aku benar benar sakit hati saat itu, Hariawan begitu sangat menyayangi anak anak Zennet yang bukan darah dagingnya sedangkan anak kandungnya sendiri sama sekali tidak ia lirik sedikitpun. Sejak saat itulah jiwa jahatku mulai tumbuh aku jadi seorang pendendam dan lagi lagi kau lah yang jadi sasarannya sampai akhirnya Marine membawamu pergi jauh dan menghilang entah kemana dan Hariawan memasukan aku ke rumah sakit jiwa".


Hanum terus menangis air matanya terus mengalir membasahi pipi mengiringi untaian demi untaian cerita yang keluar dari mulut sang mama.


"Jadi aku benar benar anak yang tidak diinginkan oleh kedua orang tuaku. Aku hanyalah sebuah kesalahan yang tercipta karna hubungan terlarang kalian, kalian jahat kalian sangat kejam kalian egois! aku lebih bisa terima disebut anak yang tidak jelas ayahnya siapa daripada harus menerima kenyataan bahwa ayah kandungku tidak mau menerimaku dan membiarkanku dibunuh ! Aku benci kalian ! Aku benci!" Hanum menangis seraya terus berlari meninggalkan cafe .


tanpa mau mendengar teriakan Mutia yang juga dalam keadaan menangis penuh penyesalan atas perbuatan dulu.


.

__ADS_1


.


.BERSAMBUNG✍️


__ADS_2