
Hari ini tepat 3 bulan semenjak kematian suaminya , selama itulah Hanum terus mencoba untuk mengikhlaskan suaminya meski berat tapi ia tak mungkin terus berlarut dalam kesedihan.
Walau kadang masih saja meneteskan air mata saat mengingat kenangan indah bersama suaminya . Masih teringat dengan jelas semua kenangannya yang telah terlewati hampir setahun bersamanya.
Hanum mengusap perutnya yang masih terlihat rata ,namun rasa mualnya telah sedikit berkurang . Nafsu makannya pun sekarang sudah lebih baik jika dibanding sebelumnya.
Pagi ini Hanum yang sudah bersiap untuk pergi kekampus .
Ia berusaha keras melawan dan menghilangkan rasa traumanya membawa mobil sendiri.
"Kau yakin sayang akan menyetir mobil sendiri?" tanya Hariawan penuh kecemasan.
"Ya dad! Aku harus mandiri aku tidak mau lagi bergantung sama siapapun. Apalagi mas Hanzen sudah tidak ada, aku harus bisa menjadi ibu sekaligus ayah untuk babyku kelak".
"Daddy percaya nak, kamu adalah wanita hebat seperti Marine, meski bukan dia yang melahirkanmu namun kesederhanaan dan kemandiriannya itu diturunkannya kepadamu" Ucap Hariawan .
Entah kenapa tiba tiba saja ia teringat pada wanita yang bernama Marine itu yang telah banyak sekali membantunya dalam mengatasi setiap masalah dalam rumah tangganya dulu hingga akhirnya wanita itu dulu membawa pergi jauh anak yang tidak berdosa itu yang tak lain adalah Hanum.
"Ya dad, aku jadi kangen sama Ibu dan ayah".
"Marine adalah sahabat terbaik kami aku juga sangat merindukannya" Timpal Zennet.
"Kalo begitu weekand nanti kita pergi kemakam ibu dan ayahmu ya sayang !"
"Oke dad , kalo begitu aku berangkat kekampus dulu ya!" ucap Hanum dengan begitu antusias.
Hanum melajukan mobilnya menuju kampus.
Menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit ia pun telah dikampus dan disambut dengan begitu antusias oleh kedua temannya yang selalu ada disetiap suka dan dukanya yaitu Brian dan Siska.
"Selamat datang kembali di kampus Num!" sapa Siska dan diangguki oleh Brian.
"Bagaimana kabarmu dan Baby hari ini?" tanya Brian penuh perhatian.
"Alhamdulillah kita berdua dalam keadaan sehat!" Hanum tersenyum senang karana Brian sangat perhatian padanya dan juga babynya yang masih didalam perut.
"Baguslah kalo begitu, sehat sehat ya sayang didalam perut mamamu, nanti kalo kamu udah keluar uncle akan mengajakmu main sepuasmu!" ucap Brian yang tanpa sadar ia sedang berjongkok dan mengelus Hanum yang masih terlihat rata itu.
Apa yang dilakukan oleh Brian tentu saja membuat Hanum dan Siska terkejut lalu saling berpandangan dan menatap heran pada Brian yang masih saja asyik mengajak dengan celotehannya pada baby yang berada didalam perut Hanum itu.
__ADS_1
"Brian....!! Apa kau tidak malu menjadi pusat perhatian semua anak anak kampus ,bangun Bri kumohon..!" gumam Hanum pada Brian karna merasa tidak enak jadi pusat perhatian orang yang melintas dikampus tersebut.
"Kenapa harus malu , aku akan menjadi papanya kelak saat dia lahir kedunia ini!" sahut Brian dengan santainya.
"Jika kau tidak malu tapi aku malu Bri ! Apa kata orang suamiku baru saja meninggal . Aku gak mau ada gosip yang tidak tidak tentangku!" ucap Hanum yang mulai merasa risi atas perlakuan Brian.
"Tanpa mereka sadari tak jauh dari sana ada sepasang mata yang sedang memperhatikan dan mendengarkan percakapan antara tiga sekawan itu.
"Hanum aku tidak akan membiarkan siapapun mengambilmu dariku untuk yang kedua kalinya! Cukup sudah aku mengalah saat Hanzen merebutmu dariku. Kini siapapun itu tidak akan aku biarkan untuk mengambilmu dariku!" gumam Haris dengan penuh emosi.
Ya lelaki itu adalah Haris yang sejak ia mendengar kabar kematian Hanzen ia berniat untuk menyusul Hanum dan akan kembali memperjuangankan cinta dan perasaannya yang dulu tertunda karna kedatangan Hanzen yang menjadi pahlawan dan menggagalkan pernikahan paksanya bersama Hanum yang hampir saja terjadi dulu.
Perasaan cinta yang ia miliki untuk Hanum tidak akan hilang sampai kapanpun.
"Ini adalah kesempatan bagus buatku untuk memenangkan hati Hanum. Aku akan menunggu disini hingga kau keluar kampus Num!"
Haris menunggu Hanum di dalam mobilnya yang terparkir di depan kampus tersebut.
...----------------...
Weekend ini seperti yang telah dijanjikan Hariawan kepada anak dan istrinya mereka sedang bersiap untuk pergi berziarah ke makam orang tua angkat Hanum yang juga merupakan sahabat Hariawan dan Zennet.
"Apa semua sudah siap?". Tanya Hariawan kepada anak dan istrinya itu.
"Aku juga sudah siap Har!" sambung Zennet.
"Baiklah kita berangkat sekarang !" ajaknya pada anak dan istrinya itu.
"Mommy Rania mau didepan !" ujarnya dengan setengah berteriak
"Ya ampun Ran, tidak perlu berteriak seperti itu! " sahut Zennet seraya menggelengkan kepalanya dengan kelakuan anak perempuannya itu.
"Kali gak gitu mommy gak akan mau mendengarkan Rania!" timpal Rania lagi.
"Heran dech mommy sama kamu sekarang marah marah terus!!".
"Udah udah jangan ribut ,kita berangkat sekarang ya! Rania pakai seat belf mu!" titah Hariawan pada Rania.
"Okey daddy .!".
__ADS_1
Kemudian Hariawan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kota surabaya tempat dimana kedua orang tua Hanum itu dimakamkan.
Setelah memakan wkatu perjalanan kurang lebih 7 jam mereka pun kini telah tiba di pemakaman kedua orang tua Hanum.
engan sangat baik dan mereka terduduk dipinggiran makam sambil berdoa untukkedua orang yang telah tiada itu dengan khusu.
"Ibu... ayah..! maafkan aku karna tidak bisa menjaga Hazel dengan baik seperti amanah ibu,aku sudah melakukannya sebaik mungkin untuk bisa menjdikan Hazel jadi anak yang baik dan bertanggung jawab tapi nyatanya Hazel malah semakin membenciku bu!" Hanum berkata dalam hati
Lain Hanun lain pula dengan Hariawan dan Zennet. Mereka berdua juga larut
dalam pikirannya masing masing. ahriawan ynag merasa sangat berterimakasih karna menjaga anak yang dulu sama sekali tidak diinginkan oelhnya dan mutia. kini Hanum tumbuh menjadi sosok wanita yang sangat sederhana dan mandiri..
Walaupun kini Hanum tahu pasti bahwa dirinya adalah salah satu pewaris dari keluarga Bramasta namun itu tak lantas membuatnya menjadi wanita yang sombong dan serakah ia tetap menjadi wanita yang penuh dengan kesederhanaan
"Terimakasih Marine! kau dan sanjaya telah merawat anakku hingga menjadi seorang anak yang baik dan penuh kasih sayang sepertimu!" ungkap Hariawan dalam hati.
Zennet yang masih saja terisakdan memnghapus air matanya entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini karna hanya dialah yang tahu.
Setelah beberapa saat mereka berada di area makam mereka berencana menuju rumah tempat tinggal keluarga Hanum yang dulu ia tinggali. Entah kenapa Hanum tiba tiba merasa merindukan rumah itu.
"Mom , dad ! apa boleh jika aku berkunjung kerumah tempat kami tinggal dulu? entah kenap aku tiba tiba merindukan rumah sederhana itu" pinta Hanum
"Tentu saja sayang kita akan mampir kesana!" sahut Hariawan
"terima kasih dad!"
"Sama sama sayang"
Melihat perlakuan Hariawan terhadap Hanum membuat Rania merasa iri karna menurutnya sekarang daddynya itu menjadi sangat berubah padanya.
"Semenjak adanya Hanum daddy benar benar berubah padaku !" gerutu Rania
"Tidak ada yang berubah sayang daddy masih tetap menyayangimu kamu juga anak daddy sama seperti Hanum, jadi jangan pernah merasa jika daddy membedakanmu dengan anak kandung Daddy!" Hariawan memberi pengertian pada anak gadisnya itu yang masih saja suka labil.
.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG