
Hanum melambaikan tangan menghentikan taksi yang melintas didepan cafe ia kembali menuju rumah.
Didalam taksi ia masih terus mengeluarkan air matanya tenggelam dalam pikirannya, rasa sakit dan juga kecewa bercampur marah bercampur menjadi satu. Ia sama sekali tidak menyangka jika orang yang selama ini dianggap baik ternyata adalah orang paling jahat dan pengecut yang sudah tidak mau mengakui dan menginginkan kehadiran dulu.
Ia benci orang seperti itu sangat membencinya.
Tanpa sadar taksi yang ia tumpangi ternyata telah sampai didepan gerbang rumahnya.
"Non sudah sampai tujuan Non!"
Supir taksi memanggil dan menyadarkannya lamunan.
"Eh iya mas ,makasih banyak" ia menyodorkan u
2 lembar uang pecahan berwarna biru lalu keluar dari taksi tersebut.
"Nona ini kembaliannya" ujar supir taksi tersebut.
"Ambil aja mas" ucap Hanum seraya pergi meninggalkan taksi lalu masuk kedalam rumah.
Sesampainya dirumah Hanum langsung masuk dan berlari menuju kamarnya tanpa menghiraukan sapaan dan panggilan dari Zennet .
Namun ia sempat menatap Hariawan yang sedang duduk diruang keluarga dengan tatapan marah dan penuh kebencian lalu Hanum melewati begitu saja semua orang yang sedang berkumpul diruangan itu.
Masuk kedalam kamar lalu menutup pintu dengan suara yang cukup kenceng membuat semua orang yang ada dibawah tangga itu pun bertanya tanya ada apa dengan Hanum.
Lalu menjatuhkan tubuhnya sendiri diata tempat tidur
"Hanum !" panggil Zennet lembut "Buka sayang!".
Zennet menyusul dan mengetuk pintu untuk menanyakan apa yang telah terjadi .
Namun Hanum tidak keluar .
"Sayang buka donk pintunya" ucapnya lagi .
Hingga beberapa kali Zennet memanggil dan mengetuk pintunya namun tetap saja tidak ada jawaban dari dalam sana.
"Hanum ada apa nak , ayo bicaralah sayang kalo lagi ada masalah!" kali ini Hariawan yang mengetuk pintu dan bicara.
Dibawah Mutia yang baru saja tiba turun dari mobilnya seraya berlari memasuki rumah tersebut.
"Zen apa Hanum kembali kerumah ini?" tanyanya dengan penuh kekhawatiran.
"Apa yang sudah terjadi Mut? Kenapa Hanum begitu marah dan sekarang mengurung diri dikamarnya!".
__ADS_1
"Maafkan aku Zen, aku telah mengatakan tentang kebenaran masa lakuku bersama Hariawan. Dan Hanum telah mengetahui siapa Hariawan!" Mutia terisak
"Sudah saatnya dia Mut, karana mau sampai kapan kebenaran itu akan kita tutupi darinya! Dia hanya butuh waktu untuk menerima semuanya Mut dan kita bisa mengerti keadaannya sekarang ini".
"Jadi dia udah tau tentang aku yang pengecut ini! Dia pasti sangat membenciku dia pasti sangat marah padaku ! Semua ini memang salahku aku dulu terlalu pengecut egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Aku memang pantas dibenci aku pantas menerima kebencian itu dari anak kandungku sendiri!".
Hariawan tertunduk air mata penyesalan pun terus mengalir membasahi pipi .
"Har sabar ya, Hanum hanya butuh waktu!" ucap Diana menenangkan suaminya.
Didalam kamar Hanum terus menangis .
Kenapa kenyataan yang ia dengar begitu pahit rasanya hatinya hancur berkeping keping mendengar kenyataan bahwa selama ini orang yang ia anggap paling baik di dunia ternyata adalah seorang lelaki pengecut . Orang yang sama sekali tidak mau mengakuinya apalagi bertanggung jawab atas perbuatan memalukan yang telah dilakukannya.
Ia merasa kesal pada diri sendiri yang hanya terlahir dari suatu kesalahan dan tanpa ada pengakuan bahkan sama sekali tidak diinginkan oleh kedua orang tuanya.
Ia kembali mengingat almarhum kedua orang tua angkatnya. Yang sangat tulus menyayanginya dan merawatnya dengan penuh kasih sayang sampai ia tumbuh dewasa .
"Ayah ... Ibu.... Aku sangat merindukan kalian ! Hiks hiks!!" Tangisan semakin pilu.
Hanum berdiri melihat dirinya didalam cermin .
kemudian tersenyum kecut
Sesaat kemudian hatinya kembali berdenyut nyeri dadanya begitu sesak lalu tiba tiba saja
Suara sesuatu yang pecah itu mengejutkan Semua orang yang ada dibawah sana.
Mereka berlari ke kamar Hanum.
"Hanum ! kau tidak apa apa nak! Buka pintunya nak tolong jangan seperti ini sayang !" Mutia dan Zennet berbicara dengan begitu cemas.
"Hanum buka pintunya ! Apa yang terjadi didalam sana sayang !"Zenet kembali berucap.
Namun tak ada jawaban apapun dari dalam sana membuat semuanya menjadi semakin panik .
"Har bagaimana ini cepat telpon Hanzen suruh dia segera pulang!".
Hariawan segera menelpon Hanzen dan menyuruhnya cepat kembali
Tak berselang lama Hanzen dan juga Farel pun tiba dirumahnya dan lansung menuju kamarnya.
"Sayang buka sayang ini aku suamimu!".
Lagi lagi tidak ada jawaban .
__ADS_1
Rel bantu aku dobrak pintu ini.
"Hati hati Hanz" Ucap Zennet .
BRAKKKK
Akhirnya pintu berhasil dibuka dengan cara didobrak.
Nampak Hanum sedang terduduk dilantai masih keadaan menangis menghadap pecahan cangkir yang tak sengaja ia senggol . Dan tangannya berdarah karana berusaha memunguti pecahan beling tersebut.
"Sayang kamu gak apa apa! Apa yang terjadi sayang kenapa kamu seperti ini. Tanganmu terluka sayang jarimu berdarah!" Hanzen begitu panik lalu meraih kedua tangan istrinya mengajaknya berdiri lalu membimbingnya untuk duduk diatas kasur.
"Tunggu sayang mommy akan ambil kotak P3K !" Zennet bergegas keluar kamar.
"Sayang Maafkan Daddy nak!" Hariawan mendekat.
"Pergi ! Pergi....! Aku gak mau lihat muka Daddy! Pergi aku bilang pergi ..... Pergi..! Ucap Hanum dengan suaranya yang semakin melirih lalu memeluk suaminya
Terlihat dengan jelas hatinya sangat hancur dan rapuh saat ini.
"Tolong semuanya keluar dulu ! Biar aku yang bicara sama Hanum!". Ucap Hanzen kemudian.
Lalu semua orang keluar dari kamar dan tinggal hanya sepasang suami istri .
"Sayang ada apa hmmm?" Hanzen bicara dengan begitu lembutnya.
"Apa kamu juga udah tau mas kebenaran itu?"
"Ya sayang aku mengetahuinya waktu kamu dirumah sakit!".
"Laku kenapa kamu menutupi semua dariku mas, kenapa kamu gak kasih tau mas kenapa!". Hanum terisak lagi.
"Maafkan aku sayang , tapi aku tidak bermaksud untuk menutupi semua itu darimu, aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat saja!"
"Lalu kapan waktu yang menurutmu mas ,kenapa sampai hari ini kamu belum memberi tahu aku tentang semua itu!". Hanum berteriak seraya terisak.
"Sayang ... Hei lihat aku !" Hanzen meraih dagu istrinya" apa dengan kamu seperti ini semuanya akan kembali ke masa lalu dan merubah semuanya? Tidak yank semua akan tetap sama walaupun kamu mengamuk berteriak menangis sekuat kuatnya semua akan tetap sama tidak akan ada yang berubah. Semua itu sudah terjadi dan itu masa lalu orang tua kita. Disini tidak ada yang bisa kita salahkan baik daddy mommy ataupun mama Mutia. Percayalah mereka juga tidak mudah melewati semua itu sampai ditahap ini. Kamu lihat sendiri bukan sikap mommy yang sangat tulus memaafkan kesalahan Daddy dan mama Mutia dimasa lalu. Aku sangat tau itu semua tidak mudah untuk mommy, karna mommy juga korban dari keegoisan mereka. Aku percaya istriku ini adalah orang yang selalu berlapang dada dan berbesar hati memaafkan setiap kesalahan orang lain apalagi orangtua kita sendiri".
Hanzen menyibakkan rambut istrinya dan menyelipkannya kebelakang telinga lalu mengecup kening nya kemudian memeluknya dengan penuh kasih sayang.
.
.
.
__ADS_1
BEESAMBUNG ✍️