SEJUTA CINTA UNTUK HANUM

SEJUTA CINTA UNTUK HANUM
Bab 62. Seseorang mirip Hanz


__ADS_3

Setelah pamit pada Hanum . Farel pergi ketempat yang diberitahu oleh Boy.


Ia memasuki sebuah Restoran berbintang dengan begitu gagah.


Lalu menghampiri Boy yang sedang terduduk bersama klien mereka . Dan betapa terkéjutnya kala ia melihat wajah kliennya itu sangat begitu mirip dengan sepupunya yang telah meninggal dunia.


"Hanz!!" seru Farel spontan.


"Pak Farel ini klien kita namanya pak Peter!" ucap Boy pada Farel .


Boy sendiri juga sempat kaget saat bertemu dengan Pater dan ia sempat mengira jika itu adalah Hanzen atasannya yang telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu.


"Ah ya saya Farel!"


"Peter!" sahutnya sembari menyambut uluran tangan Farel.


Kemudian mereka berdiskusi tentang rencana kerja sama yang akan dilakukan oleh dua perusahaan tersebut.


Sesekali Farel menelisik dengan rasa penasaran pada Peter yang sangat mirip sekali dengan sepupunya itu.


Dia berpikir , apakah ada didunia ini orang yang benar benar mirip seperti Petter dan Hanz. Ia masih terus memikirkan tentang kemiripan yang dimiliki keduanya, dari caranya berbicara , caranya tersenyum dan menatap tegas pada seseorang. Ia tidak bisa membayangkan jika Hanum yang melihatnya entah apa yang akan terjadi pasti Hanum mengira dia adalah suaminya yang telah meninggal itu.


"Jadi bagaimana pak Farel? apa anda menyetujui penawaran kerja sama ini?"tanya Peter penuh harap.


"Baiklah saya akan menghubungi anda kembali sore nanti!" ucap Farel masih penuh pertimbangan.


"Baiklah saya sangat menunggu kabar baik itu !".


"Siap pak Peter saya akan segera menghubungi anda kami diskusikan dengan yang lain!".


"Terima kasih , saya permisi pak Farel !" pamitnya kemudian.


Setelah kepergian Peter dari resto tersebut Farel langsung menatap pada Boy.


"Apa kau pernah tau sebelumnya tentang orang yang bernama Peter itu?"


"Saya belum pernah tau pak , tapi menurut informasi yang saya dapat tuan Peter adalah seorang pengusaha yang selama ini tinggal di London dan baru beberapa tahun ini beliau membuka cabang  perusahaan di indonesia !"

__ADS_1


"Gila , ini benar benar gila boy!, kemiripan itu hampir 99 % dengan hanzen! bagaimana mungkin ada orang semirip itu dengan sepupuku yang telah meninggal 9 bulan yang lalu!" ucap Farel yang masih belum sepenuhnya percaya.


"Saat tadi saya melihatnya saya juga hampir tidak percaya pak, saya pikir itu adalah pak Hanz yang sengaja ingin membuat kejutan untuk kita semua, hanya setelah saya telisik ternyata warna bola  mata mereka berbeda!".


"Ya kau benar, jika bola mata Hanz itu berwana keabu abuan tapi peter agak kecoklatan!" aku tidak bisa membayangkan jika Hanum melihatnya pasti dia akan mengira jika peter adalah Hanzen."


AMAZING...


"Apa kau tahu dimana dia tinggal dan bagaimana temtang latar belakang keluarganya?" tanya Farel pada Boy.


"Saya sudah mengeceknya pak , Beliau tinggal komplek Graha Bukit Hijau tidak jauh dari kantor kita, Dan beliau juga seorang anak tunggal dari Tuan Agram Abraha dan nyonya Louis yang sekarang masih tinggal di London".


"Baiklah kalo begitu, kabari dia siang ini bilang padanya kalo perusahaan kita meyetujui kesepakatan kerja samanya!"


"Baik pak !"


Setelah selesai dengan urusan kantornya Farel kembali ke rumahnya. dan kini Farel telah sampai dirumahnya dan kembali fokus pada babby Al.


Farel membuka pintu kamar Hanum, tapi ternyata pintunya terkunci dari dalam. lalu ia mengetuk ngetuk pintu tersebut namun tidak ada jawaban dari dalam,. Ia mulai panik dan menghebohkan semua orang yang sedang berada di ruang tamu.


"Ada apa Rel ?" tanya sang mami padanya .


"Hanum sedang menyusui Rel , itu sebabnya dia mengunci pintunya dari dalam, jika tidak seperti itu maka kau akan seenaknya saja memasuki kamarnya, bukan begitu yang sekarang kau lakukan? ingat Rel Hanum bukan istrimu jadi beri dia sedikit ruang privasi untuknya didalam kamarnya!" ucap mami Harvie memberi pengertian pada anaknya.


" Oke baiklah, aku memang melupakan hal itu!" ucapnya setelah mendengar nasihat dari sang mami.


"Apa sudah sejak tadi ia menyusui babby Al?" tanyanya kemudian


"Belum Rel baru 1 jam lalu, biarkanlah Hanum juga butuh istirahat jangan kau ganggu dulu!" .


Baru saja hendak melangkah dan menjauh dari pintu kamar Hanum tiba tiba terdengar suara tangis babby Al yang begitu kencang.


"Hanum..! Apa yang terjadi ? Kenapa dengan Babby Al, buka pintunya Num!" seru Farel dengan begitu panik.


Mendengar suara Farel dari balik pintu, Hanun segera membuka pintu yang sengaja ia kunci.


Ceklek

__ADS_1


Pintu terbuka.


"Mana Babby Al ? Kenapa dia menangis begitu kencang !" tanyanya khawatir


"Aku juga gak tau Rel! daritadi terus saja menangis padahal lagi aku kasih mimi".


"Cup cup cup, kenapa cayang , ayo sama uncle!" ucap Farel sambil mengambil alih babby Al dari gendongan Hanum.


Seketika tangisan babby Al itu berhenti dan mulai tertidur dalam gendongan Farel.


"Ish Babby al kok begitu ya, ini mama mu loh nak, kenapa kau lebih memilih uncle dari pada mamamu sendiri ". Ucap Hanum dengan raut muka yang begitu sedih.


"Karna aku adalah uncle sekaligus papanya, lain kali gak usah dikunci kunci pintunya !"


Mami Harvie tersenyum melihat tingkah anak laki laki dan keponakan perempuannya itu.


"Biarkan saja Num, itu tandanya babby Al sayang sama mamanya biar mamanya istirahat jadi babby Al lebih memilih unclenya". Tuturnya pada Hanum seraya tersenyum hangat.


Farel medudukan dirinya diatas tempat tidur Hanum masih dengan menggendong babby Al yang sama sekali tak terusik dari tidurnya yang tiba tiba sangat pulas semenjak kedatangan Farel.


"Tapi aku iri tante dengan kedekatan mereka , masa aku yang melahirkannya kalah sama Farel yang hanya menemaniku, itupun karna aku antara sadar dan tidak aku meminta Farel untuk menemaniku lahiran!". Ucapnya dengan muka yang terlihat malu dan memerah.


Hanum selalu merasa malu sendiri kala mengingat saat ia meminta Farel untuk tidak meninggalkannya saat melahirkan babby Al. Padahal itu seharusnya tidak terjadi. Tapi karna rasa sakit yang begitu luar biasa sehingga ia melupakan rasa malunya . Yang ia ingat hanya ingin ada seseorang yang menemaninya saat itu. Karna itu juga adalah pengalaman pertamanya melahirkan bahkan tanpa seorang suami.


Saat itu perasaan benar benar tidak menentu. Tapi ia merasa bersyukur perjuangan antara hidup dan mati yang ia lewati itu akhirnya berhasil . Atas dukungan dan semangat dari kakak sepupunya yang sangat menyayanginya melebihi apapun.


"Sebenarnya bukan kamu yang meminta , tapi Babby Al, hanya saja dia memintanya melalui mulutmu karna dia yang masih ada didalam perutmu itu tidak mungkin bisa mengatakannya. Lihat saja sekarang pas udah lahir maunya sama unclenya terus bukan?!" ujar Mami Harvie yang masih berada dikamar Hanum.


"Betul yang dibilang mami itu Num! Makanya kamu jangan coba coba jauhin babby Al dari aku, apa lagi mengunci kunci pintu kamarmu seperti tadi. Aku tidak like ya!" Protea Farel.


"Iya dia anakmu terserah kamu lah mau gimana, ternyata benar kata kata Rania debat sama kamu mah jangan berharap untuk menang!" sahut Hanum seraya berjalan pelan menuju kamar mandi yang diikuti oleh mama Harvie dibelakangnya.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG ✍️✍️..


__ADS_2