
Pagi hari suasana Mainson mewah milik keluarga Bramasta itu terlihat cukup ramai. Para pelayan yang sedang melakukan tugasnya masing masing.
Bu Tin yang sedang menyiapkan menu makanan untuk sarapan.
Terlihat Hanum dan Hanzen yang sedang berjalan menapaki anak tangga dengan setelan masing masing yang telah rapih.
Saat mereka sedang tenang menikmati serapan paginya sesekali diiringi candaan Hanzen yang menggoda istrinya.
"Bagaimana kuliahmu Hanum?" Tanya Nenek seraya menyesap susu vanila yang berada didepannya.
"Sejauh ini tidak ada masalah Nek, semua nya berjalan lancar lancar saja!".
"Baguslah kalo begitu"lalu menatap Hanzen.
"Hanz kapan kamu akan mengadakan resepsi pernikahan kalian?".
"Pernikahan siapa Bu?" tanya seseorang lelaki dengan paras ganteng tubuh tinggi tegap kekar dan rahangnya yang tegas sekilas jika dilihat serupa dengan Hanzen hanya usia yang membedakannya. yang baru saja muncul dari arah ruang tamu dengan seorang perempuan cantik bertubuh tinggi langsing penampilan yang tetap modis dan juga berkulit putih yang melingkarkan tangannya pada lengan lelaki tersebut.
Seketika semua yang sedang berada dimeja makan itu menoleh kearah sumber suara.
"Daddy , Mommy !"sapa Hanzen kepada kedua orang tersebut.
Ya mereka adalah kedua orang tua Hanzen yaitu Hariawan Putra Bramasta dan Zennet Mahendra.
"Apa kabarmu sayang?" Tanya sang Mommy seraya merentangkan kedua tangannya lalu memeluk anak lelakinya itu.
"Kabar baik Mommy dan Daddy apa kabar?".
"Kita semua baik sayang ". Kali ini daddynya yang menjawab seraya menatap bingung kearah wanita yang kini sedang duduk disebelah Hanzen.
"Dia cucu menantuku Har !" ucap Nenek Bramasta tiba tiba seakan mengerti tatapan bingung dari anak lelaki bungsunya.
Sontak Hariawan dan juga Zenet sangat terkejut dengan penuturan Ibunya .
"Maksud ibu dia adalah istrinya Hanzen anak lelakiku?". Hariawan memastikan.
__ADS_1
"Ya dia adalah menantumu !".
"Eh sayang kenalkan ini Daddy dan Mommy aku". Ucap Hanzen kepada istrinya.
Hanum mengangguk sopan seraya bangun dari duduknya hendak mencium punggung tangan kedua mertuanya yang baru kali ini dilihatnya itu. Dan tentu saja kedua mertuanya itu juga memberikan tangan mereka untuk dicium oleh menantunya itu.
Penampilannya yang sederhana parasnya yang cantik dan tatapan matanya mengingatkanku pada seseorang dimasa lalu. Hariawan berucap dalam hati.
Begitupula dengan Zennet yang tak henti hentinya menatap Hanum . Jantungnya berdegup sangat kencang seakan ia baru saja melakukan lomba lari maraton.
Mutia ! aku seperti melihat sosok dirimu dalam diri perempuan yang menjadi istri anakku ini .Ya tuhan saat tangannya menyentuh tanganku seluruh badanku terasa merinding .
Tanpa terasa lelehan air mata itu berhasil lolos dipipi wanita yang sudah berusia hampir kepala 5 itu namun masih terlihat begitu cantik dan modis.
" Mommy kenapa menangis ?" Tanya Hanzen
"Aku minta maaf Mom karna menikah tanpa memberi tahu mommy dan daddy" ucap Hanzen seraya memegang tangan sang mommy " tapi tenang saja mom istriku ini adalah wanita yang baik dan juga penyayang mommy juga daddy tidak akan menyesal telah memiliki menantu seperti Hanum ini !". Seraya menciumi tangan sang mommy.
"Ya sayang mommy percaya dengan pilihan kamu !". Ucapnya seraya tersenyum dan mengelus puncak rambut anak lelakinya lalu memeluknya.
Kemudian beralih menatap Hanum mengelus pipinya dan menyelipkan rambut menantunya itu dibalik telinganya lalu memeluknya seolah sedang melepaskan kerinduan yang sangat dalam terhadap seseorang.
"Mommy dan Daddy mau sarapan apa biar aku buatkan ? Tanya Hanum kemudian.
"Tidak usah kita sudah sarapan di Hotel tadi.!". Tolak Zennet
"Kalian tidur di Hotel?" tanya sang ibu.
"Iya bu kita sampai sini tengah malam jadi aku pikir untuk menginap saja di Hotel kasian para pelayan yang sedang tidur jika aku datang ke Rumah malam malam pasti mereka semua akan terganggu !". Jelas Hariawan.
"Tuan dan Nyonya muda mau minum apa biar saya buatkan" tanya Bu Tin yang muncul dari arah dapur.
"Lemon tea hangat sama kopi saja Bu Tin" jawab Zennet kemudian.
"Baik Nyonya muda".
__ADS_1
Kemudian mereka melanjutkan acara sarapan paginya dengan diiringi obrolan obrolan ringan dan sesekali tertawa sehingga suasana menjadi hangat .
Dengan kehadiran sosok mama yang selalu bersikap lembut dan penyayang membuat suasana mainson bertambah semakin damai dan hangat saja.
Setelah menghabiskan sarapannya. Hanum dan Hanzen pamit pergi dengan mengendarai mobil masing masing dan menuju tempat tujuan masing masing yang berlawanan arah mereka berpisah dan saling membunyikan klakson mobil di pertigaan jalan yang tak jauh dari mainsonnya
Sesampai di Kantor Hanzen dikejutkan oleh beberapa staff dan karyawannya yang sedang berkumpul di lobby kantornya sedang berbisik bisik dan menatap beberapa gambar yang terpampang didinding lobby tersebut.
"Ada apa ! Kenapa kalian semua berkumpul disini ? ini kan udah jam kerja kenapa malah kalian berkumpul dan bergosip disini!" ucap Hanzen dengan nada setengah marah.
Lalu Hanzen mendekat dan mulai melihat kearah gambar gambar yang terpajang pada dinding yang ternyata adalah gambar dirinya dan Helga yang sedang berada disebuah kamar hotel . bahkan ada juga gambar yang sedang tidak menggunakan pakaian.
"Dimana Boy dan shila !" teriak Hanzen tanpa mengalihkan pandangannya dari gambar gambar tersebut.
"Ada apa pak Hanz. Maaf saya dan Shila baru selesai melakukan pertemuan dengan klien dicafe sebelah !".
"Tolong urus semua gambar gambar itu pastikan ponsel mereka tak ada satupun yang mengambil salah satu dari foto foto ini !". Ucapnya seraya pergi menuju keruangan pribadinya.
"Kumpulkan semua ponsel kalian dan kembali bekerja atau kalian mau dipecat sekarang juga !" ucap Shila dengan nada tingginya
Mereka pun segera mengumpulkan ponselnya dan menuju tempat masing masing dan mulai bekerja.
"Mbak Helga ternyata belum juga menyerah untuk mendapatkan perhatian dari pak Hanz" ucap Boy
"Aku sudah menduga kejadian seperti pasti akan terjadi. Tapi kamu gak pernah mau denger omonganku !" ucap Shila dengan geramnya seraya menatap Boy.
"Ya kali ini aku kecolongan olehnya!".
"Jadi apa langkah kita selanjutnya !".
"Kita harus mencegah agar foto foto ini jangan sampai ketangan istri pak Hanz atau kita akan mendapat masalah besar !".
Anda selalu saja merepotkan saya mbak Helga Hercules. Apa anda sudah kehilangan harga diri sehingga menyebarkan foto foto mesum anda sendiri ! benar benar tidak waras !!
Tiba tiba saja Boy mendapat telpon dari pihak kampus yang mengatakan banyak sekali foto foto Hanzen dengan seorang perempuan yang cukup vulgar tertempel di dinding area masuk kampus.
__ADS_1
Mendengar semua itu Boy segera menuju kampus untuk membereskan kekacauan yang bakal terjadi dikampus.
"Shila aku harus segera kekampus istri pak Hanz untuk membereskan kekacauan yang sedang terjadi disana ! Tolong selesaikan urusan disini !". Ucap Boy seraya berlari kearea parkir.