
Beberapa Hari telah berlalu namun Hanum belum juga bisa menerima dan memaafkan Ayahnya.
Hanum memilih untuk tidak tinggal dimainson itu lagi demi menghindari bertemu dengan Hariawan.
Hanzen yang terpaksa harus memenuhi keinginan istrinya untuk tinggal diapartemen miliknya yang sudah lama sekali tidak ia tempati.
Karna menurut Hanzen kembali tinggal di Apartemen pasti akan terjadi banyak masalah yang baru.
Tapi ia juga tidak bisa menolak keinginan sang istri yang terus merengek untuk pergi meninggalkan mainson.
Bersamaan dengan semua itu kesehatan Hariawan mulai memburuk. Pola makan yang tidak teratur dan pikirannya terus tertuju pada Hanum. Kini tubuh kekar itu telah menjadi lemah dan mulai terlihat kurus.
"Har makanlah , sudah beberapa hari ini kamu makannya tidak teratur Har, aku tidak mau kau sakit Har!" bujuk Zennet pada suaminya.
"Aku tidak enak makan Zenn"
"Kau tidak bisa seperti ini terus Har, percayalah Hanum pasti akan memaafkan dan menerimamu sebagai ayahnya".
"Aku tidak yakin Zen, karma kesalahanku begitu besar padanya aku memang pengecut aku memang egois aku tidak pantas disebut seorang ayah!". Ucap Hariawan seraya tertunduk lesu.
"Tolong siapkan pakaianku Zen , aku akan segera pergi kekantor".
"Apa kau yakin kau akan pergi kekantor dalam kondisi seperti ini Har?".
"Ya Zen, kau tenang saja. Aku akan baik baik saja !"
"Baiklah aku akan menyiapkan semuanya!".
Setelah siap dengan setelan kantornya Hariawan segera keluar dari kamarnya .
Rania yang melihat kondisi sang Dady hanya bisa menatap sendu, daddy yang selama ini ia kenal sangat kuat nyatanya keadaannya sekarang sangat lemah dan rapuh. walaupun ia bukan ayah kandungnya tapi baginya Daddy adalah segalanya. Orang yang selalu menyayanginya.
Tapi lihatlah sekarang! Jangan kan menyayanginya seperti dulu bahkan keberadaannya saja sekarang diabaikan sama sekali tidak perduli dengannya.
"Semua ini gara gara Hanum. Wanita itu memang selalu saja buat masalah tidak bisakah tidak membuat semuanya jadi rumit seperti ini! Aku benci kau Hanum, sangat membencimu!! " Rania membatin dalam hati.
Saat yang bersamaan ia melihat Hazel berjalan menuju meja makan.
"Hei batu es ! Bilang sama kaka kesayanganmu itu jangan buat semua menjadi rumit, sudah untung daddy mau mengakuinya sebagai anaknya tapi malah dia bertingkah seolah olah dia adalah anak yang paling tersakiti emang dia pikir dia siapa!".
"Kenapa aku harus menyampaikannya! Kau bilang saja sendiri ! Merepotkan saja!". Ucap Hazel seraya terus menyantap sarapan paginya.
Tak berselang lama Hazel pergi meninggalkan meja makan dan Rania yang masih terus saja mengoceh tidak jelas menurutnya.
...****************...
Ditempat lain.
Seorang pria mulai mengenakan topeng kulitnya . Ia kemudian keluar dari dalam mobilnya menuju markasnya.
"Siapkan rencana selanjutnya! 2 kali menyerangnya kita tetap gagal mungkin aku akan menggunakan cara lain untuk menghancurkan secara perlahan!" .
"Baik bos kita akan segera bertindak!".
__ADS_1
"Bagus kali jangan sampai gagal !".
"Siap boss !"
Di kampus Hanum sedang mengikuti mata kuliah dikelasnya.
Namun tiba tiba saja kepalanya terasa pusing dan isi perutnya berasa minta dikeluarkan. Ia mencoba menahan rasa mual yang terus bergejolak dari dalam perutnya . Sesaat rasa itu hilang namun tiba datang lagi rasa mual tidak bisa lag tertahan akhirnya ia berlari dengan cepat menuju toilet tanpa meminta izin dari dosen yang mengajar.
Didalam toilet ia memuntahkan semua isi perutnya.
ditemani oleh Siska yang diam diam mengikutinya karna khawatir . Setelah semua isi perutnya keluar penglihatan Hanum mulai gelap dan akhirnya ia mulai limbung lalu hampir saja terjatuh dilantai kalo saja Siska tidak segera menangkapnya.
"Hanum, kamu kenapa Num ! Bangun Num!"
Lalu Siska mengeluarkan ponsel dari kantong celananya dan segara menghubungi Brian.
"Siska ada apa dengannya kenapa dia pingsan?" Brian sangat panik
"Tidak tau Bri tiba tiba dia muntah muntah lalu pingsan setelahnya!".
"Ayo kita bawak ke klinik dekat sini saja sekarang!".
Mereka segera membawa Hanum ke klinik terdekat
Setibanya di klinik Hanum langsung ditangani dan diperiksa oleh dokter yang kebetulan sedang bertugas disana . Lalu dokter memberitahukan pada Siska dan Brian jika Hanum sedang mengandung. Seketika mereka merasa lega .
Siska segera menghubungi Hanzen suami dari temannya itu.
"Hallo Hanz!"
"Hanum pingsan dan sekarang ada di klinik dekat kampus cepatlah datang!".
"Apa! Baiklah aku akan segera datang !".
Dengan sangat terburu buru ia berlari menuju parkiran dan dengan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh . Pikirannya terus tertuju pada Hanum. Tiba tiba saja dari arah yang berlawanan muncul sebuah mobil dengan kecepatan sedang . Hanzen mencoba menghindari mobil tersebut dengan membanting setirnya ke kiri namun saat hendak menginjak rem ternyata rem mobilnya blong hingga ia terus melaju dan terjatuh kedalam jurang yang cukup curam.
Saat yang bersamaan Hanum tersadar dari pingsannya.
"Aku dimana ya?"
"Syukurlah kau sudah sadar aku sangat cemas tau Num!" ucap Siska dengan perasaan lega.
Begitupun dengan Brian.
"Num selamat ya ! Kamu akan menjadi seorang ibu!" ucap Siska yang sudah mendengar penjelasan dari dokter yang memeriksanya tadi.
"Apa ! Jadi maksudmu aku hamil?" ucap Hanum dengan senyum yang merekah dibibirnya.
"Ya Num , tadi dokter telah memeriksamu !".
"Selamat Hanum!" ucap Brian yang turut bahagia saat melihat Hanum bahagia.
"Makasih Bri, Sis kalian udah bawa aku kerumah sakit!".
__ADS_1
"Sama sama Num! O'ya tadi aku sudah telpon suamimu dan dia sedang menuju kemari!".
"Sekali lagi makasih Sis!".
Saat sedang larut dalam rasa bahagia tiba tiba saja ponselnya berdering dilihatnya nama yang muncul dilayar ponsel MY HUSBAND dengan segera ia menjawab telpon tersebut.
Namun tiba senyum bahagia yang sejak tadi terukir indah itu berubah menjadi tangisan.
"Apa! baiklah terimakasih!" Hanum tertunduk lalu terisak .
Membuat Siska dan Brian seketika bingung.
"Ada apa Num?"
"Mas Hanzen kecelakaan mobilnya masuk jurang ! Hiks hiks!"
"Apa!"
"Tolong antar aku ke rumah sakit !".
Sesampainya di rumah sakit Hanum terduduk dengan lemah didepan ruangan UGD
"Hanum bagaimana keadaan Hanzen!" ucap Zennet yang baru saja tiba di rumah sakit bersama Hariawan.
"Masih didalam mom sedang ditangani dokter!".
"Bagaiman kejadian Num?".
"Aku juga tidak tau mom!"
Hanum mulai menceritakan dari awal ia pingsan dan sampai akhirnya seorang petugas kepolisian menghubunginya dan memberitahu kecelakaan tersebut.
"Jadi kau sedang mengandung sekarang?"
Hanum hanya mengangguk.
Entah dia harus bahagia atau sedih dengan semua itu. Satu sisi ia bahagia karna telah tumbuh janin didalam rahimnya. Namun disatu sisi ia sedih karna suaminya kecelakaan dan belum sadarkan diri hingga sekarang.
Begitupun dengan Zennet dan Hariawan. Ia bahagia dengan kehamilan Hanum namun ia juga sedih atas kecelakaan yang menimpa anak lelakinya.
"Dokter gimana keadaan suami saya !" ucap Hanum seraya berdiri mendekati dokter yang baru saja keluar.
"Pak Hanzen masih koma ! Kita berdoa saja semoga beliau cepat sadar dan bangun dari komanya"
"Mas Hanzen!" Hanum menangis pilu seraya memasuki ruangan UGD untuk melihat kondisi suaminya.
"Bangun mas...! Hiks hiks..! Hanum terus terisak seraya memeluk suaminya yang terbaring lemah dan tidak berdaya.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG ✍️ .