SEJUTA CINTA UNTUK HANUM

SEJUTA CINTA UNTUK HANUM
Bab 7 Ciuman Pertama


__ADS_3

Sesampainya dimeja makan Hanum berdiri disamping kursi tempat Hanzen duduk dan mulai mengoleskan selai pada roti untuk Hanzen yang udah disiapkan olehnya sebelumnya.


Lalu menaruhnya dipiring yang berada didepan Hanzen , setelahnya ia berencana kembali kedapur namun baru saja kakinya akan melangkah tangannya ditarik oleh Hanzen.


"Mau kemana? Duduk sini temani aku sarapan !"


"Tapi Den, itu bukan tempat saya".


"Ini perintah Hanum!"


Lalu Hanum pun menuruti perintah Hanzen.


"Nenek mana Bu Tin?" tanya Henzen pada kepala pelayan.


"Masih dikamar Den ,Beliau agak kurang sehat pagi ini".


"Nenek sakit?!" tanya Hanum yang mendadak cemas .


"Ayo kita lihat!" Hanzen menarik tangan Hanum menuju kamar nenek.


"Lepaaaas.!!" Hanum berusaha menarik tangnnya dari genggaman tangan Hanzen.


Tapi Hanzen sama sekali tak mempedulikan kata kata Hanum dan terus saja berjalan sambil menarik tangan Hanum


"Nenek kenapa?" tanya Hanzen sesampainya dikamar neneknya tanpa melepaskan tangan Hanum.


"Tidak apa apa Hanzen ,nenek hanya sedikit masuk angin aja, atau mungkin kecapekan dalam perjalanan semalam" lalu melirik tangan yang masih bergandengan menurutnya kemudian tersenyum.


Merasa tidak enaqk karna diperhatikan sang nenek  refleks Hanum menarik tangannya secepat kilat.


Sedangkan Hanzen malah menerbitkan senyuman tipis dibibirnya.


Entah kenapa melihat kegugupan Hanum menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Hanzen.


"Nenek, apa mau makan sesuatu?"


"Tidak Hanum aku sudah sarapan tadi Tini membawanya kesini"


" Nenek sudah minum obat, atau mau aku panggilkan dokter ?" tanya Hanzen


"Tidak perlu Han, nenek hanya perlu istirahat sebentar setelahnya pasti akan lebih baik".


"Baiklah kalo begitu selamat istirahat nek" Hanzen mencium pipi nenek." aku kembali sarapan ya nek" kembali menarik tangan Hanum berjalan keluar .


Hanum menarik paksa tangannya sampai terlepas .


"Maaf saya tidak mau ada kesalah pahaman nantinya Den!".


"Panggil aku Han, aku tidak menyukai panggilanmu itu!"


"Kenapa ,bukannya semua pelayan memanggil Den Han seperti itu?".


"Tapi aku tidak mau kamu memanggilku seperti pelayan lain".


"Saya hanya berusaha menyamakan kedudukan saya disini sebagai pelayan seperti yang lain".

__ADS_1


"Ternyata kamu cukup keras kepala ya".


Hanzen kembali duduk dan mulai menghabiskan sarapannya lalu menyeruput susunya.


"Kenapa rasa susunya pahit!, siapa yang membuatnya?" Melirik Hanum.dengan penuh ide.kejailan


Ucapan Hanzen. sontak membuat Hanum merasa tidak enak


"Kalau begitu  saya akan buatkan lagi yang baru" Hanum mengambil gelas yang ada didepan Hanzen.


"Tidak perlu ,sebagai hukumannya kamu yang harus menghabiskan susu itu, biar kamu juga tau rasanya!". Hanzen menarik tangan Hanum yang hendak berdiri dari duduknya


Anggap saja itu ciuman pertama kita secara tidak langsung haha. serunya dalam hati


Lagi lagi Hanum terperanjat dan refleks menyentuh mulutnya sendiri dengan kedua tangannya


"yang benar saja jika aku meminum bekas cangkirnya itu kan sama saja dengan ciuman secara tidak langsung".


"Tidak mau? Jijik bekas mulutku?"tanya Hanzen


" Tidak Den, bukan begitu"


"Terus kenapa belum juga diminum?".


"Baiklah saya akan menerima hukuman anda!".


Dengan segera Hanum menghabiskan sisa susu bekas Hanzen.


Dalam hatinya terus mengutuk kelakuan Hanzen.


Lagi lagi ia berhasil menjahili Hanum dan membuatnya gugup dan salah tingkah.


Setelah merasa cukup mengerjai Hanum pagi ini . Ia segera pergi ke kantor diantar Pak Ujang.


"Dimana Pak Ujang bertemu dengan Hanum?" tanya Hanzen karna ia tau pasti Hanum bukan saudara Pak Ujang.


"Itu, anu Den" Pak Ujang merasa gugup karna ternyata majikannya mengetahui Ia telah berbohong.


"Tidak apa apa Pak Ujang ceritakan saja ,saya tidak akan marah, malah saya berterimakasih sama pak Ujang karna telah mengajak Hanum ke mansion".


"Maafkan saya Den Han, awalnya saya bertemu Neng Hanum di warung nasi dekat Mansion. Entah kenapa saya merasa kasian padanya saat saya tanya dia menjawab tidak tau mau kemana karna tidak mempunyai tujuan datang kekota ini, karna saya liat dia gadis yang baik akhirnya saya menawarkan pekerjaan untuk menggantikan Siti, sekali saya minta maaf Den Han".


"Tidak apa apa Pak Ujang, kebetulan saya mengenal Hanum".


Mendengar jawaban majikannya Pak Ujang merasa lega karna ternyata ia membawa orang yang dikenal oleh majikannya.


Tapi kemudian ia berfikir sejak kapan majikannya itu mengenal Hanum wanita dengan penampilan sederhana itu . Pasalnya wanita yang dulu selalu dibawanya itu adalah para wanita yang berpenampilan modis dan berkelas menurutnya sedangkan Hanum hanya wanita biasa ya walau ia akui wajahnya memang cantik tapi soal penampilannya bukanlah pilihan seorang Hanzen .


Mendengar penjelasan Pak Ujang sedikit mengusik pikiran Hanzen, tentang kenapa Hanum tiba tiba datang ke kota ini tanpa tau tujuannya mau kemana, apa sebenarnya yang terjadi dengan Hanum dan keluarganya.


"Aku harus mencari tau tentang itu" gumamnya pelan tanpa terdengar oleh pak Ujang yang sedang duduk duduk balik kemudi.


setelah 30 menit Ia telah sampai dikantornya. Hari ini pasti akan sangat sibuk karna telah meninggalkan kantor beberapa minggu ini. Banyak sekali dokumen dokumen yang perlu ditanda tanganinya.


"Selamat pagi Pak Hanzen ,ini semua dokumen yang harus Pak Hanzen tanda tangani" ucap Boy sekretaris pribadinya menyodorkan tumpukan berkas yang sudah menggunung dan harus segera ditanda tangani.

__ADS_1


"Boy apa ada masalah dikantor selama aku pergi?".


"Tidak ada Pak ,semuanya baik baik saja".


"Bagaimana dengan laporan keuangan dari kantor cabang 403 itu, apa semua sudah teratasi?".Tanya Hanzen sambil terus menanda tangani berkas yang ada dihadapannya itu.


"Semuanya sudah beres Pak, Hanya karna sedikit kesalahan dalam penghitungan saja pak?"


Setelah beberapa lama akhirnya tumpukan berkas yang tadinya menggunung kini sudah menipis dan tinggal beberapa lembar saja.


Hanzen merenggangkan otot otot tangan yang ia gunakan untuk membubuhkan tanda tangan yang tiada habisnya sejak tadi lalu melanjutkannya hingga selesai.


Tiba tiba saja pintu ruangan terbuka tampak seorang wanita cantik nan anggun datang mendekati meja presdir dan dengan tidak tau malunya ia memeluk Hanzen dan duduk dipangkuannya.


"Lepaskan Sya!" seru hanzen yang tidak suka dengan perlakuan Risya mantan kekasihnya itu.


"Hanz ,aku mau minta maaf dan aku mau kita kembali lagi seperti dulu saling mencintai".


"Kamu pikir penghianatan yang kamu lakukan itu sebuah lelucon ! Apa kamu pikir setelah aku tau kebusukan kamu aku akan tetap mencintai kamu!".


"Aku sudah meninggalkannya dan sudah memutuskan hubungan dengannya Hanz, aku mohon maafkan aku kembalilah padaku, aku janji tidak akan mengulanginya lagi".


"Maaf Sya aku tidak bisa untuk menerimamu lagi!".


"Tapi kenapa Hanz ?"


"Karna aku sudah mencintai perempuan lain Sya, tolong mengertilah, dan berhentilah meminta aku untuk kembali, semua itu tidak mungkin terjadi ".


"Boy bawa wanita ini keluar dari ruangan ini!".


Boy mendekati Risya dan hendak menyeretnya keluar .


"Tunggu dulu Hanz aku masih  mau bicara denganmu"


"Apa lagi sih sya" ucap Hanzen dengan begitu jengah.


"Aku masih sangat mencintaimu Hanz, aku mohon kembalilah padaku Hanz, aku janji tidak akan mengulangi lagi kesalahanku yang dulu" ucap  Risya dengan nada yang begitu memelas pada Hanzen.


"Tapi aku tidak bisa Sya!  harus berapa kali aku katakan padamu aku tidak bisa lagi menerimamu kembali !"


Mendengar jawaban Hanzen membuat Risya tambah semakin mendekat padanya.


"Aku mohon Hanz beri aku kesempatan satu kali lagi"


"Boy !" Hanzen berteriak pada asistennya itu untuk segera mengeleuarkan Risya dari ruangannya itu.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut Hanz dariku!" gumamnya sambil terus berjalan keluar dari ruangan presdir tersebut.


Setelah kepergian tamu tidak diundang itu Hanzen kembali melanjutkan pekerjaannya.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2