Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Suku Bajau


__ADS_3

Selamat pagi dunia, selamat pagi juga Suna, aku sangat merindukan mu. Semalam, kami semua hampir tidak percaya bahwa Regina sudah tidak ada dan meninggal secara mengenaskan, hari ini kami berlima akan kerumah duka, tempat kediaman Regina sambil menunggu orang tua nya dari Manado datang.


Kriiiiiinnggggg... Kriiiiinnnnggggg...


Riska menghubungi ku.


"Yaaa Ris, kenapa?"


"Ohh oke"


"Yaudah iya"


"Gue preapare dulu ya"


"Oke"


"Pokonya gue sampai sana harus udah rapih ya, jadi bisa langsung jalan. Gue gak mau nunggu lu dandan"


"Hahahaha iya bawel"


"Bye..."


Aku pun bergegas pergi ke kamar mandi dan bersiap untuk pergi menjemput Riska.


***


Aku tiba di depan rumah Riska, aku coba chat dia dan mengatakan jika aku sudah sampai di depan rumah nya, dan tidak lama kemudian Riska pun membalas chat ku dan menyuruh ku masuk, karena dia masih bersiap dan kata nya sebentar lagi selesai.


Aku pun masuk kerumah nya yang besar itu, terlihat security menyapaku dengan sopan, kemudian dia mengantar ku masuk, saat tiba di bibir pintu, aku di sambut oleh asisten rumah tangga nya yang jika di lihat belum begitu tua, tapi karna penampilan nya yang sederhana dia jadi terlihat tua.


"Wow... Ini seperti masuk ke dalam istana, di mana-mana ada penjaga nya!" Kagum ku dalam hati.


"Silahkan masuk den, tunggu sebentar sedikit lagi nyonya Riska selesai," Ucap wanita itu dengan logat jawa nya yang ramah.


"Iya bu terima kasih," Sahut ku.


"Tunggu disini den, silahkan duduk... Biar saya sampaikan ke nyonya kalau teman nya sudah datang, oia mau minum apa den?" Tanya wanita itu.


"Ehmmmm enggak usah repot-repot bu, terima kasih, kita mau langsung pergi kok," Jawab sambil tersenyum.


"Serius den mau minum apa? Teh, kopi atau es sirup? Nyonya masih lama loh den, kira-kira 10-20 menitan lagi den, soalnya tadi saya baru lihat dia selesai mandi, maklum den anak perawan," Ucap wanita itu sambil tertawa.


"Hah, baru selesai mandi?" Tanya ku kaget.


"Iya den, makanya mau minum apa biar sekalian mbok buatin den," Jawab wanita itu.


"Aduh jadi ngerepotin deh bu, maaf yaa," Sahut ku, "apa aja boleh bu, sebelum nya terima kasih ya."


"Gak usah sungkan-sungkan den, tunggu sebentar ya!" Ucap wanita itu.


"Iya maaf ngerepotin ya bu," Ucap ku sambil tersenyum.


Akhirnya wanita itu pergi, dan kenapa sofa ini terasa nyaman sekali, mungkin jika tidak ada orang aku bisa tertidur pulas disini.


Luar biasa besar nya rumah ini, terlihat isi dari rumah ini juga berkelas, banyak sekali lukisan-lukisan besar di dinding nya, kemudian foto keluarga mereka.


Ternyata Riska anak tunggal, terlihat dari foto keluarga hanya ada bertiga.


Lalu ada lemari kaca berisikan keramik-keramik seperti gelas, mangkuk, dan piring, ada empat lemari di setiap sudut rumah nya yang tertata rapih.


Seperti nya ini adalah koleksi ibu nya Riska.


Kemudian mataku tertuju ke suatu lemari, dan memang itu lemari untuk menaruh barang koleksi, disana ada piring dengan posisi di tegak kan, dan itu terbuat dari perunggu atau tembaga, entah lah. Warna nya kuning ke coklatan dan ada ukiran di setiap sisi nya, ini nampak seperti artefak.


Aku mulai berdiri dan melihat nya dari dekat, ternya benar dugaan ku, ini adalah benda bersejarah. Ukiran nya seperti membentuk kata-kata, tapi aku tidak bisa membaca tulisan nya, karena tulisan nya sangat asing di mata ku.


Spontan tangan ku pun tergerak untuk menyentuh nya.


"Bagus ya ndok? Itu piring dari Suku Bajau Kalimantan Selatan, menurut ahli benda itu sudah ada dari tahun 1700an."


Ucap wanita cantik yang baru saja turun dari tangga.


"Ohh iya bagus tan, maaf ya saya lancang tan," Jawab ku panik.


"Tidak masalah ndok, benda itu memang selalu jadi daya tarik para tamu loh," Ucap wanita itu dengan sombong.


"Iya tan, ini menarik banget loh, apalagi untuk orang yang tertarik sama sejarah," Jawab ku.


"Iya ndok, ini salah satu warisan keluarga papa nya Riska," Ucap wanita itu

__ADS_1


"Benda ini memang pantas di katakan sebagai warisan tan, nilai nya pasti tak terhingga, jika di lihat dari history nya," Jawab ku sambil memuji.


"Kamu bisa aja ndok," Ucap nya sambil tersenyum.


"Kalau boleh tahu tan, ukiran ini dari bahasa apa ya dan arti nya apa?" Tanyaku sambil menunjuk ke benda itu


"Ohh papa nya Riska bilang sih itu bahasa Filipina ndok, dan untuk artinya kami tidak tahu, karena bisa di bilang ini adalah tulisan Filipina kuno," Jawab wanita itu


"Pantas saja terlihat asing tan," Ucap ku kagum.


"Mungkin artinya semacam doa-doa atau pujian rasa syukur ke tuhan, tapi itu hanya dugaan saja ndok," Ucap wanita itu sambil tersenyum.


"Kalau tidak salah, suku Bajau asli itu memang keterunan orang Filipina ya tan?" Tanya ku.


"Iya betul sekali, ternyata kamu tahu banyak tentang sejarah ya," Jawab wanita itu dengan antusias.


Kemudian Riska turun dan dia terlihat sangat cantik sekali, dengan dress hitam yang ia kenakan membuat nya terlihat lebih cantik lagi.


"Kalian udah ngobrol?" Tanya Riska.


"Kamu lama banget Ris, kasihan teman mu ini loh menunggu sudah lama," Sahut wanita itu.


"Enghh tidak masalah kok tan," Ucap ku sambil tersenyum.


"Dav kenalin ini mama aku, maa kenalin ini Davie," Ucap Riska mengenalkan mama nya.


"Oh jadi ini yang kamu ceritakan terus Ris?" Ucap mamanya Riska.


"Ssssttt... Mama apa-apaan sih!" Sahut Riska.


"Hai tan, saya Davie, maaf ya dari tadi ngobrol tapi lupa memperkenalkan diri," Ucap ku.


"Gak apa-apa ndok, tante juga tak sadar karena sangking seru nya obrolan kita tadi," Jawab mama nya Riska.


"Ayo Dav, udah jam berapa nih, nanti kita terlambat!" Ucap Riska.


"Tan saya pamit ya, izin ajak Riska pergi keluar ya," Ucap ku.


"Iya ndok hati-hati, di jaga ya Riska nya, kamu juga harus sabar menghadapi Riska," Ledek mama nya Riska.


"Ihh mama apa sih," Ucap Riska yang terlihat kesal.


Kriiinggg... Kriiiinnnggg...


Ada panggilan masuk dari Novi.


"Ris tolong angkat dong, bilang lagi di jalan," Ucap ku sambil memberikan handphone ku pada Riska.


Kemudian Riska pun mengangkat telpon nya.


"Halo..."


"Ini Aku Riska Nov, kenapa?"


"Ohhh Davie lagi nyetir Nov, iya kita lagi di jalan mau ke tempat nya Regina."


"Ohhh yaudah, tunggu ya Nov!"


"Oke, bye."


"Novi kenapa?" Tanyaku.


"Dia mau bareng ke tempat Regina, katanya searah lewat apart nya dia," Jawab Riska.


"Ohhh yaudah, dia udah rapih belum, gue gak mau ya kalau harus nunggu lagi," Ucap ku.


"Kamu nyindir aku ya? Yaudah sih maaf, baru nunggu gitu aja udah di ungkit-ungkit," Jawab Riska dengan wajah cemberut.


"Dih ngambek, orang cuma becanda,"


Ucap ku sambil tertawa.


"Gak lucu Dav becanda nya! Si Novi ngechat nih, di bilang udah di pintu masuk timur," Ucap Riska jutek.


"Ohh oke siap bos," Jawab ku.


Kami pun hampir tiba untuk menjemput Novi, dan wajah Riska terlihat jutek sekali, tidak seperti biasa nya.


"Ris..."

__ADS_1


"Riss..."


"Risss..."


"Riska jawab..."


Panggil ku berkali-kali tapi tidak di jawab oleh nya.


"Kenapa?" Jawab Riska sinis.


"Lo kenapa, ngambek ya?" Tanya ku.


"Enggak!" Jawab Riska singkat.


"Maaf yaa maaf, tadi becanda doang kok," Ucap ku.


"Hmmm iya gak apa-apa," Jawab Riska tanpa menoleh ke arah ku.


"Riska, jangan ngambek dong," Bujuk ku.


"Enggak Davie, gue baik-baik aja!" Jawab Riska dengan nada tinggi.


"Gue boleh jujur ga?" Tanya ku.


"Apa?" Jawab Riska jutek.


"Hari ini lo cantik," Ucap ku sambil melihat ke arah Riska.


"Gombal," Jawab Riska singkat.


"Yang niat nya marah-marah karena nunggu lama, jadi ga bisa marah, pas melihat lo cantik kaya gini," Ucap ku.


"Lo bisa diem gak Dav, atau gua hajar mulut lo!" Sahut Riska.


"Jangan, nanti dandanan lo berantakan, terus gak cantik lagi deh," Ucap ku sambil tersenyum.


"I don't care!" Jawab Riska.


Akhirnya kami pun sampai di tempat Novi menunggu, Novi pun masuk dan kita melanjutkan perjalanan ke rumah Regina.


"Ehmm ehmm... Suasana nya lagi gak enak banget?" Tanya Novi


"Ga enak gimana sih Nov?" Tanya ku


"Yaa enggak enak aja, gue ganggu ya?"


Ucap Novi sambil bertanya


"Gak ganggu kok Nov, malah aku seneng ada kamu" Jawab Riska


"Kalian kenapa sih, berantem ya?" Tanya Novi.


"Enggak kenapa-kenapa Novi," Jawab Riska.


"Biasa Nov ada yang lagi ngambek," Ledek ku.


"Ohh ngambek, kamu lagi ngambek Ris?"


Tanya Novi.


"Enggak kok, jangan dengerin dia"


Jawab Riska


"Kalian berdua cocok deh kayanya,"Ledek Novi.


"Gue sih cocok-cocok aja Nov, tapi gak tau kalau dia," Jawab ku sambil tersenyum.


"Apaan sih Dav, gak lucu!" Ucap Riska dengan nada tinggi.


"Wah kelihatan nya sebentar lagi Davie bakal jadi korban campak nih," Sahut Novi.


"Korban campak apa tuh Nov? Tanya ku


"Korban di campakan!" Ledek Novi sambil tertawa.


Kami pun tertawa dan Riska terlihat sudah bisa tersenyum lagi, dan senyum nya yang manis dengan lesung pipi nya, dan aku pun baru tersadar, kalau aku tak pernah bosan melihat senyum nya.


•••

__ADS_1


__ADS_2