
Malam semakin larut, sudah 30 menit berlalu Satria tertidur karena menahan rasa sakit nya, kami di luar pun harap-harap cemas akan kondisi Satria.
"Dav, kalau misalkan aku meninggal apakah kamu akan sama sedih nya, saat kehilangan Suna?" Tanya Riska tiba-tiba.
"Ehh, kamu ngomong apa sih, gak boleh ngomong gitu!" Jawab ku tegas.
"Jawab sayang..." Ucap Riska manja.
"Hmmm, pastinya aku akan lebih merasa kehilangan," Jawab ku dengan sedikit senyuman.
"Aku takut, takut berpisah dengan mu," Ucap Riska lirih sambil menyandarkan kepala nya di bahu ku.
Aku pun tak bisa membalas perkataan nya, dan hanya mengelus kepala nya, kedua tangan Riska pun mulai memeluk ku dengan posisi menyamping, yang tentu saja membuat ku kesulitan melihat wajah nya.
"Enak ya, dingin-dingin pelukan," Ledek Novi yang tiba-tiba duduk di samping Riska.
Riska mengangkat kepala nya dan melepaskan pelukan nya, aku melihat mata Riska sudah berkaca-kaca dan saat ku perhatikan dia pun menoleh ke arah Novi, seakan tak mau menunjukan rasa sedih nya.
Novi yang melihat ekspresi Riska pun langsung merangkul nya, dan berkata, "Semua akan baik-baik saja Ris."
"Tapi aku takut Nov," Bisik Riska.
"Sama, aku juga takut... Tapi aku percaya kalau teman-teman ku akan melindungi ku," Balas Novi dengan sedikit senyuman.
Mendengar itu, Riska mulai tenang dan sudah bisa tersenyum. Aku yang melihat Riska tersenyum seperti itu, merasa terbuai tak ingin mengalihkan pandangan ku, bahkan untuk berkedip saja aku tak rela.
"Hei, lihat... Jagoan kita sudah bangun!" Teriak dokter itu sambil memapah Satria.
"Sorry guy's udah buat kalian khawatir," Ucap Satria sambil tersenyum menahan sakit.
Aku pun menghampiri Satria dan membantu memapah nya, ku tuntun dia sampai ke kursi yang sudah di sediakan pihak klinik. Achong menghampiri dokter ity, dan mereka berdua masuk ke dalam untuk mengurus biaya pengobatan nya, beruntung di sini ada Achong yang uang nya tak berseri.
Kami semua mengerubungi Satria, dan menanyakan keadaan nya, dia menjawab baik-baik saja, tapi percayalah Satria tidak pandai dalam berbohong.
"Sakit gak Sat rasanya terkena anak panah?" Tanya Riska.
"Sebenar nya, lebih sakit lihat lo jadian sama Davie," Jawab Satria sambil tertawa.
"Ihhhh... Serius!" Tegas Riska.
"Ya sakit lah Ris... Gak usah di tanya, harus nya lo bisa ngebayangin lah rasa nya," Ucap Satria, "tapi kalau boleh jujur, lebih sakit saat di jahit tadi."
"Tapi kamu termasuk hebat, bisa bertahan dengan racun selama itu," Sahut bu Paula.
"Apa, Racun?" Tanya Satria bingung.
"Iya, kata pak dokter anak panah itu beracun," Jawab bu Paula.
Sedang asyik mengobrol, Achong nampak nya sudah selesai dengan masalah biaya, dan terlihat dia membawa kantung pelastik warna putih, yang berisikan obat dan juga perban.
"Yuk cabut guy's!" Seru Achong.
Achong pun menghampiri Satria dan memapah nya, aku juga ikut membantu menuntun nya sampai ke mobil. Kali ini posisi nya berubah, Satria duduk di belakang dan Novi pindah ke depan.
Akhir nya kami berjalan menuju home stay yang jarak nya sudah tidak jauh lagi, dan perjalan kali ini cukup lancar-lancar saja. Tak ada obrolan serius dan juga candaan seperti biasa nya, kami berusaha setenang mungkin agar Satria bisa beristirahat di dalam mobil.
Waktu kini menunjukan pukul 23:24 WITA dan kami baru saja sampai ke home stay, Novi turun lebih dulu untuk membuka pagar dan juga membuka pintu rumah.
__ADS_1
"Sat, bangun Sat!" Ujar ku, "Udah sampai nih!"
Satria membuka mata nya dan langsung memegang luka nya dengan ekspresi kesakitan.
Mobil selesai di parkir, aku dan Achong pun memapah Satria sampai ke kamar dan Novi menyiapkan air mineral dan juga obat untuk Satria.
"Maaf ya, gue jadi ngerepotin kalian semua," Ucap Satrin.
Achonh menepuk dada Satria dan berkata, "Masih kaku aja lo Sat."
Satria tersenyum dan langsung meminum obat nya, lalu setelah itu dia merebahkan badan nya, dan menutup wajah nya dengan guling.
"Sorry guy's gue pengen sendiri dulu!" Ujar Satria.
Kami semua meninggal kan kamar dan menuju ke ruang tamu, untuk sekedar membahas acara kita nanti pagi.
"Ohh iya, bu Paula keluarga nya gak ada yang nyariin?" Tanya Riska.
"Enggak kok, aku tinggal sendiri di dekat kantor ku," Jawab bu Paula.
"Tapi bu Paula sudah mengabarkan suami nya kan?" Tanya Novi.
"Aku belum menikah, dan kalian jangan panggil aku ibu, mungkin usia kita hanya beda 3 tahun saja," Jawab bu Paula.
"Terus panggil apa?" Tanya Novi.
"Kalian boleh panggil nama ku saja," Jawab Paula sambik tersenyum.
Kita pun mengisi malam ini dengan obrolan-obrolan santai, tentang pengalam dan juga kejadian-kejadian lucu yang pernah kita alami. Walaupun pangkat nya tinggi, tapi Paula terlihat membaur dengan kami, dia menyampingkan jabatan nya dan menganggap kami sebagai teman nya.
"Ohh iya Nov, katanya ada seuatu yang ingin kamu sampaikan kepada ku," Ucap Paula.
"Iya Nov, lo mau bilang apa emang nya, gue juga penasaran jadi nya," Ucap ku.
"Kakak juga memiliki sixth sense kan?" Tanya Novi.
Paula pun terkejut dan menganggukan kepala nya, dan berkata, "Aku bisa merasakan keberadaan makhluk halus, tapi aku tidak bisa melihat nya karena sejak usia ku 17 tahun, mata batin ku sudah di tutup oleh Papa ku."
"Pantas saja..." Sahut Novi sambil menganggukan kepala nya.
"Pantas saja gimana Nov?" Tanya ku bingung.
"Bukan apa-apa, jangan terlalu di fikirkan," Jawab Novi sambil tertawa.
"Deerrrttttt... Derrrrttttt..." Handphone Paula bergetar.
Paula pun meminta izin untuk menerima panggilan telpon nya di luar, lalu dia berjalan dengan dahi yang mengerut.
"Dav aku ngantuk..." Ucap Riska manja.
"Yuaudah, kamu tidur sana Ris," Jawab ku sambil mengelus kepalanya.
"Aku takut," Sahut Riska.
"Stop, gak ada tidur sekamar ya!" Tegas Novi.
Riska pun cemberut, dan berkata, "Kenapa sih Nov, kita gak akan ngapa-ngapain kok."
__ADS_1
"Pokok nya gak boleh, titik!" Tegas Novi.
"Udah-udah, kalau kamu takut, kamu tidur di sini aja dulu, nanti biar aku yang pindahin kamu ke kamar," Sahut ku.
"Nah itu ide bagus," Ucap Novi.
Riska tak menjawab perkataan Novi, dan malah mengacuh kan nya. Kemudian dia pun langsung merebahkan badan nya, dan kepalanya di letakan di paha ku.
"Kaya gini, gak boleh juga?" Cetus Riska.
Novi pun tertawa, dan berkata, " Boleh kalo itu."
Achong pun hanya tersenyum dan menggelengkan kepala nya, kemudian Paula masuk kembali dan wajah nya terlihat serius kali ini.
"Ada apa kak?" Tanya Novi.
"Di temukan 9 mayat tanpa kepala di dekat bangunan tua yang berada di pasar," Jawab Paula sambil mengambil tas dan juga jaket nya.
"Terus kamu mau kesana?" Tanya ku.
Paula hanya menganggukan kepala, dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka nya.
"Nov temenin Riska tidur di kamar, gue mau ikut Paula," Ucap ku.
"Ahhhh... Jangan pergi Dav," Sahut Riska sambil merengek.
"Sssssttt... Kamu tidur aja ya, siapa tahu aku bisa mendapatkan petunjuk lain nya," Ucap ku.
Riska pun bangun dan memeluk ku, kemudian berbisik, "Jangan gegabah ya Dav."
Riska melepaskan pelukan nya dan aku menganggukan kepala ku, kemudian Riska meneteskan air mata dan mencium pipi ku. Aku pun lagi-lagi di buat tak berdaya oleh nya, aku hanya bisa menatap mata nya yang sedang meneteskan air mata. Ingin mengusap nya saja tangan ini terasa berat sekali, tatapan sayu nya seakan berkata "jangan pergi."
Novi menghampiri kami dan dia merangkul Riska, kemudian mengusap air matanya.
"Ingat yang tadi ku katakan, kamu hanya perlu percaya!" Ujar Novi.
Riska menganggukan kepala nya dan memeluk Novi, sambil berkata, "Aku percaya."
"Cong, titip mereka semua ya!" Ujar ku.
"Oke, serahin sama gue Dav... HT lo jangan lupa di bawa!" Sahut Achong.
Paula pun sudah selesai merapih kan diri, dan berkata, "Aku boleh pinjam kendaraan?"
"Gak perlu, biar aku yang mengantar mu," Sahut ku.
"Jangan repot-repot Dav, kamu istirahat aja!" Ujar Paula.
"Mana bisa ku biarkan, wanita tengah malam mengendarai mobil," Ucap ku sambil tersenyum.
Riska yang mendengar itu pun langsung mencubit pinggang ku, dan itu rasanya sakit sekali dan sedikit geli.
"Jangan genit!" Geram Riska.
Mereka semua menertawakan ku, dan aku pun pergi bersama paula ke TKP.
"Pertanyaan ku hanya satu, apakah komunitas itu sudah mulai menjalankan rencana nya mengumpulkan 666 kepala manusia."
__ADS_1
......................