
Ini adalah awal kemenangan bagi kami, sebuah awal untuk mengakhiri mimpi buruk ini. Sejauh ini rencana dadakan yang di buat Satria masih berjalan lancar-lancar saja, rasa percaya diri kami pun meningkat begitu saja berkat Satria.
"Cepat Lari!" Bentak Paula sambil mendorong tawanan kami.
Orang-orang berjubah itu tidak mengejar kami, melainkan hanya berdiri di depan pintu saja, aneh. Mungkin mereka sedang kesal membaca tulisan yang di buat oleh Satria.
Aku membayangkan wajah kesal mereka di balik topeng tanpa ekspresi itu, pasti lucu sekali.
Bbooooommmmm...
Suara ledakan dari gedung tua itu.
Bbooommm... Bbooommmm...
Kemudian di susul dengan ledakan ke dua dan ketiga. Asap bercampur debu menutupi bangunan itu, dan tak lama kemudian bangunan tua itu runtuh dan terdengar suara teriakan dari bangunan itu.
"Astaga... Sekuat itu ledakan nya?" Tanya ku pada Paula.
"Asal kamu tau ya, dinamit itu bisa melubangi gunung!" Jawab Paula.
"Benda berbahaya seperti itu, kenapa legal?" Tanya ku bingung.
"Legal jika ada surat izin nya, jadu bisa di katakan legal tapi tidak sembarangan," Jawab Paula sambil berlari menuntun tawanan.
Para pengunjung pasar yang di dekat lokasi pun berhamburan, panik, dan berteriak. Tentu saja membuat kami susah berlari melewati mereka, tapi untung nya orang-orang berjubah hitam itu tidak ada yang mengejar dan mereka tertimbun bangunan tua. Aku berharap korban nya lebih banyak dari jumlah Polisi yang tadi malam menjadi korban.
Hari ke 2 kami di Kalimantan membuahkan hasil, kami mampu menyerang balik dan menghancurkan salah satu markas komunitas topeng tanpa ekspresi.
Setelah berhasil melewati kerumanan orang-orang panik, kami pun tiba di depan pasar dan langsung menuju ke mobil. Satria, Novi, dan Riska sudah ada di dalam mobil, dan ku lihat Riska sudah menyalakan mobil dan memegang kemudi. Saat aku sampai di mobil, Satria membuka kaca lalu berkata, "Paula cepat lapor ke kantor lo dan bilang kalau lo sama Davie yang ngelakuin ini!"
"Iya, kita pulang duluan membawa tawanan nya ke home stay," Sahut Novi.
"Chong bawa masuk tawanan nya!" Perintah Satria smabil membuka pintu mobil.
Achong pun langsung menarik tawanan wanita itu dan mendorong nya masuk ke dalam mobil, kemudian Satria menghampiri aku dan Paula.
"Paula, bilang kalau ini perbuatan lo dan untuk membalaskan dendam para korban semalam!" Ujar Satria.
"Kenapa aku?" Tanya Paula.
__ADS_1
"untuk membangkitkan kembali semangat para bawahan mu, karena pangkat mu tinggi, jika kau melakukan ini seorang diri, pasti anak buah mu akan optimis kembali," Jawab Satria.
Paula menganggukan kepala nya, dan mengambil handphone nya.
"Halo Pak Yadi," Sapa Paula yang sudah terhubung dengan rekan kerja nya.
"Pak Yadi, saya baru saja meledakan gedung tua yang jadi tempat pembantaian semalam."
"Cepat, bawa team kesini dan juga bawa team penyidik!"
"Oke, saya tunggu."
Paula pun mengakhiri panggilan nya dan berkata, "Yaudah, kalian duluan saja... Di sini biar aku yang urus!"
"Dav, jangan lama-lama ya!" Ujar Riska yang melongok dari kaca depan.
"Iya sayang..." Jawab ku.
Mereka pun akhirnya jalan dan meninggalkan ku dengan Paula, entah kenapa aku jadi sedikit segan dengan nya. Masih terbayang jelas betapa dingin nya dia membunuh satu persatu anggota sekte itu, aku rasa dia punya kelaiana jiwa.
"Kita mau tunggu di mana Dav?" Tanya Paula.
Aku pun berjalan menghampiri pohon yang rindang di depan pasar, karena matahari sudah mulai terasa menyengat. Paula mengikuti ku dari belakang, dan membuat ku selalu waspada padanya. Aku duduk bersandar di bawah pohon rindang itu dan menyalakan rokok, ku hembusakan asapnya dan kepalaku mulai ku sandarkan ke pohon itu.
Paual tiba-tiba duduk di sebelah ku, dan mengambil bungkus rokok ku.
"Kamu tau gak, suatu saat nanti kamu akan mati dengan racun yang kau hisap itu!" Ujar nya sambil melihat bungkus rokok ku.
"Ya gue tau kok, dan saat itu terjadi gue mau mati di pelukan orang yang gue cinta!" Ucap ku sambil tersenyum.
"Alah... Persetan dengan cinta!" Bantah Paula.
"Kenapa, ada masalah?" Tanya ku.
"Perbedaan cinta dan nafsu bagi cowok itu setipis rambut," Jawab Paula.
"Terus cinta menerut lo apa?" Tanya ku.
"Cinta bagiku luka!" Jawab Paula lirih.
__ADS_1
"Lo punya pengalaman buruk soal cinta?" Tanya ku sambil tersenyum.
"Yaaa... Sekali seumur hidupku, dan aku sudah kapok dengan cinta," Jawab Paula.
"Kalau arti cinta itu luka bagi lo, kalo buat gue cinta itu pelajaran," Ucap ku.
"Pelajaran apa, pelajaran meniduri wanita?" Sahut Paula.
"Dasar aneh..." Ledek ku.
"Cinta bagi gue pelajaran, pelajaran tentang menghindari luka!" Sambung ku.
"Maksudnya?" Tanya Paula bingung.
"Cari sendiri jawaban nya dengan cara lo mencitai seseorang," Jawab ku sambil tersenyum.
Paula menundukkan kepala nya, dan tanpa sadar tangan ku bergerak sendiri dan mengelus kepala nya.
"Aku takut jatuh lagi..." Ucap Paula lirih.
"Takut? Orang seperti lo, yang bisa menikam musuh tanpa perasaan, masih punya rasa takut?" Ledek ku.
"Luka bekas cinta itu membekas Dav, dan terasa sakit jika mengingat itu, aku takut..." Ucap Paula yang meneteskan air mata.
"Kalau misalkan tangan lo teriris pisau saat mengupas bawang, kemudian lo tutup dengan perban, maka luka lo akan lama keringnya. Tapi kalau lo obati, dan gak lo tutup, maka luka lo akan cepat kering. Memang benar bekas irisan nya akan membekas di jari lo, tapi jika luka lo sudah kering itu sudah gak terasa sakit," Ucap ku.
"Jadi buka aja luka lo, jangan di tutup-tutupi, biar cepat kering dan bisa mencitai seseorang lagi!" Tegas ku.
Paula menatap ku, dan mata nya berkaca-kaca, dan sikap nya aneh kali ini, aku jadi bingung.
Sedang asyik duduk di bawah pohon rindang, satu mobil Polisi pun datang dan memarkir mobil nya. Paula berdiri dan menyapa Polisi itu yang berjumlah 3 orang, dan menanyakan "mana yang lain" kepada salah satu Polisi itu.
Akhirnya dari kejauhan terlihat mobil Polisi berjejer, dan berjalan menuju ke sini. Jumlah nya mungkin ada 9 mobil Polisi dan 1 mobil ambulan sedang mengarah ke sini.
Aku sedikit lega melihat pemandangan itu, ku hembuska nafas dari mulut agar lebih relaks lagi. Paula sangat berwibawa jika berkempul dengan para Polisi, sosok kepemimpinan nya keluar begitu saja dengan sendiri nya.
"Seperti nya ada yang aneh dengan mental orang itu, dan kenapa aku selalu berfikir kalau dia memiliki kepribadian ganda."
......................
__ADS_1