Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Dissociative identity disorder


__ADS_3

20 menit yang lalu Riska menggila, membuat ku kewalahan. Sekarang dia tersungkur lemas tak berdaya di pelukanku, aku hanya bisa mengusap rambut halus nya dan memikirkan apa yang terjadi barusan.


Aku melihat ke arah jam dan ternyata sudah pukul 07:00 WITA. Matahari belum terbit sepenuhnya, terlihat dari gorden yang belum tembus sinar matahari pagi. Aku coba melepaskan pelukan Riska dan mengenakan pakaianku, aku melihat ke arah Riska dan dia masih tak bergerak.


Aku keluar kamar dan pergi ke dapur untuk mengambil minum, dan disana Novi sedang duduk di meja makan sendirian, ditemani secangkir teh dan roti bertabur meses.


"Udah bangun Nov," Ucapku menyapanya.


"Udah dari tadi Dav... Gimana enak?" Tanya Novi.


"Enak apanya?" Jawabku bingung.


"Tidur berdua sama pacar," Sahutnya sinis.


"Lebih nyenyak dari pada tidur sendiri," Ucapku sambil tersenyum.


Aku menyalakan kompor dan memasak air, ku buka satu persatu lemari mencari kopi instan yang biasa ku seduh.


"Nov kopi mana?" Tanyaku.


"Di lemari ketiga dari kiri, ada di dalam toples," Jawab Novi tanpa menoleh ke arahku.


Aku membuka lemari ketiga dan menurunkan toples yang di sebutkan Novi, air sudah mendidih, kopi instan pun sudah siap didalam cangkir putih. Aku menuangkan air panas dan aroma nya seolah membangkitkan tenagaku yang terkuras barusan.


"Sudah dapat kabar dari Satria?" Tanyaku.


"Sudah, Satria juga sudah memberi tahu kamar Paula di rawat," Jawabnya.


"Mau jam berapa kita kesana?" Tanyaku yang baru saja duduk dihadapan Novi.


"Sekitar jam 10 kita berangkat dari sini," Jawab Novi.


Aku menganggukan kepala dan menyalakan rokok, dari raut wajah Novi aku melihat kegelisahan yang mendalam, aku ingin bertanya tapi fikirannya masih melayang entah kemana.


"Davie..." Terdengar suara Riska memanggilku dengan manja.


"Dav... Kok aku ditinggal," Ucapnya dengan suara yang lebih keras.


Sosok Riska pun terlihat, dan dia terkejut melihat ada Novi di meja makan.


"Pagi, Ris..." Sapa Novi sambil tersenyum.


"Hai, pagi Nov." Sahut Riska.


"Kelihatannya kamu jadi lebih manja setelah tidur berdua," Ledek Novi.


"Ahhh apa sih kamu Nov, pagi-pagi udah ngejek orang aja," Sahut Riska sambil tersenyum.


Riska berjalan menghampiri lemari es dan mengambil susu, lalu dia mengambil gelas dan duduk di sebelahku. Riska mulai menuangkan susu kedalam gelas, sambil tersenyum.


Riska mengambil roti yang masih polos, dan mengolesi nya dengan mentega, kemudian dia menaburkan meses ke atas roti yang sudah dilapisi mentega.


"Kamu mau Dav?" Tanya Riska.

__ADS_1


Aku menganggukkan kepala sambil menghembuskan asap rokok.


"Dav, lo yakin kita bisa membubarkan sekte itu, dan memenjarakan anggotanya?" Tanya Novi.


"Selama ada kalian, gue yakin kita bisa!" Jawabku


"Mereka itu kejam Dav, dan tak segan-segan membunuh manusia," Bantah Novi.


"Ya memang mereka kejam, tapi di pihak kita ada yang lebih kejam dari orang-orang itu," Ucapku sambil mematikan rokok.


"Siapa Dav?" Sahut Riska.


"Paula!" Jawabku, "untung dia berada di pihak kita."


"Gue gak percaya, lagi pula dia polisi!" Ujar Novi sambil menggelengkan kepalanya.


"Lo tau gimana caranya gue dapat sandra itu?" Ucapku.


Novi mengangkat kedua pundaknya dan menggelengkan kepalanya.


"Sandra itu gue temuin lagi tidur berlima di suatu kamar, dan Paula menikam tanpa ragu keempat orang itu sampai tewas," Ucapku.


"Gak mungkin, kamu pasti bohong!" Sahut Riska.


"Memangnya ada cara lain menangkap satu orang yang sedang kumpul?" Tanyaku.


Riska pun terdiam, dan Novi terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Orang itu gila, dan firasatku mengatakan dia itu mempunyai kepribadian ganda!" Ujarku.


"Gak mungkin, Dissociative identity disorder atau DID itu sangat langka dan terdengar seperti mitos," Sahut Riska.


"Lalu kenapa dia bisa berubah kepribadian semudah itu, kadang dia sadis, kadang dia ramah, dan kadang juga sifatnya seperti anak kecil," Ucapku.


"Dalam catatan sejarah medis memang sedikit yang mengidap DID, tapi ada suatu gangguan jiwa yang di sebut bipolar, banyak orang awam yang memgatakan bipolar itu adalah kepribadian ganda, padahal jelas-jelas itu berbeda," Ucap Riska.


"Apa itu bipolar?" Tanyaku bingung.


"Bipolar itu gangguan pada perubahan suasana hati, mulai dari depresif sampai ke posisi paling tinggi atau di sebut manik, jadi bisa di simpulkan itu seperti menanggapi mood yang terlalu berlebihan," Jawab Riska.


"Sepertinya berbeda dengan yang di alamai Paula, aku lihat sendiri perubahannya, dan aku merasakan sosok yang berbeda setiap kali dia mengganti kepribadian nya!" Ucapku yang tak setuju dengan Riska.


"Sayangnya aku tak bisa melihat itu, tapi kalau dia kesurupan aku bisa melihatnya!" Ujar Novi sambil tertawa.


"Kita harus waspada dan tetap bersikap biasa saja kepada Paula, sampai aku menemukan jawaban, apakah dia benar-benar mempunyai kepribadian ganda atau tidak," Ucapku.


"Iya aku setuju, dan semoga saja firasatmu salah kali ini Dav," Sahut Riska.


"Iya semoga saja salah!" Ujarku.


"Mendengar ucapan kalian berdua membuat gue gerah, dan rasanya mau berendam di bathup!" Ujar Novi.


Novi pun selesai sarapannya dan menuju ke kamar mandi, roti Riska masih utuh karena sedari tadi dia fokus dengan obrolan tentang Paula. Setelah Novi pergi, dia baru memakan rotinya, dan aku menemaninya sambil memandang wajah yang tak pernah membosankan jika di pandang.

__ADS_1


Kriiiinnngggg... Kriiiinnngggg...


Handphone ku berdering dan itu panggilan dari Satria.


"Halo Sat, kenapa?" Tanyaku via telpon.


"Gak... Gak ada Achong disini!"


"Hmmmm... Mungkin lagi beli sarapan kali Sat."


"Nanti jam 9 gue berangkat kesana!"


"Oke..."


Satria menutup telponnya, dan Riska mulai bertanya, "Ada apa?"


"Si Achong gak ada di rumah sakit," Jawabku.


"Kok bisa?" Tanya Riska.


"Yaaa mana aku tahu... Mungkin dia sedang beli sarapan," Ucapku.


Riska pun terdiam dan melanjutkan memakan rotinya, aku menyalakan rokok lagi sambil menunggu Riska selesai sarapan.


"Ngerokok aja terus!" Tegas Riska.


"Baru dua sayang..." Jawabku sambil menghembuskan asap rokok.


"Baru bangun tidur aja udah dua, terus sampai nanti malam mau kamu hisap berapa batang?" Tanya Riska.


"Ku usahakan sedikit mungkin, agar tidak kehilangan senyum manismu," Jawabku.


"Aku gak mempan di gombalin sama pria yang sedang ngerokok!" Ujar Riska.


"Siapa yang gombal, aku sedang memberikan informasi kepadamu," Ucapku sambil tertawa.


"Aku gak butuh, informasi dari perokok!" Tegas Riska.


Kemudian aku mendekatkan wajahku ke telinga Riska, dan berbisik tepat di telinga nya, "Cepat habiskan sarapanmu, agar aku bisa mematikan rokok ini!"


Riska pun melirik ke arahku dengan tatapan sinis dan meletakan roti yang di pegangnya, lalu dia mengambil susu yang tinggal setengah dan meminumnya sampai habis.


"Udah, aku udah selesai sarapannya!" Ujar Riska.


Aku pun mematikan rokok sambil tersenyum dan berkata, "Aku juga sudah selesai ngerokoknya."


Riska menghiraukan ku dan membereskan piring yang ada di meja makan, lalu dia juga langsung mencuci piring itu. Aku berjalan pelan menghampirinya dan memeluknya dari belakang, kemudian ku tempelkan daguku ke bahunya. Riska pun menggerakan bahunya kebawah, sebagai tanda tak ingin daguku berada di bahunya, tapi aku tak mau melepaskan nya begitu saja.


"Kalau sudah selesai cuci piringnya, gimana kalau kita mandi bareng?" Bisikku tepat di telinganya.


Riska berhenti menggerakan tangannya yang sedang mencuci piring, dan kemudian menoleh ke arahku.


"Siapa takut!" Jawab nya sambil tersenyum.

__ADS_1


Aku membalas senyumannya dan mencium pipinya. Aku juga melepaskan pelukanku agar dia cepat menyelesaikan tugasnya itu.


"Dalam satu minggu ini aku harus bisa lebih mencintainya daripada Suna."


__ADS_2