
"Selamat datang kembali bu komisaris," Sambut polisi yang ada di dalam ruangan.
Kedua orang itu menuju ke ruangan khsus dan mengajak kami semua masuk ke dalam ruangan nya, ketika sampai dalam ruangan kedua orang itu membuka jubah nya, dan dia mengenakan kaos polisi.
Wanita itu pun menghampiri meja yang ada ornament dari kayu yang bertulis kan "Paula Agustine"
"Bu komisaris, saya izin kembali ke tempat saya," Ucap Pria yang sudah melepaskan jubah nya.
Wanita yang sudah duduk itu pun menganggukan kepala dan mengizinkan pria itu pergi.
"Perkenalkan nama saya, Paula Agustine dan saya adalah komisaris polisi (KOMPOL) di sini, dan saya sedang menyelidiki aliran sesat itu," Ucap wanita itu.
"Jadi bu Paula bisa di bilang kapolsek sini?" Tanya Achong.
Bu Paula pun menganggukan kepala nya dan dan berkata, "Coba perkenalkan diri kalian satu persatu."
Mereka pun memperkenal kan diri masing-masing, aku merasa bersyukur ternyata dia adalah seorang polisi, bahkan orang itu menjabat sebagai kepala polisi sektor.
"Pertama saya ingin memberi tahu kalian semua, bahwa ini tidak mudah dan sangat berbahaya!" Ujar bu Paula.
"Tapi bu, kita ingin ikut andil dalam menyelesikan kasus ini!" Sahut Davie.
"Saya mengerti perasaan kalian, tapi ini sangat berbahaya, saking bahaya nya kamu tahu berapa banyak polisi yang meninggal karena menyamar untuk penyidikan ini?" Tanya bu Paula.
Kami semua kompak menjawab "tidak tahu."
"Sudah hampir 100 orang, maka dari itu saya langsung terjun ke lapangan dan baru saja kami menemukan markas nya, tapi kalian malah mengacaukan nya!" Ujar bu Paula.
"Ibu salah, itu bukan markas nya, hanya tempat berkumpul para anggota nya saja, tapi para petinggi komunitas itu tidak ada di situ!" Sahut Satria.
"Berapa banyak informasi yang kalian tahu?" Tanya bu Paula.
"Cukup banyak... Kita hanya tinggal mencari bukti-bukti saja agar mereka bisa di bubarkan, dan di proses secara hukum!" Jawab Satria.
"Jadi bagaimana?" Tanya ku.
"Bagaimana apa nya?" Jawab bu Paula.
"Bagaimana kalau kalian membantu kami!" Sahut Satria dengan senyum dan alis yang terangkat.
__ADS_1
"Jangan, ini terlalu berbahaya!" Ujar bu Paula.
"Ayolah... Kita hanya mencari bukti-bukti saja, sisa nya kita serahkan pada kalian," Ucap Satria.
"Jika kalian memaksa dan terjadi sesuatu yang berkaitan dengan nyawa kalian, itu bukan tanggung jawab kami," Tegas bu Paula.
"Oke, tapi izinkan kami ikut serta dalam kasus ini!" Ujar ku.
Kami pun lanjut berbicara tentang komunitas itu dan penyebaran anggota nya, ternyata anggota nya tidak lah seditkit dan tersebar di Kalimantan, kami pun menceritakan tentang informasi yang Regina berikan, tentang hari kebangkitan iblis Micthlan.
"Saya gak habis pikir bu, seorang komisaris percaya dengan hal ini," Ucap ku.
"Jika saya lahir dan besar di Jakarta, mungkin saya tak akan percaya dengan hal ini, tapi kenyataan nya saya lahir dan besar di Kalimantan, dari kecil saya melihat hal-hal dan kejadian yang tak masuk akal!" Ujar bu Paula.
"Kebanyakan polisi daerrah itu masih percaya kalau sihir hitam seperti santet itu ada, dan itu adalah sebuah kejahatan," Sahut Achong.
"Kamu tahu banyak ya, tentang kepolisian?" Tanya bu Paula.
"Tidak banyak, aku hanya tertarik dengan dunia kepolisian dan juga dunia militer," Jawab Achong.
"Jadi sekarang gimana, kita lanjut eksplore atau kembali ke homestay?" Tanya Novi.
"Altar?" Tanya ku.
"Iya betul, semalam aku dan Davie mencari kebaradan altar itu, dari cerita-cerita Davie, ada satu tempat yang aku curigai sebagai altar mereka," Jawab Satria.
"Ini baru dugaan kalian aja kan?" Tanya Novi.
"Iya, tapi ga ada salah nya kita cek Nov," Jawab ku.
Suasana pun jadi hening seketika, terlihat mereka sedang berfikir dan meyakinkan diri untuk pergi ke tempat persembahan komunitas itu.
"Jadi gimana?" Tanya ku.
Akhir nya mereka semua menyetujui untuk melihat dan memastikan bahwa tempat itu adalah tempat persembahan nya, tidak untuk melangkah lebih jauh lagi, karena belum ada persiapan.
"Saya ikut!" Ujar bu Paula.
Kami pun terkejut dan melihat ke arah bu Paula.
__ADS_1
"Boleh aja, tapi saran saya ibu ganti baju deh, agar tidak terlalu mencolok!" Ujar Satria.
Bu Paula menganggukan kepala nya dan setuju untuk mengganti pakaian nya, kami pun menunggu beliau mengganti pakaian nya dan membicarakan tentang gedung tua yang berada di pasar tadi, karena Satria merasa ada yang janggal di sana.
"Dugaan gue aja, atau kalian juga ngerasa?" Tanya Satria.
"Apa, kaya nya ada yang sama bangunan tua itu Sat," Jawab ku.
"Menurut gue, mereka itu lagi mencari tumbal dalam skala besar!" Ujar Satria.
Kami semua terkejut mendengar ucapan Satria, dan aku pun bertanya, "Maksud nya gimana?"
"Pertama itu adalah pasar, sudah pasti ramai pengunjung, jika mereka menculik satu persatu tidak ada yang sadar!" Ucap Satria.
"Kedua, kalian bisa lihat dari jumlah mereka yang mengejar kita, itu mungkin hanya sebagian kecil dan pasti ada salah satu anggota eksekutif mereka di sana!" Sambung Satria.
"Terlalu bahaya kalau menerobos ke sana Sat," Sahut Achong.
"Yaps betul banget Chong, tapi beda cerita kalau kalau kita lebih pintar dari mereka!" Ujar Satria.
"Gue suka nih, kalau Satria udah pake otak," Ucap ku.
"Emang nya lo, gak pernah pake otak kalau mau bertindak!" Sahut Satria.
"Dav aku ngantuk," Ucap Riska sambil menyandarkan kepala nya di bahu ku.
Sebenar nya ku tak tega mengajak nya ikut ke sini, tapi apa boleh buat, dia yang memaksa ikut dan jika ku larang dia pasti tak akan merubah keputusan nya.
Bu Paula pun sudah selesai mengganti pakaian dan hanya terlihat cantik sekali, dengan jaket berwarna kuning dan bawahan jeans ketat membuat nya tidak seperti seorang Komisaris Polisi (KOMPOL).
"Kita lanjut obrolan di dalam mobil saja, jujur gue butuh masukan juga dari bu Paula," Ucap Satria sambil Tersenyum.
Kami pun akhir nya berangkat dan menuju tempat yang di duga sebagai tempat persembahan komunitas itu, di dalam mobil pun Riska tertidur pulas di bahu ku, dengan posisi tangan nya yang menyilang di tangan ku, membuat ku tak bisa banyak bergerak, dan ingin selalu menjaga nya seperti ini.
"Satria, kamu yakin ini jalan nya?" Tanya bu Paula.
Satria yang duduk di kursi depan sebelah Achong yang sedang mengemudi pun menganggukan kepala nya dengan tenang. Satria juga bercerita tentang bangunan tua di pasar tadi, yang menurut nya ada yang janggal.
......................
__ADS_1