
Setalah 45 menit perjalanan, kami pun sampai di pasar tradisional itu, dan seperti biasa ramai sekali pengunjung nya. Padahal semalam ada pembantaian di sini, tapi mereka semua seakan tak perduli layaknya tak terjadi apa-apa.
"Kalian sudah siap?" Tanya Satria sebelum turun dari mobil.
Kami semua menganggukan kepala, dan memeriksa lagi persiapan untuk menjalankan rencana ini.
"Ingat saat kita sudah masuk ke dalam bangunan tua itu, Davie dan Paula langsung naik ke lantai 2 dan buat onar di sana!" Ucap Satria.
"Siap!" Jawab ku kompak dengan Paula.
"Achong cover Davie dan Paula dari belakang, dan jangan biarkan orang yang ada di bawah naik ke lantai dua," Ucap Satria.
Achong menganggukan kepala nya menandakan dia mengerti dan siap menjalankan tugas nya.
"Riska jaga pintu depan, dan Novi ikutin gue!" Ujar Satria.
"Lo mau ngapain?" Tanya Achong.
"Kalian lakukan saja apa yang tadi ku bilanh, dan jika ada sesuatu langsun informasikan lewat HT," Ucap Satria.
Kami akhirnya turun dari mobil, dan langsung menuju ke bangunan tua itu. Mereka melangkah dengan cepat dan juga waspada pada sekitar, menerebos lalu-lalang para pengunjung pasar tak membuat langkah mereka melambat.
Bangunan tua itu sudah terlihat dan aneh nya tidak ada garis Polisi, dan sudah bersih tidak ada bekas darah di sana "cukup rapih juga mereka." Wajah paula juga nampak bingung melihat TKP yang sudah bersih.
"Kalian bisa sembunyikan jejak dari Polisi, tapi kalian gak bisa sembunyikan itu sama gue!" Gumam Satria.
"Sumpah tadi malam, banyak mayat di sini!" Sahut Paula.
"Jika tebakan gue benar, mayat itu seharusnya masih ada, dan gue tau mereka menyembunyikan di mana!"Ujar Satria.
"Bagus kita bisa bawa jasad itu," Sahut Paula.
"Rencana kita bukan itu, dan tak ada hubungan nya dengan itu!" Tegas Satria.
"Guy's kalian siap?" Tanya ku saat tiba di depan gedung tua itu.
Aku dan Paula pun masuk dan sudah siap mengeluarkan pistol, lalu Achong mengikuti kita dari belakang dan menjaga kita dari titik yang tak terlihag oleh kita berdua.
Banyak sekali ruangan yang tertutup dan membuat ku penasaran ingin membukanya dan memeriksanya, tapi tugas ku buka itu. Aku mencoba untuk mengikuti apa yang di perintah kan Satria. Aku dan Paula menaiki anak tangga satu persatu dengan hati-hati tanpa ada suara dari langkah kaki kami berdua, lalu Achong menjaga ku dan Paula di bawah tangga.
"Gelap sekali di sini," Bisik ku.
"Sssssstttt... Jangan berisik!" Sahut Paula.
"Kalau gue membunuh mereka apakah gue akan di penjara?" Tanya ku.
"Tentu tidak lah," Jawab Paula.
Kami berdua pun jalan mengendap-endap menuju ke sebuah kamar yang pintu nya terdapat banyak sekali ukiran, dan ketika sudah ada di depan pintu Paula memegang gagang pintu itu dan mencoba membuka nya.
Ceekleeekkkk...
Pintunya tidak terkunci rupa nya, Paula pun melirik ku dan memberikan kode untuk masuk perlahan ke dalam kamar itu. Paula membuka pintu nya perlahan kemudian masuk ke dalam, dan aku mengikutinya di belakang. Ternyata ada 5 orang yang tidur di atas kasur, satu laki-laki dan 4 perempuan, posisi nya si laki-laki itu berada di tengah-tengah para wanita itu.
"Sepertinya mereka habis berpesta," Bisik Paula.
Ku lihat di lantai berserakan jubah berwarna hitam dan juga pakaian dalam wanita.
"Puala, di balik selimut itu mereka semua tidak berbusann--"
Jreeeebbbb...
Ucapan ku barusan terpotong karena terkejut melihat Paula yang langsung menikam leher pria yang sedang tertidur itu, seperti nya pria itu langsung meninggal sebelum dia bangun dari tidur nya.
Wanita yang persis di sebelah kanan pria itu pun membuka mata nya karena merasa tak nyaman dengan darah yang sudah membanjiri tempat tidur. Tanpa aba-aba Paula langsung menutup wajah wanita itu dengan bantal, dan menekan nya.
"Cara kuno membunuh orang!" Ucap Paula sambil tersenyum.
Jreeeeppp... Jreeppppp...
Dua tusukan mendarat tepat di leher wanita yang sedang di sekap bantal oleh Paula, wajah Paula tampak berseri-seri dan senyuman nya semakin lebar. Kemudian Paula langsung menikam wanita yang masih tertidur pulas, di sebelah wanita yang di sekap bantal oleh nya. Paula menghujani tusukan ke perut wanita yang masih tertidur itu, sampai-sampai wanita itu menggeram ke sakitan, tapi itu tak menghentikan Paula.
__ADS_1
Aku tak mampu berkata-kata dan gemetar melihat sosok wanita yang bisa dengan mudah nya membunuh orang. Yang lebih parah nya lagi, setiap tusukan membuat senyuman nya semakin lebar.
"Tooo..." Wanita yang di berada paling pojok kiri membuka mata nya dan mencoba teriak.
Spontan aku langsung menutup mulut nya, dan menodongkan Pistol ke arah nya. Air mata wanita itu mulai jatuh dan mengenai tangan ku yang sedang menutup mulut nya. Paula langsung melihat ke arah ku dan langsung memutar dan menghampiri ku. Ketika sampai di sebelah ku dia tanpa ragu ingin menikam wanita yang sedang ku tutup mulut nya. Tangan ku yang sedang menodongkan pistol ke arah wanita itu pun reflek memukul tangan Paula ya g ingin menikam wanita itu, pisau nya jatuh ke kasur dan Paula pun kesakitan.
"Apa-apan sih kamu!" Bentak Paula.
"Lo udah gila ya?" Tanya ku.
"Gila? Mereka yang gila..." Ucap Paula sambil menunjuk ke arah orang-orang yang berada di kasur.
"Lo lupa misi kita?" Geram ku, "misi kita menculik salah satu anggota mereka, bukan membantai mereka!"
"Terus apa salah nya jika kita sedikit bersenang-senang!" Ujar Paula sambil tersenyum.
Jreeeepppp...
Paula tiba-tiba menusuk wanita yang masih tertidur tepat di leher nya, Paula langsung menarik pisau nya dan darah dari wanita itu sampai muncrat saat pisau nya berhasil tercabut. Tanpa ragu Paula menusuk lagi bagian leher wanita yang barusan di tikam oleh nya, Paula pun membiarkan pisau itu menancap di leher wanita itu, kemudian dia tersenyum lebar.
Dia mengeluarkan borgol nya dan menahan wanita itu, setelah memborgol wanita itu Paula melihat ku yang masih menutup rapat mulut wanita itu. Dengan tatapan penuh kebencian, Paula menatap ku dan tersenyum, dan dia langsung menarik kepala ku dengan kasar dan langsung mencium bibirku.
Tangan yang tadi nya memegang kepala ku mulai turun ke tenguk ku dengan perlahan, aku bisa merasakan tangan nya yang basah karena berlumuran darah menyentuh tengku ku, merinding ku di buat nya. Apalagi ciuman nya yang semakin bernafsu itu, membuat ku memikirkan hal yang tidak-tidak.
Aku mulai terbawa perasaan, dan mulai menikmati ciuman Paula yang semakin ganas. Tangan kanan ku yang menutup mulut wanita terborgol itu pun melemah, dan wanita itu menggit tangan ku.
Aaaaaawwwwwmmmhhh...
Aku teriak kesaktan dengan mulut yang masih di kuasi Paula. Tangan kanan Paula meraba pinggang nya dan mengeluarkan pistol nya, lalu mengarahkan ke wanita yang sudah tidak ku tutup mulut nya.
"Jangan bersuara, atau kepala mu bolong!" Ancam Paula yang melepaskan ciuman nya dari ku.
Paula berkata seperti itu, tanpa menoleh ke wanita itu. Tangan kiri Paual masih berada di leher ku, dan jarak kita semakin rapat di buatnya. Paula menatap ku dengan tatapan pasrah dan aku benar-benar lemah di buat nya, saat Paula berkedip dan membuka kembali mata nya, tatapan nya masih sama. Aku tak bisa menahan lagi dan langsung saja pinggul nya ku raih dengan tangan kiri, lalu tangan kanan ku mendorong kepalanya ke arah ku dan aku pun mencium nya.
Mmmhhhhpppp... Ehmmmmppp...
Suara Paula terdengar lirih, dan matanya mulai terpejam menikmati ciuman ku. Entah apa yang ku fikirkan, aku hanya terbawa suasana yang di bangun oleh Paula, dan tak ada perasaan sedikit pun kepadanya.
Sreeeekkkgghh...
"Dav, gue udah selesai semua sumbu udah gue tempel rokok yang udah menyala!"
Aku pun mengambil HT ku, dan melepaskan bibir Paula. Tapi Paula tak mengizin kan dan mendorong kembali tengkuk ku, aku hanya bisa menghindar dan ingin membalas panggilan dari Satria.
"Tunggu dulu!" Ujar ku.
Wajah Paula terlihat murung dan melepaskan tangan ku yang berada di pinggul nya, menggunakan tangan yang tadi mendorong tengkuk ku.
"Lapor, gue juga udah dapat 1 kijang!"
Laporan ku selesai dan aku menarik wanita yang terborgol itu turun dari kasur nya, dan benar saja dia tak mengenakan sehelai benang pun. Paula memutar balik kan tubuh ku agar tak melihat wanita itu tak berbusana, lalu dia menarik wanita itu dengan kasar dan berkata, "Pakaian dalam mu yanga mana!"
Wanita itu menunjuk nya dan Paula mendorong wanita itu sampai terjatuh dan menyuruh nya mengambil dan mengenakan itu.
"Dav periksa lemari nya, cari pakaian normal untuk nya!" Ujar Paula.
Aku pun menurutinya dan menggeledah lemari nya, dan aku terkejuy melihat isi lemari nya.
"Paula!" Teriak ku.
"Ada apa," Ucap nya sambil berjalan menghampiri ku.
Paula juga terkejut dan tersenyum melihat nya.
"Ini bukan barang bukti kan?" Tanya ku sambil mengangkat alis dan tertawa.
"Aku anggap bukan!" Jawab Paula sambil tersenyum.
Lemari itu berisi perhiasan emas banyak sekali, mungkin itu adalah barang-barang milik korban nya selama ini.
"Kalau gue ambil semua, apakah gue akan di penjara?" Tanya ku.
__ADS_1
"Kamu sudah terpenjari di hati ku!" Jawab Paula sambil memainkan lidah nya.
"Dasar maniac!" Ledek ku.
Aku pun mengambil jubah hitam yang berserakan di bawah dan menaruh semua perhiasan itu ke jubah, lalu ku tutup dan ku ikat jubah itu. Penasaran aku pun membuka pintu lemari yang di sebelah nya, ternyata itu hanya berisi pakaian saja. Paula langsung mengambil kaos dan celana pendek dari lari itu dan melemparkan ke wanita itu.
"Pakai itu, cepat!" Bentak Paula.
Wanita iti menangis tanpa bersuara, air mata nya sedikit hitam karena bekas maskara yang luntur karena air mata. Aku dan Paula menghampiri wanita yang sedang mengenakai pakaian, Paual melepaskan satu tangan wanita itu agar ia bisa mengenakan kaos nya.
Sreeeekkkgghh...
Suara HT ku berbunyi lagi.
"Dav masih lama? Waktu lo cuma 2 menit sebelum dinamit yang gue pasang meledak!" Ucap Satria.
"Oke gue keluar sekarang... Chong kondisi di bawah aman?" Jawab ku.
"Clean." Jawab Achong.
Paula mendorong kepala wanita itu menggunakan pistol yang sudah menempel di bagian kepala nya, dan memaksanya untuk berjalan. Aku pun mengintip ke arah luar dan memperhatikan sekitar, dan rupanya aman tidak ada orang sama sekali.
Kami pun keluar kamar itu dan langsung menuju tangga, aku berjalan sambil mengawasi sekitar dengan langkah hati-hati.
"PENYUSUUUUPPP..."
Tiba-tiba dari belakang ada yang berteriak dengan keras, dan tak lama kemudian muncul lah orang-orang berjubah hitam satu persatu.
"PENYUSUUUUPPP..."
Teriak nya lagi dan semakin keras, Paula menendang wanita itu dan mendorong nya. Kami pun berlari menuju tangga yang sudah ada di hadapan ku.
"Lapor Chong, gue ketauan... Lari sekarang juga!"
Ucap ku melapor via HT.
"Dav hati-hati..." Suara Riska terdengar dari HT ku.
Aku pun berlari menuruni tangga dengan hati-hati sambil membuka jalan. Saat sampai di bawah, Achong sedang berjalan mundur dan menembak ke arah belakang tangga.
"Dav cepat, mereka juga datang dari arah sana!" Teriak Achong.
Aku pun sampai pada pijkan terakhir anak tangga, dan berlari sekuat tenaga mendampingi Achong, lalu aku membalikan badan dan melihat ke belakang tangga.
"Astaga banyak banget Chong!" Ujar ku terkejut melihag gerombolan orang-orang berjubah hitam.
Paula dan wanita tawanan itu sudah ada di dekat ku dan Achong menyuruh nya cepat keluar. Sebelum keluar, Paula melepaskan tembakan ke arah orang berjubah hitam yang berlari kencang menuruni tangga.
Dooorrrrr...
Satu tembakan tepat mengenai dada orang berjubah hitam, dengan mengenakan topeng tanpa ekspresi. Orang itu jatuh terguling dari tangga sampai bawah, dan ketika di bawah darah pun mengucur deras.
"Itu bukan peluru karet?" Tanya Achong.
"Peluru karet kok," Jawab Paula.
"Kenapa lo gak nembak dia sesuai prosedur, dan harus nya lo tembak kaki nya!" Ujar Achong.
"Di kondisi mendesak seperti ini, dan juga musuh melakukan perlawanan, hal yang barusan di halalkan!" Tegas Paula.
Sreeeekkkgghh...
Suara HT aku dan Achong berbunyi.
"Guy's waktu kalian 30 detik lagi sebelum dinamit nya meledak!" Ucap Satria via HT.
Kami pun berlari sekuat tenaga menuju pintu keluar, bahkan tawanan itu yang sudah mengetahui jika kita sudah memasang peledak, ikut berlari sekuta tenaga.
Cahaya sudah terlihat dan pintu keluar membuat perasaan ku jauh lebih tenang. Saat kita sampai depan pintu, aku pun tersenyum karena ada tulisan besar di kain puith besar yang di bentangkan tepat di pagar bangunan tua itu. Achong juga tertawa melihat tulisan itu, bahkan Paula ikut tersenyum karena tulisan itu, dan kain yanh membentang itu bertuliskan.
..."SALAM DARI ANAK JAKARTA!"...
__ADS_1
......................