
"Siapa kalian?" Tanya ku lantang.
Salah satu orang itu pun mendekat kan telunjuk nya ke bibir dan berkata, "Sssstttt... Jangan keras-keras!"
Wajah nya tidak terlihat hanya mulut nya saja yang nampak, karena mereka mengenakan jubah hitam dan memakai tudung kepala nya.
"Dav masuk... Halo Dav, are u ok?" Tanya Riska lewat HT.
Kemudian salah satu dari mereka menghampiri ku dan mengambil HT nya, lalu dia pun mengecek ke jalur frekuensi nya.
"Ahhh menarik..." Terdengar seperti suara perempuan.
"Kembalikan... Cepat kembalikan! Teriak ku.
"Siapa kalian sebenar nya?" Tanya perempuan itu.
"Kalian tak perlu tahu siapa kami, yang kalian harus tahu adalah, aku akan mendapatkan bukti-bukti untuk membubarkan komunitas biadab kalian!" Jawab ku lantang.
Mereka pun tertawa.
"Memang nya kalian tahu apa?" Tanya pria misterius itu.
"Aku tahu kalau komunitas kalian biadab, dan aku akan memabalas kematian dua orang teman ku!" Jawab ku.
"Kalian dari Jakarta?" Tanya wanita itu.
Aku dan Satria pun kompak menjawab "iya."
Pasti sebentar lagi mereka berdua akan menyerang kami, aku harus mencari waktu yang tepat untuk membalas serangan nya. Orang-orang seperti mereka itu biasa nya, ketahanan fisik nya luar biasa, aku tahu karena aku pernah berhadapan dengan mereka.
Jika di sini adalah akhir hidup ku, maka setidak nya aku harus membiarkan Satria lolos dari sini. Kenapa aku jadi pasrah begini, padahal aku orang yang paling bersemangat untuk balas dendam.
"Dav masuk... Halo Dav jawab!" Riska memanggil ku lagi melalui HT.
Padahal tangan dan kaki ku tidak terikat, begitu pun Satria. Aku harus menyerang langsung dan mengalihkan perhatian nya, supaya Satria bisa lari dari sini, aku pun mencoba bangun tapi tiba-tiba Satria menarik ku, dan mengedip kan mata nya.
"Astaga, kita sudah lama berteman, tapi aku tidak paham kode apa itu barusan!" Ujar ku dalam hati.
"Berapa orang yang datang dari Jakarta?" Tanya wanita itu.
__ADS_1
"Lima!" Tegas Satria.
"Benar ini dia orang nya!" Bisik wanita kepada teman nya.
Wanita itu pun menghampiri kami dengan langkah perlahan dan sangat hati-hati, Satria sudah mengepal kan tangan nya, bibir nya pun sudah di gigit nya sedari tadi. Aku juga sudah siap, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melumpuh kan nya dan kabur.
Wanita itu mendekat dan membuka tudung nya dan berbisik, "Ayo keluar dari sini!"
Wanita itu menarik ku dan teman nya menarik Satria, kami pun berlari meninggal kan bangunan tua itu. Wanita itu memberikan kembali HT ku, dan dia berkata, "Cepat beritahu teman mu kita harus lari dari sini!"
"Guy's masuk."
"Astaga Davie, jangan membuat ku khawatir!" Sahut Riska.
"Ris cepat nyalakan mobil nya, kita harus lari dari sini!" Jawab ku.
"What!!!" Kaget Novi.
"Mobil sudah siap!" Sahut Riska.
Aku menoleh ke belakang dan benar saja, ada lebih dari 20 orang berpakaian serba hitam mengejar kami, aku pun berlari sekuat tenaga sambil menghindari pengunjung pasar yang ramai.
"Sumpah ini tidak mudah!" Gumam ku dalam hati.
"Aaaarrrrgggghhhh..." Teriak Novi.
Novi terkejut melihat dua orang berjubah hitam masuk ke dalam mobil, lalu dia melempar benda apa saja ke arah mereka.
"Sabar mbak, sabar..." Jawab si wanita itu.
"Ris, jalan Ris!" Ujar Satria yang menyadari bahwa yang mengejar kami sudah dekat, dan hampir sampai.
Tanpa pikir panjang Riska langsung tancap gas, dan mengikuti arah dari GPS yang terpasang di dashboard mobil.
"Arrrrrgggghhhh..." Teriak Novi lagi, "kenapa orang ini ikut dengan kita!"
Aku, Riska, dan juga Satria baru menyadari dan kita semua teriak, "Arrrrrggggghhhh..."
Pria misterius itu menempel kan lagi jari telunjuk nya ke bibir dan berkata, "Ssssstttt... Kalian semua berisik sekali!"
__ADS_1
Aku yang duduk di tengah berusaha mendorong mereka, Satria ikut membantu mendorong nya, Novi pun melempari benda yang ada sambil berteriak.
"Sabar... Sabar..." Ucap wanita itu yang duduk di pinggir dekat jendela.
Kami pun tak menghirau kan nya dan terus mendorong nya, mereka pun mulai melawan, dan mendorong balik ke kami, dan tenaga nya gila sekali. Satria yang duduk di pojok sampai terhimpit, dan berusaha mendorong balik, aku yang berada di tengah-tengah juga ikut tersiksa karena menjadi perantara adu kekuatan mereka.
Novi pun sudah kehabisan benda-benda dan sekarang dia menarik si pria itu, tapi pria itu tak bergerak sama sekali dan terus mendorong kami.
"Nafas gue sesak, Dav!" Bisik Satria.
"Jika kalian bisa tenang akan ku lepaskan!" Ucap pria itu.
Novi pun berhenti menarik pria itu, dia mencoba mengalah karena sebentar lagi mereka sampai di kantor polisi, aku pun sudah lemas tak mampu mendorong lagi, begitu pun Satria.
"Uhhuuukkk... Uhhuuukkk..." Satria sampai batuk menahan tenaga yang sangat kuat itu.
Pria itu pun melemah kan dorongan nya dan mengatur lagi posisi duduk nya, Satria masih terlihat memegang dada nya, beberapa kali dia mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluar kan nya dari mulut.
"Tahan mereka jangan sampai keluar!" Ujar Novi sambil turun dari mobil.
Mereka sudah sampai kantor polisi, dan Novi langsung berlari menemui Achonk.
"Chong, di mobil... Gawat, di mobil ada anggota komunitas itu, dua orang!" Ucap Novi sambil terengah-engah.
"Serius?" Tanya Achong yang kemudian mengajak salah satu polisi mengikuti nya.
Mereka pun berlari menuju mobil dengan kencang, pak polisi itu juga sudah mengeluar kan pistol nya. Saat mereka sampai, Achong dan Novi di suruh menjauh, dan polisi itu mendekat ke arah mobil dan menodong kan senjata nya.
Mereka berdua pun turun, dan aku membiar kan nya, memang orang seperti mereka harus di bawa ke tempat seperti ini.
Pintu tengah pun terbuka, dan saat wanita misterius itu turun, tiba-tiba polisi itu menurun kan senjata nya dan hormat kepada wanita itu.
Kami semua pun kaget!
"Sampai polisi tak berani menangkap mereka Sat!" Ujar ku.
"Gawat, kita akan selesai di sini!" Balas Satria.
Polisi itu malah menyambut ke dua orang itu dan malah menyuruh nya masuk, kami penasaran dan kami pun turun dari mobil dan ikut mengantar kan dua orang misterius itu masuk.
__ADS_1
"Jika benar semua polisi di sini adalah sekutu mereka, maka habis lah kita!"
•••