Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Bayangan Suna


__ADS_3

Aku dan Paula masih tak bergerak melihat pembantaian itu, jujur dengkul ini terasa lemas dan badan ini gemetar tak karuan. Ku lihat Paula tertegun dengan tatapan kosong nya, seolah tak percaya apa yang di lihat nya.


Aku melihat ke sekitar sudah tidak ada Polisi di TKP, jadi hanya tinggal kita berdua saja yang masih menyaksikan pembantaian itu.


"Apa kita bisa pergi sekarang?" Tanya ku.


Paula menoleh ke arah ku dan menarik baju ku sambil berkata, "Kau pergi duluan saja!"


"Kamu sudah gila?" Bentak ku.


"Aku gagal menjadi pemimpin, dan aku malu jika masih hidup dan kembali ke markas," Ucap Paula.


"Persetan dengan malu... Nyawa mu lebih penting!" Ujar ku.


Paula menggelengkan kepala nya dan melepaskan tangan nya dari baju ku, kemudian mengeluarkan pistol dari balik baju nya dan berlari ke arah kerumunan sambil menembak.


Ku lihat tembakan nya mengenai beberap orang berjubah itu, aku tak akan tinggal diam melihat Paula berlari sendirian, aku pun mengejar nya. Beberapa orang berjubah itu pun melihat ke arah Paula, dan berjalan menghampiri nya, rasa khawatir ku pun menambahkan kecepatan berlari ku.


"Paulaaa stop!" Teriak ku yang sedikit lagi menyusul nya.


Paula tak menjawab, dan terus berlari sambil menembak. Tiba-tiba pemanah yang ada di atap muncul kembali, dan melihat ke arah Paula yang sedang berlari. Paula pun juga menyadari ada pemanah di atas, dan mulai menembaki ke arah pemanah itu, tapi sayang nya banyak peluru yang sia-sia.


Aku melihat satu pemanah sudah siap dengan posisinya dan sudah menargetkan Paula.


"Paulaaa awas!" Teriak ku.


Csrrreeeeeppppttttt...


Anak panah sudah di lepaskan, dan melaju cepat lurus ke arah Paula.


Aku pun melompat ke arah Paula dengan tujuan ingin mengehentikan nya, tapi...


Lompatan ku tidak sampai ke Paula dan sedikit lagi aku menyentuh tanah, aku pun merasa sangat tak berguna karena tak bisa menghentikan Paula. Sebelum aku mentuh tanah, aku menjulurkan tangan ku dan aku berhasil menyentuh kaki Paula.


Kaki Paula bertabrakan dan dia terjatuh bergulingan di tanah, 2 detik setelah ia jatuh anak panah itu pun meleset jauh dari sasaran.


"Paulaaaa...." Teriak ku.


Aku langsung bangun, dan berlari ke arah Paula. Kemudian aku membangunkan nya, dan menyeret nya untuk segera lari dari tempat ini. Aku yang memaksa nya pun terus waspada ke arah orang bejubah yang jalan nya semakin cepat.


"Ayo cepat!" Tegas ku sambil menarik Paula.

__ADS_1


"Dengkul ku sakit," Jawab Paula sambil terpincang-pincang.


"Tahan Paula... Tahan!" Ujar ku.


Aku pun memapah Paula, dan tak sengaja melihat ke arah atap, di mana pemanah itu berdiri.


"Ohhh gawat... Pemanah itu sudah membidik kita!" Ucap ku panik.


Paula pun menoleh ke belakan dan melihat ke arah atap, dan tiba-tiba dia melepaskan tangan ku yang sedang memapah nya, lalu dia mendorong ku.


"Cepat kau lari saja," Ucap Paula sambil tersenyum.


Aku langsung menarik tangan Paula, tanpa berkata sepatah kata pun. Aku menyeret nya dan terasa sekali dia melawan untuk melepaskan genggaman ku, tapi aku tak akan membiarkan dia mati di sini, aku masih butuh Paula untuk memecahkan kasus ini.


Csrrreeeeeppppttttt... Csrrreeeeeppppttttt...


Empat anak panah sekaligus di lepaskan dan mengarah ke arah kami.


Aku panik, aku tak ingin terkena anak panah itu, aku juga tak ingin Paula mati di sini. "Apa yang harus aku lakukan?"


Paula pun terjatuh dan menarik ku sampai aku terjatuh juga.


"Maaf, aku sudah gak kuat lagi Dav, kaki ku seperti nya terkilir," Ucap Paula.


Tuuuukkkk... Tuuuukkkk...


Aku mendengar suara seperti mika yang di lempari batu, kemudian aku membuka mata dan bayangan Suna sudah menghilang. Lalu aku menoleh ke arah Paula untuk memastikan apakah dia baik-baik saja, atau tidak.


Saat menoleh ke belakang, air mata ku jatuh...


"Kita selamat!" Ujar ku.


Paula tersenyum mendengar ucapan ku dan berusaha untuk bangun. Kita selamat karena sudah ada Polisi yang datang menolong kita membawa perisai yang biasa di pakai saat ada demo dan kerusuhan. Ternyata suara yang ku dengar tadi adalah, suara anak panah yang menghangam perisai itu.


"Kamu tepat waktu Van," Ucap Paula.


"Untung lah masih sempat ndan," Sahut Polisi itu.


Tak lama kemudian 10 orang Polisi yang menggunakan perisai datang dan mengelilingi kami, di ikuti dengan polisi bersenjata laras panjang di belakang nya, Polisi bersenjata itu pun berbaris di belakang perisai, dan mulai membedik.


"Jangan bergerak, jatuhkan senjata kalian!" Teriak salah satu Polisi.

__ADS_1


Tapi beberapa orang dari gerombolan itu pun tak mendengarkan, malah berlari menghamipiri kami dengan mengacungkan senjata nya, pemanah di atap juga sudah melepaskan anak panah ke arah kami.


Dooorrrr... Dooorrrr... Doooorrrr...


Tembakan pun mulai pecah mengarah ke orang-orang berjubah yang berlari ke arah kami.


Satu persatu orang berjubah itu tumbang terkena tembakan, gerombolan itu pun menyebar, ada yang berlari, ada juga yang ingin menghampiri kami untuk menyerang.


Para Polisi itu pun melangkah selangkah demi selangkah agar bisa mendekat ke arah mayat Polisi yang di bantai.


"Komandan, cepat berdiri dan pergi ke dapan pasar untuk dapat pertolongan pertama," Ucap Polisi yang sudah menyelamatkan kami.


"Iya Van, yang di sini ku serah kan pada mu," Jawab Paula.


Aku pun membantu Paula berdiri, dan memapah nya, langkah ku mengimbangi gerak kaki Paula yang berjalan terpincang-pincang, dan itu sungungguh membuat ku tak sabar. Aku pun berhenti memapah nya, dan membelakangi Paula sambil membongkok kan badan ku.


"Cepat naik!" Ujar ku.


"Aki masih bisa berjalan," Jawab Paula.


"Ya aku tahu, tapi kalau aku membiarkan mu berjalan, kita akan sampai depan pasar nanti pagi," Sahut ku.


Paula pun akhir nya menurut dan naik ke punggung ku.


"Kamu berat sekali komandan!" Ledek ku.


Paula yang mendengar itu pun langsung menjewer telinga ku, sambil berkata, "Bukan aku yang berat, tapi kamu yang lemah!"


"What, lemah? Sebaiknya kamu pegangan!" Sahut ku.


Aku pun berlari sambil menggendong Paula, dan terdengar suara tawa Paula yang di iringi dengan kata "berhenti."


Tapi aku tak memperduliakan nya dan terus membawa nya lari sekuat tenaga, di depan pandangan ku sudah banyak Polisi yang menyambut ku, dan aku pun akhir nya sampai di depan pasar.


"Turun!" Ucap ku yang sudah merendah kan badan.


Paula pun turun dan di bantu oleh Polisi yang menyambut tadi, team medis pun datang dan memberikan pertolongan pertama pada Paula.


"Hampir saja aku mati, terima kasih Tuhan, masih mau membiarkan ku hidup."


Pandangan ku tiba-tiba berputar, dan kunang-kunang, kemudian badan ku terasa lemas dan aku pun terjatuh, dan pandangan ku hitam semua.

__ADS_1


"Aku kenapa..."


......................


__ADS_2