Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Tikam, untuk sahabat!


__ADS_3

Pandanganku yang menatap Achong pun sudah mulai memudar, tapi aku tetap berdiri di depan Riska, melindunginya. Tangan kananku memegang bekas luka tebasan di perutku, aku merasakan darah merembes ke sela-sela jariku.


Achong dengan gagah jalan ke arahku dengan mimik wajah yang sangat menyeramkan, ia terus memandang wajah Riska yang ketakutan.


“Cepat lari ke sini, Dav!” Ujar Paula.


Aku yang sudah tak kuat lagi berlari pun hanya bisa menoleh ke belakang, dan berbisik pada Riska, “Lebih baik kamu lari dan menghampiri Paula, aku akan menghadang Achong sebisaku.”


Awalnya Riska menggelengkan kepalanya, kemudian aku pun memejamkan mata sambil menarik nafas dalam-dalam.


“Please Ris, kali ini saja kau dengarkan aku!” ucapku sambil menghela nafas.


Dengan wajah ketakutan, Riska pun menganggukkan kepalanya dan tiba-tiba saja ia mengecup keningku sambil berkata, “Aku sayang kamu, Dav.”


Aku pun tersenyum dan kembali menatap Achong yang sedang berjalan ke arahku. Aku memberi aba-aba pada Riska untuk segera lari ke tempat Paula yang berjarak kira-kira 100m dari tempatku.


“Sekarang!” ujarku memberi aba-aba pada Riska.


Riska yang mendengar aba-aba itu pun langsung lari sekuat tenaga dan aku juga sudah siap menghadapi Achong.


Pandangan Achong tak lepas dari Riska, saat ia melihat Riska berlari ke arah Paula, tiba-tiba saja Achong berubah haluan dan ia berlari ke arah tanpa menghiraukan ku. Aku sudah menduga ini akan terjadi, aku pun mencoba mengimbangi Achong.


Achong yang merasa terganggu denganku, akhirnya berhenti dan ia menatapku yang masih berlari ke arahnya. Saat ia masuk dalam jangkauanku, aku pun melompat dan mengambil ancang-ancang untuk menikamnya dengan belati perak.


Achong tak bergeming, ia hanya tersenyum dan menunggu aku mendarat.


“Terlalu dini untuk meremehkanku, iblis!” ujarku dalam hati.


Dengan sekuat tenaga aku arahkan belati perak itu ke arahnya, dan pada saat yang bersamaan aku pun mendarat tepat di hadapannya. Achong berhasil menangkis tikamanku dengan lengannya, dan belati itu pun masih tertancap di lengannya.


Sontak ia pun berteriak keras sekali, dan darah yang menetes kali ini berwarna merah bukan hitam lagi.


“Kalau saja aku mengenai kepalanya, pasti sudah sekarang selesai,” gumamku dalam hati sambil mengatur nafas.


Achong mencabut belati itu dan membantingnya ke tanah, ia pun memegangi terus lengannya yang terluka itu. Ia pun menatapku dengan tatapan kesalnya, tanpa aba-aba dia pun membenturkan kepalanya ke kepalaku.


Bintang-bintang pun terlihat saat Achong mengadu palanya dengan kepalaku dan saat itu juga aku pun langsung sempoyongan karena benturan itu. Aku berusaha untuk menjaga keseimbanganku, karena kalau aku jatuh, aku yang akan tamat.

__ADS_1


Perlahan bintang-bintang yang berputar di kepalaku memudar karena aku terus menggeleng-gelengkan kepala sambil menutup mata, dan saat aku membuka mata tiba-tiba Achong sudah tidak ada di hadapanku.


Aku pun menoleh ke kiri dan kenan untuk mencarinya, dan ternyata benar ia sedang menghampiri Riska.


Terlambat, aku sudah terlambat. Achong sudah mencekik Riska dan ia pun perlahan mengangkat Riska dengan satu tangan. Walaupun terlambat, tapi aku tetap berlari ke arah Achong untuk menyelamatkan Riska.


Riska meronta-ronta dengan wajah yang sudah memerah, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, ia memukul-mukul tangan Achong dan juga menendang-nendang perut Achong.


Achong pun berjalan membawa Riska yang masih di angkat dengan satu tangan ke suatu pilar dekat dengan posisinya saat itu.


Duuuuuuggg ...


Suara benturan punggung Riska dengan pilar beton itu pun terdengar. Riska pun sudah mulai tak sadarkan diri karena kesulitan bernafas.


Saat pukulan Riska melemas dan tak lagi meronta-ronta, Paula pun datang dan menebas tangan Achong yang mencekik Riska hingga terputus.


“Aaaaaaaaaarrrrrgggghhhhh!” teriakan Achong menggelegar ke penjuru ruangan.


Riska pun membuka matanya dan menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya sampai ia terbatuk-batuk. Paula pun langsung berdiri di depan Riska sambil menodongkan parang ke arah Achong.


“Terima kasih, Paula!” teriakku sambil berlari.


“Dav, belati perak ... tusukan ke jantungnya!” balas Paula.


Aku pun menganggukkan kepala sambil berlari tertatih-tatih. Tekad ini mengalahkan rasa sakit di sekujur tubuhku, aku tak peduli jika harus lumpuh seumur hidup, yang penting aku bisa menyelamatkan Riska dan juga Paula.


Achong yang sudah selesai teriak pun langsung mencengkeram parang yang di pegang Paula.


Paula pun terkejut saat melihat Achong mencengkeram itu sampai telapak tangannya meneteskan darah hitam.


“Mati ... kau ...” ujar Achong yang kemudian menarik parang itu sampai badan Paula ikut tertarik ke dapan.


Kini Paula sudah berhadap-hadapan dengan Achong, dan tubuh Paula tiba-tiba bergetar saat Achong berhasil merebut parang dari tangannya.


Dengan kasar, Achong langsung menyingkirkan Paula dengan satu tangannya yang tersisa. Paula pun tersungkur dan kini Achong memainkan lidahnya sambil menatap ke leher Riska yang putih.


Wajah Riska yang ketakutan itu terlihat jelas di mataku, dan kuda-kuda Achong yang ingin menebas leher Riska pun membuat aku berteriak, “Jangan!”

__ADS_1


Tapi teriakanku tak bisa mengurungkan niat Achong yang sudah siap menebas Riska, kemudian mataku pun membesar saat melihat Achong mengayunkan parang ke arah Riska dan ....


Creeeeppppp ... Aaaaaaarrrrghhhhh ....


Aku yang tak tega melihat ke jadian itu menutup mata barusan, dan saat aku membuka mata, aku melihat parang itu tertancap di bahu Paula.


“Paulaaaaaaaaa!” teriakku saat melihat Paula memuntahkan darah dari mulutnya.


Aku mendengar suara tangisan Riska, dan mataku tertuju ke bawah, tepat di sebelah Paula berdiri. Riska, Riska masih hidup dan tersungkur sambil menangis melihat kondisi Paula.


“Jan—jantunya, Dav ....” ucap Paula lirih.


Paula pun mendorong Achong dengan kakinya sampai Achong mundur beberapa langkah, dan tepat menghampiriku sambil membelakangiku.


Aku pun dengan sigap meraih bahu Achong yang sedang berjalan mundur dan memutarkan badanya, saat ia menatapku aku pun berkata, “Selamat tinggal, sahabat!”


Air mataku menetes dan aku pun menancapkan belati perak tepat di dadanya.


“Ini untuk Novi dan Satria!”


Arrrrrrrrrrrrrrrggggggghhhhhhhh


Teriakan Achong menggelar dan Paula pun tersenyum.


Aku pun menekan lagi belati itu yang belum tertancap semuanya sambil berkata, “Ini untuk Regina, dan Suna!”


Teriakan Achong semakin keras seraya ia menjatuhkan badannya sambil berlutut di hadapanku. Aku menyapu air mata ini dan tersenyum, kemudian mencabut belati itu. Darah segar berwarna merah pun muncrat dari dada Achong.


“Terakhir, ini untuk Paula!” ujarku sambil menancapkan belati itu tepat di tenggorokannya.


Suara teriakan Achong terhenti dan ia pun tumbang begitu saja.


Tim medis pun langsung masuk dan menghampiri Paula yang sedang sekarat, beberapa tim medis juga menghampiri Riska dan memeriksa kondisinya. Entah kenapa perasaan ini tenang, setenang-tenangnya, tapi luka di perutku baru mulai terasa dan sekarang perutku terasa seperti kesemutan.


Aku pun tumbang dan pandangan ini gelap.


......................

__ADS_1


__ADS_2