Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Paula...


__ADS_3

Riska berlari ke arahku dengan air mata yang membasahi pipinya, kemudian memelukku, dan menangis di pundakku.


"Hey, kamu kenapa?" Tanyaku.


"Aku khawatir," Jawabnya sambil tersedak-sedak.


"Apa yang kamu khawatirkan, sayang?" Tanyaku sambil mengusap kepalanya.


"Entahlah, tiba-tiba aku takut kehilanganmu..." Jawabnya.


Novi dan Achong juga menghampiri ku, dengan wajah yang penasaran.


"Ada apa Dav?" Tanya Achong.


"Polisi tertembak oleh sekte itu," Jawabku.


"Serius? Dia punya senjata api?" Tanya Novi.


Aku menganggukan kepala, dan Riska melepaskan pelukannya sambil mengelap air matanya.


"Sumpah, kita bisa berhenti aja gak?" Ucap Novi.


"Tanggung Nov, sudah sampai sejauh ini!" Ujar Satria.


"Tapi Sat, dia punya senjata api!" Bentak Novi.


"Terus kenapa kalau dia punya pistol?" Tanya Achong.


"Gak imbang dong Chong, dia senjata api, sedangkan kita cuma pakai air soft gun," Jawab Novi.


"Kalau mau, aku juga bisa menyediakan pistol atau mungkin senjata laras panjang seperti AK47 atau M16," Sahut Achong.


"Wow keren..." Ucapku.


"Gak usah Chong, jangan samakan kita dengan mereka!" Ujar Satria.


"Buat jaga-jaga aja Sat," Ucap Achong.


"Iya, Sat... Buat keadaan mendesak aja," Sahutku.


Satria menggelengkan kepala dan berkata, "Kalian mau baku tembak dengan mereka?"


Kami semua terdiam.


"Silahkan saja kalau itu mau kalian, tapi ingat satu hal... Kalian sama seperti mereka!" Tegas Satria.


Novi menghampiri Satria dan mengusap-usap punggungnya, Satria menolak usapan Novi dan pergi meninggalkan kami.


"Sat, mau kemana?" Teriak Novi.


"Woi, Sat... Mungkin di luar masih ada anggota dari sekte itu!" Ujarku.


Satria tetap tak mendengarkan dan terus berjalan meninggalkan kami.


"Kamu susul Satria sana!" Ujar Riska.


"Gak usah, itu tandanya dia sedang ingin sendiri," Sahutku.


Kemudian Novi bertanya kejadian barusan, aku pun menceritakan selengkapnya kepada mereka.


"Kenapa ya, setiap kita menangkap salah satu anggota itu, pasti mati... Entah itu bunuh diri atau di bunuh temannya sendiri," Ucap Riska.

__ADS_1


"Mungkin ada informasi penting yang di rahasiakan oleh mereka Ris," Sahut Novi.


Kriiiiingggg... Kriiiingggg...


Handphoneku berdering dan ternyata panggilan dari Satria.


"Halo Sat, kenapa?" Tanyaku via telpon.


"Hah, Paula hilang? Kok bisa?"


"Yaudah iya, gue kesana!"


"Kenapa Dav?" Tanya Novi.


"Paula hilang," Jawabku.


Kami pun berlari menuju kamar pertama Paula, tempat yang tadi si pria botak tertangkap. Terlihat dari Kejauhan Satria sudah menunggu di depan pintu, kami pun segera menghampirinya.


"Sini ikut gue!" Ujar Satria.


Kami mengikutinya, langkah Satria begitu cepat sampai kami tak bisa mengimbanginya. Kemudian tiba di suatu kamar VVIP, tempat baru Paula di rawat.


"Dia hilang, ke empat Polisi yang menjaganya juga menghilang!" Ujar Satria.


"Coba cari di sekeliling, siapa tahu ada petunjuk," Ucapku.


Kami semua akhirnya menggeledah ruangan itu dan benar saja, Novi menemukan secarik kertas di bawah tempat tidur.


"Guy's gue dapat ini!" Ujar Novi.


Kami pun menghampirinya untuk melihat kertas itu, tidak nampak petunjuk dari kertas yang di temukan Novi, karena hanya coretan-coretan angka yang di buat dua baris.


"Ini nomer telpon?" Tanya Riska.


Satria fokus melihat ke arah kertas itu, dan mulutnya bergerak seperti sedang menghafal.


"Guy's ini kordinat!" Ucap Satria, "mereka sengaja meninggalkan ini agar kita datang ke tempat mereka!"


"Jangan ini jebakan," Sahut Achong.


"Gue juga mikir sama kaya lo Chong," Ucap Satria.


"Tapi kalau memang ternyata Paula di tahan di sana, gimana?" Tanyaku.


"Pilihan yang sulit Dav," Jawab Satria, "kemungkinannya 50 banding 50."


"Terus gimana?" Tanyaku lagi.


"Oke, sekarang gini... Kita vote aja, yang setuju kita berangkat ke lokasi ini siapa, tunjuk tangan!" Ujar Satria.


Aku adalah orang pertama yang mengangkat tangan, kemudian di susul Riska yang juga mengangkat tanganya. Dengan ragu Novi jadi orang ketiga yang mengangkat tangannya, lalu Satria pun juga ikut mengangkat tangannya sambil tersenyum.


"Yaudah iya, ayo berangkat!" Ujar Achong.


"Yah curang dia Sat, gak angkat tangan," Ucapku sambil tertawa.


"Dia selalu mengikuti kemauan kita Dav," Balas Satria sambil tertawa.


Kami akhirnya berjalan meninggalkan rumah sakit, Satria yang tadinya kesal dengan kami, sekarang dia sudah bisa meledek Achong dan tertawa lagi bersama kami.


Tiba-tiba Satria berhenti, dan berkata, "Guy' gue lupa!"

__ADS_1


"Lupa apa?" Tanya Novi.


"Kita masih ada satu Polisi di sini," jawab Satria.


"Yaudah ajak aja Sat," Ucap Novi.


"Kalian tunggu di dalam mobil, biar gue yang jemput dia!" Ujar Satria.


Kami pun akhirnya masuk ke dalam mobil, Achong sudah siap di kursi depan sambil memegang kemudi, lalu di belakang ada aku, Riska, dan juga Novi.


Kami pun ngobrol secara acak dengan topik yang tak jelas, selagi menunggu Satria kembali. Sudah hampir 10menit berlalu akhirnya Satria sudah terlihat, dan dia bersama Polisi itu.


Satria pun masuk ke dalam mobil, dan Polisi itu masuk ke mobil patrolinya.


"Kok dia gak bareng aja?" Tanyaku.


"Nantu di jalan, teman satu tim nya akan ikut dengannya, kurang lebih kita ada tambahan 4 orang Polisi," Jawab Satria.


Satria mengambik GPS dan mencari alamat yang dari kordinat itu, dan tepat sekali kordinat itu muncul dan tak jauh dari rumah sakit. Kami bergegas menuju ke sana, dengan harapan bisa menyelamatkan Paula.


Perjalanan sangag singkat, karena lokasi yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit.


"Lo yakin ini tempatnya?" Tanyaku.


"Iya, peta menunjukan lokasi ini," Jawab Satria.


"Tapi ini terlihat seperti kebun Sat," Sahut Riska.


"Yaaa namanya juga penculikan, pasti di sembunyikan di tempat yang gak wajar Ris," Ucap Satria.


Kami pun turun dari mobil dan menyusuri kebun itu, kami masuk ke kebun itu lebih dalam lagi, dan terlihat dari kejauhan ada satu gubuk usang di tengah-tengah kebun. Kami pun menghampirinya dengan langkah perlahan dan dengan hati-hati.


"Krreeeekkk..."


Terdengar seperti suara ranting terinjak.


Kami spontan menoleh ke arah belakang dan ternyata itu adalah Polisi yang ikut membantu kami. Polisi itu sudah siap dengan pistolnya dan mengikuti kami secara perlahan di belakang.


Kami melewati pohon besar sebelum sampai ke gubuk usang tersebut, saat aku berjalan melewati batang yang paling besar, aku terkena tetesan air tepat di wajahku. Aku pun mengusap air itu dan tercium bau amis dari air itu, aku melihat tanganku yang habis mengusap air itu, dan ternyata air tersebut berwarna merah dan bau nya amis.


"Guy's darah!" Ujarku.


"Bruuukkkk..."


Salah satu Polisi jatuh duduk dengan wajah pucat sambil melihat ke atas.


Aku pun penasaran dan ikut melihat ke atas, dan...


"AAAAAARRRRRRGGGGGHHHHH SIALAN!"


Aku teriak sekuat tenaga dan tak sengaja air mata ini menetes ke pipi, saat melihat Paula yang penuh luka tergantung di atas pohon.


"Komandan!" Teriak salah satu dari Polisi itu sambil menangis.


Teman-temanku dan juga para Polisi di buat lemas tak berdaya, mereka semua terpaku dan air mata membasahi pipi mereka masing-masing.


Sambil menangis aku pun memanjat pohon itu, air mata ini tak bisa berhenti secepat yang ku inginkan. Aku terus memanjat sampai bisa meraih tali yang menggantung Paula, aku keluarkan belati perak milik Paula yang ku sembunyikan di balik baju, dan kemudian berusaha memotong tali itu.


"Hei Polisi... Toling bantu aku menangkap jasad komandan kalian!" Ujarku sambil memotong tali.


Keempat Polisi itu bangun dan menunggu tali yang sedang ku potong putus, agar mereka bisa menangkap tubuh Paula yang sudah tak bernyawa.

__ADS_1


Tali akhirnya putus, dan keempat Polisi itu berhasil menangkap Paula.


"PAULAAA..."


__ADS_2