Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi

Sekte: Komunitas Topeng Tanpa Ekspresi
Tawanan


__ADS_3

Penyidakan sedang berlangsung, garis polisi di bentangkan di area bangunan tua yang sudah runtuh. Banyak mayat dari komunitas itu yang tertimbun bangunan, jumlah pasti belum di ketahui yang jelas mereka berkisar 30 orang, sangat tidak sepadan dengan jumlah pahlawan berseragam yang mereka bantai.


Paula sibuk dengan berkas-berkas nya, lulu-lalang polisi bergantian menyerahkan berkas ke Paula. Berbeda 180 derajat dengan 30 menit lalu saat dia berada di dalam bangunan tua itu, mungkin nanti aku akan menanyakan nya.


Aku baru saja selesai di mintai kesaksian dari kepolisian, dan aku bilang memang sengaja menemani Paula menyusup ke bangunan tua itu.


Krriiiiiinggg... Krriiiiiiinnnggg...


Handphone ku berdering dan ku lihat itu adalah panggilan dari Riska.


"Iya halo Ris, kenapa?" Tanya ku via telpon.


"Gawat Dav!" Jawab Riska.


"Gawat apa nya?" Tanya ku.


"Tawanan nya... Dia menggit lidah nya sendiri sampai hampir putus," Jawab Riska.


"Hah, serius?" Tanya ku bingung.


"Iya Dav... Sekarang dia jadi susah bicara karena lidah nya terluka," Ucap Riska.


"Dasar gila! Yaudah tunggu aku sebentar lagi aku kesana..." Ucap ku.


"Yaudah, hati-hati ya Dav... Bye," Ucap Riska yang langsung menutup telpon nya.


"Sial... Mereka sadar betapa berharganya informasi, sampai-sampai dia rela melukai lidah nya sendiri," Gumam ku dalam hati.


Aku langsung menghampiri Paula yang sibuk dengan berkas nya, dan membisikan apa yang terjadi. Dia terkejut dan langsung memberikan berkas-berkas itu ke anak buah nya.


"Ayo Dav, kita lihat tawanan itu!" Bisik Paula.


Aku pun mengangguk dan, Paula meminjam mobil patroli. Dia meninggalkan TKP begitu saja tanpa memberi laporan ke anak buah nya.


Kami bergegas ke home stay dengan mobil patroli, dan sepanjang perjalan kami hanya diam tanpa obrolan. Hanya ada suara radio Polisi yang menemani perjalanan kita, banyak kode dari laporan para Polisi itu dan aku sama sekali tidak mengerti.


Setelah kurang lebih 35menit perjalanan akhirnya kita sampai di home stay, Aku turun dari mobil dan langsung berlari masuk ke dalam. Di ruang tamu ada Riska yang sedang duduk di sofa sendirian.


"Ris, tawanan itu dimana?" Tanya ku.


Riska sedikit terkejut karena secara tiba-tiba aku berbicara pada nya, Riska pun menjawab, "Tawanan itu ada di kamar yang buat menaruh barang-barang."

__ADS_1


Aku pun langsung bergegas ke kamar itu dan setelah sampai, aku langsung masuk dan terlihat Satria dan Achong sedang mengintrogasi tawanan itu.


"Guy's sorry lama ya!" Ujar ku.


"Dav, kacau... Kita gak dapat informasi," Ucap Satria.


"Jadi bagaimana?" Tanya ku.


"Bunuh saja!" Ucap Paula yang sudah ada di depan pintu.


"Kenapa gak di penjarakan saja?" Tanya Achong.


"Gak bisa!" Jawab Satria.


"Iya betul... Karena tidak ada bukti," Sahut Paula.


"Pokok nya tawanan ini harus tetap hidup walaupun dia gak memberikan informasi sama kita," Geram ku, "kita bisa jadikan dia umpan kan."


"Boleh juga sih, tapi gue belum punya planing Dav," Ucap Satria.


"Yaudah lo pikirin itu aja nanti, yang paling penting adalah rencana kita setelah ini," Sahut ku.


Aku menghampiri Riska dan mengintip apa yang sedang dia lihat, ternyata dia sedang menjelajah instagram. Aku duduk di samping nya dan dia masih belum menoleh ke arah ku, fokus nya masih ke layar handphone nya.


Aku yang merasa lelah pun akhirnya merebahkan badan dan kepala ku, ku taruh di atas paha Riska. Pemandangan dari bawah hanya terlihat kedua tangan nya yang sedang menggenggam handphone, lalu tak lama kemudian tangan itu bergeser sedikit dan wajah cantik Riska pun terlihat. Dengan senyum tipis nya dia menatap ku, dan aku pun tak kuasa melihat mata nya dan memalingkan wajah ku.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Riska sambil mengelus kepala ku.


"Aku lelah... Gak ku sangka selelah ini," Jawab ku yang masih memalingkan wajah.


"Yaudah istirahat sebentar gak masalah kok," Ucap Riska.


Aku menganggukan kepala dan menoleh ke arah Riska yang masih tersenyum. Dia meletakan handphonen nya, dan membungkukkan badan nya sampai wajah turun dekat sekali dengan ku, rambut nya yang tak terikat pun jatuh dan hampir menutupi wajah kita berdua.


"Maaf akhir-akhir ini aku jaranga ada waktu dengan mu," Ucap ku spontan, saat melihat senyum nya.


Dia menggelengkan kepala nya dan berkata, "Asal masih bertemu dengan mu, entah itu sebentar atau lama, aku tetap sayang kamu."


Aku yang mendengar itu pun tersenyum bahagia, tiba-tiba wajah Riska semakin dekat dan dia mencium ku. Aku tak bisa menolak, dan pasrah melihat Riska yang sudah menutup mata nya, dan aku hanya bisa mengimbangi nya saja.


Tak lama kemudian dia melepaskan ciuman nya dan mengembalikan posisi badan nya seperti semula. Entah kenapa paha nya semakin lama, semakin membuat ku nyaman dan membuat mata ini sayup-sayup di buat nya. Riska yang bersandar di sofa tiba-tiba blur dari pandangan ku dan akhir nya semua hitam.

__ADS_1


"Dav bangun Dav... Gawat!" Terdengar suara cowok memanggil-manggil nama ku.


"Dav... Bangun!" Ucap nya lagi.


Aku pun berusaha membuka mata perlahan dan aku melihat Satria yang menggoyang-goyangkan badan ku sambil memanggil-manggil ku.


"Kenapa si Sat, ganggu aja!" Ucap ku dengan nada malas.


"Gawat Dav!" Ujar Satria.


"Gawat apa sih?" Sahut ku kesal.


Aku pun membuka mata lebar-lebar dan saat ku melihat di sekitar, ternyata aku sudah ada di kamar. Seingat ku tadi aku sedang tiduran di paha Riska.


"Dav, tawanan kita bunuh diri!" Tegas Satria.


"Serius?" Tanya ku kaget.


"Ayo lihat sendiri, kalau lo gak percaya!" Jawab Satria.


Aku akhirnya terpaksa bangun dan mengikuti Satria ke kamar wanita yang kami sekap.


Pintu kamar nya terbuka, dan sudah ada teman-teman ku berkumpul di kamar itu, aku jadi semakin penasaran dan aku mempercepat langkah ku.


Benar saja, saat ku masuk ke kamar, wanita itu sudah tebujur kaku bersimpah darah. Aku yang penasaran pun mendekat dan melihat lebih jelas lagi, dan aku terkejut saat melihat dahi wanita itu yang hancur karena benturan. Dan ku rasa darah ini berasal daei kepala nya.


"Dav lihat ini!" Ucap Paula sambil menunjukan dinding yang ada bekas darah nya.


"Seperti nya dia membenturkan kepala nta berkali-kali sampai dia mati!" Sahut Satria.


"Mungkin dia tak rela di jadikan umpan," Sambung Achong.


"Terus mau di bawa kemana mayat ini?" Tanya ku.


"Tenang saja, ini bisa menjadi bahan praktek mahasiswa kedokteran," Jawab Paula.


"Lo ada channel nya?" Tanya Satria.


Paula pun tersenyum dan menganggukan kepala nya, dan lagi-lagi aku melihat senyum jahat itu. ada apa ini sebenar nya.


......................

__ADS_1


__ADS_2