
Sepanjang perjalanan aku hanya bisa menangis, Achong dan Satria terdiam menunduk, menyesali apa yang terjadi. Sedangkan Novi tetap fokus mengendarai mobil menuju rumah sakit terdekat, yang sudah di tentukan oleh GPS.
Darah Riska terus keluar, aku bisa merasakanya dengan tanganku, yang sudah di basahi darah Riska. Untuk pertama kalinya juga, aku berdoa tanpa henti untuk seseorang, seseorang yang aku sayang.
"Dav..."
Suara lirih terdengar, dan mulut Riska bergerak. Suaranya lirih hampir tak terdengar, tapi mulutnya terus bergerak-gerak seperti mengucapkan kalimat yang panjang. Aku pun lantas memeluknya, dan berkata "Stop Ris... Stop! Jangan banyak bicara, tenangkan dirimu!"
Riska pun berhenti menggerak-gerakan mulutnya dan dia tersenyum lebar, lalu menutup mata sayunya lagi.
Aku memeluknya dengan erat, sambil terus meneteskan air mata. Hanya itu yang bisa ku lakukan saat ini, untuk menenangkan nya. Tangan Satria sudah ada di punggungku dan mengusapnya perlahan, sambil berkata, "Sabar Dav."
Kami akhirnya tiba di rumah sakit dan Novi langsung menuju ke IGD, disana sudah ada beberapa perawat dan security yang menunggu kami. Saat mobil berhenti aku langsung membuka pintu belakang dan melihat perawat sibuk menanggapi Riska, dan security yang berjaga tadi berlari kedalam untuk membawa ranjang transfer.
Dengan berat aku pun melepaskan pelukanku dan memberikan Riska pada perawat itu, sungguh kali ini aku tak ingin melepaskannya, tapi aku juga ingin dia selamat. Perawat menggotong Riska dan merebahkannya di ranjang transfer, dan kemudian mereka mendorongnya. Kemudian aku melihat Achong sedang berbicara dengan security, sambil menunjuk-nunjuk ke arah mobil. Entah apa yang ia bicarakan, tapi sepertinya serius dan security itu beberapakali melakukan panggilan dengan HTnya.
"Ayo Dav, kita temani Riska!" Ujar Satria.
Aku menganggukkan kepalaku, dan turun ke mobil bersama Satria menyusul para perawat yang sedang mendorong Riska dengan ranjang transfer. Semua orang di rumah sakit tatatpannya tertuju kepadaku, mungkin karena baju dan tanganku yang penuh darah menarik perhatian mereka.
Para perawat pun berhenti di suatu ruangan dan salah satu perawat menghadangku dan Satria.
"Kami akan lakukan oprasi kecil untuk menutup lukanya, kalian bisa bantu beliau dengan mengisi beberapa surat-surat di bagian administrasi." Ucap perawat yanh menghadang kami.
Aku pun mengerti dan langsung menuju ke bagian administrasi.
"Gue ke mobil dulu, buat ambil tasnya Riska." Ucap Satria.
"Iya Sat, terima kasih." Sahutku yang terus berjalan menuju tempat administrasi.
Mataku terus mengikuti papan petunjuk yang ada di langit-langit, dan terus mengarah ke tempat administrasi. Sampai akhirnya aku tiba di ruangan yanh bertuliskan administrasi, aku pun langsung mengahampirinya dan mengatakan apa yang terjadi. Pihak rumah sakit meminta identitasku untuk di jadikan sebagai penanggung jawab, tanpa ragu memberikan kartu identitasku dan mereka mulai sibuk dengan komputernya.
Suara jari petugas yang sedang mengetik terdengar, suaranya senada dengan suara detak jantungku. Aku pun menggerak-gerakan kakiku, agar tidak terlalu gugup, dan keringat terus keluar seperti menunjukan bahwa aku sedang panik. Satria pun datang membawa tas Riska, dan memberikannya kepadaku.
Aku pun mengambil dompet Riska dan membukanya, aku mencari kartu identitas Riska. Ternyata ada kartu asuransi juga di dalam dompetnya, saat aku mengambil kartu asuransi itu, aku terkejut melihat fotoku ada di dompetnya. Diselipkan di balik kartu asuransinya, dan ini foto 2 tahun lalu saat aku pertama kali bertemu dengannya. Harusnya foto ini full bertiga, aku, Suna, dan juga Riska, tapi nampaknya Riska sengaja memotongnya dan hanya menyimpan fotoku saja.
__ADS_1
Air mata yang tadinya sudah surut, kali ini mulai menggenangi mataku lagi. Saat aku berkedip, air mataku jatuh begitu saja, aku pun tersenyum dan sedikit tertawa. Menertawakan kebodohan Riska yang diam-diam sudah menyukaiku sejak lama. Aku mengusap air mataku, saat petugas itu mengembalikan identitasku.
"Mbak, ini ada kartu identitas dan juga kartu asuransi milik orang yang sedang dirawat," Ucapku sambil memberikan kedua kartu itu.
Petugas itu langsung menerimanya dan mulai sibuk lagi dengan komputernya, jemarinya lihai saat berada di keyboard. Membuat pelayanannya tidak memakan waktu yang lama.
"Dav, si Novi nunggu di depan ruang oprasi!" Ujar Satria
"Iya Sat, lo kesana aja duluan." Ucapku.
"Lo bisa-kan, urus disini?" Tanya Satria.
Aku menganggukkan kepala, dan Satria menepuk bahuku. Kemudian dia meninggalkanku dan menyusul Novi yang sedang menunggu Riska.
"Mas ini kartu identitasnya," Ucap petugas.
Aku pun menanggapinya, dan menerima kartu identitas Riska.
"Kartu asuransinya mbak?" Tanyaku.
"Oh oke, jadi sudah selesai nih?" Tanyaku.
"Iya sudah selesai, mas tinggal tanda tangan saja disini!" Jawab petugas, sambil memberikanku secarik kertas.
"Tanda tangan untuk apa mbak?" Tanyaku bingung.
"Itu tanda tangan izin oprasi mas, dan ini ada satu lagi kertas yang mas harus tanda tangani juga. Kalau ini, tanda tangan penanggung jawab pasien," Jawab Petugas.
"Ribet banget ya mbak," Cetusku sambil tersenyum.
Petugas itu balik tersenyum padaku, dan aku mulai menanda tangani berkas-berkas. Tidak memakan waktu lama untuk mengurus itu, dan administrasi pun sudah selesai. Aku kembali menyul Satria, dan Novi menuju ruang oprasi.
Aku sedikit risih dengan baju dan tangan penuh darah seperti ini, dan aku memutuskan pergi ke toilet terlebih dahulu. Setibanya di toilet aku membasuh tanganku dan mencucinya sampai bersih, darahnya sudah mulai mengering jadi butuh sedikit tenaga untuk menggosoknya.
"Szzzzeerrrrsss..."
__ADS_1
Terdengar suara flush tepat di belakangku.
Aku melihat ke cermin dan menunggu orang yang ada di dalam ruangan closet keluar. Agak lama, tapi aku tetap menunggunya.
"Ceekkkleek..."
Suara kunci yang terbuka, dari ruangan closet.
Pria berbadan besar dan tegap keluar sambil membenarkan posisi celananya, saat mata orang itu mengarah ke cermin, aku langsung menunduk dan berusaha tidak menatapnya. Entah perasaan apa ini, tapi aku merasa terancam dengan orang itu.
Pria itu pun berdiri di sampingku dan mulai menyalakan westafel, dia mulai mencuci tangannya. Kemudian dia menoleh ke arah ku dan melihat bajuku yang penuh darah dan tersenyum.
"Kenapa mas?" Tanyaku memberanikan diri.
"Situ habis berburu di hutan?" Ledeknya.
Aki tersenyum dan mematikan keran, dengan senyum miring aku pun berkata, "Lebih menyenangkan daripada berburu di hutan!"
"Maksudnya?" Tanya pria berbadan besar itu.
"Saya baru saja berburu sekelompok orang, hanya untuk kesenangan!" Ujarku sambil tersenyum.
Pria itu tertegun kemudian berhenti mengusap tangannya, dan matanya mulai membesar seperti tak percaya. Lalu dia meninggalkanku tanpa membalas perkataanku, wajahnya terlihat ketakutan, dan aku tertawa di dalam hati.
"Badannya gede doang, tapi cupu!" Ucapku dalam hati.
"Brruuuuaaakkkk..."
Suara keras seperti membentur pintu toilet pun terdengar.
Aku pun berjalan perlahan menuju pintu toilet untuk memastikan apa yang terjadi, tiba-tiba dari selah-selah bawah pintu toilet, darah mengalir perlahan. Aku menghentikan langkahku, dan memsang sikap siaga.
Terdengar suara langakah kaki menjauh dari pintu toilet. Aku mulai melangkah maju dengan perlahan, dan memberanikan diri membuka pintu toilet.
Aku terkejut melihat pria berbadan besar yang tadi berbicara denganku di toilet, kini tersungkur dengan kepala penuh darah.
__ADS_1
......................